Minggu, 20 Maret 2011

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(I)



Arthe rindu akan wajah ayah ketika duduk di beranda rumah, dengan tatapan yang tajam mengarah ke depan. Entah ke arah halaman atau ke jalanan. Dengan wajah yang berseri namun terkadang agak kusam.
"Ayah.......Maafkanlah aku yang pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan"

Arthe kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan membersihkan perlengkapan makan dan minum. Ia meninggalkan ibu marti yang sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Perlengkapan makan yang kotor menumpuk, sebuah pemandangan yang mengingatkan Arthe akan tsunami yang mencium desanya pada beberapa tahun yang lalu. Dimana keteraturan yang telah menampakan senyum sumringah di halaman-halaman dan jalanan di desanya, dalam sekejap saja menghilang. Tsunami juga yang meletakan sebuah kursi di beranda rumahnya, yang sejak saat itu diduduki oleh ayahnya dari pagi sampai petang. Arthe tidak segera membersihkan perlengkapan makan tersebut, ia beranjak ke ruang tengah sambil terus memikirkan tentang perbuatan tsunami.

Tsunami; kata yang seharusnya dihilangkan dari kamus bahasa. Keberadaannya juga memicu muncul beberapa kata yang sangat tidak disukai olehnya. Itu pada tahap keberadaannya, kalau pada tahap pengucapannya maka air mata dan suara tangis akan terdengar. Mungkin kata ini harus dilenyapkan dari kamus bahasa dan peredarannya pun harus dihentikan.

Arthe masih memikirkan kata tsunami. Ia berencana untuk mengajukan permohonan kepada Departemen pendidikan dan kebudayaan untuk memusnahkan kata tsunami. Tanpa disadari oleh Arthe ternyata ibu Marti memperhatikan dan menangkap semua pembicaraannya.
"Suatu bentuk kekonyolan dalam pola berpikir dan berperasaan. Mungkin saja Ia memiliki alasan yang cukup kuat sehingga mampu memiliki gagasan ini. Lebih baiknya mengadakan penyelidikan terhadapnya. Mungkin saja gagasannya dapat dibenarkan." Begitulah ibu Marti berkata kepada dirinya.

Rabu, 16 Maret 2011

DIKUMPULKAN DARI JALANAN

Menyudahi pencarian di remangnya khayal,tidak untuk memenuhi kecemburuan pada tingginya menara Babel. Bukan juga untuk mendengarkan gemerisik ular di tumpukan dedaunan. Hanya untuk memulai perjalan yang telah tertunda sekian tahun. Suatu kesusahan dipermulaan namun bukan untuk menghentikannya dan beralih ke atas tempat tidur sambil melepaskan senyuman. Berlangkah; entah maju ke depan atau ke samping atau ke atas. Hanya itu.
Hubungan antara kemarin yang tergeletak lemas di atas trotoar jalanan dengan hari ini yang masih terseok-terseok dalam melangkah. Keduanya sempat bertemu, tidak ada senyuman atau anggukan kepala. Mereka melihat bahwa ada yang lain di sekitarnya, mengetahui bahwa tidak ada kesendirian dan menyadari dengan baik bahwa ada bayangan yang sempat berkelebat di depan mata. Sekali lagi; keheningan bersendau gurau. Ahhhhh.......sangat tidak tepat mengatakan sebagai keheningan, kata ini lebih tepat disematkan kepada para biarawan yang memberikan kehidupannya kepada tembok-tembok usang sebuah bangunan dan tidak pernah menjulurkan kepalanya untuk melihat ke luar tembok tersebut. Kebisuan lebih tepat dikenakan kepada kedua waktu ini.
Dimanakah masa depan? Ohhhhh......lalalalalalala......Dia masih berada jauh dibelakang keduanya. Perhatikan saja langkahnya yang sangat mirip dengan anak tujuh bulan itu. Jangan cepat-cepat menghinanya sebab sebentar lagi ia akan mendahului ke waktu tersebut. Aneh juga; ketiganya tidak pernah bersentuhan dan memberikan sapa. Padahal mereka mengetahui bayangan dari satu sama lain.
Ahhhhhhh.....Aku juga diseret oleh ketiganya.
Mereka tidak sadar bahwa aku ini tidak sama dengan mereka
Diombang-ambingkan dengan sesuka hati
Saling berebutan untuk memiliki diriku
Dasar sosok-sosok yang egois
Sebenarnya kalian membiarkan aku untuk menentukan tempat keberadaanku
Kelangkaan belaian pada tubuh busuk mereka
berkelana tanpa tujuan yang jelas
Merayu apa saja yang bergerak
Dasar sosok-sosok giiiiiiiillllllllaaaaaaaaaaaaaaa
Kembali sebentar kepada pencarian yang tergesa-gesa menungguku
Sabar saja, kita tetap bersama
Jangan kau hiraukan mereka yang menggodamu
Luruskan saja pandangan ke depan atau ke samping atau ke atas
Tapi jangan kebelakang, sebab memberikan pandangan ke arah belakang hanya untuk para budak waktu
Kita tidak terikat oleh ketiga waktu itu
Tatapan kita tidak berhubungan dengan salah satu sosok yang telah kujabarkan di atas.
Harus kuberikan satu rahasia yang kuperoleh dari ketiga waktu tersebut.
Mereka sangat kesepian ketika kita tidak berpihak kepada mereka.
Kau tahu; mereka saling bertengkar dan berlomba-lomba untuk memiliki kebersamaan kita
Sudahlah; aku berkata
Masih ada lagi yang harus diceritakan
Jika menahannya sama saja memasukan ciri ke dalam pencobaan
lantas siapa yang akan membebaskannya?
Tidak ada yang diharapkan
Mereka semua telah bersekongkol dengan waktu
Kau tahu.....
mereka itu tidak sadar akan keterbelengguannya
mungkin kita akan menolong mereka
sudah....
cukup dulu..
AKu harus menghampirimu
Sudahkah kau menyiapkan segala perlengkapan kita?

Jumat, 11 Maret 2011

KETIKA AKU MENULIS TENTANGMU

Selama ini aku tidak pernah memperoleh kesulitan dalam menuliskan cerita. Namun cerita Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul sungguh menyiksaku. Aku benar-benar mengalami kesulitan yang besar dalam menemukan abjad pertama untuk kisahnya. Pernah kutemukan abjad pertama dan berkembang menjadi lima paragraph tetapi akhirnya aku menemukan kesulitan untuk melanjutkannya. Apakah aku telah ditinggalkan oleh roh dari abjad?

Aku menemukan kesulitan yang sangat besar untuk memulai kisah tentang Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul. Dimana aku tidak menemukan abjad pertama untuk membuka kisah ini. Aku merasakan ketidakmampuan layaknya seorang penulis pemula yang hendak menuliskan cerita pertamanya. Aku mencoba untuk menghentikan aktifitas untuk memikirkan kisah ini sambil mendengarkan lagu Bintang Hidupku yang dinyanyikan oleh Ipank, berharap agar syairnya memberikan inspirasi namun abjad pertama juga belum muncul dalam nalarku. Aku juga membaca buku Stephen King On The Writter, keyakinan terbesarku bahwa kisah-kisah yang terdapat di dalam novel tersebut dapat melahirkan abjad pertama untuk ceritaku tetapi tetap saja abjad itu belum juga menampakan wujudnya. Cukup lama aku bergelut dengan kisah ini sampai-sampai kisah-kisah lain yang telah tertulis dan tersimpan dalam laptop ini tidak terurus dengan baik. Sesekali terdengar rintihan dari kisah-kisah tersebut. Mereka menangisi kesendirian, meludahi ketidakmampuanku sebagai seorang penulis dalam mengatasi permasalahan mengenai kepenulisan. Karena kisah ini keseharianku dipenuhi pemikiran untuk menemukan abjad pertama, sudah pasti bahwa tidak ada topic lain yang berjalan bersamanya dalam nalarku.

Aku terus berusaha untuk dapat menemukan abjad pertama sehingga aku membaca kembali Ishmael yang ditulis oleh Daniel Quinn. Pikirku; mungkin saja beberapa teori yang terdapat di dalamnya memampukan aku untuk menuliskan kisah mengenai Lelaki Tua Dengan Kail Dan Cangkul. Aku sangat mengingat beberapa teori yang dijabarkannya meskipun Daniel Quinn tidak mengatakan bahwa teori-teori tersebut ditujukan untuk kegiatan menulis. Setelah menyelesaikan bacaan itu, aku memiliki keyakinan untuk memulai ceritaku. Aku juga menemukan abjad pertamanya yang akhirnya berkembang menjadi lima paragraph. Sampai pada tahap ini beberapa kisah yang telah tersimpan dalam laptop mulai menampakan kegembiraan, tidak lagi terlihat wajah sendu dan rintihanpun tidak lagi terdengar. Kekusutan dan kesenduan yang selama ini menudungi wajahku, akhirnya dengan malu-malu merapikan semua perlengkapannya dan meninggalkan wajahku tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Suatu kebahagian yang sulit untuk dicerna oleh ke-26 abjad, sehingga tidak ada rangkaikan kata dan kalimat yang dengan segera mengikutinya. Munculnya kebahagian menunjukan juga bahwa kelima paragraph yang telah tertera di layar monitor laptopku akan beranak-pinak. Ide-ide mengenai cerita tadi bermunculan dengan cepat, membanjiri setiap ruang kosong dalam nalar. Aku dibuat kewalahan dalam mengatur ide-ide tersebut. Inikah yang disebut penjelmaan roh(cerita) yang hendak memanifestasikan dirinya? Apapun itu; aku sekarang sudah mempunyai kemampuan untuk menuliskan cerita tentang Lelaki Tua Dengan Kail Dan Cangkul. Yakinku bahwa sebentar lagi kelima paragraph tersebut akan menggendong dan meneteki anak-anaknya. Aku sangat berterima kasih kepada Ishmael yang telah memberikan efek positif kepada kegiatan menulisku.

Setelah kelima paragraph terpampang di depan monitor laptop, aku memutuskan untuk beristirahat. Dimana aku dapat membersihkan diri dan mengisi kekosongan dalam lambungku. Sangat tidak mungkin untuk menelantarkan kebutuhan-kebutuhan alamiah. Bisa saja kelima paragraph tersebut akan menemukan kebuntuan karena kebutuhan alamiah mengadakan pemberontakan. Dengan segera ku-save kelima paragraph dan menyimpannya di salah satu bagian dalam laptopku. Selesai mematikan laptop, aku mengambil perlengkapan mandi yang terletak di pojok kamar dan bergegas ke kamar mandi. Kegiatan membersihkan diri tidak berlangsung lebih dari tiga puluh menit. Meskipun sibuk dengan kegiatan membersihkan diri, aku tetap memberikan tempat di nalar untuk memikirkan kelanjutan dari kelima paragraph yang telah terlahir.

Dalam perjalanan menuju ke warung makanan aku tetap memikirkannya, nalar semakin berkembang ketika aku menyaksikan seorang lelaki tua yang sedang memungut botol-botol plastic yang berserakan di jalanan. Pada tahap ini aku menghubungkan tokoh dalam ceritaku dengan lelaki tua tersebut. Dimana mereka memiliki kesamaan dari segi usia, sifat yang cekatan dalam mengumpulkan sesuatu. Tetapi tokoh dalam kisahku, tentu tidak mengumpulkan botol-botol plastic yang berada di jalanan. Namun memikirkan hal ini menyebabkan aku kurang menikmati makanan, acara makanpun berlangsung dengan cepat sampai aku lupa untuk meminum segelas air.

Kuputuskan untuk beristirahat sambil menikmati segelas kopi dan beberapa batang rokok Marlboro Lights. Acara ini diiringi dengan lagu-lagu dari Ipank. Disini aku tidak memikirkan kelanjutan dari kelima paragraph. Aku tidak menghendaki kegiatan menikmati kopi dan rokok terasa sama dengan kedua kegiatan terdahulu. Kira-kira satu jam aku melakukan kegiatan ini. Setelah meneguk habis kopi yang tanpa ampasnya, maka kuhidupkan laptop. Tujuan utamanya adalah melanjutkan cerita tadi, tetapi aku tidak langsung membuka file yang menyimpannya. Malahan aku membuka file yang berisi sebuah novel yang belum selesai dituliskan. Aku membacanya sambil memberikan penambahan dan pengurangan pada beberapa bagian. Pikiran yang sedari tadi berpusat pada cerita Lelaki Tua Dengan Kail Dan Cangkul, kini telah berpindah kepada novel ini. Ide-ide yang tadinya membanjiri nalar kini telah menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Aku sangat terlarut dalam menuliskan kelanjutan dari novelku. Tidak lagi terpikirkan untuk mengakhiri tarian jemari di atas keyboard laptop. Sepertinya ada kekuatan yang memaksaku untuk tetap menuliskan kelanjutan kisah dalam novelku. Sepertinya juga aku dikejar deadline dari penerbit karena besok novel ini harus diserahkan kepada para editor.

Pada pukul 00.00 aku menghentikan tarian jemari di atas keyboard dan merebahkan diri di tempat tidur. Aku tidak menyempatkan waktu untuk membuka file yang menyimpan cerita Lelaki Tua Dengan Kail Dan Cangkul, sebab kepenatan sangat menguasai tubuh. Tidurku sangat pulas. Baru kali ini aku merasakan kepulasan dalam tidur, sehinga tidak menyediakan sedikit waktu bagi nalar agar mengatur kembali alur dari cerita di atas. Biarkanlah alur yang sempat membanjiri nalar mengisi kembali diriku ketika tubuh tidak lagi menemukan kesadarannya. Aku membuka diri untuk disinggahi oleh alur tersebut, dan memperkenankan topic mimpiku dipenuhi oleh alur tersebut.

Pagi belum benar-benar menyelesaikan persiapan dalam menyambut kehadiranku. Ketika ku memberikan sapaan, pagi sangat terkejut. Wajahnya merah merona, di wajahnya mulai tergambar dua aliran air yang muncul dari kedua bola matanya.

