Sabtu, 11 Oktober 2014

WANITA BERMATA SAYU (V)

Tentang mata di balik kaca mata sang gadis, sepenggal rindu bersetubuh cemburu.

Di sayu mata mu, terpatri lugu dan polosnya lakon hidup. Sayanngnya, gambaran itu harus tersaput bening sepasang lensa berbingkai frame plastik. Saat kita jumpa di gerhana purnama kemarin, ingin rasanya mencopot kaca mata yang mesra di pangkal hidung mu. Sungguh, sudah tak tertahankan lihat kedekatan sepasang lensa dengan bola mata sayu. Mereka egois. Tidak punya toleransi dengan pemuja rahasia mu.

Kalau boleh usul, sebaiknya tanggalkan saja kaca mata itu. Tanpa sepasang lensa di belahan mata mu,cukup berikan ruang bagi ku untuk sepuasnya pandangi indah sayu mata itu. Ini pun jika diperkenankan.Ahhh...cukuplah khayal ini.

**********

Senandung sahabat belum juga usai. Entah kenapa pagi ini kantuk begitu jauh jaraknya. Sekelebat bayangan  pun tak tampak. Pikir ku, warna suara para sahabat ini yang mengubur malaikat kantuk di balik lantai kamar. Maaf wanita bermata sayu. Aku terpaksa mengurai kisah tadi sebelum bayangan indah mata sayu mu menebar di rasa. Perkenankan jemari ini menulis kisah senandung para sahabat mengubur kantuk di balik ubin. Luangkan sepenggal waktu buat membaca kenangan pagi ku.

Subuh menggelinding pergi, menjauh dari pelupuk mata. Setapak bersama sekantong kantuk iringi tubuh usai deadline di kantor. Sepanjang jalanan menuju riuh jalanan belum tapak. Hanya terlihat beberapa ibu-ibu yang jajakan sarapan. Gadis bermata sayu, belum jenuh kan membaca tapak tilas ku? (bersambung)

Tidak ada komentar: