Kamis, 30 Desember 2010

LELAKI YANG BERUSAHA MENGHIDANGKAN ANGGUR (H)

"Bagaimana mungkin anak ini dapat melakukan kegiatan layaknya seorang pemilik atau pembantu rumah?" Ibu Marti yang terkaget menyaksikan pemandangan langka di rumahnya, hanya berdiri dengan keheranan. Hal seperti yang dilakukan oleh Arthe dipandang sebagai kegiatan yang aneh. Seorang tamu yang diajak menumpang di rumahnya dapat bangun pada pagi-pagi buta dan melakukan pekerjaan rumahan.

"Nak, biarkanlah peralatan makan itu dibersihkan oleh para pembantu dan anak wanita!"
"Minta maaf bu, saya telah menimbulkan keributan sehingga membangunkan ibu. Mungkin ibu marah karena tingkahku, tapi kebiasaan ini telah tertanam kuat dala diriku!"
Ibu Marti mengajak Arthe keluar dari dapur dan berjalan ke arah depan rumah. Di serambi mereka duduk di atas kursi rotan yang dipenuhi dengan titik embun. Arthe menuju ke dalam rumah untuk mengambil kain agar dapat menyingkirkan titik embun yang sedang tertidur di atas kursi sebelum titik-titik embun itu berkeluh dan mengeluarkan senjatanya.
"Nak, mengapa engkau membersihkan peralatan makan? Aku sebagai tuan rumah merasa sangat malu atas sikap yang engkau tunjukan. Sebagai seorang tamu, engkau tidak layak melakukan pekarjaan tersebut!"
"Memang benar bu, seperti yang telah saya katakan tadi, kebiasaan ini telah tertanam di dala diriku. Di keluarga, ayah selalu mengingatkan agar kami tidak berlaku layaknya seorang tuan ketika berada di rumah orang lain!"

Pagi masih gelap dan jalanan belum dipenuhi oleh orang-orang.
Ibu Marti mengajak Arthe untuk berjalan-jalan di sekitar taman yang dipenuhi dengan berbagai jenis bunga. Pada pagi yang gelap ini keharuman dari berbagai jenis bunga sangat mempesonakan. Keharuman yang asli dan tidak ternoda oleh cahaya matahari merupakan suatu keindahan yang pasti. Mereka berjalan sambil mempercakapkan latar belakang masing-masing.
"Aku berasal dari desa Jerinta, letaknya kira-kira 230 km dari tempat kita berdiri. Aku hanya tinggal bersama ayah yang hanya bergerak dari kamar menuju ke beranda rumah, menuju ke kamar mandi, dan ruang makan. Sebelumnya ayah tidak berperilaku seperti ini. Kematian ibu menyebabkan ayah jarang keluar rumah. Lebih banyak waktunya dihabiskan di beranda rumah!" Arthe sangat merindukan sang ayah yang ditinggalkannya dengan kesendirian. Mungkin saja ayah sedang menuju ke kamarku untuk membangunkan aku.

Jumat, 19 November 2010

KEMBALINYA MASA LAMPAU

Ada yang bilang bahwa kembalinya masa lampau akan menimbulkan kesakitan, ada juga yang mengatakan bahwa kembalinya masa lampau akan membantu kita untuk merefleksikannya.
Yah.....kembalinya masa lampau tentu memiliki dua sisi di atas, dengan keberadaan masa lampau pada masa kini sanggup untuk menetaskan mimpi yang masih berkelana di tapal batas. Eh....ia bukan menetaskan tetapi merealisasikan mimpi yang sedang menunggu dalam kesabaran.

Kisah tentang kembalinya masa lampau menceritakan tentang rasa yang bergandeng dengan mimpi, keduanya begitu layaknya sepasang kekasih yang berada dalam semangat untuk berpelukan, memang kisah tentang kembalinya masa lampau juga berhubungan langsung deng an rasa dari pria dan wanita.
Ini tentang cinta, ini tentang kasih, ini tentang kemesraan, dan ini tentang kesetiaan.
Kembalinya masa lampau tidak menuntut untuk diperhatikan secara khusus, keberadaan masa lampau dalam genggaman masa kini juga tidak pernah mengharapkan agar dicurahkan waktu sepenuhnya. Kehadirannya hanya untuk meminta kesediaan agar dilihat dan dipandang.

