Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (tiga)

Gambar
Iras sudah menenun aksara. Jemari lentiknya telah hapal betul tomboltombol querty di keyboard laptop atau pc.   Upah dari tenunan aksara pun lumayan buat makan seharihari. Walau begitu, pertanyaan seputar sang penatap di bingkai itu belum juga beranjak dari benak. Siapa sesungguhnya perempuan bergaun merah jambu itu? Mengapa pula ia seolah meminta ku berkisah? “Ayah dan kakak selalu mengelak menjelaskan siapa si perempuan tersebut” gerutu Iras seraya terus memandang potret di kamarnya.  Pagi bergerak lamatlamat. Detak waktu hanyalah penanda sebuah rutinas dan pergantian hari.   Senja pergi, malam datang, kemudian pagi hadir. Dari sekian perubahan hanya kegundahan Iras lah yang masih setia menenami hidupnya. Selalu dan selalu begitu. Realitas seorang Iras adalah pengulangan secara konstan dari hari kemarin. Iras merupakan Iras yang sama dari waktu ke waktu meski dirinya sanggup menyulam ke dua puluh enam aksara menjadi motif dedaunan, hewan atau apapun.  “Yang s

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (dua)

Gambar
Iras terbelenggu tatapan sang perempuan dalam potret hitam putih. Melupakan! Hanyalah usaha menabur benih di atas awan. Dalam kondisi ini pula, membuang bingkai atau memindahkan ke tempat lain pun tak sanggup   melumerkan tatapan yang telah bercokol di relung raganya.  Kenapa Iras tidak meluangkan secuil waktu untuk bercakap dengan perempuan hitam putih itu? Mengapa pula dirinya harus takut terhadap penilaian sang ayah dan kakaknya?  Sejatinya, Iras ingin berbicara empat mata. Jauh sebelum sepasang bola mata itu meminta, dirinya selalu berharap memiliki kesempatan untuk berbagi cerita. Saat kantuk memilin, Iris pun berdoa agar perempuan itu hadir di sana.  Ada pada mimpi, begitulah Iras mendaraskan doanya. Tapi kian didaraskan kian pula dirinya dibuat dibuat kecewa.   Sang perempuan   belum sekalipun menemui dirinya dalam mimpi.   Entah Iras yang salah berdoa ataukah doanya masih berada dalam daftar tunggu?  Hampir saja semangatnya luruh akibat sesal di

GADIS BERMATA SAYU (VI)

Gadis bermata sayu, belum jenuh kan membaca tapak tilas ku?   Sedikit berharap agar engkau masih setia mengeja aksara ku. Kantung mata dijejal lelah. Begitu mendera. Seolah semangat masa muda hanya seonggok kayu kering yang siap dilalap api. Walau raga terpenjara, aku tak hentikan langkah menuju tempat pembaringan. Langkah memang agak gontai, sedikit terseret di aspal. Lantas, haruskah berserah pasrah? Gadis bermata sayu. Jalanan masih sepih, sesepih rasa rindu ku memandang sepasang bola mata di balik bening lensa itu. Sepanjang setapak menuju rumah kontrakan pun, bayangan indah mata sayu mu terus penuhi nalar ini. Hampir saja tubuh terseret laju sedan mewah lantaran berkhayal tetang bola mata mu. Tapi lupakan saja kejadian itu, diriku masih terus berjalan. Aku lumer di bawah kendali tatapan sayu mu. Begitulah aku di sepanjang jalan. Beberapa wanita di kiri-kanan jalan terlihat sibuk menjajakan sarapan pagi. Mereka riang di sepenggal pagi ini. Sedangkan aku h

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (satu)

Kita Perempuan. Bukan wanita seperti yang lainnya.   “Di mana pun dia, aku ingin memeluknya” rintih Iras dalam hati. Hanya pelukan yang diimpikan Iras. Tentu saja, bukan sekadar rangkulan atau saling merapatkan tubuh sembari kedua tangan saling melingkari. Iras ingin lebih. Ia cukup lama merindukan momen berpelukan.   Setiap memandang potret hitam putih di dinding kamar, kerinduan kian memilin, bahkan seperti paksaan. Beginikah rasanya disengat rindu?  Iras kembali memandang potret perempuan 30 tahun yang  sejak dirinya mengenal aksara sudah tergantung di dinding kamar. Beberapa kali sudah, ia menurunkan bingkai potret hitam putih itu guna membersihkannya dari debu. Setiap lakon itu pula, sorot mata sang potret menusuk, menembus masuk ke  pori-pori tubuhnya. Tatapan tajam kedua bola mata si perempuan seakan memaksa Iras membuka dialog, berkisah tentang dirinya. “Aku tidak bisa! Ayah dan kakak nanti bilang aku gila” bisik Iras. Semakin berpaling, semakin pula Iras dipaks

ATA KIWANG DI KOTA CAHAYA

Seraut wajah menyeruak   di tengah pendar cahaya ibukota. Wajah itu, auranya menggambarkan keheningan sebuah puncak gunung yang tidak asing lagi bagi penglihatanku.            Sebelum jelaga ibukota membasuh wajah pria itu, ijinkanlah kisahku mengenalnya sebagai ata kiwang (orang kampung). Mungkin tanya segera berkeliaran. Mengapa harus memahat sang pria dengan label ata kiwang? Bukankah dirinya telah berahim cukup lama di tanah bernama metropolitan? Peduli setan dengan pertanyaan demikian. Tanya klise, picisan dan seharga gorengan yang dijajakan pedagang kaki lima.   Ok !! ata kiwang akan dikisahkan dalam kisah tentangnya.           Datang dari kampung di ujung pulau berbentuk ular pada beberapa tahun kemarin, ia hanya berbekal pengetahuan sekenanya tentang kehidupan kota seribu cahaya. Cerita seputar kehidupan Jakarta disimaknya dari orang-orang sekitar yang pernah lekat di ibukota atau dari tontonan di tv. Beragam informasi itu diendap mungkin pula ia refleksikan agar bisa m