Kamis, 09 Oktober 2014

MENUNGGU SENJA


Di sudut karang itu, aku masih berdiri menunggu datangnya senja. Sebuah senja yang selalu kita nantikan kala usia masih seumur jagung. Senja yang selalu membawa kita pada petualangan gelombang. Dan, tentu saja senja yang memulangkan camar ke sarangnya.  Tahukah diri mu kalau setiap senja aku masih duduk di karang itu?  Masih ingatkah engkau tentang percakapan kita di separuh senja di saat elang tua itu tak sanggup mematuk teri yang berenang di air dangkal? Mungkin kau sudah lupa cerita itu. Kalau begitu demikian adanya, perkenankan  aku  bercerita untukmu.  Namun, sebelum kisah  itu merenangi senja kita, aku harus  menceritakan sebuah kejadian  yang kujumpai ketika aku mencarimu di antara ribuan pasang mata pada sebuah senja, pada sebuah tempat.
Waktu hanyalah serpihan kejadian yang berkelindan saat aku menyeruak di antara kerumunan orang yang bersejoli di taman kenangan itu. Hadirku tak berasmara. Aku sendirian. Salah. Tepatnya aku menggandeng kesendirian dan sepi. Kalau begitu, aku tidak sendiran? Aku bersama. Namun, bermaknakah kebersamaan kami ? Adakah esensi dari realitas ini ? Seandainya kupaksakan diri untuk menyimpulkan atau menteorikan model kebersamaan kami tentu saja akan terjadi banyak perdebatan. Bisa jadi, pemilik sah dari kebermaknaan akan menuduhku sebagai pemberontak. Sebagai Revolusioner tak berpendidikan dan brutal.  Mereka mungkin saja segera mengadakan sidang dadakan untuk membahas kelakuanku. Hasilnya, akan bertebaran petisi dan gerakan publik untuk menteror keberadaan ku. Ujungnya, aku berhadapan dengan pengadilan sepihak, dan pembelaanku hanyalah ilusi beraroma fatamorgana. Buat apa persulit diri dengan pikiran tak karuan ini ? Bukankah, sudah terlalu banyak ketakberartian yang muncul dari  jalinan abjad ?  Yah...aku berhenti dari rutinitas tak karuan. Sebaiknya kuakhiri penjelasan paling stupid ini. Kalau tidak, aku akan membuatmu tambah pusing. Namun, perkenankan diriku untuk tetap menggandeng kesendirian dan sepi. Biarkanlah kami memasuki taman itu dan menggulirkan cerita untukmu.
Kabut tipis menggantung di sekitar ranting-ranting kamboja yang mulai rapuh. Aku terduduk sebagai seorang bisu. Memang di tempat umum, aku lebih suka menjelma sosok tak berkalimat. Bagiku, eksistensinya mampu mendekatkan diri pada keberadaan paling asali dari semesta. Bayangkan saja, keberdiamannya adalah keadaan yang pernah dilakoni dan diperankan oleh semesta sebelum hiruk pikuk memenuhi ruang dan waktunya.  Aku menatap ke arah taman yang mengenakan selimut ungu. Kubiarkan kesendirian dan sepi, berkeliaran dan menggoda para pasang sejoli. Jujur saja, aku tak mau mereka mengganggu percikan cinta yang timbul dalam rasa ini. Cinta. Aku merasakan geliat cinta paling romantis semenjak jejak tertinggal sebagai bagian tak terpisahkan dari rumput basah di taman ini. Keberadaan cinta dalamku laiknya ekspresi paling tulus dari segala rasa yang pernah singgah di rasa. Dia mampu menjulang tinggi, menjelma sebagai isyarat yang tersirat dalam desir angin yang turun perlahan di rembang subuh seraya meminta waktu untuk mengabarkan pada mentari bahwa ia adalah kekasih sejati semesta.
Pada desir sepoi taman aku menggeliat. Nurani dan sanubari menyediakan ruang bagi  parade sukma. Sebelum segalanya sempat diproyeksi oleh lensa proyektor penglihatan, aku sudah ditimpali sebuah sosok yang secara kasat mata mirip dengan diri mu. Hadirnya   begitu saja. Tanpa banyak  basabasi atau  kata pengatar yang berteletele. Tidak juga seperti ocehan MC (Master of Ceremony) yang sering kita saksikan dan dengarkan ketika menghadiri resepsi pernikahan anak kepala desa di kampung kita.  Ingatanmu tentunya masih sempurna. Sesempurna posisi dudukku pada karang berlumut ini. Yakinku kau tidak pernah melupakan peristiwa yang akhirnya membuatmu beranjak dari desa kita. Andai saja waktu dapat diputar, aku ingin membuat perdebatan dengan si MC itu. Aku akan mengatakan padanya kalau pembicaraan sama sekali tidak berfaedah. Setiap tutur kalimatnya dengan penambahan beberapa kutipan  mutiara dari para penyair  itu sangat mirip kotbah  pendeta di saat kedua mempelai itu mengikrarkan janji suci pernikahannya. Di kesempatan itu, aku akan mengatakan padanya, tak usah lagi kau berpanjang kata. Sudah terlalu banyak kata yang beredar di jagad ini.  Dan saking banyaknya kata, orang-orang sudah bosan membaca dan mendengarnya.
Engkau hadir di taman itu. Mengenakan baju yang biasa kau pakai saat kita duduk di sudut karang ini.  Sontak kedua biji mata ini memperhatikan setiap gerak tingkahmu.  Tak mau aku membiarkan sedetik pun keributan para penjajah minuman dan makanan ringan menyerap  ragamu.  Apa boleh buat. Hilir mudik penjajah itu lebih cepat dari gerakan bola mata sehingga aku kehilangan dirimu.
Kau tahu, aku tak mau menyerah dan pulang dengan penyesalan. Kutelusuri setiap ruang yang terbentang dalam taman itu. Tak sekali pun, ku lewati seinci pun. Namun yang ketemui hanyalah wajah-wajah asing dengan tingkah pongah dan acuhnya. Kemanakah dirimu ? Batinku membatin. Sembunyikah engkau dariku ? Masih kesalkah dirimu dengan peristiwa di resepsi pernikahan anak kepala desa itu ? Kalau Aku boleh jujur. Waktu itu aku juga tengah terjebak dalam persoalan. Aku harus berjuang membebaskan lahan pertanian dari jerat utang ayah kepada kepala desa kita. Memangku akui, kalau diri ini tak dapat berperan sebagai sahabat sejati. Kubiarkan dirimu dituduh sebagai provokator yang membuat onar di acara paling akbar di kampung kita. Padahal, kita sedang berada di tenda acara, mendengarkan sang MC berceracau tentang kehidupan rumah tangga. Kita juga tidak melewatkan  setiap kata sambutan dari pihak keluarga kedua mempelai. Terlepas dari kenyataan kita saat itu, sampai sekarang aku masih bertanya siapa yang memproklamatorkan dirimu sebagai biang dari keributan itu ?
 Keadaan taman itu kian bersenja. Pendar yang sempat membias di permukaan kolam bertutur kalau engkau sedang bersembunyi dariku.  Bisa kueja dengan lamat setiap inci warna senja yang tercampur dengan riak air. Sudah kubaca dengan saksama gemerisik air kolam kalau engkau sesungguhnya hendak berjumpa, memberikan sapaan khas kita “ haihaihaihai.....senja hanyalah kisah pelaut di tengah selubung malam.”  Dan sejatinya engkau juga tahu, kalau aku memiliki kemampuan untuk membaca keadaan sekitar. Karenanya, dirimu meninggalkan pertanda di permukaan kolam. Kenapa kau lakukan ini ? Tak sadarkah dirimu bahwa tanda bisa menciptakan kegalauan jika ia hanya sebatas tanda ? Ahh...kau terlalu memelankoliskan keadaan. 
            Jika kita sempat berjumpa di senja  di taman itu, mungkin aku sudah menjelaskan panjang lebar tentang alasan kenapa aku tidak membelamu di saat itu. Tapi, bagaimanapun, cerita itu harus dituturkan. Meski tidak secara beradu pandang denganmu. Selain karena hendak membebaskan jeratan hutang, aku juga harus berjuang merebut tampuk pimpinan di pemilihan kepala desa yang akan diadakan seminggu setelah hajatan anak kepala desa kita. Seandainya aku mengambil tindakan dengan membela dirimu, tentu saja  kedua hal tersebut  kini tertinggal sebagai kenangan. Mungkin juga, keterpurukan akan segera menghampiri aku dan keluarga. Seharusnya kau tahu, bahwa keputusan untuk tidak berpihak kepadamu adalah strategi untuk menyerang kepala desa dan aparaturnya kala tampuk kepemimpinan sudah berada di tangan. Dan kau pun tahu, saat aku menjadi orang nomor satu di desa, kuseret kepala desa dan anteknya. Ku seret mereka ke meja pengadilan. Sekarang mereka sudah berada di bui.
            Di taman berpenghuni berpasang sejoli itu, aku begitu tersudut. Bagaimana mungkin, tingkahmu yang sempat ditangkap penglihatan harus menghilang tak tahu rimbanya. Kenyatan ini adalah ketersiksaan paling tersiksa yang pernah mendera raga dan rasa. Pahitnya lebih pahit dibanding melepas kepergianmu beberapa tahun silam. Dan gemerisik sepoi di ranting kamboja menambah satir realitasku yang lebih menyakitkan. Dengan terpaksa, pengakuan ku hanya disimak oleh kesendirian dan sepi.
            Aroma kesalmu menyeruak di antara bau badan para peminta yang berkeliaran di taman ini. Yakinku, kau sengaja menitipkan bau kesalku kepada para peminta, yang mungkin saja kau bayar dengan uang recehan. Begitukah caramu membalas dendam?  Jika ya, aku bertani bertaruh. Ku bertaruh, Kau sepenuhnya belum meninggalkan kebiasaan mu yang sering membuat onar di pasar kampung. Mungkin saja, keributan yang terjadi di acara malam itu adalah caramu agar anak buahmu bisa mengambil kepala binatang yang tergantung di dapur rumah kepala desa. Memang kenyataan akhirnya berujung pada kebenaran. Sehari setelah acara itu digelar, para anak buahmu berpesta di pondok di ujung kampung itu. Dan usai pesta itu tergelar, engkau menghilang. Sedangkan anak buahmu yang saban hari berpapasan dengan ku selalu berlalu tanpa sepata kata pun. Bagiku, bisu adalah pertanda paling fasih kalau mereka menyembunyikan keberadaanmu.  
Bagai madu bersari empedu, itulah rasa kopi yang diseduh oleh penjajah minuman bersepada kumbang. Menyeruput segelas kopi di bawah tindihan hujan adalah tindakan paling bodoh bagi para penikmat kopi. Andai saja, sang barista yang telah membangun kafe filosif kopi tahu kelakuanku, tentu saja aku akan diberi pelajaran bagaimana cara menyeruput kopi yang baik dan benar.[1] Bodoh amat dengan semua itu ! Yang penting aku bisa menyeruput kopi ini hingga tandas.  Walau cara menyeruput segelas kopi begitu jauh dari seni menikmati kopi, tapi inilah cara yang kupilih. Tidak ada yang bisa membantah atau menyalahkan keputusanku. Apalagi dari sisi peralatan  dan tempat saja , aku sudah jauh berbeda dengan para fanatisme kopi. Belum lagi, serbuk kopi yang diseduh itu hanyalah “sampah” dari serbuk kopi yang telah  dihasilkan oleh berbagai produk kopi di negeri ini. Kalau saja kau tidak berpaling, tentunya kita bisa menikmati senja ini sembari menyeruput kopi di bawah runtuhan air.
Kini kau entah di mana. Masih membingkai kenangan dengan kesal yang menggeliat di rasamu. Sedangkan aku masih di sini, di sudut karang ini.  Masih menunggu terbitnya senja dengan setangkup harapan bahwa di suatu senja kau akan hadir, memberikan sapaan khas kita dan bersama bercerita tentang senja. Sang penceramah senja, di manakah dirimu ? Ku rindu. Menantimu bersama asinnya udara ini. Seandainya kau mendengar elegi ini, datanglah ke sudut karang, tempat yang dahulu selalu mendengarkan ocehan tentang idealisme dan mimpimu untuk mengusir para rentenir di kampung kita. Dan, kau harus tahu, kalau kampung kita semakin dikuasai para rentenir. Aku yang berperan sebagai kepala kampung saja tidak mampu menghalau tindakan mereka. Aku sangat membutuhkan kehadiranmu.  Ku harap gelombang pasang akan mengabarkan padamu bahwa di sudut kampung kita masih ada sebuah hati yang menanti mu. Ia masih berharap engkau melamarnya. Dialah gadis yang selalu kau temui di setiap senja di sudut karang ini.  Di sini, di sudut karang ini, di saat ini, aku sedang duduk bersamanya, mendengar dirinya berkhayal kalau engkau akan muncul dari balik deru gelombang itu.






[1] Ringkasan cerita yang dikutip dari filosif kopi karya Dewi Lestari

Tidak ada komentar: