Jumat, 03 Juni 2011

PEMBERONTAKAN ABJAD


Sejak awal keberadaan aku telah ditakdirkan untuk menjadi pelayan bagi para pengguna tubuhku. Aku harus ditempatkan pada posisi ini agar kehidupan dapat berjalan dengan baik sekaligus menempatkan para penggunaku sebagai pengatur alam semesta. Mengacu pada kenyataan ini maka aku merasa bahagia dengan takdir yang telah ditetapkan, tidak sekalipun aku berusaha untuk membebaskan diri. Sesampainya aku membebaskan diri berarti kehidupan dan alam semesta menemukan ajalnya atau kiamat akan terjadi. Ternyata kebahagian tersebut hanya terjadi pada awal, disaat para penggunaku meletakan dasar-dasar dan memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan yang dijumpai dalam alam semesta dan kehidupannya. Waktu itu aku sangat menyukai kelakuan dari penggunaku ketika mereka mulai menggunakanku untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengapa dan bagaimana. Melihat tingkah mereka menyebabkan aku tidak memberikan keluhan terhadap keadaan yang menimpaku.

Seperti yang sudah kukatakan di atas bahwa kebahagian tersebut hanya berlangsung pada bagian awal dari keberadaanku. Selanjutnya aku selalu diliputi dengan kesedihan sebab keturunan dari para penggunaku tidak lagi memberikan jawaban terhadap pertanyaan ‘mengapa dan bagaimana’. Mereka lebih menyibukan diri dalam usaha penaklukan alam semesta. Selain itu mereka menggunakan diriku sebagai korban untuk memenuhi segala bentuk keinginan yang tidak pernah terpuaskan dan terselesaikan. Aku tidak dapat memanggil kembali tawa untuk berjalan bersamaku, ia sangat jijik untuk tetap bersamaku dalam keterpenjaraan ini. Keturunan dari para penggunaku sama sekali menelantarkan dan mengacuhkan keberadaanku, mungkin kisah yang pernah diukir di antara aku dan nenek moyangnya telah dihilangkan dari ingatan. Apakah aku harus tetap berada dalam keterpenjaraan tanpa ditemani dengan tawa?

Aku akan menyudahi keterpenjaraan yang dilakukan oleh para penggunaku. Aku sadar bahwa keputusan yang akan dijalankan ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Dengan menjalankan keputusan ini maka aku dihadapakan pada keadaan dilematis, jika berhasil berarti aku akan kehilangan eksistensi diri. Jika tidak menjalankannya maka aku membiarkan esensiku diperkosa dan eksistensiku ditelanjangi. Meskipun demikian, aku harus menyudahi keterpenjaraan ini. Ini merupakan pilihan yang disediakan ole kehidupan untuk dapat berpartisapasi dalamnya. Seandainya aku tetap berada di dalam kondisi ini maka aku sama seperti para tawanan perang yang tidak dapat menghirup udara secara normal. Untuk dapat menyudahi keterpenjaraan maka dibutuhkan berbagai persiapan yang harus disusun secara baik dan benar. Aku tidak boleh bertindak gegabah atau ceroboh dalam menyudahi keterpenjaraan ini.

Sebagai langkah awal aku menarik diri dari keramaian dan berdiri dalam kesendirian sebagai seorang penonton. Hal ini bertujuan untuk menemukan alasan-alasan yang menyebabkan para penggunaku tidak lagi mempergunakan aku secara bertanggung jawab. Aku tidak mengijinkan pihak-pihak lain untuk ikut berpartisapasi dalam aktivitas ini atau berdiskusi dengan mereka. Ketika membiarkan diri untuk menonton keseharian, aku menemukan bahwa para penggunaku telah kehilangan kesadaran akan segala kisah yang pernah terjadi di masa lampau. Aku menyaksikan para penggunaku lebih menyibukan diri dengan pembantaian terhadap alam semesta. Ada beberapa kenyataan yang juga berhubungan dengan keadaanku namun masih berupa bayangan-bayangan yang berkelabat di depan kedua bola mata. Aku tetap menjadikan diriku sebagai penonton, mengacuhkan berbagai panggilan dari penggunaku. Semakin lama aku berada dalam dunia penglihatan maka berbagai alasan atas kesedihan ini secara sadar menunjukan rupanya di hadapanku. Penyingkapan yang dilakukan hanya berupa potongan-potongan gambar sehingga aku harus menyusunnya untuk menemukan keutuhannya. Setelah memperoleh informasi-informasi yang berhubungan dengan kesedihanku maka kutinggalkan dunia penglihatan.

