Selasa, 21 September 2010

KEMBALINYA MASA LAMPAU

Mungkin saja masa yang telah berlalu dan telah menjadi kenangan itu dapat dikembalikan lagi. Pengembalian ini adalah suatu kelangkaan, sebab waktu sangat tidak menghendaki kehadiran dari masa lampau, meskipun masa lampau tersebut berada dalam lingkaran waktu. Baginya masa lampau hanya akan memberikan gangguan dan dapat merusak tatanan kehidupan yang telah harmonis. Keharmonisan?? Keteraturan?? Bukankah realitas yang sedang berparade pada saat sekarang menunjukan ketidakharmonisan?

Masa lampau yang kini memanggilku untuk berada bersamanya, Ia hendak memberikan pelukan atau mendekapku dengan kehangatan yang langka. Berada bersamanya, aku merasakan kedekatan. Namun; apakah aku sanggup mengembalikan kelampauan?

Apapun halangannya aku harus mengembalikan masa lampau karena sebagian diriku telah berada dalam genggamamnya. Satu lagi; masa lampau telah mengikatkan dan menuliskan namaku pada catatan pribadinya.
Harus mengembalikan masa lampau.
Pada masa yang tertinggal
pada kisah yang telah tercatat
pada hari yang menyerap keringat tubuhku
dan...
pada kelampauan
aku masih merindukan kalian

Kembalinya masa lampau tidak menuntut pertanggung jawaban
kembalinya masa lampau tidak mengusik rutinitas masa kini
kembalinya masa lampau tidak mengubah tatanan kehidupan yang ada

kehadiran masa lampau hanya untuk menemuiku
kehadiran masa lampau hanya untuk berkomunikasi denganku
jadi kekinian; janganlah melihatnya dengan tatapan sinis,

Senin, 13 September 2010

TATANRI XXII

Kami tinggal di rumah yang dibangun oleh para penenun untuk berkumpul dan menciptakan motif bagi kain yang akan dihasilkan. Bangunan yang dipenuhi oleh motif-motif, mulai dari gambar hewan,tumbuhan, sampai pada gambar yang tidak dapat ditangkap oleh nalar seorang nelayan. Motif-motif yang terpajang di dinding bangunan ini memberikan dua kesan bagi yang pertama kali menatapnya. Tetapi harus dibedakan mengenai orang-orang yang melihat motif tersebut.

Pertama: manusia yang secara pengetahuan dan rasa telah terikat dengan motif-motif tersebut. Golongan ini yang menatap motif/gambar sebagai bahan yang dapat diselidiki dan ditelusuri. Kelompok ini sanggup untuk menerawang ke relung terdalam dari setiap motif, mereka juga memiliki kemampuan untuk memberikan "kehidupan" pada motif tersebut. Motif; dihadapan kelompok ini adalah akses untuk masuk ke masa lampau. Motif juga merupakan manifestasi dari kaum terdahulu sehingga pada motif tersebut kaum terdahulu tetap hidup.

Sedangkan ada juga manusia yang melihat motif dengan decak kagum tanpa memberikan diri untuk bercinta dengan motif tersebut. Golongan ini hanya memandang motif sebagai suatu hasil karya seni.

Rumah yang dibangun oleh para penenun ini telah lama ditinggalkan sebab mereka telah berserakan di berbagai tempat yang berada di bumi ini. Kepergian para penenun dari rumah ini dikarenakan oleh kurangnya perhatian dari penduduk terhadap setiap motif yang dihasilkan.

Sabtu, 04 September 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(F)

memasuki halaman rumah yang begitu mempesonakan dan menyejukan penglihatan, Arthe teringat akan negeri dongeng yang selalu dituturkan oleh sang ayah kala malam mulai bersetubuh dengan kesejukan. Kehadirannya di sekitar pekarangan dengan berbagai macam kembang dapat menghadirkan sensasi yang luar biasa tentang aroma.

Ibu Marti mengajak Arthe untuk masuk ke ruang tamu yang dipenuhi oleh pria-pria dengan kecerahan menghiasi rona dan ekspresi wajah. Arthe menyapa sambil memperkenalkan dirinya, merekapun balas memperkenalkan diri namun Arthe tidak mengingat nama-nama dari penghuni ruang tamu tersebut. Para pria mengajaknya untuk bergabung sambil menikmati kopi, namun Ibu Marti mempersilahkan Arthe untuk menuju ke kamar yang telah disediakan agar dapat membersihkan diri dari bau terik yang sangat menyengat.

Arthe melangkah menuju kamar yang ditunjukan oleh Ibu Marti, sebelum tiba di kamar ia harus melewati ruang tengah. Ketika melewati ruangan itu, keributan yang sedari tadi terdengar, secara tiba-tiba berubah dan semua mata memadang ke arahnya. Tentu kegugupan menguasai Arthe yang selama kehidupannya tidak pernah mengalami hal demikian. Arthe hanya tersenyum dan beranjak meninggalkan ruangan tengah.

Arthe memasuki kamar yang berukuran 5X6 meter dengan kipas listrik yang senantiasa berputar dan tempat tidur yang berukuran 1,5X1 meter. Tanpa melepaskan pakaian, Arthe merebahkan dirinya sebab kepenatan telah membenamkan cakarnya ke dalam pori-pori dan memasuki aliran darahnya.