Sabtu, 03 Desember 2011

BERTATAPAN


Tidak ada kata yang terucap dari bibir kami
Aku tiba di depan rumah kelahiran ketika siang memberikan kesunyian baginya. Tidak ada sambutan di pintu depan sebab pintu depan berada dalam keadaan tertutup dan tidak terdengar bias-bias suara yang dibawa oleh angin ke dalam gendang telingaku. “Mungkin para penghuni sedang memberikan kesendirian bagi rumah berdinding kayu ini.” Begitulah kesimpulan yang dapat diberikan oleh pikiran ketika menyaksikan kesendirian dari rumah tersebut. Jika demikian kami mengalami nasib yang sama. Aku juga berada dalam kesendirian. Apakah ini kebetulan yang telah direncanakan oleh sang waktu? Bahwa kebetulan yang terjadi tetap memiliki perbedaan di antara kami. Kesendirian yang bergelayut di sekitarku masih dapat dirasakan dan disadari. Sedangkan rumah ini tidak memiliki kesadaran dan perasaan sedikit pun mengenai keadaannya. Jadi aku agak sedikit berbangga diri dan berlagak sombong terhadapnya. Sikap bangga dan sombong memang layak untuk ditunjukan terhadapnya. Akan menjadi aneh jika aku menunjukan sikap rendah hati di hadapannya atau tidak mengakui bahwa aku sadar akan keberadaan ku.
Aku melepaskan tas pakaian di halaman rumah dan membaringkan tubuh di atas rerumputan kuning yang jarak antara satu rumput dengan rumput lainnya kira-kira tiga puluh centimeter. Segera aku memejamkan mata untuk melepaskan penat sebagai akibat dari perjalanan sulit yang baru saja kutempuh dengan sebuah truk kayu. Tubuh dihadapkan dengan kenyataan yang sangat asing, ia harus berusaha untuk menjaga keseimbangan ketika truk kayu harus miring ke kiri dan ke kanan. Tubuh yang selama ini hanya bersentuhan dengan aktifitas pikiran harus menyesuaikan diri secara cepat dengan tuntutan lingkungan yang memandang aktifitas pikiran sebagai mahluk yang datang dari planet lain. Berhadapan dengan keadaan ini tubuh tubuh berusaha semampunya untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Sehingga ia harus merasakan kepenatan dan kelelahan yang akhirnya memberikan penderitaan padanya. Ia dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang selalu hadir ketika siang menghempaskan dirinya di atas tempat tidur.
Di atas rerumputan kuning tubuh hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan, jika kematian menghampirinya maka dengan senang hati ia memeluknya agar ketersiksaan padanya dapat dilampaui. Baru saja memasuki dunia fiksi, tubuhku dikejutkan oleh suara yang begitu berat. Dengan segera kutinggalkan dunia fiksi dan membelalakan mata agar dapat mengenali wajah dari pemilik suara tersebut. Ketika indra penglihatan saling beradu maka tidak ada kata ataupun kalimat yang terujar sebab kesunyian masih berkeliaran di sekitar rerumputan kuning ini.
Hanya bahasa yang terucap lewat pandangan. Bahasa yang tidak diciptakan dari keduapuluh enam abjad, suatu bahasa yang hanya dipahami oleh jiwa. Pandangan yang berkalimat dan berkomunikasi dengan leluasa bahkan melampaui kesadaran pikiran dalam membentuk keduapuluh enam abjad menjadi sebuah kalimat. Sulit untuk memberikan penjelasan mengenai peristiwa ini sebab pikiran tidak dapat menciptakan sebuah kalimat dari keduapuluh enam abjad. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesunyian yang tidak mengizinkan keduapuluh abjad untuk berpartisipasi dalam peristiwa ini. Dalam kurun waktu satu menit aku tidak dapat mencegah indra penglihatan untuk berkuasa atas indra-indra lainya. Bahkan kepenatan yang dirasakan oleh beberapa indra lainya segera hilang. Kenyataan ini jika dibahasakan dalam keduapuluh enam abjad maka dapat dinamakan dengan kebahagiaan atau keheranan atau kekagetan. Namun kesimpulan yang diberikan oleh keduapuluh enam abjad di atas tidak dapat memberikan penjelasan sepenuhnya kepada aktifitas yang sedang dihadapi oleh indra penglihatan.
Tiba-tiba kesunyian menarik dirinya sehingga indra penglihatanku mengalami gangguan. Dari kedua sudut mata bagian dalam mulai mengalir air mata yang keluar tanpa diperintahkan oleh pikiran. Dengan perginya kesunyian maka indra-indra lainnya pun mulai menemukan kesadarannya. Air mata masih terus mengalir dari kedua sudut mataku dan pikiran tidak dapat memerintahkannya untuk menghentikan kegiatannya. Dengan air mata yang masih bercucuran aku menggerakan tubuh untuk dapat berdiri berhadapan dengan wajah yang telah menghasilkan suara. Berdiri berhadapan dengan saling berpandangan menyebabkan tubuh ini dipenuhi sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku tidak mempedulikan air mata yang masih terus membasahi wajah. Bagiku sensasi yang sedang kurasakan lebih berharga daripada airmata yang mengaliri wajah. Sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan. Bahwa airmata yang mengalir ini merupakan bukti dari sensasi yang sedang kuhadapi. Jika demikian airmata adalah sensasi. Apapun itu aku sedang mengalami sensasi yang sangat luar biasa dan sulit untuk memberikan kesimpulan yang tepat kepadanya. Apakah sensasi adalah airmata atau airmata adalah hasil dari sensasi yang sedang kurasakan?
Kami saling berhadapan. Pandangan bertemu secara sejajar namun suatu perasaan bahwa keberadaanku tidak berada dalam tingkat kenormalan. Entah kegugupan yang muncul dalamku atau tatapannya yang telah mengambil kenormalanku. Berada pada kesejajaran tidak juga memberikan posisi sederajat di antara kami, sepertinya satu pihak menguasai pihak lainnya. Tatapannya memiliki kekuatan yang mampu menembus segenap sistem pertahanan tubuh. Berhadapan dengan tatapannya maka idealisme yang dibangun oleh masa mudaku hancur berkeping-keping. Tidak ada yang dapat dibanggakan oleh kedua bola mataku, disini keterlanjanganlah yang berhadapan dengan tatapannya. Kami membangun komunikasi melalui tatapan. Setiap kalimat yang terucap melalui ekspresi matanya sanggup aku pahami. Kemudian aku membalas kalimatnya dengan menunjukannya melalui ekspresi mataku. Aku mampu memahami arah pembicaraanya namun ketidaksederajatan yang telah melingkupi kami memberikan suatu keadaan yang kurang kondusif untuk komunikasi yang luar biasa ini. Meskipun begitu aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan untuk mengusir ketaksederajatan tersebut.
Rerumputan kuning dengan tinggi lima centimeter yang sedari tadi enggan untuk menggerakan tubuhnya, sekarang mulai bergerak secara perlahan-lahan. Gerakannya sangat mirip dengan para balerina yang telah mengalami patah kaki, dimana mereka hanya mampu menggerakan kakinya di atas tempat tidur. Mungkin ia hendak memintaku untuk mengalihkan pandangan dari wajah di hadapanku, ia juga sadar bahwa ketidaksejaratan yang melingkupi kami layak untuk disudahi. Apakah ia bersedih atas posisiku. Sekalipun ia mengulum jari-jari kakiku namun ia tetap tidak dapat mempengaruhi pandanganku terhadap wajah yang sedang menatapku. Kelakuan rerumputan hanya akan menambah tingkat konsentrasi terhadap tatapan dari wajah di hadapanku.
Wajah yang mampu membawaku kepada sebuah masa yang telah usang. Pada masa yang telah dikerumuni oleh belatung-belatung, pada waktu yang malas menyajikan kembali segenap kisah yang tersimpan di antara tumpukan-tumpukan kisah lainnya. Tepatnya aku harus mengatakan bahwa keberadaanku ditempatkan pada kelampauan atau dilemparkan pada kelampuan dengan sebuah ketidakteraturan. Dapatkah aku menemukan jalan keluar dan berlari dari hadapannya?
Aku terjebak dalam tatapanya. Di sini kepasrahanlah yang memiliki nilai jual yang dapat ditawarkan kepadanya. Mungkin dengan menghadirkan kepasrahan maka tatapannya dapat menyampaikan peringatan kepada pikirannnya untuk mengembalikan keberadaanku kepada rahim kekinian. Ternyata strategi yang dijalankan berhasil, ia dengan segera membeli kepasrahan yang kutawarkan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. Dengan segera kuperintahkan penglihatan untuk mengambil alih kekuasaan darinya. Ternyata usaha dari indra penglihatan tidak menemukan hasil yang memuaskan malahan wajah yang berada di hadapanku semakin menunjukan kekuasaannya. Akhirnya aku menundukan kepala sebagai tanda kekalahan.
Ternyata air mata masih membanjiri wajahku. Tetes air mata yang menuruni wajah, yang telah membentuk aliran sungai kecil kemudian bermuara di atas rerumputan kuning. Dalam kekalutan aku kembali mempertanyakan keadaanku. Apakah air mata ini pertanda kebahagian atau kesedihan? Sepertinya kebahagian dan kesedihan telah bersetubuh sehingga aku menemukan kesulitan untuk memisahkannya. Lantas, langkah apa yang harus kutempuh untuk mengatasi persoalan ini? Apakah wajah yang berada di hadapanku sedang menertawakan keadaanku? Dapatkah aku kembali menatapnya? Sanggupkah aku menegakan kembali wajahku dan beradu pandang dengannya? Hanya air mata yang terus membasahi rerumputan.
Tiba-tiba aku merasakan tepukan di pundak sebelah kanan, tangan yang digunakan untuk menepuk pundak itu menegakan wajahku. Ia masih memandangiku. Tatapannya mengajak aku untuk kembali berkomunikasi, memintaku untuk memberikan penjelasan mengenai keberadaanku di tempat ini. Segera kuseka air mata dan menjelaskan keberadaanku. Ketika penjelasan berahkir ia tetap memandang lurus ke arah wajahku. Hanya tatapan yang terjadi, darinya dan kami mampu berkomunikasi dengan baik. Adalah sebuah keanehan ketika kalimat terucap melalui pandangan. Apakah kami merupakan orang-orang gila yang berkhayal yang berusaha untuk mengirimkan setiap maksud dan tujuan melalui pandangan?

Jumat, 23 September 2011

ENGKAU YANG TERTERA DALAM GARIS PADA PINGGIRAN LUKISAN

Untukmu yang menjadi alasan utama pembuatan lukisan

Engkau hanyalah garis yang tertera pada pinggiran lukisan, meskipun demikian keberadaanmu sebagai garis lebih penting daripada objek utama dari lukisan ini. Alasan inilah, aku menuliskan cerita ini, agar engkau menyadari betapa berarti keberadaanmu. Dan aku tidak layak untuk memiliki lukisan yang diperuntukan bagi orang lain.

Sejak awal pembuatan lukisan, sang pelukis tidak pernah berpikir mengenai garis yang akan dilukiskannya pada setiap pinggir dari lukisannya. Sesampainya keberadaan garis ini menimbulkan tanya padaku yang memilikinya. Aku mengatakan demikian karena kedekatan yang telah terjalin antara aku dengan si pelukis, sehingga gaya dan pola melukisnya sangat aku kenal.

Seperti yang sudah dikatakan terdahulu bahwa engkau hanyalah garis yang berada di pinggiran lukisan. Aku tidak perduli tentang perasaanmu ketika membaca tulisan ini, biarpun ada dendam, biarpun ada kemarahan padamu tetap saja aku tidak peduli. Apakah lebih sakit ketika kita berhadapan dan aku mengatakan mengenai kebenaran ini atau melalui media ini sehingga engkau mempunyai waktu untuk kesendirian dalam berpikir sembari membaca tulisan ini. Mengenai kedua hal di atas, aku lebih memilih menggunakan media untuk menyampaikan kebenaran dari keberadaanmu dalam lukisan. Sebab kita belum saling mengenal. Ketika engkau membaca tulisan ini maka engkau akan mencariku untuk meminta penjelasan lebih. Pada saat itulah kita akan saling mengenal. Tetapi engkau mungkin akan menanyakan alasan lain yang tidak aku sertakan dalam tulisan ini. Untuk hal itu, aku tidak akan menceritakannya sebab aku telah berjanji untuk tidak menceritakannya. Baik terhadapmu atau kepada orang lain.

Sesampainya aku memberanikan diri untuk menuliskan kisah ini dikarenakan oleh belas kasihanku kepadamu, berdasarkan kemanusianku yang sangat peka terhadap keberadaan orang lain, berdasarkan penglihatanku terhadap tingkahmu, berdasarkan keberadaanmu dalam lukisan yang memiliki makna lebih besar dari keindahan yang terdapat dalam jalinan warna yang tertera pada objek utama lukisan. Apakah lebih berharga jika membiarkan seseorang berada dalam kegembiraan atas keterlibatannya pada sebuah karya seni dengan ketidaktahuannya terhadap alasan keterlibatnya? Atau membiarkan beberapa tetas air mata membasahi wajahnya tetapi dengan sebuah pengertian mengenai keterlibatannya dalam sebuah karya? Atau kedua hal di atas tidak cocok untuk menggambarkan keadaanmu. Jikapun demikian aku tetap saja melihat bahwa alasan utama pembuatan lukisan adalah engkau, tentu saja ada kegembiraan(pada saat itu) ketika mengetahui bahwa engkau menjadi tujuan pokok dari pembuatan sebuah karya seni. Aku tidak menghendaki engkau berpartisipasi dalam lukisan tanpa mengetahui alasan dari keterlibatanmu meskipun ada keterlukaan ketika engkau membaca tulisan ini. Aku berada dalam kebingungan, dimana aku harus jujur kepadamu mengenai alasan dari keberadaanmu dan aku harus menimbulkan keterlukaan pada sahabatku dengan menceritakan tentang alasannya melukis dirimu sebagai garis di setiap pinggiran dari lukisan ini, meskipun alasan itu berdasarkan analisa pribadi.

Memang kita belum pernah bertemu, aku mengenalmu melalui cerita dari sahabatku yang adalah pelukis dan lebih mengenalmu melalui lukisan ini. Sedangkan engkau sama sekali tidak mengenal diriku. Mungkin saja aku salah dalam mengartikan keberadaanmu dalam lukisan, atau engkau hanyalah khayalanku? Di dunia yang kasat mata terdapat banyak kebetulan, dimana kebetulan yang terjadi dapat menyingkapkan keberadaan seseorang atau kebetulan yang terjadi mampu menceritakan mengenai fenomena yang sedang terjadi. Aku lebih memilih hal yang pertama yakni kebetulan yang terjadi dapat menyingkapkan keberadaan seseorang. Dan keyakinanku mengatakan bahwa engkau akan mengetahui bahwa tulisan ini diperuntukan bagimu ketika engkau membacanya. Pada saat itulah engkau akan mencariku untuk meminta penjelasan tambahan mengenai persoalan yang kutuliskan. Disinilah kita akan saling mengenal.

Engkau yang sedang membaca tulisan ini

Mungkin aku harus menceritakan ulang mengenai alur dari kisah yang kutuliskan untukmu dan mengapa aku bisa memiliki lukisan yang diperuntukan bagimu. Begini; aku membeli lukisan dari seorang pelukis yang kebetulan adalah sahabat dekatku, ia bukan hanya sebagai sahabat tetapi telah menjadi sebagian dari diriku. Ia bukan objek dalam penglihatan tetapi telah menjadi subjek dalam penglihatanku. Sejak awal ia mengerjakan lukisan ini, aku selalu mengawasinya tentu saja bukan dari kejauhan layaknya seorang pengintai yang sedang mengamati perkemahan dari musuhnya atau seekor singa betina yang sedang mengintai sekumpulan kerbau yang sedang merumput di padang. Aku berada di sampingnya bahkan sesekali waktu mengemukakan pendapat mengenai warna yang akan ia gunakan atau tata letak dari objek lukisan tersebut. jadi dapat dikatakan bahwa luksian ini merupakan karya kami berdua. Sehingga kehadiran garis pada pinggiran lukisan menimbulkan tanya, dan entah kapan ia menyertakan garis pada pinggiran lukisan tidak aku ketahui secara pasti bahkan ia tidak menceritakan kepadaku mengenai garis di pinggiran lukisan.

“Adakah aku telah menjadi orang asing di hadapanmu sehingga engkau tidak menceritakan alasan mengenai keberadaan garis dalam lukisanmu?”

“Ada hal yang harus tetap menjadi rahasia!

“Jika rahasia berarti ada kemungkinan untuk disingkapkan keberadaannya dan sosok yang menciptakan rahasia belum menemukan ajal sehingga aku masih mempunyai kesempatan untuk mengetahuinya. Lagi pula; rahasia yang disembunyikan dapat membawamu pada ketersiksaan!”

“Biarkanlah alasan dari keberadaannya tetap menjadi rahasia! Aku akan menyerahkan lukisan ini kepadamu tetapi harus ada pembayaran untuk mengganti kelelahan yang telah kualami dalam menghasilkannya.”

“Aku tidak akan menerimanya! Apalagi dengan pembayaran, bagiku memiliki lukisanmu akan memberikan ketidaknyamanan dalam keseharian. Selain itu; memiliki lukisanmu berarti aku telah masuk dalam permainan yang engkau ciptakan dengan membawa serta kebodohanku.”

Perdebatan kami mengenai garis di pinggiran lukisan berahkir dengan kerelaanku untuk menerimanya sambil memasukan sebuah kebodohan dalam sejarahku. Bagaimana mungkin menolak tawaran sahabat yang sedang berada dalam keterpurukan karena terbebani dengan karyanya? Meskipun harus menanggung juga beban yang dialaminya.

Ketika ia menyerahkan lukisan, ada derita yang bercokol di pelupuk matanya. Aku menyadari bahwa lukisan ini memiliki arti yang mendalam baginya, namun mengapa ia harus menyerahkannya kepadaku? Berbagai pertanyaan bergejolak dalam akal sehat, dari pertanyaan dan prasangka yang masuk akal sampai pertanyaan dan prasangka yang dipikirkan pada zaman primitif. Pertanyaan utama adalah bagaimana ia dapat menyertakan garis ini dalam lukisannya. Untuk alasan dari pertanyaan ini akan aku dijabarkan setelah pendeskripsian keadaan kamarku. Aku meletakan lukisan dari sahabatku di dinding kamar, ini merupakan satu-satunya lukisan yang terpajang di kamar. Keberadaannya di dinding kamar mampu mengubah suasana. Dimana ia mampu menyedot perhatianku pada benda-benda lain sehingga keseharianku hanyalah dilalui dengan menatapnya. Lebih-lebih perhatianku pada garis yang berada di pinggiran lukisan.

Engkau mengetahui bahwa bentuk dari garis yang berada di pinggiran lukisan adalah segi empat. Keberadaannya tidak begitu berarti jika dibandingkan dengan objek utama dari lukisan. Aku tahu; ketika engkau membuka lukisan, pasti engkau memperhatikan objek utama dari lukisan yang adalah seorang wanita yang duduk di atas bongkahan batu sambil memegang setangkai kembang lavender. Sesampainya garis segi empat ini menyedot perhatianku adalah dalam setiap lukisan dari sahabatku tidak pernah menyertakan garis segi empat di setiap pinggiran lukisannya. Satu hal lagi, ia sangat membenci garis segi empat, baginya keberadaan garis segi empat akan menghilangkan esensi dari sebuah karya seni. Selain itu; keberadaan garis segi empat dalam sebuah lukisan merupakan bentuk ketidakmampuan seorang pelukis dalam melukis. Satu hal lagi, garis segi empat menggambarkan bahwa pelukis berada dalam keputusasaan sehingga tidak dapat menemukan sebuah objek tambahan untuk mengakhiri lukisannya.

Berdasarkan alasan di atas aku memperhatikan dengan konsentrasi tinggi mengenai garis segi empat yang ia sertakan dalam lukisannya. Dari alasan ini pula aku mulai membuat sebuah hubungan antara keberadaan garis segi empat dengan ceritanya mengenai seorang gadis(engkau) yang menjalin hubungan intim dengannya. Memang beberapa kali aku melihat engkau berada bersamanya, ketika ia mengerjakan lukisan ini. Ketika melihat ia bersamamu, aku tidak memberanikan diri untuk mendekati kalian sebab kehadiranku akan merusak suasana keberduan yang telah tercipta. Jujur; aku merasa sangat mengenalmu meskipun hanya lewat ceritanya. Dari cerita-cerita yang ia tuturkan, aku dapat menarik kesimpulan bahwa engkau sangat berarti baginya. Dan iapun mengatakan bahwa lukisan ini diperuntukan bagimu. Namun, pada akhir-akhir ini tidak lagi ada keberduan denganmu dan iapun tidak menceritakan lagi mengenai keberadaanmu. Berdasarkan pada kedua alasan inilah aku dapat memperoleh kesimpulan mengenai keberadaan garis segi empat pada lukisan yang tergantung di dinding kamarku.

Aku tidak layak untuk memiliki lukisan yang diperuntukan bagi orang lain, jika aku tidak mengembalikan lukisan wanita yang duduk di atas bongkahan batu sambil memegang setangkai kembang lavender kepada pemilik sesungguhnya berarti aku akan menanggung beban moral dan akan tetap dihantui oleh bayangan dari pemilik sah lukisan ini. Seperti telah aku kemukakan pada awal tulisan, aku akan menimbulkan keterlukaan pada kedua belah pihak yakni sahabatku dan gadisnya. Biarlah aku menanggung derita akan dibenci atau ditinggalkan oleh seorang sahabat daripada harus membiarkan gadisnya dalam ketaktahuan bahwa ia begitu dicintai oleh sahabatku, sehingga perasaan cinta itu diekspresikan dalam kebencian. Bagiku; dengan memberikan lukisan ini kepada gadisnya berarti aku telah menolong sahabatku untuk mengatakan ketulusan cintanya. Mungkin juga engkau yang menjadi tujuan pembuatan lukisan dan tulisan ini akan menaruh dendam padaku karena menceritakan mengenai kisah yang dirahasiakan. Biarkanlah kebencian dan dendam mengikuti keseharianku, yang terpenting adalah aku mampu mewujudkan alasan sesungguhnya dari pembuatan lukisan dan dapat terbebas dari dosa karena memiliki lukisan ini. Aku sengaja tidak menyerahkan tulisan ini secara langsung kepadamu(gadis dari sahabatku). Bukan karena ketidaktahuan terhadap alamat tempat tinggalmu tetapi untuk mengabarkan kepada semua orang bahwa ketulusan dan kedalaman cinta harus dapat ditunjukan, tidak layak ketulusan cinta disembunyikan.

Aku juga tidak mengetahui secara pasti alasan dari ketidakhadiranmu pada belakangan ini. Tetapi engkau harus mengetahui bahwa dia yang mencintaimu sangat menderita karena ketidakhadiranmu. Jika engkau telah membaca tulisan ini maka segeralah datang untuk menemuiku untuk mengambil lukisannya. Dan segera mengunjungi lelakimu. Ada satu hal; ketika engkau datang untuk mengambil lukisan, aku tidak akan memberikan penjelasan lain mengenai persoalan yang sedang engkau baca.

Sekian

Untukmu yang menjadi tujuan dari pembuatan lukisan wanita yang duduk di atas bongkahan batu sambil memegang setangkai kembang lavender

Rabu, 21 September 2011

SELAMAT DATANG DI KOTA

“Mengapa engkau menangis sedangkan orang-orang di sekitarmu tersenyum?” Pertanyaan yang muncul dari sampingku ini mampu menghentikan air mata yang mengalir tidak beraturan. Aku tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan dan mencari tahu pemilik suara tersebut. Aku menyeka air mata yang membasahi wajah dan membenarkan cara duduk, agar sosok yang berada di sampingku dapat meletakan tubuhnya. Kemudian aku menyulut sebatang rokok. Setelah beberapa saat menikmati rokok, aku menoleh ke arah sosok yang memberikan pertanyaan. Ternyata seorang pengemis tua yang sedang memegang tangan seorang anak kecil. Dengan sopan aku mempersilahkan pengemis tua ini duduk di sampingku sambil menawarkan sebatang rokok kepadanya. Namun ia menolak tawaranku dan mengulangi pertanyaannya.

“Mengapa engkau menangis?”

“Orang tua yang aneh” umpatku dalam hati.

Bagaimana mungkin ia yang belum mengenal diriku dengan baik secara tiba-tiba datang dan menanyakan persoalanku. Ini adalah sebuah kegilaan

“Sebelum aku mengemukakan jawabannya, sebaiknya kakek duduk dulu”

Sambil memegang tangan cucunya, ia meletakan tubuhnya pada tempat yang telah kusediakan untuk tubuh rentanya. Dari pancaran matanya, aku dapat membuat sebuah kesimpulan sementara bahwa ia begitu bahagia. Tidak ada derita yang terpancar dari mata rentaanya.

Tanpa ditanya ia memperkenalkan dirinya dan cucunya. Kemudian menyuruh cucunya untuk pergi bermain di rerumputan. Si kecil menuruti perkataan kakeknya, tanpa berbicara ia berlalu dari hadapan kami. Langkahnya tidak dibuat-dibuat. Yah....langkah polos seorang anak kecil. Memperhatikan langkahnya, aku begitu terpesona. Sejenak aku melupakan persoalan yang sedang menyerangku dengan begitu agresif. Langkahnya yang polos mampu memberikan ketentraman pada rasa yang sedang berkecamuk. Seandainya setiap orang yang kujumpai melangkah seperti si kecil maka tidak ada air mata pada senja ini.

“Aku dan Si kecil baru tiba dari kampung” perkataannya membuyarkan semua pikiran yang berhubungan dengan langkah Si kecil.

Gemerlap lampu taman sangat menguasai kegelapan di sekitarnya, riuh-rendah suara kendaraan mulai beranjak ke kesunyian. Aku menatap ke arah taman yang hanya diisi oleh pepohonan rendah-kira-kira berumur tiga tahun-dan lampu-lampu taman. Kakek sibuk memperhatikan keadaan sekeliling taman layaknya serdadu Belanda memperhatikan para pekerja yang sedang mengerjakan jalan. Ia memperhatikan dengan teliti setiap gerak dari cucunya, sedangkan aku kembali bersentuhan dengan persoalan yang telah memaksaku untuk mengucurkan air mata. Kehadiran Si kakek sangat mengganggu, ingin menyuruhnya untuk beranjak dari hadapan namun penghargaan terhadap seorang yang lebih tua menyebabkan aku tidak sanggup untuk melakukannya. Akhirnya, aku tidak menghiraukan kehadirannya. “Nak! Mengapa engkau meneteskan air mata?” Pertanyaan yang diajukan kakek sangat menampar serta menciptakan warna merah di mukaku. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menghiraukan kehadirannya.

“Nak! Mengapa engkau meneteskan air mata?”

“Ceritanya panjang kek”

“Kalau begitu, engkau dapat menceritakannya. Aku akan mendengarkan meskipun sampai subuh tiba”

“Dasar tua gila!” gerutuku dalam hati. Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan persoalan pribadi kepada orang yang belum kukenal dengan baik?

“Aku tidak akan menceritakan persoalan yang sedang kualami kepada kakek, sebab..!

“Sebab kita belum berkenalan dengan baik?” ini merupakan sebuah keanehan, dimana ia sudah mengetahui alasan atas ketidaksedianku untuk bercerita dengannya tetapi ia tetap memaksaku agar menceritakannya.

Kami hanya menatap si kecil yang bermain di sekitar cahaya lampu taman. Aku merasa sangat bersalah karena telah menimbulkan kemarahan pada si kakek. Tapi aku tidak dapat dengan mudah dan cepat menceritakan persoalan yang sedang kualami kepadanya, apalagi persoalan ini sangat berhubungan dengan kehidupan pribadi.

“Engkau tidak berada di sebuah pulau yang bertemankan tetumbuhan dan binatang liar”

Lagi-lagi perkataannya begitu memojokan, aku tidak sanggup untuk memberikan tanggapan atasnya. Tanpa disadari air mata kembali mengucur, membasahi wajah kemudian membentuk dua jalur yang bermuara di atas rerumputan. Bagaimanapun aku tetap tidak akan menceritakan persoalan ini kepadanya. Bagiku, menceritakan persoalan pribadi kepada orang asing berarti aku sudah kehilangan kesadaran atas diri.

“Kek! Engkau tidak datang dari masa lampauku, engkau tidak pernah menyediakan pangkauan untuk meletakan kepala ini”

“Aku paham maksudmu. Tetapi engkau harus ingat bahwa kita masih sama sebagai manusia. Aku memang orang asing bagimu, kehadiranku juga tidak berdasarkan atas undangan darimu. Mungkin juga engkau mengira aku sebagai seorang yang memanfaatkan kelemahan seseorang untuk menguasainya. Aku menyadari akan hal itu, tetapi engkau juga harus ingat bahwa tidak semua orang asing yang merelakan waktunya untuk bertanya mengenai keadaan seseorang yang juga orang asing baginya”

Aku sadar bahwa perkataanya merupakan sebuah usaha untuk meyakinkanku untuk tidak menaruh curiga terhadapnya. Tentu saja tujuannya bermuara kepada kesediaanku untuk menceritakan persoalan yang sedang memberikan kesedihan ini. Meskipun demikian, aku tidak akan menceritakannya. Lantas, aku mulai mempersalahkan diri sendiri karena telah berada di tempat ini, mengutuki langkah yang menunutunku, dan memaki air mata yang keluar dari kedua mata ini. Bagiku, kejadian ini adalah sebuah kesialan atau sebagai akibat dari persoalan yang sedang terjadi. Memang persoalan yang sedang kuhadapi sangatlah berat dan aku sangat membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya serta memberikan sedikit petuah yang dapat digunakan untuk membebaskan diri dari persoalan tersebut. Tentu saja orang tersebut harus mengenal diriku bukannya orang asing yang berlagak seperti seorang psikiater atau psikolog ini.

Aku melangkah ke arah jalanan yang mulai sepi dari akitfitas kendaraan bermotor. Tentu kepergian ku merupakan usaha untuk menjauh dari si kakek gila ini, aku tidak sanggup menceritakan persoalan ku kepadanya. Bukan hanya ia orang asing tetapi juga sudah tua. Bagi ku, menceritakan persoalan kepada seorang tua sama saja memberikan diri untuk masuk ke dalam dunianya yang secara alamiah tidak dapat aku masuki. “Aku adalah orang kampung yang hadir sebagai seorang, aku adalah orang kampung yang di hadapanmu berlagak seperti seorang sahabat atau orang tua yang membesarkanmu, aku adalah orang kampung yang menurutmu tidak punya tata krama. Tapi aku juga orang kampung yang selalu berusaha untuk menyeka tangisan di wajah setiap orang dan orang kampung yang selalu melihat setiap orang sebagai saudara.” Aku tidak mempedulikan perkataannya dan berusaha untuk terus melangkah. Dalam hati aku berkata “selamat datang di kota kek.”

Selasa, 20 September 2011

ULANG TAHUN AYAH

Aku tersadar dari lamunan tentang ayah ketika telepon gengam buatan Nokia bergetar sambil mengalungkan lagu Bintang Hidupku. Dengan segera aku menekan tombol penjawab kemudian mengucapkan salam pembuka kepada suara yang berada di dalam telepon tersebut. Ketika suara itu membalasnya dengan menggunakan kata yang sama, aku hanya bisa terdiam. Suara itu membekukan kalimat yang hendak ku lanjuti, suara itu memiliki kekuatan seperti yang dipergunakan oleh para lector dalam novel Libri di Luca karya Mikkel Birkegaard. Aku hanya bisa mendengarkan semua kalimat yang diucapkannya, tidak ada sanggahan maupun kritik terhada seganap ucapannya. Suara dari seberang yang melumpuhkan kekuatanku untuk menciptakan beberapa kalimat.

“Roni! Hari ini ayah merayakan ulang tahun. Apakah kau sudah mempersembahkan doa untuk ayah?” Aku hanya bisa terdiam, batinku mulai bercucuran air mata. Kucoba untuk menghapus air mata tersebut namun batin tidak juga menghentikan aktifitasnya. “Roni! Hari ini ayah merayakan ulang tahun ke lima puluh satu. Apakah kau sudah mempersembahkan doa untuk ayah?” Suara dari seberang yang terasa begitu dekat karena terhubung oleh telepon genggam ini semakin menambah kesedihan dalam batin ku. Kalimat yang telah diucapkan untuk kedua kalinya tidak dapat ku jawab, malahan air mata juga mulai membanjiri wajah ku. Dapatkah aku menemukan kalimat yang cocok dan tepat untuk menimpali perkataannya? Aku hanyalah ikan-ikan kecil yang selalu mengikuti kawanan hiu untuk dapat memperoleh sisa-sisa makanan darinya. Setelah mendapatkan kepuasan, aku akan segera berpaling tanpa mengucapkan terima kasih kepada kawanan hiu. Meskipun aku selalu bersikap demikian namun kawanan hiu tersebut tidak pernah memangsa diri ku.

Aku tidak bergumul dengan nyala lilin pada malam yang menyatakan bahwa lelaki yang bersuara dalam telepon genggam ku dimuntahkan dari bibir rahim seorang perempuan buta huruf. Aku tidak mengatupkan ke dua tangan di depan dada ketika telepon genggam bergetar sambil mengalunkan lagu Bintang Hidup ku. Aku adalah sosok yang melupakan hari kemarin, yang hanya berkhayal tentang esok dengan sengaja mengatakan bahwa kemaring tidak ada.. Sengaja melupakan hari kemarin, membiarkannya sebagai benda asing yang tidak layak untuk dimiliki. Pada kelampuan yang menempatkan aku di sini, pada kemarin yang menumbuhkan aku dengan beberapa biji padi, pada kesilaman yang masih terus bergerak dan memasuki rahim kekinian. Tidak ada ingatan untuk segala yang berbau kelampuan. Aku adalah esok yang berdiri dengan angkuh di hari ini. “Roni! Hari ini ayah merayakan ulang tahun ke lima puluh satu. Apakah kau sudah mempersembahkan doa untuk ayah?” Layaknya Patridge dalam novel Ishmael karya Daniel Quinn, aku hanya mampu berkhayal untuk dapat mengubah dunia. Yah….berkhayal di tengah kelupaan akan hari kemarin yang menyediakan ruang dan kesempatan bagi khayalan. Dapatkah aku menimpali atau memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas?

Mungkin harus aku akhiri dahulu pembicaraan dengan ayah agar tidak terjadi kesalahpahaman darinya karena diam ku. Setelah satu menit aku memutuskan untuk menelepon kembali. Kali ini aku sudah mempersiapkan diri dengan berbagai alasan yang dapat diterima secara akal sehat. “sorry ayah tadi sinyalnya kurang bagus jadi tata[1] tidak dengar suara ayah.” Begitulah awal yang ke dua dari pembicaraan dengan ayah. Ternyata alasan yang ku ajukan dapat diterima dengan baik oleh ayah, sehingga ia membalasnya dengan menyarankan agar saya tidak hanya membeli pulsa tetapi juga membeli sinyal. Aku meminta ayah untuk mengulangi lagi pembincaraanya tadi.

“Roni! Hari ini ayah merayakan ulang tahun. Apakah kau sudah mempersembahkan doa untuk ayah?”

“Tata tidak tahu kalau hari ini ayah merayakan ulang tahun. Tata benar-benar tidak tahu tentang hari ulang tahun ayah. Tapi tata akan segera berdoa untuk ayah.”

Lagi-lagi batinku menangis ketika kalimat di atas meluncur dengan cepat dan teratur dari mulut ku. Aku; esok yang sedang menatap wajah keriput, tetapi hanya sebatas tatapan.

Hampir satu setengah jam kami berbicara. Aku menanyakan berbagai hal mengenai keadaan rumah dan menu makanan yang dihindangkan untuk merayakan hari ulang tahun ayah. Ayah mengatakan bahwa tidak ada acara yang istimewa untuk merayakan hari ulang tahunnya sebab aku dan adik-adik tidak berada di rumah. Apakah ayah tidak begitu mempedulikan tentang hari ulang tahunnya? Apakah kebahagiannya terletak pada kehadiran kami? Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dengan ayah dengan berjanji bahwa akan mempersembahkan doa untuknya.

Malam di sekitar ku dipenuhi dengan tangisan beberapa ekor kucing. Tangisan-tangisan itu menimbulkan ketakutan, pada malam-malam yang lalu tidak pernah terdengar tangisan seperti ini. Apakah ada hubungan dengan kelupaan ku pada hari ulang tahun ayah? Tangisan semakin menyayat seperti suara bayi yang ditinggalkan ibunya dalam keadaan haus dan lapar. Aku merinding, tidak menemukan cara untuk menghentikan tangisan tersebut. Hendak meninggalkan kamar namun tidak ada tujuan yang jelas untuk dapat melangkahkan kaki. Para penghuni kamar lainnya sedang berada di suatu tempat yang juga tidak aku ketahui. Dalam kekalutan yang membuncah aku mengangkat kedua telapak tangan dan meletakannya tepat di depan dada. Dengan bahasa yang hanya berkata dalam batin aku mengucapkan beberapa doa yang pernah diajarkan oleh guru sekolah dasar.

Aku; hari ini yang melupakan kemarin dan telah tersesat dalam labirin hari esok. Berjalan dengan keanggunan di bawah purnama berwarna ungu sembari tersenyum kepada bintang-bintang yang sedang bergantung di atas ranting-ranting pohon cemara. Mengucapkan beberapa kalimat untuk menyapa rerumputan kering dan memberi salam kepada sungai keruh yang menguapkan bau tidak sedap. Hampir setiap perjumpaan dalam suara dengannya, selalu bertemu dalam rupa sebuah alat elektronik. Hanya kata yang terkuak dalam bayanganku terhadap dirinya. Aku; esok yang sedang menatap wajah keriput, tetapi hanya sebatas tatapan.

Dengan kedua telapak tangan yang mengatup rapat di depan dada aku masih terus mengucapkan doa untuk mengusir ketakutan yang berkelebat seperti seekor tikus yang lari terbirit-birit ketika dikejar oleh seokor kucing. Biasannya ada nyala lilin yang menyertai katupan telapak tangan di depan dada, tetapi ketakutan tidak memberikan kesempatan untuk mempersiapkan berbagai kelengkapan tersebut. Seluruh doa ku bertujuan agar Tuhan mengambil segenap ketakutan dan memberikan kekuatan bagi diriku. Aku; esok yang sedang menatap wajah keriput, tetapi hanya sebatas tatapan. Bahwa pembicaraan panjang yang terjadi melalui telepon genggam, dengan berbagai janji kepada ayah untuk mendoakannya hanyalah sebatas kata.



[1] Panggilan untuk anak tertua dalam bahasa lamaholot(lamaholot adalah sebuah kebudayaan di propinsi NTT)