Selasa, 28 Oktober 2014

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (tiga)




Iras sudah menenun aksara. Jemari lentiknya telah hapal betul tomboltombol querty di keybord laptop atau pc.  Upah dari tenunan aksara pun lumayan buat makan seharihari. Walau begitu, pertanyaan seputar sang penatap di bingkai itu belum juga beranjak dari benak. Siapa sesungguhnya perempuan bergaun merah jambu itu? Mengapa pula ia seolah meminta ku berkisah?

“Ayah dan kakak selalu mengelak menjelaskan siapa si perempuan tersebut” gerutu Iras seraya terus memandang potret di kamarnya. 

Pagi bergerak lamatlamat. Detak waktu hanyalah penanda sebuah rutinas dan pergantian hari.  Senja pergi, malam datang, kemudian pagi hadir. Dari sekian perubahan hanya kegundahan Iras lah yang masih setia menenami hidupnya. Selalu dan selalu begitu. Realitas seorang Iras adalah pengulangan secara konstan dari hari kemarin. Iras merupakan Iras yang sama dari waktu ke waktu meski dirinya sanggup menyulam ke dua puluh enam aksara menjadi motif dedaunan, hewan atau apapun. 

“Yang sama memberikan kepastian buat hidup sebab umumnya individu sedapat mungkin mengelak dari perbedaan” 

Kutipan ini pernah dibaca bahkan berulang kali Iras dengar. Tapi, begitukah ia harus berdamai dengan keadaan. Memang ada yang harus dipahami tepatnya dimaklumi sebagai mana keberadaannya. Tapi ada pula yang semestinya tidak dibiarkan sebagai misteri. 

”Mudah kata meluncur dan beranak pinak di lidah” kembali Iras mengumpat dalam hati. Untuk perkaranya tidaklah semudah menyaksikan terbit pagi dan datangnya senja. Kalau saja ayah bisa mengurai secuil cerita tentang si perempuan dalam potret itu, mungkin Iras bisa menikmati senja dari samping rumah. Nyatanya, ayah tak mau ambil pusing dengan persoalannya. 

Di samping rumah ayah sibuk menyeruput kopi senja. Beberapa puntung rokok sudah tandas di dasar asbak. Kesibukan lelaki 40 tahun di setiap senja. Hanya begitu. Duduk, berteriak minta dibuatkan kopi lalu mulai memandang pohonpohon yang ia tanam beberapa tahun lalu.

Kamis, 16 Oktober 2014

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (dua)



Iras terbelenggu tatapan sang perempuan dalam potret hitam putih. Melupakan! Hanyalah usaha menabur benih di atas awan. Dalam kondisi ini pula, membuang bingkai atau memindahkan ke tempat lain pun tak sanggup  melumerkan tatapan yang telah bercokol di relung raganya. 


Kenapa Iras tidak meluangkan secuil waktu untuk bercakap dengan perempuan hitam putih itu? Mengapa pula dirinya harus takut terhadap penilaian sang ayah dan kakaknya? 


Sejatinya, Iras ingin berbicara empat mata. Jauh sebelum sepasang bola mata itu meminta, dirinya selalu berharap memiliki kesempatan untuk berbagi cerita. Saat kantuk memilin, Iris pun berdoa agar perempuan itu hadir di sana. 


Ada pada mimpi, begitulah Iras mendaraskan doanya. Tapi kian didaraskan kian pula dirinya dibuat dibuat kecewa.  Sang perempuan  belum sekalipun menemui dirinya dalam mimpi.  Entah Iras yang salah berdoa ataukah doanya masih berada dalam daftar tunggu? 

Hampir saja semangatnya luruh akibat sesal di setiap ujung mimpi. pernah pula, kala waktu masih berantakan, saat raga masih tertatih, Iras memanggil si perempuan dengan sebutan ibu. 

Ya, ibu! 

Sialnya sang ayah segera memanggilnya dan berkata jika potret yang terpajang itu bukan sang bunda yang melahirkannya. Menurut ayah, Ibunya sedang keluar kota. 

Waktu itu pula, Iras tak paham apa maksud ibu keluar kota. (Bersambung)

 

Rabu, 15 Oktober 2014

GADIS BERMATA SAYU (VI)




Gadis bermata sayu, belum jenuh kan membaca tapak tilas ku?  Sedikit berharap agar engkau masih setia mengeja aksara ku.

Kantung mata dijejal lelah. Begitu mendera. Seolah semangat masa muda hanya seonggok kayu kering yang siap dilalap api. Walau raga terpenjara, aku tak hentikan langkah menuju tempat pembaringan. Langkah memang agak gontai, sedikit terseret di aspal. Lantas, haruskah berserah pasrah?

Gadis bermata sayu.

Jalanan masih sepih, sesepih rasa rindu ku memandang sepasang bola mata di balik bening lensa itu. Sepanjang setapak menuju rumah kontrakan pun, bayangan indah mata sayu mu terus penuhi nalar ini. Hampir saja tubuh terseret laju sedan mewah lantaran berkhayal tetang bola mata mu. Tapi lupakan saja kejadian itu, diriku masih terus berjalan.

Aku lumer di bawah kendali tatapan sayu mu. Begitulah aku di sepanjang jalan.

Beberapa wanita di kiri-kanan jalan terlihat sibuk menjajakan sarapan pagi. Mereka riang di sepenggal pagi ini. Sedangkan aku harus disesap rindu yang sungguh tak tertahankan.

Gadis bermata sayu, relahkah kau tanggalkan kaca mata itu? (bersambung)





PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (satu)

Kita Perempuan. Bukan wanita seperti yang lainnya.
 
“Di mana pun dia, aku ingin memeluknya” rintih Iras dalam hati. Hanya pelukan yang diimpikan Iras. Tentu saja, bukan sekadar rangkulan atau saling merapatkan tubuh sembari kedua tangan saling melingkari. Iras ingin lebih. Ia cukup lama merindukan momen berpelukan. 
Setiap memandang potret hitam putih di dinding kamar, kerinduan kian memilin, bahkan seperti paksaan. Beginikah rasanya disengat rindu?  Iras kembali memandang potret perempuan 30 tahun yang  sejak dirinya mengenal aksara sudah tergantung di dinding kamar. Beberapa kali sudah, ia menurunkan bingkai potret hitam putih itu guna membersihkannya dari debu. Setiap lakon itu pula, sorot mata sang potret menusuk, menembus masuk ke  pori-pori tubuhnya. Tatapan tajam kedua bola mata si perempuan seakan memaksa Iras membuka dialog, berkisah tentang dirinya.

“Aku tidak bisa! Ayah dan kakak nanti bilang aku gila” bisik Iras.

Semakin berpaling, semakin pula Iras dipaksa memenuhi permintaan perempuan hitam putih itu. 
Haruskah ku penuhi permintaan itu? Inilah gejolak Iris. Didera dilema, ia tak tahu harus berbagi dengan siapa. Kepada ayah. Pastinya tidak mungkin. Ayah akan berkesimpulan kalau aku sedang berkhayal.  Memang seperti itu ayah. Selalu memandang pemintaan ku layaknya cerita dari alam tidur. Mungkin Vita bisa mendengar keluhan ku. Apa mungkin? Bukannya dia sendiri selalu acuh setiap kali kuceritakan kegundahan batin.

“Ahhhhh!!!” Iras bingung. (Bersambung)

Minggu, 12 Oktober 2014

ATA KIWANG DI KOTA CAHAYA

Seraut wajah menyeruak  di tengah pendar cahaya ibukota. Wajah itu, auranya menggambarkan keheningan sebuah puncak gunung yang tidak asing lagi bagi penglihatanku.

           Sebelum jelaga ibukota membasuh wajah pria itu, ijinkanlah kisahku mengenalnya sebagai ata kiwang(orang kampung). Mungkin tanya segera berkeliaran. Mengapa harus memahat sang pria dengan label ata kiwang? Bukankah dirinya telah berahim cukup lama di tanah bernama metropolitan? Peduli setan dengan pertanyaan demikian. Tanya klise, picisan dan seharga gorengan yang dijajakan pedagang kaki lima.  Ok !! ata kiwang akan dikisahkan dalam kisah tentangnya. 

         Datang dari kampung di ujung pulau berbentuk ular pada beberapa tahun kemarin, ia hanya berbekal pengetahuan sekenanya tentang kehidupan kota seribu cahaya. Cerita seputar kehidupan Jakarta disimaknya dari orang-orang sekitar yang pernah lekat di ibukota atau dari tontonan di tv. Beragam informasi itu diendap mungkin pula ia refleksikan agar bisa menghasilkan sari cerita tentang Jakarta. Tapi ini hanyalah kemungkinan dariku. Kebenarannya masih menunggu uraian darinya.
            Aku mengkisahkannya sebagai Ata Kiwang Berburu Serenada. Lantas, serenada apa yang diburunya? Bukankah agak melankolis dan bernada gaya abad pertengahan? Bisa iya jika dipikirkan demikian. Tapi biarkanlah kisah ini berkisah tentang seperti apa dan bagaimana serenada yang diburu ata kiwang. 

            Bersitatap dengannya mengembalikan kenangan tentang kampung halaman di kaki gunung Ile Mandiri. Ingatan tentang tingkah warga kampung membuncah, bersinar terang, menghalau silang sengkarut cahaya ibukota. Bisa kurasakan bagaimana kehangatan para tetangga yang selalu menawarkan segelas kopi serta singkong rebus ketika berlalu di halaman rumah mereka. Sapaan khas seperti bua kae (sudah makan), nega ne tata (bagaimana kak) menghadirkan nuansa keharmonisan hidup warga belakang gunung (sebutan yang biasanya digunakan warga kota untuk menyebut penduduk yang menghuni perkampungan). Lalu, pada raganya, kutemukan keminiman warna ibukota.

Memandang busana serta gayanya adalah sebuah kontradiksi dengan warga ibukota pada umumnya. Tak ada kesan anak metro di sana. Hampir di setiap perjumpaan, dirinya selalu mengenakan pakaian seadanya, bersandal dan khususnya mengutarakan pandangan yang bertemakan kehidupan kampung.Tapi yang menasbihkannya sebagai ata kiwang berburu serenada adalah pandangan yang diformulasikan dalam cerita pendek.

Singkat cerita, meski telah menyelami Jakarta, sosok yang kunamakan ata kiwang ini tetap memendarkan semangat dari kampong asalnya. Sejujurnya membaca tulisan serta mendengarkan pandangan-pandangannya, membuatku terbakar semangat untuk semakin meretaskan nilai-nilai luhur dari kampung di bawah kaki gunung Ile Mandiri.

Terlintas pula tuturan seorang sahabat di sebuah senja beberapa bulan kemarin ketika berkumpul bersama teman-teman yang tergabung dalam Orang Muda Flotim-Jakarta (OMFJ) untuk merencanakan keikutsertaan dalam turnamen Nagekeo Cup II.Kebetulan di senja itu,  sang ata kiwang berhalangan hadir. 

“Ada yang menitipkan pesan. Menurutnya perkumpulan kita ini (OMFJ) lebih dari sekadar temu kangen kalau ada acara. Ada baiknya kalau kita bias menjadikan perkumpulan ini sebagai wadah untuk memunculkan kekayaan budaya Lamaholot” ungkap sang sahabat.

Sungguh brilliant ide dan semangat ini.Jujur, pernyataan ini menyadarkan bahwa aku adalah anak kampung di bawah kaki gunung Ile Mandiri yang harus memendarkan kekayaan budaya Lamaholot di rahim ibu kota ini. Begitulah, semangat ata kiwang yang membara di dalam diri sahabatku. 

Di akhir cerita. Sematkanlah semangat ata kiwang itu di rahim kota ini. Bila perlu, bakarlah kota ini dengan api ata kiwang mu. Teruslah berjuang saudara sebab Ile Mandiri telah memahatkan impiannya di pundak mu.