Sabtu, 29 Maret 2014

DEADLINE



begitu satir jemari mementaskan tarian abjad.
bungkuk lelah terpatri, menua di lorong malam.
lakon mengeja abjad ke barisbaris kata
yang turun ke jemari, entah dari mana datangnya
aku tak paham.

yang pasti tarian ini harus usai, kisah ini harus indah.
jangan kau tanya darimana datangnya indah. jangan pula
kau singgung lelah di punggung ini.

kemudian aku tertegun menyaksi ringkik rasa
yang tergeletak lunglai bersama ampas kopi.
mungkin kopi ini tak perlu kutuntaskan dulu, entah ampas sekalipun.
ia harus kuerami. lalu lari, menjauh, membiarkan abjad menjadi abjad.

meski tatapan jalang pemangsa malam terus terjaga.
Aku akan terbang dari jalang yang tak surut matanya itu.
aku ingin memungut embun untuk kusimpan dalam gelasku.
siapa tahu, ia bisa berbiak dalam pelukmu, (kopi)

aku bertanya padanya: maukah kau menjelma dewi?
tak sanggup berwujud serupa,” bisiknya pelan. aku terlalu anggun
bagi genre labil ini.
ahhhh....desahku bersama asa yang berbias.

kini tak ada jejak kemarin. segalanya larung ke muara ilusi.
entah dan hanya entah, antara dan hanya antara
berbaris di bawah temaram sendu.
begitu rapi sampai tak terlihat noktah di sekujur tubuhnya.
haruskah khayal kembali ke masa lampau ?

yah. kuharap bulan belum lelap karena
menunggu aku pulang membawa sisa kopi ini.
akan kutuang ke dadanya dan samasama kami seruput.
sebatang rokok kan temani kami tuntaskan malam
yang gerah ini.

dan inilah. lantas? lalu?
biarlah mereka sebatas kata.
pastikan kita berlalu, melarut bersama senja dan sepi.
(SEJENAK MENEPI BERSAMA SANG SAHABAT STEVE ELU)

Senin, 24 Maret 2014

SEBELUM TENGAH MALAM (LANJUTAN)

Hari yang belum  sempat tertidur sejak kelahirannya, selalu berusaha untuk menjadi dan menjadi meski tak pernah terpisahkan dari waktu. kalau saja, hari berusaha untuk mengakhiri persabahatan dengan waktu maka minggu, bulan dan tahun tak akan muncul ke permukaan. 

Sejenak, berpisah dari keseharian, berjarak dan membiarkan dirinya dalam kesendirian. Mungkin ini adalah cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku sesungguhnya sudah tidak mau lagi bersahabat dengannya. Tapi, mana mungkin bisa kulakukan hal tersebut? Bagaimana bisa aku berkata kalau dia lebih pantas tertinggal sebagai kenangan? 

Kenangan. Sesungguhnya apalah arti kata ini. Kalau hanya membuat hati galau dan pikiran kacau.  Berkanjang pada kenangan sudah membuat aku kelelahan. Kebersamaan yang terjalin itu hanya menyisahkan nestapa yang paling nestapa. Ya. Kenangan. Sudah seharusnya dia di simpan dalam kotak atau tepatnya dimuseumkan. 

Di museumkan. Mungkin ide yang tepat untuk mengakhir keangkuhan kenangan. Tapi, bukankah di sana dia bisa lebih banyak menarik perhatian pengunjung? Ahhhhhh...... aku lelah dengan semua ini!! persetan dengan kenangan.  Peduli amat dengannya .


Aku; lelaki malam, mencumbu dan mencacah malam dengan setampuk rindu yang dibawa dari masa lalu.
Aku; pria subuh, menceramah malam di bawah temaram bulan setengah lingkar.