Tentang masa yang telah berlalu, tentang masa yang pernah dikisahkan, dan tentang dia yang berada dalamnya.
Khusus untuk dia yang berpartisipasi dalam masa tersebut; hanya dia yang sanggup untuk mengembalikan masa tersebut.
Tidak juga, kami secara bersama-samalah yang akan mengembalikan masa tersebut.
Sekarang aku menanti dalam pengharapan agar ia juga mampu untuk mengembalikan masa tersebut agar mimpi dapat direalisasikan.

Selasa, 16 November 2010

GADIS BERKALUNG KERANG(C)

Gadis berkalung kerang masih mengitari lembah, bola matanya begitu liar dan ekspresi wajahnya seperti seorang anak kecil yang terjebak di dalam gua. Sorot matanya mengungkapkan ketakutan dan memohon pertologan dari siapa saja yang dijumpainya.

Aku mengikutinya dan memperhatikan dengan saksama setiap gerak tubuh yang dimunculkannya. Dari kejadian ini aku mengambil kesimpulan sementara bahwa gadis ini dikorbankan untuk penjaga lembah ini. Sungguh suatu fenomena yang langka dalam peradaban ini, dimana cerita mitos, legenda dan sahabat-sahabatnya hanyalah kebelakaan. Mungkin ini tidak berlaku bagi masyarakat yang berpegang teguh pada kebiasaan leluhur, mereka menolak setiap wajah dari peradaban dan selalu berusaha untuk menjauhinya.

Kembali kepada persoalan si gadis; Ia masih berjalan di lembah dengan wajah yang tidak berubah namun tidak ada tanda-tanda akan adanya penjaga hutan yang muncul untuk menyantap sesajen yang disiapkan. Bagaiamana mungkin kalimat dapat dituliskan di sekitar wajah sang gadis yang telah dijambaki oleh ketakutan.
Kecantikan hanyalah kisah dan panorama pada pagi tadi. keluguan dan keanggunan masih sedikit meninggalkan bekas pada sorot mata dan langkahnya. Adakah takdir memperhitungkan kecantikan dan keanggunannya?

Para penduduk kampung tidak memperhatikan keberadaan dari gadis ini, ia seperti dibiarkan berkelana dalam kebebasannya sedangkan para gadis lainnya sibuk mengerjakan perkerjaan rumah.
Ia berjalan di antara belukar tanpa mengenakan alas kaki dan pakaian yang tebal, di sekitar bebatuan tajam ia berjalan layaknya melewati ubin. Siapakah gadis ini?

Senin, 15 November 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGAKAN ANGGUR (G)

Arthe terlelap dengan menenakan pakaian yang telah berhari-hari membungkus tubuhnya, hal ini sangat kontras dengan selimut yang juga membungkus tubuhnya. Arthe menggunakan selimut karena udara yang dingin. Mungkin selimut merasa terganggu dengan bau tubuh Arthe(sesuatu yang tidak mungkin)
Panggilan dari ibu Marti tidak didengar oleh Arthe sehingga ibu Marti mencurigai keberadaan dari Arthe di dalam rumahnya dan menyesal telah mengundang Arthe untuk menginap di rumahnya. Sangat jarang ibu Marti mengundang tamu untuk menginap di rumahnya, sesampainya ia mengudang Arthe ke rumahnya disebabkan oleh nasihat dari seorang ibu yang tanpa sengaja menabraknya di pasar.

Arthe terlelap sampai pagi menghampirinya, ia segera membersihkan diri dan menuju ke dapur untuk memanaskan air agar dapat digunakan untuk menyeduh kopi.
Dapur dalam keadaan sunyi padahal kokok ayam sudah tidak terdengar, sembari menunggu airnya panas Arthe membersihkan semua perabotan makan dan masak yang berserakan di tempat cuci.
Kebiasaan ini merupakan hal langka dalam keseharian Arthe, sebab pekerjaan semacam ini biasanya dilakukan oleh ibu Ranti.

Mendengar keributan di dapur, ibu Marti segera bergegas dari kamarnya. Ketika melihat Arthe membersihkan segala perlengkapan makan dan minum maka ibu Marti terkagum bercampur kaget.

TATANRI XXIV

Mampukah kesendiran menafsirkan setiap motif yang tergambar di dinding, ditambah dengan bayangan sahabatku yang juga menyatu dengan motif-motif tersebut.

Tidak ada yang dapat diajak untuk berdiskusi, tidak ada yang berkunjung atau meminta sesuatu pada rumah ini. Keberadaan kami tidak didaftar dalam buku induk di kantor desa, mungkin seksi tata desa tidak memetakan rumah ini.
Bagaimana bertahan daalm keadaan ini?
Sahabat yang menjadi lawan bicara sekaligus partner yang cocok dalam segal hal telah pergi dan hanya menyisahkan bayangan yang melekat dengan motif-motif di dinding rumah.
Alasan dari kepergiannyapun tidak dikatakan dengan jelas, ia hanya berpesan bahwa setiap subuh aku harus berhasil untuk menafsirkan salah satu motif.
Menafsirkan motif merupakan pekerjaan yang sangat berat sebab motif tersebut berjumlah ribuan dan satu motif dilukis dengan beberapa cara yang berbeda dan warna yang berbeda pula. Sehingga satu motif bisa menghasilkan lebih dari 20 lukisan.

kesendirian tidak mengijinkan kesepian untuk berjalan bersama kami, ia selalu bersiap siaga jika kesepian mulai menunjukan rupanya. Baginya kesepian hanya akan memperparah keadaan dan aku akan kehilangan keseimbangan dalam kehidupan.

bagaimanapun juga aku harus menafsirkan setiap motif, ini bukan untuk kepuasan diri atau mengisi waktu tetapi untuk masa depan. Masa dimana anak-anak manusia akan berusaha sekuat tenaga untuk menafsirkan motif ini. Usaha yang aku jalankan sekarang akan sangat bermanfaat bagi anak cucuku, sebab mereka akan dengan mudah menemukan arti dari setiap motif dan aku juga akan dengan mudah berkomunikasi dengan mereka.

Jumat, 12 November 2010

GADIS BERKALUNG KERANG (B)

Kalung kerang sebagai tanda dari sang bidadari bahwa Gadis tersebut harus diperuntukan baginya, disini; kepemilikan berarti sang gadis harus melanjutkan tugas dari sang bidadari untuk menjaga lembah Rosienly. Dengan demikian keseharian sang Gadis akan berada di lembah tersebut

Aku semakin tertarik dengan kisah sang gadis dan berusaha untuk mengupas tuntas kisah dari sang gadis. Untuk ini, aku harus melepaskan semua pesona yang selama ini ditimbulkan oleh indra. Meninggalkan juga semua kesibukan sebagai manusia, tentu akan menciptakan suatu keterasingan terhadap diri.

Mampukah aku menanggalkannya?
Lembah dengan keharuman anyelir dan bakung
Lembah dengan seribu jenis musik yang diperdengarkan oleh angin
Lembah dengan wajah bidadari terahkir yang terpampang di dedaunan
Lembah dengan gadis berkalung kerang yang selalu memanggil kesenyapan

Yah...........lembah Rosienly
Aku belum menemukan keterpaduan antara cerita mengenai bidadari yang menjelma menjadi lembah dan gadis berkalung kerang. Secara akal sehat ini hanyalah sebuah mitos.

Gadis berkalung kerang masih mengitari lembah, bola matanya begitu liar dan ekspresi wajahnya seperti seorang anak kecil yang terjebak di dalam gua.

Kamis, 11 November 2010

TATANRI XXIII

Motif yang dihasilkan tidak dipandang sebagai manifestasi dari para roh maupun arwah leluhur yang berusaha untuk berada dekat dengan anak-cucunya. Motif yang dihasilkan juga merupakan bahasa yang digunakan oleh para leluhur untuk berkomunikasi dengan anak-cucunya. Motif tidak mendapat tempat yang layak dalam masyarakat, ia hanya dilihat sebagai karya seni belaka.

Tidak adanya penghargaan terhadap motif disebabkan oleh gaya hidup masyarakat telah dikuasai oleh hantu-hantu dari dunia lain.

Dengan kepergian para penenun; masihkah ada harapan bagi para leluhur untuk berkomunikasi dengan anak-cucunya?

Rumah yang ditinggalkan oleh para penenun juga dilihat sebagai rumah hantu sehingga kami yang menempati rumah tersebut memperoleh perlakuan yang buruk dari masyarakat. Bahkan ada larangan untuk bergaul atau bertegur-sapa dengan kami. Hanya seorang kakek yang merelakan kami untuk menyapa dan berkunjung ke rumahnya.

Sekarang sahabatku telah pergi, meninggalkan bayangannya di antara motif-motif yang tergambar di dinding rumah. Mampukah kesendirian menafsirkan setiap motif dan bayangan yang ditinggalkan?

Minggu, 07 November 2010

BAYANGAN DAN WAKTU YANG BERHENTI

Matraman yang bercecok

Berhentinya waktu di terik yang menusuk

tanpa ada persetujuan dari lingkungan

hanya bayangan yang berkelebat

masih pada waktu yang berhenti

kecoak bergerak lamban di antara tumpukan sampah

sementara itu.....

keadaan terus diliputi kebingungan

hanya bayangan yang berkelabat

pada waktu yang berhenti

dentuman gendang membias di kepekatan malam

menerobos labirin yang rapuh

sehingga.....

hanya bayangan yang berkelebat

sudahilah waktu yang berhenti

sehingga; keadaan menemukan kenormalan

dan;

lingkungan mampu berceramah

ah.....

bayangan dan waktu yang berhenti

sudahilah......

PENARI SENJA

Rencana untuk meninggalkan kampung pada saat bulan berwarna coklat bertujuan agar para penduduk tidak dapat mengadakan ritual. Tentu akan menyebabkan kekacauan yang amat sangat apalagi ritual ini sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat, ritual ini juga merupakan waktu untuk mengambil keputusan-keputusan peting dalam kehidupan bersama.
Bahwa ada isu yang beredar, dimana para tetua kampung akan mengambil keputusan untuk menghukum para penari senja karena telah mengadakan perkumpulan dan pertemuan secara rahasia.

perkumpulan ini diketahui oleh para tetua karena salah seorang anggota penari senja yang kalah dalam pemilihan ketua. Akibat sakit hati, ia membocorkan perkumpulan rahasia tersebut kepada para tetua namun mengenai rencana untuk meninggalkan kampung pada saat bulan berwarna coklat tidak diketahui olehnya. Suatu kebetulan, dimana para penari senja mengetahui bahwa perkumpulan mereka telah diketahui oleh para tetau.

Salah seorang penari senja mendengar percakapan dari salah seorang tetua yang rumahnya bertetangga dengannya. Para penari senja bersepakat bahwa mereka tidak akan mengikutsertakan sang pelapor dalam eksodus itu.

Jumat, 05 November 2010

MAGHRIB BERSETERU

Matraman; saat suara beduk tak dihiraukan
Tidak ada kicau dari belimbing tua
seketika raungan kucing di bungkam
tikus yang berseliweran hanyalah tontonan para gelandangan
yah.....maghrib membungkam suara beduk

piring-piring kotor berserakan
tetesan air dari tempat cuci begitu dikucilkan
yah...
maghrib membungkam suara beduk

tidak ada kemanusian di tepi rumah
keributan meninabobokan kesenyapan
kalau saja; ubin-ubin putih berkeluh-tentu
akan ada air mata di sela-selanya
yah....
maghrib membungkam suara beduk

adakah nyala neon menyerap kalimat-kalimat?
masihkah dinding batu menampakan kecerahan?
atau...
cat kusamvbersetubuh dengan lingkungan?
yah....
maghrib membungkam suara beduk

mencoba untuk masuk kedalam lingkaran
memilah duri-duri mawar untuk ditancapkan pada sebatang rokok
mampukah suara beduk terdengar?
karena; keributan maghrib berhamburan tak arah
yah......
maghrib membungkam suara beduk

adakah tetesan air melubangi ubin?
yah.....maghrib tak mampu memperdengarkan nyanyiannya
dan...perseteruan masih diperdengarkan
yah...
maghrib masih berseteru


Selasa, 21 September 2010

KEMBALINYA MASA LAMPAU

Mungkin saja masa yang telah berlalu dan telah menjadi kenangan itu dapat dikembalikan lagi. Pengembalian ini adalah suatu kelangkaan, sebab waktu sangat tidak menghendaki kehadiran dari masa lampau, meskipun masa lampau tersebut berada dalam lingkaran waktu. Baginya masa lampau hanya akan memberikan gangguan dan dapat merusak tatanan kehidupan yang telah harmonis. Keharmonisan?? Keteraturan?? Bukankah realitas yang sedang berparade pada saat sekarang menunjukan ketidakharmonisan?

