Sabtu, 15 Februari 2014

SEBELUM TENGAH MALAM (LANJUTAN)


Mencitrakan diri sebagai sosok yang sempurna dan sama seperti orang lain adalah sebuah kesiasian. Neshi harus menjadi diri sendiri , dia tidak boleh terpengaruh oleh keadaa sekitarnya. Seandainya, ia mengambil produk masyarakat sekitar, mengikuti ayunan pasar serta menggonggong layaknya manusia di kerumunan maka Neshi  bukanlah Neshi. 
Mungkin saja, ia harus sedikit terluka atau tersakiti. Neshi harus siap menghadapi semuanya. Inilah Hidup! Tak ada yang semudah hembusan angin. 

Kabar itu berhembus di segala penjuru kampung. Semua yang mendapat kabar itu segera berhamburan keluar rumah. Mereka segera menuju tempat kediaman Neshi. Dari anakanak, orang dewasa, tua muda, mereka mau mendapatkan penjelasa langsung dari Neshi tentang kebenaran kabar tersebut.

Dengan segera pintu di ketuk, tanpa basabasi semua menghamburkan pertanyaan. Benar kabar itu?, katanya kamu punya kekuatan?, dari mana kamu dapat kekuatan itu? 


Neshi bengong. Ibunya sudah ke pasar sejak pagi. Sekarang Si kecil ini harus sendirian menghadapi beragam pertanyaan. 


Daun pintu, berwarna kusam dengan engsel sudah dimakan udara dan waktu itu berbunyi  tak beraturan kala para penanya mendorongnya. Neshi diam saja. Pikirannya belum mampu memberikan jawaban.



Hari yang belum semak spat tertidur sejak hari kelahirannya, selalu berusaha untuk menjadi dan menjadi meski tak pernah terpisahkan dari waktu. kalau saja, hari berusaha untuk mengakhiri persabahatan dengan waktu maka minggu, bulan dan tahun tak akan muncul ke permukaan. mungkin juga matahari tak akan menampakan diri di ufuk  timur.