Senin, 26 Mei 2014

MALAM DI KAMAR CAHAYA




Kendaraan umum masih terpakir rapi di sepanjang jalan, para sopir dan kondektur sedang bergelayut di luar jalan umum. Tapi, kalau menunggu sampai mereka bangun, mentari akan menyengat sepanjang perjalanan itu. keyakinan yang begitu optimis ini bisa saja memuai, terbang ke langit jauh. Malam yang telah mengubur semua kenangan tentang hari kemarin akan menyeruak, berbaris teratur di pinggir jalan yang akan ku lalui. Sesungguhnya nurani sudah memperingati tentang semua itu, namun ayah bersikukuh untuk berangkat saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun. Sungguh, aku tidak bisa membantah sikapnya. Apa yang sudah dikatakan harus dituruti. Melawan sama saja menceburkan diri ke lubang hitam atau terjun bebas ke dasar ngarai dengan kesepian dan kesendirian yang begitu melankolis. 
            Mungkinkah aku harus sedikit bernegosiasi? Merayunya dengan sikap manja dan kekanakan? Apa ayah luluh setelah aku meletakan kepala di pangkuannya atau memijit pundaknya? Aku pesimis. Telah kusaksikan dengan mata telanjang bagaimana saudariku merengek, memohon izin untuk melewatkan malam di rumah sahabatnya di kota namun tetap saja ayah tidak memperkenankan dirinya. “Anak perempuan seusia kamu tidak boleh keluar rumah, apalagi sampai tidur di rumah orang. Nanti orang bilang apa.”  Begitulah ayah. Selalu berusaha agar anak-anaknya menuruti semua aturan yang telah tertulis secara lisan. Walau tembok kokoh nan megah yang kasat mata itu sudah ayah rawat sejak kami mulai tumbuh sebagai perempuan, namun kali aku tidak boleh menyerah. Harus bisa meyakini ayah kalau keputusan untuk berangkat di saat subuh adalah keputusan terbaik. Dan, inikan perjalananku, tentunya aku berhak untuk menentukan pukul berapa berpisah dari mereka.
Melubangi tembok indah buatan ayah berbanding lurus dengan kebinggungan saat terjebak di sebuah labirin.  Kehendak itu sudah menghuni pikiran tapi aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana dan akan berahkir seperti apa. Keadaan ini juga seperti skenario film-bukan skenario sinetron juga bukan skenerio film esek-esek berkedok horor atau skenario film abalabal-yang bertujuan untuk memenangi festival film internasional. Aku tidak tertarik dengan festival film nasional. Terserah kalian omong apa. Memang kenyataannya sudah begitu. Soalnya, bagiku festival film nasional kurang idealis sangat pragmatis dan komersial. Dengan scene-scene[1] yang dijejali dengan alur dan plot yang mampu memantik khayal dan pikiran penonton sehingga tidak hanya gelak tawa atau decak kagum yang muncul usai menonton film tersebut. Walau begitulah keadaannya, aku harus mampu melubangi sedikit tembok ayah itu. Hukumnya wajib bukan sunnah. Retorika dengan pola pikir teratur dan sistematis merupakan senjata utama menghadapi ayah. Metafora hanyalah senjata pelapis. Kalau ayah menggunakan metafora, aku pun siap membalasnya dengan senjata yang sama.  Dalam menghadapi ayah teori kutub negatif bertemu kutub negatif hasilnya positif mungkin bisa dipersiapkan tapi bukan menjadi hal utama.
 Malam tengah mesra menggoda bulan. Gemintang terlihat cemburu dengan sikap malam. Kunang-kunang hanyalah dian yang berpendar di antara cahaya lampu buatan Thomas Alva edison. Ayah di ruang tamu. Dari ruang tamu pula, terdengar suara seorang perempuan labil yang sedang menjajakan produk pembalut wanita. Ayah sedikit melirik ke arah perempuan itu. Wajahnya agak sinis. Aku tidak tahu kenapa wajah ayah demikian. Apakah wajah itu demikian lantaran ayah muak dengan busana sang perempuan, ataukah ada pikiran lain yang mengganggunya sehingga suara perempuan tersebut membuat ayah kian terusik. Kepulan asap tembakau entah dari mulut ayah atau dari ujung rokok yang tersulut itu hanya komeo[2] yang berkelindan begitu saja.  Sedangkan ibu sibuk merapikan kardus yang mengisi semua perbekalanku.
Kira-kira empat puluh dua jam lagi, aku  meninggalkan semua kenangan di rumah dan kamar ini. Sekitar dua ribu delapan ratus delapan puluh menit lagi, lilin di pojok kamar akan padam entah sampai kapan dinyalakan kembali. Buku-buku dan kamus Jhon Echols yang tersusun rapi, serapi cerita kebersamaan kami yang akan kusam, tertimbun di bawah debu tebal. Apalagi kasur, bantal, guling dan sprei ini. Mereka butuh waktu untuk menerima kehadiran penghuni barunya. Kaget itu pasti.  Lantas, akankah mereka akan mengusik tubuh yang akan menindih mereka? Entahlah.  Perpisahan. Kenapa harus ada lara? Tidak bisakah kelam tergerus pendar? Mengusirnya mungkin akan membalik sejarah yang sudah tertulis berabad-abad. Itu pekerjaan berat. Sangat tidak mungkin menyelesaikannya dalam semalam. Aku bukan Sangkuriang yang sanggup membangun sebuah bendungan atau Bandung Bondowoso yang mampu mengerjakan 1000 candi sebelum jago berkokok. Meninggalkan kenangan lebih berat daripada berpisah dari kedua orangtua dan sanak saudara.
Sebelum waktu menyisahkan 30 pukul, aku harus menemui ayah. Memberikan penjelasan dan alasan kenapa aku memilih berangkat di kala subuh jatuh di pangkuan angka tiga. Lantas, bagaimana mengawali pembicaraan? Sedangkan cicak di dinding kamar saja terlihat mulai gelisah saat pikiran ini berkecamuk. Mungkin, cicak yang selama ini melihat kelakuan ayah sudah tidak yakin jika usahaku akan bermuara pada kesuksesan.
“Aku harus,” ucapku untuk meyakinkan diri.
“Akan menjadi aib. Wanita lulusan ilmu komunikasi ini tidak bisa menaklukan sikap ayah”
Aku memantapkan pikiran dengan kembali membuka beberapa buku kuliah mengenai teknik negosiasi. Tak lupa pula kubenamkan diri dalam bacaan psikologi. Setelah menyegarkan ingatan, aku pun melangkah ke arah ayah. Sesaat pintu kamar terbuka, ayah masih asik dengan tembakaunya. Pandangannya lurus ke depan. Ke arah pintu depan yang masih terbuka.  Ku lirik sebentar ke arah jarum jam yang menunjukan pukul 23.00.
            Canggung. Mungkin kata yang cukup baik bagi keadaanku. Jantung berdeguk kencang. Tatapan tertuju pada lantai. Ibu bersuara. “Nona. Sudah atur semua pakaian dalam  kopor.” “Sudah semua,” jawabku dengan nada suara lemas.  
“Tidur sudah.”
“Nonton tivi dulu mama.”
Mendengar suaraku. Ayah meletakan rokoknya. Asbak yang menjadi tempat peristirahatan sementara puntung-puntung rokok itu sudah terisi penuh. Padahal, sore tadi aku baru saja mengkremasi semua puntung rokok ayah di lubang sampah. Aku meletakan diri begitu saja di samping ayah. Ayah belum mengalihkan pandangan dari pintu depan.
            Langkah pertama untuk menciptakan pembicaraan adalah dengan menutup pintu depan. Aku yakin cara ini membuat ayah tersadar dari pikirannya dan menegor tingkahku.  Dugaanku benar. Sesaat setelah engsel pintu mengeluarkan bunyi berderit, ayah pun mengurai senyum dan berkata, “Ayah sudah pesan mobil untuk keberangkatan kamu pada lusa siang.”
“ohhhhh,…..” jawabku sekenanya. 
Ayah mengacuhkan jawabanku. Padahal, seingatku, ayah akan memberikan tanggapan,  kalau kami anaknya berujar demikian. Ada apa dengan ayah? Sedihkah dirinya dengan perpisahan ini? Ah..terlalu naif. Bukankah ayah sendiri yang mengajurkan aku untuk berangkat ke tempat itu? Usai ujar itu meloncat keluar dari lidah dan sampai dengan selamat di kuping ayah. Aku menemukan ayah membisu. Aku kembali duduk di samping ayah. Mencoba menerka jalan pikiran ayah. Sungguh. Aku tak tahu apa yang berkecamuk di dalam sana.  Semua buku dan pengetahuan yang telah kucecapi terasa hambar di lidah. Pikiran beku. Tak bisa berpikir barang seinci pun. Aku gagap. Sedangkan ayah sendiri masih terdiam.
            Perempuan labil itu kembali mempromosikan produk pembalut. Tapi ayah tidak lagi melirik ke arahnya. Rokok juga dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja. Korek gas tertidur pulas di samping bungkus rokok tersebut. Ibu sudah masuk kamar. Ketiga adikku juga telah pergi bersama mimpi-mimpinya. Sekarang tinggal aku dan ayah yang masih terjaga.
“Ayah. Bisa bicara sebentar?” ucapku dengan suara agak gemetar. Ayah menjawabnya dengan mengelus rambut.  Ada seulas senyum terlukis sendu di bibirnya. Retak berkaca di kedua bola matanya.
“Terik sudah menguasai musim ini. Tak ada lagi teduh yang bertengger di  siang hari. Aku takut kalau berangkat siang maka akan tiba di tempat itu pada malam hari.” Sungguh retorika, cara berkomunikasi yang diajarkan dosen dan predikat Cum Luade berubah jadi barang rongsokan. Di hadapan ayah, aku sesungguhnya masih mahasiswa semester satu.
“Kita tidak hanya dikarunia insting atau naluri.”
Hening. Sepi yang melankolis. Itulah keadaan yang tercipta usai metafora ayah menampar anak telingaku.  Wajah  pun memerah. Semerah darah yang menindih kedua kuping dan pipiku. Keadaan ini semakin beranak pinak memenuhi ruang tengah ini lantaran kesenduan tergolek lemas di langitlangit malam.
            Maksud tak tersampaikan.Gundah di rasa. Sedih menohok pita suara. Aku meninggalkan ayah dengan mengulum senyum kekalahan. Ayah memang sosok yang berpendirian teguh. Butuh waktu dan persiapan yang cukup untuk meyakinkan ayah. Aku kalah. Di kamar berukuran tiga kali empat meter persegi ini, di atas tempat tidur, aku terduduk lemas. Sepoi malam yang masuk lewat ventilasi udara akan menyaksikan dengan angkuh kekalahanku. Segera, sesudahnya ia pergi dengan sorak sorai. Mungkin sepoi akan mengabarkan keempat penjuru angin berita kekalahan telakku malam ini. Tiba-tiba, Sebuah tanya menyeruak; kenapa tadi saya tidak bersikap manja dan meletakan kepala di pangkuan ayah?
            Keesokan paginya, aku terjaga lebih awal. Merapikan tempat tidur kemudian bergegas  ke dapur.  Debur dan gemerisik pagi belum terdengar. Hanya kecipak air yang terdengar dari kamar mandi. Aku tahu. Tidak ada orang di dalam sana. Itu hanya hasil dari kerusakan kran air belum juga diperbaiki selama tiga bulan ini. Aku menyalakan kompor minyak dengan korek gas yang kuambil dari samping lilin di kamarku. Aku memungut lidi yang terbalut kapas berwarna hitam kemudian menyulutnya dengan korek gas. Lidah-lidah api mulai bernyala terang, membakar sumbu-sumbu kompor yang berjumlah dua puluh empat. Aku menunggu api kompor berwarna biru kemudian meletakan wajan di atasnya. Tanpa pikir panjang, kuambil pisang dan adonan yang sudah disiapkan ibu di dalam kulkas lalu menggorengnya dengan minyak bekas gorengan kue cucur. Potongan pisang yang telah dibalur adonan itu menimbulkan keributan ketika menyentuh minyak panas. Suaranya mirip petikan gitar seorang yang baru pertama kali memegang gitar tapi berlagak layaknya Jim Hendriks atau Rama Satria Claporth.  Selang lima menit, suaranya mulai terdengar perlahan. Aku tahu itu berarti adonannya mulai matang. Semenit berikutnya, harus segera diangkat kalau tidak adonan tersebut akan gosong. Usai menggoreng adonan pisang, aku menyeduh kopi untuk ayah dan mempersiapkan sarapan buat ketiga adik yang akan berangkat ke sekolah.
            Ibu dan ayah sedang duduk di teras rumah. Bagiku, kelakuan mereka cukup aneh. Biasanya hanya ayah yang duduk di sana sedangkan ibu selalu membantuku di dapur. Mungkinkah ini akibat dari pembicaraan aku dan ayah semalam? Bisa iya. Bisa juga tidak. Biarkan saja mereka berbicara. Toh tidak akan mengubah keputusan yang sudah ayah buat. Saat aku meletakan kopi di atas meja, keduanya seperti terjaga dari rasa kaget. Aku diam saja. Berusaha tidak bereaksi atas sikap canggung mereka. Bagiku ini merupakan cara terbaik untuk tidak menimbulkan sesal atau kecewa. Biarlah sesal dan kecewa mengambil sebagian hatiku.
            Siang berlalu. Hanya ada sebagian kenangan yang hadir sekadar mengobrol dan bertukar kabar. Mungkin agak spesial di saat senja. Lembayungnya menuntun langkah menuju karang di sudut pantai. Aku di sana. Membuang tatapan ke arah laut lepas. Buih menggulung lembut dengan sedikit erangan yang diciptakan dari percintaan pasir dan karang. Aku masih di sana, mengulum senyum sunyi, sesunyi suasana senja. Panggilan ayah berlalu disembunyikan angin dari gendang telinga. Dengan sedikit terpaksa, adik harus menggantikan peranku sebagai penyeduh kopi senja buat ayah.
            Adalah di relung malam, sekitar pukul 21.00, sebuah kejadian langka beraroma flamboyan menyeruak di rumah empat kamar ini. Usai makan malam, aku diminta ayah berdiri dan mengucapkan kata perpisahan. Aku geli. Bagaimana tidak. Baru kali ini, aku harus bertingkah seperti seorang guru yang akan pergi meninggalkan sekolah, entah karena dipensiunkan atau dipindahtugaskan. Agar tidak mengacaukan malam terahkir bersama mereka, aku terpaksa meladeni permintaan ayah. Sempat terlintas di benak, kalau ayah hendak merekam semua tuturku agar dapat ia gunakan saat dirinya berdiri di hadapan para guru dan murid di akhir masa jabatannya yang sebentar lagi menyapanya. Usai berceloteh, aku kembali ke kamar dan menyerahkan diri kepada bantal dan guling untuk terahkir kalinya. Pupus sudah harapan untuk kembali meyakinkan ayah agar berangkat di saat subuh.
            Pagi bangga. Ia merasa menang telah mengalahkan subuh yang  hendak menghantarku ke tempat tujuan.  Namun, kesombongan pagi akan segera usai, digusur siang yang paling berhak atas kemenangan tersebut. Ayah sudah bersiap. Ia mengenakan busana yang sering digunakan saat acara kebaktian di Gereja. Sedangkan ibu, sibuk memeriksa segala perlengkapan yang akan memenuhi kamar di hunian baruku. Ketiga adik masih berada di sekolah. Kalau aku sudah berbusana seperti ayah tapi tidak serapi ayah.
Tepat, pukul 12.00 mobil yang akan menceraikan aku dan kenangan selama dua puluh tiga tahun telah menunggu di halaman rumah. Ayah segera menyuruhku untuk mencium tangan bunda. Lalu, bagaimana dengan ketiga adikku?  Ayah sepertinya tidak mau kalau aku harus mengucapkan salam perpisahan dengan mereka. Aku bingung dengan sikap ayah. Apa boleh buat. Itulah keputusan. Aku tinggal menuruti saja. Ibu memahami sikap ayah sehingga dirinya juga tidak terlihat sedih walau harus berpisah dengan puteri pertamanya. Aku dan ayah berangkat. Perjalanan sungguh tidak menyenangkan. Di kanan kiri jalan. Segala kenangan terlihat sedih. Ada yang mereka sampaikan namun suaranya terhalau deru mobil dan angin. Lagi-lagi, aku berpasrah. Sepanjang perjalanan ayah begitu tenang. Ia menikmati perjalanan dengan dua bungkus rokoknya.
Tiba di tempat tujuan, waktu menunjukan pukul 20.00. Seorang penjaga berusia sekitar 60 tahun membukakan pintu pagar. Di pintu depan, sudah berdiri beberapa wanita berpakaian putih dengan kerudung tertata rapi di kepala. Pemandangan ini tidak asing lagi. Hampir enam tahun lamanya, aku berada di sekitar mereka meski tidak di tempat yang tepat di depanku.
Setelah mesin mobil dipadamkan dan aku menjejalkan kaki jalan beraspal, seorang wanita menyambutku dan segera mengambil barang-barang yang telah diturunkan kondektur dari bagasi mobil. Ayah sudah terlibat dalam pembicaraan dengan salah satu wanita yang berdiri di pintu. Aku dan wanita yang mengambil barang bawaanku, bertegur sapa dan berkenalan.
“Tari,” aku mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri.
Si wanita tersebut menjawab “Suster Afra.”
Kami berdua menuju ke pintu. Ayah dan Si wanita yang berdiri di pintu tersenyum menyambut kedatangan kami.
“Kami kira adik dan om tibanya tadi siang. Panggil saja suster Angel.” Sembari mengulurkan tangan ke arahku.
“Saya Tari.”
Setelah perkenalan, kami bergerak masuk. Suster Angel dan ayah duduk di ruang tamu sedangkan aku dan suster Afra  menuju ke kamar yang telah disediakan untuk ku.
            “Oh…begini kamarnya,” begitulah gumanku dalam hati ketika menyasikan keheningan dan ketenangan yang berdiam di kamar tersebut. Aku mulai memperhatikan keadaan kamar. Tidak ada lilin yang terletak di salah sudut kamar namun bau lilin begitu terasa di kamar ini. Cat dan model kamarnya juga bergaya kuno tapi tetap menawarkan suasana yang dirindukan orang-orang kala hendak lari dari rutinitas dan beban pekerjaan.
“Sejak saat ini, Tari menempati kamar ini. Kalau aku tidur di kamar di lantai dua.” Perkataan suster Afra membuyarkan jalinan persahabatan dengan kamar ini.
“Terima kasih Suster.”
“Kalau butuh sesuatu bilang saja. Nanti akan disediakan.”
“Terima kasih Suster.”
Melihat tingkahku yang berbalut rasa gugup, suster Afra tersenyum dan berlalu dari  hadapan ku.
            Ku rebahkan diri dan merasakan suasana yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Meski mata terpejam namun dapat kupastikan kalau kamar ini dipenuhi dengan beribu cahaya. Aku membiarkan saja sensasi itu merayap di sekujur tubuh. Tanpa sadar aku tertidur hingga lonceng berdentang tujuh kali. Aku terbangun, menyadari kalau hari sudah pagi. Aku tak tahu harus berbuat apa. Teringat pula ayah yang tidak sempat kukecup tanganya. Apa penilaian suster Angel terhadap ku? Pikiran ini begitu mengganggu.
            Dengan posisi bersila di lantai sembari memejamkan mata. Berusaha merasakan sensasi yang semalam menghantarku ke tidur paling nyaman dalam sejarah hidup. Tak butuh waktu lama. Sensasi itu hadir. Masih sama seperti malam tadi. Aku menyerahkan diri kepadanya. Dalam temaram cahaya paling temaram yang berkelindan di kamar ini, jiwaku terbang melintasi batas langit dan melepas pandangan sambil tersenyum bahagia.  
            Menjelang siang, suster Afra memanggil. Memintaku menghampiri Pendopo. Ayah berbincang dengan suster Angel. Aku mencium tangan ayah dan duduk bersama mereka. Wajah ayah tampak kecewa. Suster Angel juga menampakan wajah serupa. Ada apa? Pertanyaan ini menggerayangi pikiran. Berharap Suster dan ayah memberikan penjelasan.



[1] Adeganadegan dalam film
[2] Tokoh-tokoh yang hanya lewat atau muncul sesaat di dalam film. Mereka bukan tokoh utama atau pemeran pembantu. Komeo hanyalah pelengkap penyerta.