Masa lampau yang kini memanggilku untuk berada bersamanya, Ia hendak memberikan pelukan atau mendekapku dengan kehangatan yang langka. Berada bersamanya, aku merasakan kedekatan. Namun; apakah aku sanggup mengembalikan kelampauan?

Apapun halangannya aku harus mengembalikan masa lampau karena sebagian diriku telah berada dalam genggamamnya. Satu lagi; masa lampau telah mengikatkan dan menuliskan namaku pada catatan pribadinya.
Harus mengembalikan masa lampau.
Pada masa yang tertinggal
pada kisah yang telah tercatat
pada hari yang menyerap keringat tubuhku
dan...
pada kelampauan
aku masih merindukan kalian

Kembalinya masa lampau tidak menuntut pertanggung jawaban
kembalinya masa lampau tidak mengusik rutinitas masa kini
kembalinya masa lampau tidak mengubah tatanan kehidupan yang ada

kehadiran masa lampau hanya untuk menemuiku
kehadiran masa lampau hanya untuk berkomunikasi denganku
jadi kekinian; janganlah melihatnya dengan tatapan sinis,

Senin, 13 September 2010

TATANRI XXII

Kami tinggal di rumah yang dibangun oleh para penenun untuk berkumpul dan menciptakan motif bagi kain yang akan dihasilkan. Bangunan yang dipenuhi oleh motif-motif, mulai dari gambar hewan,tumbuhan, sampai pada gambar yang tidak dapat ditangkap oleh nalar seorang nelayan. Motif-motif yang terpajang di dinding bangunan ini memberikan dua kesan bagi yang pertama kali menatapnya. Tetapi harus dibedakan mengenai orang-orang yang melihat motif tersebut.

Pertama: manusia yang secara pengetahuan dan rasa telah terikat dengan motif-motif tersebut. Golongan ini yang menatap motif/gambar sebagai bahan yang dapat diselidiki dan ditelusuri. Kelompok ini sanggup untuk menerawang ke relung terdalam dari setiap motif, mereka juga memiliki kemampuan untuk memberikan "kehidupan" pada motif tersebut. Motif; dihadapan kelompok ini adalah akses untuk masuk ke masa lampau. Motif juga merupakan manifestasi dari kaum terdahulu sehingga pada motif tersebut kaum terdahulu tetap hidup.

Sedangkan ada juga manusia yang melihat motif dengan decak kagum tanpa memberikan diri untuk bercinta dengan motif tersebut. Golongan ini hanya memandang motif sebagai suatu hasil karya seni.

Rumah yang dibangun oleh para penenun ini telah lama ditinggalkan sebab mereka telah berserakan di berbagai tempat yang berada di bumi ini. Kepergian para penenun dari rumah ini dikarenakan oleh kurangnya perhatian dari penduduk terhadap setiap motif yang dihasilkan.

Sabtu, 04 September 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(F)

memasuki halaman rumah yang begitu mempesonakan dan menyejukan penglihatan, Arthe teringat akan negeri dongeng yang selalu dituturkan oleh sang ayah kala malam mulai bersetubuh dengan kesejukan. Kehadirannya di sekitar pekarangan dengan berbagai macam kembang dapat menghadirkan sensasi yang luar biasa tentang aroma.

Ibu Marti mengajak Arthe untuk masuk ke ruang tamu yang dipenuhi oleh pria-pria dengan kecerahan menghiasi rona dan ekspresi wajah. Arthe menyapa sambil memperkenalkan dirinya, merekapun balas memperkenalkan diri namun Arthe tidak mengingat nama-nama dari penghuni ruang tamu tersebut. Para pria mengajaknya untuk bergabung sambil menikmati kopi, namun Ibu Marti mempersilahkan Arthe untuk menuju ke kamar yang telah disediakan agar dapat membersihkan diri dari bau terik yang sangat menyengat.

Arthe melangkah menuju kamar yang ditunjukan oleh Ibu Marti, sebelum tiba di kamar ia harus melewati ruang tengah. Ketika melewati ruangan itu, keributan yang sedari tadi terdengar, secara tiba-tiba berubah dan semua mata memadang ke arahnya. Tentu kegugupan menguasai Arthe yang selama kehidupannya tidak pernah mengalami hal demikian. Arthe hanya tersenyum dan beranjak meninggalkan ruangan tengah.

