Rabu, 15 Oktober 2014

GADIS BERMATA SAYU (VI)




Gadis bermata sayu, belum jenuh kan membaca tapak tilas ku?  Sedikit berharap agar engkau masih setia mengeja aksara ku.

Kantung mata dijejal lelah. Begitu mendera. Seolah semangat masa muda hanya seonggok kayu kering yang siap dilalap api. Walau raga terpenjara, aku tak hentikan langkah menuju tempat pembaringan. Langkah memang agak gontai, sedikit terseret di aspal. Lantas, haruskah berserah pasrah?

Gadis bermata sayu.

Jalanan masih sepih, sesepih rasa rindu ku memandang sepasang bola mata di balik bening lensa itu. Sepanjang setapak menuju rumah kontrakan pun, bayangan indah mata sayu mu terus penuhi nalar ini. Hampir saja tubuh terseret laju sedan mewah lantaran berkhayal tetang bola mata mu. Tapi lupakan saja kejadian itu, diriku masih terus berjalan.

Aku lumer di bawah kendali tatapan sayu mu. Begitulah aku di sepanjang jalan.

Beberapa wanita di kiri-kanan jalan terlihat sibuk menjajakan sarapan pagi. Mereka riang di sepenggal pagi ini. Sedangkan aku harus disesap rindu yang sungguh tak tertahankan.

Gadis bermata sayu, relahkah kau tanggalkan kaca mata itu? (bersambung)





Tidak ada komentar: