Jumat, 10 Oktober 2014

N-I-R-K-A-F-E SEKITAR PUKUL 18.00


“Romantika merupakan buah dari perkawinan cinta dan rasa.” Itulah, kalimat yang kau sampaikan di saat kita pertama kali bertemu di kafe ini. Sebuah kafe yang jauh dari keramaian kota. Kafe yang hanya menyediakan minuman dingin. Apakah ini layak dinamakan kafe?  Tentu saja tidak! Tapi kita sepakat menasbihkan tempat ini sebagai kafe. Nama yang dipilih untuk kafe ciptaan kita pun unik dan terbilang langka. N-I-R-K-A-F-E.  Bagi yang memahami bahasa indonesia  dengan baik dan benar pasti langsung menyimpulkan kalau sesungguhnya tempat ini bukanlah sebuah kafe. Biarkanlah mereka bebas berkesimpulan tentang nama kafe pertemuan kita, sebab kesimpulan mereka tidak mengurangi keakraban yang mulai kita tenun.
Sang pemilik kafe N-I-R-K-A-F-E ini juga tidak tahu menahu tentang nama yang disematkan pada tempatnya. Baginya sudah cukup berarti ada orang yang mau singgah dan memesan minuman dingin yang diletakan sembarangan di sebuah kulkas dua pintu. Aku jamin, dia tidak akan marah kalau kita katakan tempatnya bernama N-I-R-K-A-F-E. Mungkin dia senang mendengar tempatnya diberi nama seperti itu. Bagi bapak yang hanya menamatkan pendidikan di bangku sekolah menengah pertama ini, nama tersebut sudah terdengar keren. Mungkin saja, kita akan mendapat tanggapan seperti ini. “Walahhhhh...namanya barat ya. Bagus tuh nak....nanti bapak minta tukang buat papan nama dengan tulisan itu”
Aku cukup kaget dengan pembicaraan di awal pertemuan kita. bagaiamana mungkin, dua orang baru, berbeda jenis kelamin, bertemu di sebuah tempat baru, dan terlibat dalam percakapan aneh. Kau harus tahu, waktu itu aku berpikiran kalau diri mu sedang patah hati atau  baru mengalami kehancuran rumah tangga. Mungkin  yang terahkir ini paling tepat. Karena, sepengetahuan saya yang serampangan dan semrawutan, di abad ke dua puluh ini perceraian seperti minuman ringan yang begitu mudah ditemukan di tempat umum. Urusan rumah tangga yang sejatinya menjadi rahasia keluarga saja sudah berani dibuka di hadapan umum. Lebih mengerikan berbagai media baik cetak maupun elektronik meliput dan memuat berita perceraian. Sungguh, edan dunia ini! Itulah pikiran yang muncul setelah  pembicaraan mu mengenai romantika. Pada dasarnya aku tidak tahu apa itu romantika. Ku harus akui itu.  Sebab defenisi romantika bisa dipahami oleh seseorang kalau dirinya sudah merasakan seperti apa rasa romantika itu.
Kita bertemu lagi seminggu kemudian. Pertemuan kita bukan karena janji untuk bertemu. Kita bertemu secara kebetulan di kafe yang sama, di hari dan jam yang sama. Apakah kebetulan ini menjadi pertanda dari sebuah peristiwa yang akan menggelinding di masa depan? Entahlah!! Aku tidak mau ambil pusing dengan urusan masa depan. Biarlah masa itu hadir dengan caranya, tanpa harus di setting  atau diatur.
Pada pertemuan kedua, engkau kembali mengatakan hal yang sama ”romantika merupakan buah dari perkawinan cinta dan rasa.” Kenapa kau katakan lagi? Cukup terlukakah dirimu dengan  romantika? Begitu aneh pertemuan kita. Tapi, kenapa ada kenikmatan yang tercipta? Sungguh, aku tidak mengerti!! Di N-I-R-K-A-F-E, pada perjumpaan kedua, kita sepertinya mulai saling memahami. Lewat tatapan, gerak tubuh, dan rekah senyum seakan terjalin sebuah ikatan tak kasat mata. Mungkinkah ini  yang dinamakan  jatuh cinta pada pandangan pertama? Di perjumpaan kedua, hanya satu kalimat yang terucap. Itu pun kalimat yang sama. Yakni “romantika merupakan buah dari perkawinan cinta dan rasa.” Selebihnya, kita hanya beradu pandang.
Setelah dua jam  hanya dilewatkan dengan beradu pandang, kita pun berpamitan. Cara mu mengkhiri kebersamaan juga menarik. Mula-mula, kau tatap botol minuman kosong. Selanjutnya kau berdiri, menunduk ke arah ku dan bergegas ke arah pintu. Sesungguhnya, apa arti dari semua ini?
