Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(I)

Arthe rindu akan wajah ayah ketika duduk di beranda rumah, dengan tatapan yang tajam mengarah ke depan. Entah ke arah halaman atau ke jalanan. Dengan wajah yang berseri namun terkadang agak kusam. "Ayah.......Maafkanlah aku yang pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan" Arthe kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan membersihkan perlengkapan makan dan minum. Ia meninggalkan ibu marti yang sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Perlengkapan makan yang kotor menumpuk, sebuah pemandangan yang mengingatkan Arthe akan tsunami yang mencium desanya pada beberapa tahun yang lalu. Dimana keteraturan yang telah menampakan senyum sumringah di halaman-halaman dan jalanan di desanya, dalam sekejap saja menghilang. Tsunami juga yang meletakan sebuah kursi di beranda rumahnya, yang sejak saat itu diduduki oleh ayahnya dari pagi sampai petang. Arthe tidak segera membersihkan perlengkapan makan tersebut, ia beranjak ke ruang tengah sambil terus memikirkan tentang perbuatan ts

DIKUMPULKAN DARI JALANAN

Menyudahi pencarian di remangnya khayal,tidak untuk memenuhi kecemburuan pada tingginya menara Babel. Bukan juga untuk mendengarkan gemerisik ular di tumpukan dedaunan. Hanya untuk memulai perjalan yang telah tertunda sekian tahun. Suatu kesusahan dipermulaan namun bukan untuk menghentikannya dan beralih ke atas tempat tidur sambil melepaskan senyuman. Berlangkah; entah maju ke depan atau ke samping atau ke atas. Hanya itu. Hubungan antara kemarin yang tergeletak lemas di atas trotoar jalanan dengan hari ini yang masih terseok-terseok dalam melangkah. Keduanya sempat bertemu, tidak ada senyuman atau anggukan kepala. Mereka melihat bahwa ada yang lain di sekitarnya, mengetahui bahwa tidak ada kesendirian dan menyadari dengan baik bahwa ada bayangan yang sempat berkelebat di depan mata. Sekali lagi; keheningan bersendau gurau. Ahhhhh.......sangat tidak tepat mengatakan sebagai keheningan, kata ini lebih tepat disematkan kepada para biarawan yang memberikan kehidupannya kep

KETIKA AKU MENULIS TENTANGMU

Selama ini aku tidak pernah memperoleh kesulitan dalam menuliskan cerita. Namun cerita Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul sungguh menyiksaku. Aku benar-benar mengalami kesulitan yang besar dalam menemukan abjad pertama untuk kisahnya. Pernah kutemukan abjad pertama dan berkembang menjadi lima paragraph tetapi akhirnya aku menemukan kesulitan untuk melanjutkannya. Apakah aku telah ditinggalkan oleh roh dari abjad? Aku menemukan kesulitan yang sangat besar untuk memulai kisah tentang Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul . Dimana aku tidak menemukan abjad pertama untuk membuka kisah ini. Aku merasakan ketidakmampuan layaknya seorang penulis pemula yang hendak menuliskan cerita pertamanya. Aku mencoba untuk menghentikan aktifitas untuk memikirkan kisah ini sambil mendengarkan lagu Bintang Hidupku yang dinyanyikan oleh Ipank, berharap agar syairnya memberikan inspirasi namun abjad pertama juga belum muncul dalam nalarku. Aku juga membaca buku Stephen King On The Wr