“Mengapa engkau meneteskan air mata untuk sesuatu yang sangat lumrah?”

“Aku tidak menangisi kehadiranmu, air mata yang tampak di wajahku ditujukan untuk sesuatu yang akan segera engkau ketahui”

Aku terbangun dari tidur ketika mendengar pengakuan dari pagi yang dituturkan melalui mimpiku.

“Mana mungkin aku bermimpi?”

“Bukankah aku telah terbangun sebelum kalimat tersebut dituturkan?”

Lantas siapakah yang mengucapkannya? Aku kebingungan ketika berhadapan dengan kasus semacam ini. Baru kali ini aku mengalaminya. Apakah kejadian tadi berhubungan dengan cerita yang sedang kutuliskan? Daripada memikirkan Sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, lebih baik aku mulai menulis lagi menengenai kisah di atas. Tetapi sebelumnya aku membuat sebuah kesimpulan bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi.

Aku menghidupkan laptop, meng-klik beberapa musik instrumen yang akan mengiringi kegiatan menulisku. Kemudian membuka file cerita Lelaki Tua Dengan Kail Dan Cangkul, namun tidak segera memulainya. Aku menghidupkan dispenser untuk dapat memanaskan air agar dapat digunakan dalam proses penyajian kopi. Setelah berhasil menyeduh segelas kopi maka aku mulai menulis cerita, tentu sambil merokok dan minum kopi. Aku membaca ulang kelima paragraph yang terpampang di monitor untuk memancing ide-ide selanjutnya. Hampir tujuh kali aku membaca kelima paragraph ini, tetapi ide belum juga muncul. Biasanya aku dengan cepat menemukan kelanjutannya. Mengapa kisah ini sangat sulit? Sungguh sebuah ketersiksaan yang berat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku sehingga ide begitu sulit menampakan wujudnya?

Kemanakah perginya ide-ide? Aku merindukan kehadiran kalian dalam nalar meskipun hanya sesaat.

“Tolong tunjukan rupa kalian”

“Apakah aku harus menangis bagi kalian? Jika kalian menghendakinya maka aku akan mengucurkan air mata. Aku tidak menunjukan kepura-puraan dalam mengucurkan air mata. Aku sangat tersiksa dengan kepergian kalian. Bukankah selama ini kalian begitu setia menghuni nalarku. Apakah aku kurang memenuhi kebutuhan kalian? Bukankah malam tadi kalian berlomba-lomba dalam memenuhi setiap ruang dalam nalarku?” Disini kutemukan diriku seperti wanita dalam lagu whisky lullaby yang bersetubuh dengan lelaki lain, dan disaksikan oleh suaminya yang pulang dari medan perang. Apakah engkau juga seperti suami dari wanita tersebut, yang meninggalkan istrinya karena merasa dikhianati kemudian menghabiskan sisa hidupnya dengan meneguk berbotol-botol whisky? Jika engkau berkelakuan demikian maka aku jug akan mengikuti kelakuan dari istrinya. Sebab kehidupan tidak lagi memiliki makna dan arti.

Aku sangat marah dengan keadaan dan mulai mengatai-ngatai ceritaku. Bukan hanya itu; aku menghapus kelima paragraph yang telah tertulis. Baru kali ini aku tersiksa dengan cerita yang kutuliskan. Benarkah; terkadang sebuah cerita yang dituliskan memiliki kehidupanya dan bernyawa? Ah…itu hanyalah mitologi yang muncul ketika seorang penulis menemukan jalan buntu. Bisa juga cerita itu muncul karena seorang penulis telah merasakan kesatuan dengan cerita yang ditulisnya. Aku tidak tahu, dimana posisiku berada. Ceritaku(ide); engkau harus mengetahui bahwa menjalani kehidupan di dunia dengan sebuah komunikasi. Kehidupan disini tidak seperti di duniamu yang mungkin saja menganut paham monologisme. Engkau juga harus mengetahui bahwa aku telah merelakan diri untuk menerima kehadiranmu, tidak semua orang di dunia ini yang merelakan dirinya untuk menampung keberadaanmu. Bagiku; engkau sangat mirip dengan sistem kediktatoran yang diterapkan pada zaman orde baru. Dimana setiap masyarakat yang tidak menghargai kepala negara dan melanggar peraturannya akan dijebloskan ke dalam penjara. Daripada menghabiskan waktu dengan mengumpat ceritaku lebih baik kumatikan saja laptop dan menyiapkan diri untuk berangkat ke kampus.

Tidak ada satupun topic perkuliahan yang mampu dicerna oleh pikiran, meskipun berusaha untuk berkonsentrasi dan menjauhkan pemikiran terhadap topic ceritaku. Jika pikiran telah berpasrah maka nurani pun tidak dapat berbuat banyak. keseharianku tidak lagi seperti sebelumnya