Beberapa minggu kemudian aku berkunjung ke N-I-R-K-A-F-E, dalam ku membuncah harapan agar beradu pandang dengan diri mu. Cukup lama aku menunggu. Sudah beberapa botol minuman dingin yang kuteguk, namun kau tidak juga muncul. Bertanya kepada penjaga kafe ciptaan kita, dia hanya berkata kalau setelah pertemuan kedua itu engkau tidak kembali lagi ke kafe ini. Sakitkah diri mu? Ataukah  engkau sebenarnya hanyalah pelancong yang kebetulan singgah di kota ini? Ataukah  beberapa pekan kemarin engkau kebetulan sedang mengadakan pertemuan di sini dan sekarang telah kembali ke kota asalmu?
****
Di kamar kos, kureka ulang setiap kebersamaan kita. Tak mau kulewatkan barang sedetik pun dua kenangan yang tercipta di N-I-R-K-A-F-E.  Di kondisi ini, aku jatuh cinta pada mu. Aku suka dengan diam mu. Aku tertarik dengan perkataan mu mengenai romantika. Tapi, kenapa rasa ini muncul setelah kepergian mu? Begitukah asal mula cinta?
****
Dalam pusaran kemungkinan, aku dicengkram cakar galau yang luar biasa tajam. Tak ada kemungkinan untuk lolos dari cengkramannya. Lantas, apa yang harus kulakukan? Give me one reason yang dinyanyikan tracy chapman mengembalikan ingatan tentang beberapa lakon di waktu lampau. Memang itu hanya berupa potongan gerak yang berkelabat. Tapi, kenapa harus ada melankolis yang muncul? Kenapa juga muncul ketertarikan kepada sosok yang berkelebat itu? Lagi-lagi lakon di beberapa tahun silam bermunculan. Sebenarnya aku tidak begitu memperhatikan tingkah mereka. Sesungguhnya aku lebih tertarik dengan permainan abjad. Tapi apa boleh buat, mereka begitu memaksaku. Berusaha agar seluruh rasa dan pikiran difokuskan untuk mengapresiasi tingkah mereka. Saya harus menyerah.
Di relung kemarin senja hanyalah seonggok peristiwa. Sepuhan warnanya tak mampu mengubah lirih yang bertengger di ranting malam. Setiap kisah yang membuncah di antara parade gelombang dan hujan seakan berlalu begitu saja. Dan aku hanya bisa menatap semuanya. Sementara itu wanita yang menggenggam biola coklat itu masih terpaku di atas karang berlumut. Nada-nada yang sempat disampaikan pasang tidak mampu dicerna dawai biola. Lalu, terbersitlah prahara dari seorang pengamen jalanan. Lakonnya diperuntukan agar esok masih bersamanya. Tapi, yang namanya prahara selalu berahkir dengan kedukaan. Ia terseret laju mobil. Sekarang, bagaimana dengan aku? Sebuah tanya yang terkesan mudah namun cukup sulit mencuatkan jawabannya.
Menarik memang! Menelisik dan mengulik tanya ini. Apalagi berpetualang bersamanya.Yang dibutuhkan dalam pencarian ini adalah benteng kesunyian dan realitas kesendirian. Mungkin ditambah juga dengan sedikit perasaan melankolis. Tapi jangan coba-coba menyertakan alunan lagu ambon. Keberadaannya bisa merusak alur, tatanan dan jejak tanya. Mungkin lentingan gitar BB.King bisa menyertai aktivitas pencarian.
 Semburat senyum tersembul kala aku memasuki benteng kesunyian. Di sekitar tembok berjamur, kesendirian mulai bersolek. Kesunyian pun menyiapkan segala perlengkapan make-up bagi kesendirian. Dan ke-aku-an ku tertidur di atas jerami kering. Setelah kesendirian menyelesaikan aktivitasnya, iapun membangunkan aku. Kala pandangan beradu, BB.King mulai memetik gitar kesayanganya, Si Lucille. Alunan nadanya dapat membangkitkan roh-roh para budak Afrika yang terkubur di pinggiran Missisipi. Di pertengahan lagu, aku mulai membenarkan posisi tubuh. Semua perlengkapan di keluarkan. Ada setampuk kenangan, semangkuk kisah serta setumpuk catatan hidup. Setelah mengatur semuanya, aku pun mulai bercengkrama dengan kesunyian. Percakapan kami diawali dengan saling menyapa.
****
Gadis pembenci romantika, sadarkah dirimu kalau sudah meninggalkan ketakberaturan di batok kepala ku?  Sejak kepergian mu tanpa salam perpisahan, hidup ku kacau. Bukan kacau. Tepatnya chaos. Ya...chaos yang tidak bisa direformasi. Lantas, haruskah  selamanya berkutat dengan lara ini? Haruskah elegi menjadi sosok penting di hari-hari ku?
“Ahhhhhh.....”
****
            Ku curahkan isi hati dengan menulis cerita di dunia maya. Tentu saja, ku samarkan ceritanya. Ku caplok gaya Nietzsche[1] dalam menuliskan cara pandangnya tentang kehidupan. Walau begitu Ardi, sahabat yang selama ini menjadi teman ngobrol di dunia maya mampu membaca kegalauan ku. Beberapa menit, setelah cerita itu menggeliat di dunia maya, ia pun mengirim pesan singkat lewat inbox.