Arthe memasuki kamar yang berukuran 5X6 meter dengan kipas listrik yang senantiasa berputar dan tempat tidur yang berukuran 1,5X1 meter. Tanpa melepaskan pakaian, Arthe merebahkan dirinya sebab kepenatan telah membenamkan cakarnya ke dalam pori-pori dan memasuki aliran darahnya.

Jumat, 20 Agustus 2010

PENARI SENJA

Perkumpulan yang dibentuk oleh kaum penari senja begitu solid dan pergerakannya sangat apik. Mereka mulai menyusun strategi untuk memisahkan diri dari masyarakat Daguarga dan meninggalkan kampung tersebut. Tentu usaha ini tidak berjalan dengan mudah layaknya menekan remote control untuk mengganti saluran televisi. Namun dengan kesabaran dan ketabahan, mereka menjalankan dan menyusun rencana agar proses pemisahan dapat berjalan dengan lancar dan aman.


Bapak Fandes, selaku ketua perkumpulan mengajak para penari senja untuk menyerahkan atau menjual semua barang pribadi yang digolongkan dalam barang-barang sekunder. Hal ini bertujuan agar perjalanan untuk mencapai tempat yang baru tidak dibebani dengan berbagai barang tersebut. Proses pelepasan barang terebut dapat dilakukan dalam tiga cara; menjual barang kepada penduduk kampung, memberikan secara gratis kepada salah seorang penduduk kampung yang dinilai sebagai orang yang sangat membantunya dalam kehidupan, atau membuang barang tersebut.


Adapun keinginan untuk memisahkan diri dari penduduk kampung tetap dirahasiakan sampai menunggu saat bulan berwarna coklat. Karena para penduduk kampung akan memanggil mereka untuk menggelar tarian dari warisan nenek moyang.

Rabu, 18 Agustus 2010

PENARI SENJA

Adakah mereka masih menari ketika berbagai warna yang muncul pada saat jalinan hujan berahkir? Masihkah mereka mengenakan kostum perak ketika suara burung Minerva mulai bermunculan di sekitar kaki langit? Di sekitar perputaran musim yang melahirkan begitu banyak suasana, pada perpindahan angin yang menerbangkan rerumputan kering, pada geladak perahu tak bercadik terdengar suara parau para pelaut klasik yang berceracau tentang gelombang dan arus, dan di antara lolongan bintang liar tersembul suatu prahara tentang para penari senja.
Perputaran musim yang melahirkan begitu banyak suasana namun masih ada kebingungan yang ditinggalkan oleh musim untuk para penari senja. Perpindahan angin yang menerbangkan rerumputan kering namun para penari senja menjadi tumbal dari perpindahan angin tersebut. Geladak perahu tak bercadik menampung segenap keluhan dari para pelaut. Sedangkan para penari senja tidak mempunyai tempat untuk menumpahkan persoalan yang melingkupi kesehariannya. Kaum penari senja melewatkan keseharian dengan menggandeng tawa dan air mata yang terlahir dalam kerancuan. Mereka berada di antara masyarakat yang secara garis keturunan merupakan bagian terdekat atau sedarah. Ketidakhirauan masyarakat terhadap keberadaan mereka disebabkan oleh profesi yang dilakoni. Masyarakat memandang bahwa profesi sebagai penari senja adalah profesi kelas proletar dan pengabdi dari mahluk bawah sadar. Karena label yang telah diberikan masyarakat kepada para penari senja menyebabkan mereka tidak pernah dilibatkan dalam urusan keluarga, kehadiran dalam suatu perkumpulan hanyalah bayangan bagi masyarakat.
Keberadaan para penari senja seperti barang mainan anak-anak, ketika ia dibutuhkan maka barang tersebut sangat dijaga dan dihargai namun ketika ia tidak dibutuhkan maka tempat yang cocok untuknya adalah gudang. Dimana ia akan berkumpul dengan tikus-tikus yang bersileweran dengan mata membelalak. Ditengah kesemrawutan strata dan label yang diletakan masyarakat, mereka membentuk persatuan untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi dan memurnikan kembali keberadaan mereka di tengah masyarakat. Namun perkumpulan mereka sangat dirahasiakan dari masyarakat agar tidak dinilai sebagai pembelot. Mereka selalu berkumpul ketika masyarakat sibuk membicarakan tentang perubahan warna matahari.
Masyarakat di desa Daguarga akan berkumpul pada malam terahkir menurut kalender desa yang diwariskan dari para sesepuh kampung. Mereka berkumpul untuk membahas perubahan warna matahari karena mereka meyakini bahwa warna matahari yang berubah memiliki suatu makna dan pesan yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidup. Tentu para penari senja tidak akan diperkenankan untuk menghadiri dan terlibat dalam pembicaraan ini, sehingga kesempatan ini digunakan oleh para penari senja untuk merencanakan kegiatan dan saling menguatkan. Dalam pertemuan yang pertama, mereka memilih ketua dan pengurus yang dapat dipercaya untuk mengatur kelangsungan dari perkumpulan tersebut. Bapak Fandes, seorang yang sangat menutup diri dan sangat minim berbicara dipercaya oleh para penari senja untuk menjadi ketua dari perskumpulan. Sesampainya ia diangkat sebagai ketua disebabkan oleh sikapnya yang selalu melakukan berbagai pekerjaan tanpa harus mendengarkan perintah dari orang lain. Ia juga sangat dihormati di kalangannya dan dipandang sebagai sang inspirator dalam menciptakan berbagai gerakan baru untuk tarian senja.
Para warga lain tidak pernah berpikir bahwa kelakuan yang ditunjukan kepada para penari senja dapat menjadi boomerang bagi dirinya jika tidak disikapi dengan baik dan benar.(bersambung)

Jumat, 13 Agustus 2010

LELAKI YANGBERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR (E)

Kecurigaan Arthe terhadap ibu Marti muncul dari pengalaman yang diperolehnya dari pemilik kedai. Arthe meyakini bahwa semua penduduk di kampung ini memiliki sikap yang sama terhadap setiap tamu. Kecurigaan yang nampak dari keengganan untuk menerima tawaran dari ibu Marti dan ekspresi hambar ketika mengadakan pembicaraan. Arthe berketetapan untuk menolak tawaran dari ibu Marti. Menyadari akan penolakan dari Arthe maka ibu Marti bertanya mengenai alasan yang mendasari penolakan tersebut. Dengan jujur Arthe menceritakan alasannya dan ibu Marti memberikan penjelasan mengenai sikap dari pemilik kedai.

“Nak, engkau terlalu cepat membuat kesimpulan terhadap karakter penduduk kampung ini berdasarkan perjumpaan mu dengan pemilik kedai. Engkau adalah orang asing yang tidak mengenal dengan baik dan benar tentang karakteristik penduduk di sini. Memang pemilik kedai adalah orang yang tidak menghendaki agar usahanya mendapatkan saingan dari orang lain. Kami selalu menerima tamu untuk menginap di rumah meskipun ia bukan berasal dari keluarga atau kenalan kami.”

Mendengar penjelasan yang diutarakan oleh ibu Marti menyebabkan Arthe memohon maaf atas kesimpulan yang dibuatnya terhadap penduduk kampung.

Ketika suara burung Minerva mulai terdengar, Arthe menyetujui untuk menginap di rumah ibu Marti.
Keadaan rumah ibu Marti begitu gaduh karena banyaknya orang yang berkumpul di ruang tamu. Rumah yang tergolong dalam kelas atas dengan penataan tanaman yang mengutamakan keteraturan dan dikerjakan dengan sangat teliti.



Rabu, 11 Agustus 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(D)

“sangat disayangkan bahwa pemilik kedai masih menganut teori persaingan usaha yang sangat klasik, menyembunyikan alamat dari tempat produksi anggur merupakan suatu pengkhianatan terhadap dunia usaha.”

Usahanya untuk mencari penginapan juga berujung pada kenihilan sebab di desa tersebut para penduduk tidak mengembangkan usaha di bidang penginapan. Mereka lebih mengurusi lahan pertanian dan sangat jarang orang asing yang berkunjung. Biasanya para penduduk menerima tamu untuk menginap di rumah mereka meskipun tamu tersebut merupakan orang asing. Setelah berkeliling dan terjebak dalam kelaparan, Arthe memutuskan untuk melewatkan malam di perkebunan teh yang terletak di luar kampung. Seorang ibu yang berlalu di hadapan Arthe menampakan wajah muram karena kondisi Arthe yang sangat memprihatinkan.

“apakah engkau orang asing di desa ini?” Tanya sang ibu membangunkan kesadarannya yang mulai rapuh akibat kelelahan.

“benar bu, saya adalah orang asing di kampong ini. Kedatanganku berdasarkan nasehat dari paman. Menurutnya di kampong ini terdapat tempat produksi anggur dan aku telah berusaha untuk bertanya kepada pemiliki kedai yang menjual anggur namun ia tidak memberikan penjelasan mengenai alamat dari tempat produksi anggur tersebut. Saya tidak bermaksud untuk menyaingi usahanya tetapi tujuan untuk mengetahui tempat produksi adalah untuk membeli anggur bagi ayah!”

Sang ibu memperkenalkan diri kepada Arthe dan mengajaknya untuk menginap dirumahnya sebab malam semakin merapat. Arthe sangat mencuragai penawaran dari ibu Marti

Rabu, 04 Agustus 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(C)

Ayahnya tidak menyadari bahwa Arthe telah pergi dari hadapannya, ia melupakan Arthe karena kesendirian yang begitu menyebarkan pesona dan wewangian di hadapannya. Arthe mulai melakukan pencarian Anggur dengan mengikuti petunjuk dari sang paman.yakni menempuh perjalanan ke kampung tetangga. Arthe menumpangi mobil kayu yang berumur 15 tahun. Mobil kayu yang berbunyi seperti batuk dari para kakek ini berjalan sangat lambat sehingga jarak kampung yang kira-kira 10 km ditempuh dalam waktu 3 jam.


Setibanya di kampung tetangga Arthe segera menuju ke kedai minum untuk bertanya tentang anggur yang dijual di kedai tersebut. Usaha untuk bertanya itu berujung pada kesia-saian sebab pemilik kedai tidak memberitahukan kepadanya tentang asal dari anggur tersebut. Arthe nampak kehilangan keseimbangan ketika mendengar bahwa pemilik kedai merahasiakan tempat produksi dari anggur. Arthe berencana untuk memaksa pemilik kedai agar dapat memeberitahukan kepadanya tentang temapt produksi dari anggur bahkan harus mengorbankan nyawa. Mengapa harus mengorbankan nyawa dan terjadi pemaksaan? Jika salah satu hal ini terlaksana maka Arthe akan mendapatkan persoalan baru dan usaha untuk memperoleh anggur tidak dapat terlaksana. “bukankah aku harus memperoleh anggur?” Ia mengabaikan niatnya terhadap pemilik kedai dan melanjutkan pencarian dengan bertanya kepada para pelanggan kedai. Usaha inipun berujung pada kehampaan namun ia tidak menyerah dan terus berusaha. Ketika suara magrib mulai terdengan ia memutuskan untuk menyewa penginapan agar dapat melepaskan kepenatan.

Sabtu, 31 Juli 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(B)

Arthe melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkan kepada sang ayah. Sementara itu kesendirian telah menemukan kesatuan dengan ayah Arthe. Keduanya sangat akrab dan kelihatannya telah saling mengenal.Mereka seperti sahabat yang menjalin hubungan sejak usia dini, tentu Arthe sangat takjub dan bingung menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak melihat kesendirian sebagai sosok yang asing. Mungkinkah selama ini sang ayah telah mengenal dan bermain dengan kesendirian?

Arthe membiarkan kesendirian untuk memainkan peran sebagai dirinya ketika ia pergi untuk melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkannya kepada sang ayah. Ia tidak memberikan ucapan selamat atau pemberitahuan kepada ayahnya emngenai keberangkatan dan tujuan dari kepergiaannya. Arthe hanya mengatakan bahwa ia hendak berkunjung ke rumah paman untuk menanyakan tentang keperluan yang dibutuhkan oleh pamannya untuk mengerjakan perlengkapan dapur yang dipesan oleh para pelanggan. Memang Arthe selalu membantu pamannya untuk meringankan pekerjaan, dari kegiatan itu ia memperoleh berbagai informasi mengenai tempat untuk memperoleh anggur yang baik. Keputusan untuk melakukan pencarian terhadap anggur telah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu Arthe meyadari bahwa sang ayah mulai melupakan keberadaan dirinya. Alasan yang dapat diperoleh Arthe mengenai perubahan sikap dari ayah adalah kelakuannya yang selalu lupa untuk membantu ayahnya untuk merapikan buku-buku diperpustakaan.