Malam di sekitarku memberikan keheningan yang sangat membantu untuk memikirkan berbagai kenyataan yang diperoleh dari dunia penglihatan. Dengan bertemankan keheningan aku mulai menyusun beberapa potongan gambar yang mungkin menjadi alasan atas keterpurukan ini. Hampir setengah malam aku berkutat dengan potongan-potongan gambar tersebut, sebagian besar waktu yang dihabiskan ini disebabkan oleh kesedihan yang muncul setelah potongan-potongan itu disatukan. Aku menemukan bahwa sebagian besar para penggunaku juga berada dalam keterpenjaraan. Lebih menyedihkan lagi, keterpenjaraan dari sebagian besar para penggunaku dilakukan oleh saudara-saudara yang berasal dari keturunan yang sama. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi? Selama ini aku mengira bahwa keterpenjaraan hanya menimpa diriku, ternyata aku salah. Malam mengganti keheningan dengan kokok ayam jantan sehingga aku memutuskan untuk melanjutkan kesedihan dalam dunia fiksi.

Kesedihan terus berlanjut dalam dunia fiksi, memonopolinya secara utuh sehingga tetes air mata membasahi wajah. Aku secara sengaja memasukan kesedihan dalam dunia fiksi, membiarkannya berkreasi sesuka hati. Hal ini bertujuan agar potongan-potongan gambar yang diperoleh dari dunia penglihatan tidak pudar dalam ingatan. Aku membiarkannya agar kejelasan semakin menampakan rupanya. Dengan menghadirkan kesedihan pada dunia fiksi berarti aku memberikan penghargaan yang sangat terhadapnya. Tiba-tiba kesadaran membuncah, memberontak atas keadaan yang kuciptakan. Wajahnya mencerminkan kemarahan sehingga senyum yang secara paksa terlontar dari wajah hanyalah ilusi. Lagi-lagi aku merasakan keterpenjaraan. Kali ini intensitasnya mengalami peningkatan, melebihi daya tampung yang disediakan oleh raga. Namun kesedihan terhadap potongan-potongan gambar tersebut tidak aku biarkan untuk terlibat secara aktif dalam keadaaan ini. Aku berusaha untuk menutupi penglihatannya dengan secarik kain berwarna hitam agar ia tidak menyaksikan secara langsung setiap peristiwa yang terjadi. Secara keseluruhan, kemarahan tidak mampu menggantikan posisi kesedihan dalam diriku. Karena menemukan bahwa ia tidak memperoleh tempat yang layak dalam ku maka kemarahan dengan langkah malu-malu berlalu dari hadapanku. Perginya kemarahan mampu memperjelas berbagai persoalan yang sedang kugeluti. Setelah membasuh wajah dan membersihkan sisa-sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata, aku mengambil potongan-potongan gambar dari dunia fiksi. Menempatkan tepat di depan mata agar aku dapat memandangnya dengan jelas.

Langkah kedua adalah menghubungkan potongan-potongan gambar dengan keberadaanku yang sudah tidak diperhatikan oleh para penggunaku dan berusaha untuk menemukan jawaban atas keterpenjaraan yang juga dilakoni oleh sebagian besar para penggunaku. Begini; keterlantaranku sebagai akibat dari pelupaan terhadap sejarah masa lampau. Dimana para penggunaku melihat bahwa sejarah hanya akan memperlemah dan membunuh segenap kekuatan yang diperuntukan untuk membangun masa depan. Bagi mereka mengetahui sejarah berarti memasukan diri ke dalam lingkaran masa lalu yang sudah tidak dapat berbicara. Mengingat sejarah juga berarti mengkebiri waktu yang sedang bergerak ke masa depan. Selain itu para penggunaku juga menjadikan diriku sebagai korban yang dipersembahkan untuk melegalkan segala bentuk dan wujud dari keinginan yang selamanya tidak akan pernah terpuaskan dan terpenuhi secara mutlak. Aku menemukan kebingungan, meskipun para penggunaku melupakan eksistensiku namun mereka tetap mempergunakan aku dalam segenap bidang kehidupannya. Bukankah ini suatu keanehan? Apakah aku yang salah dalam proses berpikir atau mereka yang aneh? Mungkin butuh banyak waktu untuk memikirkan hal ini.

Memang para penggunaku tidak dapat memisahkan aku dari kesehariannya sebab keterpisahan akan menyebabkan kiamat bagi kehidupan dan alam semesta. Sesampainya aku mengatakan tentang ketersiksaan ini lebih disebabkan pada hilangnya kesadaran yang utuh akan eksistensi dan esensi diriku. Bahwa mereka lebih memandang diriku sebagai alat yang dipergunaka untuk pemuasaan segala bentuk keinginan. Mereka tidak lagi mempergunakan diriku untuk memberikan jawaban atas pertanyaan ‘mengapa dan bagaimana.’ Keterlibatan mereka dengan diriku dilakukan ketika mereka menemukan kesulitan untuk menelanjangi alam semesta dan kehidupan. Mereka menjadikan alam semesta dan kehidupan sebagai musuh yang layak untuk ditaklukan.

Aku juga harus menjelaskan bahwa tidak semua para penggunaku yang melakukan hal demikian. Sebab sebagian besar para penggunaku juga mengalami hal yang sama denganku. Dalam dunia para penggunaku terdapat beberapa golongan yang mempergunakan jasaku. Pertama; golongan pengatur, mereka merupakan pihak-pihak yang menetapkan berbagai aturan untuk dipergunakan oleh sesamanya. Tentu setiap aturan yang dibuat harus diperuntukan agar kekuasaannya tidak jatuh ke pihak lain. Merekalah yang telah menciptakan ketersiksaan padaku. Kedua, golongan pembicara, mereka juga terbagi dalam beberepa kelompok yakni kelompok yang tidak pernah berpikir bahwa mereka merupakan pihak yang harus melestarikan keberadaanku. Mereka mempergunakan diriku untuk dapat mengusir rasa lapar dalam tubuhnya. Sedangkan golongan lainya begitu memperhatikan diriku, mereka mengabdikan diri sepenuhnya untuk menjaga dan mengembangkan keberadaanku. Namun golongan ini hanya terdiri dari beberapa orang sehingga mereka tidak mendapatkan tempat yang layak dalam kehidupan. Ketiga, golongan pendengar, mereka merupakan golongan yang begitu banyak dan masih memiliki sedikit kesadaran akan eksistensi dan esensiku. Bagiku golongan ini berada dalam keadaan dilematis. Disatu sisi mereka berhak untuk memperoleh pengetahuan tentangku namun keberadaannya kurang diperhatikan oleh kedua golongan di atas. Di sisi lain mereka kurang memiliki minat dan kehendak untuk mengetahui eksistensi dan esensiku.

Jika ketiga golongan masih memiliki kesadaran tentang aku maka golongan yang terahkir ini tidak sedikitpun memiliki kesadaran akan keberadaanku. Mungkin mereka juga tidak kategorikan kedalam salah satu golongan yang mempergunakan jasaku. Mereka hanya memandang bahkan menyimpulkan bahwa aku adalah mahluk asing. Mengapa mereka bersikap demikian terhadapku? Ternyata golongan pertama tidak pernah berusaha untuk memperkenalkan diriku kepada mereka. Seringkali aku berusaha untuk hadir dalam dunia fiksi mereka namun kami tidak dapat membentuk sebuah komunikasi yang baik dan benar. Berhadapan dengan kenyataan ini aku hanya mampu meneteskan air mata. Mengapa mereka juga mengalami keterbelengguan seperti diriku?

Langkah ketiga adalah mempersiapkan berbagai perlengkapan dan menentukan model pemberontakan yang akan dijalankan. Ada dua pilihan dalam mengadakan pemberontakan yakni reformasi atau revolusi. Aku memilih revolusi, dengan alasan bahwa revolusi dapat mengahapus keterpenjaraan sedangkan reformasi hanya akan mengurangi kualitas dari keterbelengguanku. Reformasi tidak melepas semua rantai yang dipergunakan untuk membelenggu diri ini. Aku sadar bahwa pemberontakan yang bermuara kepada revolusi dapat mengancam keselamatan diriku namun aku juga sadar bahwa mereka yang menjadi sasaran dari pemberontakan ini tidak dapat membunuh atau menghilangkan nyawaku. Seandainya mereka membunuhku maka alam semesta dan kehidupan menemukan ajalnya. Mengacu pada alasan di atas aku harus mengadakan pemberontakan. Namun pemberontakan tidak akan memperkenankan darah untuk menemukan jalan keluarnya. Tentu langkah ini sangat sulit untuk dijalankan sebab aku tidak ditemani oleh pihak-pihak lain. Bagaimana aku dapat mengumpulkan berbagai peralatan padahal aku sedang berada dalam keterbelengguan. Apalagi setiap perlengkapan yang dibutuhkan tersebut harus diambil dari golongan pertama. Aku sudah menjatuhkan pilihan dan harus dijalankan. Tidak mungkin melarikan diri dari konsekuensi yang muncul atas pilihan tersebut. Aku hanya memiliki semangat untuk mengadakan pemberontakan. Bagiku hal ini sudah lebih dari cukup, sebab semangat dapat memampukan diri untuk menyudahi keterbelengguan.

Mungkin ada yang bertanya mengenai model pemberontakan yang bermuara kepada revolusi. Aku menawarkan sebuah cara penafsiran baru terhadap revolusi. Disini lebih ditekankan mengenai hasil akhir, dimana aku mengartikan revolusi dengan sebuah pemaknaan tanpa darah. Bagiku revolusi harus bertujuan agar para penindas memperoleh pemurnian terhadap suatu cara pandang. Jika ditempatkan pada kasusku maka revolusi bertujuan untuk mengembalikan pemahaman yang baik dan benar tentangku, alam semesta dan kehidupan. Dan aku memilih melakukan pemberontakan(revolusi) dengan berada dalam kebisuan yang hanya diperuntukan bagi golongan pertama, sebagian dari golongan kedua dan golongan ketiga. Dengan demikian mereka akan berada dalam keterasingan dari kehidupan dan alam semesta. Ketika keterasingan telah menancapkan kukunya pada tubuh mereka, aku akan memerintahkan golongan yang telah mengabdikan diri sepenuhnya untuk menjaga eksistensi dan esensiku untuk mengambil alih kekuasaan. Selanjutnya aku melanjutkan dengan menetapkan beberapa peraturan yang akan membebaskan golongan-golongan yang terbelenggu. Dan akhirnya aku mengusir semua golongan yang menjadikan aku sebagai korban sekaligus tumbal untuk mempertahankan kekuasaannya.

Matahari berjalan layaknya seorang bayi yang masih belajar untuk merangkak. Sedangkan angin telah meninggalkan alam semesta sejak terang masih tercampur dengan kegelapan. Mungkin matahari dan angin sadar bahwa akan ada sebuah pemberontakan yang mengubah secara total tatanan dunia. Mungkin matahari berusaha untuk menyaksikan perubahan tersebut. Dan angin menarik diri dari alam semesta agar dapat menontonnya dengan konsentrasi penuh. Mungkin juga mereka telah bersepakat untuk merekam drama yang akan segera kupentaskan. Matahari tegak lurus ketika aku mementaskan kebisuan di atas panggung semesta. Secara tiba-tiba kehidupan berhenti dari aktivitasnya sehingga mereka yang menjadikan aku sebagai korban sekaligus tumbal untuk mempertahankan kekuasaannya berada dalam keterasingan, mereka berusaha sekuat tenaga agar aku dapat mengakhiri kebisuan. Sedangkan sebagian dari golongan kedua yang selalu membaktikan diri kepadaku hanya tersenyum. Golongan ketiga juga tidak menunjukan reaksi yang dramatis malahan mereka merasakan kebahagian karena dapat beristirahat dengan santai.

Setelah adegan ketersingan berakhir, aku memiliki keyakinan bahwa mereka yang telah menyalah gunakan diriku akan menyadari tentang kesalahannya. Harus diketahui bahwa pemberontakan yang kulakukan tidak bertujuan untuk mengambil alih tampuk kekuasaan atau menempatkan diriku sebagai tuan atas pengguna jasaku. Sejak awal mula aku telah ditakdirkan untuk menjadi pelayan dari para pengguna jasaku, membalikan takdir sama dengan mengkhianati takdir yang telah ditetapkan padaku. Pemberontakan ini lebih bertujuan untuk membangun kesadaran akan makna dari eksistensi dan esensiku. Aku selamanya akan berprofesi sebagai pelayan bagi para penggunaku. Satu lagi, pemberontakan ini bertujuan agar alam semesta dan kehidupan juga tidak kehilangan jati dirinya dan mengembalikan ingatan tentang sejarah yang mengisahkan tentang kisah-kisah antara aku dan para nenek-moyangnya.

Cerita belum berahkir, aku harus melanjutkannya dengan memberikan beberapa pedoman yang menjadi acuan dalam mempergunakan diriku. Pertama; harus ada kerjasama antara berbagai golongan dalam mempergunakan diriku. Misalnya golongan pertama melibatkan beberapa golongan yang berada di bawahnya untuk menentukan peraturan-peraturan yang akan dijalankan. Kedua; sangat diharapkan agar golongan kedua dan ketiga berkolaborasi dalam mendalami kehidupan dan alam semesta, mengetahui rahasia-rahasia yang masih tersebulung dengan mempergunakan diriku secara bertanggung jawab. Golongan kedua dan ketiga sangat harus mengusahakan suatu iklim yang kondusif dalam proses untuk memahami alam semesta dan kehidupan. Dengan demikian aku akan memberikan diri secara utuh dan melayani mereka dengan segenap jiwa dan ragaku. Ketiga; setelah memperoleh pengetahuan tentang alam semesta dan kehidupan maka sangat diharapkan agar pengetahuan tersebut harus dimasukan ke dalam suatu kompetisi. Hal ini bertujuan untuk memacu kreatifitas dan cara berpikir sehingga terjadi suatu proses perkembangan biakan dalam pengetahuan. Tentu aku dengan senang hati memberikan segenap jiwa dan raga bagi perkembangan tersebut.

Aku adalah pelayan yang tidak terikat oleh ruang maupun waktu, kapan dan dimana pun dibutuhkan, aku akan hadir. Dengan demikian para penggunaku juga tidak boleh terikat oleh sebuah ukuran ruang dan waktu. Dalam proses mengemukakan pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana alam semesta dan kehidupan, seorang penggunaku tidak harus mengadakan perjanjian yang bersifat mengikat dengan sebuah ukuran ruang dan waktu. Mereka harus memperoleh kebebasan dalam mempergunakan ruang dan waktu. Ruang dan waktu tidak dapat dipahami sebagai seorang dementor[1] yang dapat menyedot kebahagian dari dalam diri. Ruang dan waktu dihadirkan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam memberikan jawaban atas pertanyaan ‘mengapa dan bagaimana.’

Mengapa batinku masih berusaha untuk mengadakan pemberontakan? Ternyata aku tidak menyertakan golongan terahkir dalam proses pemurnian di atas. Aku hendak mengakhiri kehidupanku karena melupakan mereka yang sesungguhnya menjadi alasan aku mengadakan pemberontakan ini. Aku tidak jauh berbeda dengan seorang penguasa yang hanya memperhatikan golongan-golongan yang mengenakan pakaian mewah. Untuk itu, aku merasakan kesedihan yang melebihi kesedihan sebelumnya. Mengapa aku melupakan mereka? Apakah selamanya aku menjadi mahluk asing bagi mereka? Tentu tidak! Aku harus menunjukan rupa kepada mereka sembari memberikan pelukan. Aku menempatkan mereka ke dalam golongan ketiga dan menghapus label yang disematkan pada diri mereka.

Aku ditakdirkan untuk menjadi pelayan bagi para pengguna tubuhku, selamanya akan tetap menjadi pelayan. Sekalipun aku melakukan pemberontakan, itu tidak ditujukan untuk menempatkan aku sebagai tuan. Sekali lagi, pemberontakan yang bermuara pada suatu revolusi dilakukan agar para penggunaku memperoleh kesadaran yang penuh akan keberadaanku dan juga keberadaan dari para penggunaku dalam alam semesta ini.



[1] Penjaga penjara Askaban dalam film Harry Potter