“ Masbro, kayaknya lagi patah hati”
“ Ngak masbrayyyy...hanya bercerita”
Lantaran, usaha ku merahasiakan kebenarannya, Ardi pun kian menjadi
“Bukannya pernah berjanji untuk tidak bersentuhan dengan cerita tentang seorang perempuan?”
“Heheheheheeeee” Begitulah pengakuan ku kepada Ardi
“Ok, besok ketemuan yuk. Kan sudah cukup lama  nih “
“Siap, jam berapa dan dimana”
“Di N-I-R-K-A-F-E SEKITAR PUKUL 18.00”
“Jangan di situlah. Gimana kalau di kafe tempat kita meneguk kenangan terahkir bersama para sahabat SMA”
“Pokoknya di N-I-R-K-A-F-E SEKITAR PUKUL 18.00. titik”
“ Ok lah”
****
            N-I-R-K-A-F-E SEKITAR PUKUL 18.00, Ardi sudah memesan dua botol minuman dingin.
“ Macet ya ?”
“Hehehehhehehe” Aku hanya tertawa, sebah pertanyaannya adalah alasan yang lasim ku sampaikan kepadanya.
“Kebiasaan, selalu ngaret. Kayak gini kapan bisa jadi orang kaya”
“Wuidihhhh....orang kaya. Makan aja masih minta sama orang tua, kuliah aja udah semester banyak”
“ Jangan gitu bro. Kita harus punya impian. Harus bisa menaruhnya lima sentimeter di depan kita”
“ Ngerti. Tapi kenapa harus berjarak. Gue ngk setuju dengan teori itu. kalau punya impian dekaplah. Jangan membuatnya berjarak dengan diri.” Soal ini, aku berseberangan. Bagiku  impian harus terlarut dalam darah.
“Sepertinya, kita salah arah” Ardi berusaha mengusai kembali panggung pembicaraan
“maksudnya”
“Tujuan kita kan, untuk mengurai cerita yang kau tulis di FB(facebook)”
“Oh..itu. ok lah. Begini. Masih ingatkan tentang gadis dan kafe ini. yang sempat gue ceritakan beberapa minggu lalu?” 
“Iya. Lalu apa masalahnya. Bukanya kau sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta”
“Itu masalahnya. Aku jatuh cinta.”
“Lah gimana bisa” Aku tahu ini hanyalah caranya untuk memancing ku. Sebelum dia berceramah, sebaiknya ku curahkah isi hatiku. Maka aku pun menceritakan persoalan yang mendera ku.
            Usai mencurahkan perasaan ku, Ardi pun mulai membedah persoalan itu. Ia menghubungkan ucapan sang wanita dengan nama kafe yang kami sepakati. Menurutnya, si wanita itu sengaja mengucapkan kalimat itu dan menyematkan nama N-I-R-K-A-F-E  pada tempat pertemuan kami. Masih menurut Ardi, kedua hal itu berhubungan erat. Di mana ia berusaha memberikan kesan atau ia sedang menjalani sebuah proyek rahasia.
“yang benar dia menjalani proyek rahasia?” aku bertanya pada Ardi.
Secara panjang lebar Ardi memberikan penjelasan kalau ada sebuah perusahan yang bergerak di bidang psikologi dan sosiologi sedang mengadakan penelitian tentang maraknya perceraian yang terjadi.
“Ah..itu hanya pemikiran mu saja” aku tidak mempercayai penjelasan Ardi. Bagiku, hal itu sangat tidak mungkin.
             Melihat bahwa aku tidak mempercayai pernyataanya, Ardi pun mengatakan kalau dirinya adalah salah satu anggota dari kelompok tersebut. Dan, wanita yang berjumpa dengan ku di kafe ini adalah rekan kerjanya. Ardi sengaja meminta wanita tersebut untuk menguji apakah aku serius dengan janji ku untuk tidak jatuh cinta dan membina kehidupan rumah tangga. Namun, aku masih bingung. Kenapa Ardi begitu serius dengan ucapan ku, padahal itu hanyalah candaan.
“Begini, selama perjalanan karir ku sebagai tim peneliti, baru dirimu yang mengucapkan hal tersebut”
“Lalu, apa hubungannya “ Aku sungguh kecewa, mengetahui diri ku dipermainkan oleh sahaba sendiri.
“Intinya, sekarang aku yakin kalau dirimu masih normal”
“Sialan. Dasar....” Aku tidak sanggup melanjutkan ucapan, karena sekarang aku tahu kalau sesungguhnya Ardi jatuh cinta pada ku.
           



[1] Seorang filsuf kewarganegaraan jerman.  Ia selalu menggunakan aforisme atau kata lainnya ia menggunakan peribahasa untuk menyampaikan idenya 

Tidak ada komentar: