Rabu, 28 April 2010

ISTHARANI


Aku telah berumur 22 tahun ketika Istharani mencabik kain linen yang selama ini kugunakan untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari. Dia hadir pada musim yang begitu membingungkan karena ada gerah yang menyiksa dan ada rinai yang membasahi pelepah ilalang. Menyaksikan hantu dalam balutan musim kemarau dan hujan menimbulkan tanya dalam diri. Apakah dunia telah melupakan usianya dan bertingkah aneh? Jika kenyataan ini bukanlah suatu bualan dari burung hantu maka ada sesuatu yang salah dalam kehidupan.

Kehadiranya memberikan efek ganda dalam raga namun aku bersyukur karena efek tersebut tidak mengusik jiwa malaikatku yang sedang mengubah tangis menjadi tawa. Dengan kehadiran Istharani dimana pada setiap lekukan jubahnya tertambat kisah-kisahku dan dunia yang kubentuk dari keterjagaan serta siangku. Sebelum melangkah lebih jauh aku harus menjelaskan efek ganda yang menghampiri ragaku. Efek pertama yang muncul adalah kebingungan dan efek yang kedua adalah kekagetan. Kedua efek ini bertaut satu sama lain sehingga mampu membentuk kisah dalamku. Kebingungan yang muncul dikarenakan oleh Istharani yang menyertakan wajah-wajah yang pada lampau ku telah melukiskan sembab dan lembab. Kebingungan semakin membenamkan wajahnya kala aku melihat keduanya bergemeletak di sekitar garis tangannya, keduanya menikmati secangkir sari apel dan saling menatap namun tiada kata yang terucap. Lantas; aku harus bagaimana? Selagi berkutat dengan keadaan ini; kekagetan bergentayangan di sekitar hari-hari ku sembari memamerkan taring lapuknya. Kehadirannya bagaikan terik yang menelanjangkan pori-pori tubuh sehingga peluh menguasai seluruh tubuh. Kehadirannya juga menelurkan kehampaan pada anganku. Baginya; aku merupakan jiwa yang tertambat pada arca dewa kehancuran sehingga adaku merupakan virus bagi mahluk lain. Peluh masih menggerogoti tubuh dan menyebabkan penyiksaan sebab peluh ini bercampur dengan larutan yang digunakan untuk mematikan jiwaku. Virus tersebut membunuhku secara perlahan sehingga tidak meninggalkan bekas yang dapat dijadikan barang bukti. Dan kedua efek ini begitu setia dengan ragaku. Apakah aku telah meninggalkan jejak yang menyakitkan kalian sehingga kalian datang untuk menuntut penebusan dariku?

Aku menitipkan nyanyian yang terngiang di rahim ruang dan tercatat pada pelupuk waktu, aku menitipkannya untuk kalian yang sedang berprosesi pada malam dan siang. Nyanyian ini merupakan tranformasi dari diriku yang tak dapat berpartisipasi dalam prosesi tersebut. Aku terpaksa harus meninggalkan kalian sendirian. Ketakhadiranku bukanlah keengganan atau kemalasan untuk berkumpul bersama tetapi lebih pada kesakitan yang menyeringai di sekujur tubuh ini. Sakit ini muncul sebagai akibat dari kecerobohan dan kelalaian dalam menyeleksi rasa. Pikirku bahwa segala rasa merupakan suatu rahmat ternyata aku salah. Ada satu penyebab tunggal yang menimbulkan kesakitan padaku. Penyebab tersebut hadir dalam bentuk Istharani, dimana ia dengan leluasa menguasai keseluruhanku. Istharani begitu kuat sehingga kekuatan manusiaku tidak mampu untuk mengalahkannya. Ia memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia normal. Haruskah aku terkungkung dalam cengkramnya? Hendak menyelinap pada kegelapan malam namun tatapannya selalu terarah dan menguncangkan ragaku. Adakah kekuatan lain yang mampu membebaskan aku?

Aku kembali dari batas pagi yang penuh dengan bermacam-macam warna. Setelah mengucapkan selamat tinggal padanya maka kuberikan lantunan untuk siang yang begitu meresahkan karena keberadaanku. Jika pagi begitu bersusah payah untuk mengadakan rekonsiliasi maka siang begitu ego untuk melepaskan senyuman buatku. Mengapa siang bertingkah aneh padaku? Adakah hadirku menimbulkan kegundahan padanya? Apakah aku melahirkan tangis untuknya? Sepertinya sebuah bencana bersembunyi di balik kecerahan warna matahari, entah badai, entah tsunami,entah air bah atau yang lainnya. Apapun itu yang pasti bahwa ada bencana. Ketika mengetahui bahwa ada bencana yang sedang mengintai maka aku tersadar akan kelakuan siang padaku. Dan resah yang membingkai siang menyebabkan aku mengalami guncangan. Hal ini tidaklah nampak tapi rasa yang tersembul dalamnya sangat menyiksa. Aku pada sudut kehidupan kala mengetahui kenyataan ini sebab pikirku bahwa kehidupan telah meninggalkan aku sendirian. Hendak memohon pertolongan dari para sahabat namun mereka terlalu sibuk dengan kesehariannya.

Kutinggalkan sakit yang menyeringai ini dan berjalan sembari menyibak tenunan laba-laba dan menyisir garis pantai sembari mendengarkan suara yang bergemuruh dalamku. Suara itu yang menyebabkan aku mampu keluar dari pemikiran tentang hantu tersebut. Namun aku tidak tahu siapa pemilik dari suara yang bergemuruh dalamku sebab suara itu begitu lembut tetapi ada luka yang tersembul darinya. Apakah suara itu merupakan efek ganda dari kehadiran hantu tersebut? Terlalu berkutat dengan pemikiran tentang Istharani akan menghilangkan segala ingatan pada keseharian sehingga aku akan melupakan diriku yang sesungguhnya. Karena alasan ini aku tidak menghiraukan adanya dan berlagak layaknya orang yang sehat. Aku menempuh perjalanan dengan mengandalkan kekuatan kakiku sebab perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki akan membantu aku dalam proses penyembuhan dan menimbulkan kebosanan bagi Istharani.

Bagiku dengan berjalan kaki maka nyanyian alam mampu terngiang dalamku. Aku mengambil rute dari tempat dimana untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Istharani. Dari tempat itu aku kemudian menuju ke arah bukit batu yang di puncaknya terdapat sebilah pedang. Menurut cerita yang telah melegenda di masyarakat dan dipercaya sebagai kebenaran bahwa pedang tersebut merupakan bukti dari perjanjian antara para dewa dan manusia. Sesampainya para dewa mengadakan perjanjian dengan manusia dikarenakan oleh manusia merupakan wujud dari para dewa yang kelihatan namun manusia tidak memiliki kekuatan yang sepenuhnya seperti para dewa. Jika manusia menjumpai kesulitan dalam kehidupannya maka mereka hanya naik ke bukit ini dan menyentuh pedang tersebut maka para dewa akan datang dan menyelesaikan persoalan tersebut. Karena cerita itu maka pikirku bahwa dengan mendaki bukit dan menyentuh pedang tersebut maka Istharani akan meninggalkan aku. Namun aku salah sebab baginya kekuatan yang tersembunyi di balik pedang tersebut hanyalah fatamorgana. Lantas; Istharani tersenyum sinis kala menyaksikan kekesalanku kemudian dengan suara yang bergetar karena kemarahan berkata” tidak ada kekuatan dari duniamu yang mampu mengalahkan aku jika engkau masih memiliki nalar yang baik maka engkau harus menuruti segala yang akan kukatakan kepadamu”. Aku hanya terdiam dan menatap dengan pandangan kosong ke arah pedang tersebut. Ia kemudian berkata lagi” engkau; yang menamakan diri sebagai manusia dan memproklamirkan dirimu sebagai pemilik segala hari cabutlah pedang tersebut dan berperanglah denganku”. Mendengar ocehannya maka aku seperti seorang suami yang menyaksikan istri dan anaknya diperkosa dihadapannya. Istharani tertawa menyaksikan keadaanku. Dengan gerakan melingkar ia membelenggu aku dengan tali yang tak kasat mata dan memaksaku untuk mencium jemari kakinya. Kemanusiaanku ditelanjangi dan aku secara tidak langsung telah berubah menjadi hewan peliharaannya. Aku terpaksa mengikuti segala yang dikatakan. Jika aku mengabaikan perkataannya maka muncul penyiksaan. Ketika malam menudungiku dengan kain linen yang ditenun di antara gemerlap bintang maka aku merenungkan segala yang terjadi pada hari ini. Dalam bias malam aku berkata pada diri ”setiap suara yang bergemuruh dari dan dalammu janganlah kau lihat sebagai penjelmaan jiwa malaikatmu sebab suara dari jiwa malaikatmu tidak akan muncul pada saat engkau dalam gengaman kekacauan”.

Pernah sekali waktu aku juga berjalan di antara gundukan edelweis dan bakung. Dalam lindungannya terbersit segumpal cahaya yang menyerupai cahaya kunang-kunang namun cahaya tersebut semakin lama diperhatikan semakin bertambah besar dan akhirnya menerangi seluruh gundukan edelweis dan bakung. cahaya yang merona dan mendamaikan pelupuk mata ini merupakan penjelmaan dari masa depan yang terpaksa dihadirkan oleh alam untuk mengobati sakit yang sedang menyiksa. Apakah cahaya ini mampu mengobati sakitku? Bagaimana caranya ia mengobati sakitku? Ketika tanya memenuhi nalar maka aku mendengar kalimat yang menampar pendengaran melalui sepoi”engkau memintal awan dan merajut warna kemudian engkau membentuk jalinan di antara keduanya, dan engkau menamakannya sebagai jiwamu”. Selesai berkata demikian cahaya itu langsung menghilang. Aku berdiri dalam kebingungan. Tanpa sadar aku berujar “dan engkaupun hanya terlintas sebagai frasa pada kisahku sebab hanya kata yang terjaga disini”.

Istharani terus menggerogoti setiap bagian dari kisah yang terlahir pada keterjagaanku. Masih terekam jelas di ingatan ketika Istharani memanggilku dengan suara yang begitu menentramkan. Tentu, aku diliputi sejuta tanya. Apakah ia telah terjaga dari mimpi buruknya? Apakah ada sosok lain yang datang untuk menyadarkan kelakuannya? Dan masih begitu banyak pertanyaan lain yang muncul. Menyadari tentang perubahan Istharani aku tidak tergesa-gesa berpikir bahwa ia telah berubah. Jangan-jangan ini hanyalah tipu muslihatnya, pengalaman tentang suara telah cukup untuk menyadarkan aku untuk tidak secara tergesa-gesa mempercayai perubahan seseoarang apalagi ia adalah momok bagiku. Istharani memanggilku untuk keduanya kalinya dan suaranya masih semakin mengetarkan rasa. Akupun menjawab panggilannya dan bergerak ke arahnya. Ketika berdiri berhadapan ia membenamkan tatapannya secara mendalam sehingga menembus rasaku. Istharani memanggilku untuk ketiga kalinya. Panggilannya ini membuatku merasakan bahwa ia bukan lagi momok bagiku. akupun tak mampu menahan tangis sehingga air mata tertumpah dari pelupuk. Istharani mengeluarkan secarik kain dari saku jubahnya kemudian mengusap air mataku.

Kami berdua duduk dalam kebisuan bahkan desahan nafaspun tiada terdengar. Aku mulai berpikir untuk memulai percakapan dengannya. Ketika aku hendak berkata Istharani berjalan ke arahku dengan tangan terbuka. Ia memeluku sembari berkata ”engkau memintal awan dan merajut warna kemudian engkau membentuk jalinan di antara keduanya, dan engkau menamakannya sebagai jiwamu”. Istharani melepaskan pelukannya lalu menghilang dari hadapanku. Dalam kesendirian aku berujar “dan engkaupun terlintas sebagai ide pada kisahku sebab kata yang terjaga telah membisikan adamu”.

Jumat, 23 April 2010

TATANRI



X
Kakek dengan tatapan elang itu menatapku lekat-lekat seperti seorang ayah yang memelototi anaknya ketika ketahuan mencuri sepotong roti dari altar pemujaan. Aku mencoba untuk membalas tatapannya untuk menyembunyikan kegugupan. Semakin beradu pandang dengannya semakin pula batinku memberontak sebab tatapannya merontokan rasa tentang lavender yang selalu memenuhi ruang kerjaku.
"mengapa kakek menatapku sekian dalam?"
"hanya ingin mengetahui tentang keseharian yang telah engkau lalui"
"adakah aku telah memberikan kepada tulisan sebuah nila?"
"aku tidak memintamu untuk mengiklankan dirimu dan tulisanmu di hadapanku"
perkataan kakek tua yang semakin mendekati liang kubur ini mampu mengehentikan aliran darahku, pikirku bahwa kesadaran telah meninggalkan raga. Tentu saja ekspresi kaget membuncah di wajah yang menyebabkan kelopak terasa perih. Cara berdiriku dihadapannya seperti seorang pencuri yang ditangkap oleh tuan rumah ketika hendak mengambil setangkai mawar untuk kekasihnya. Kakek dengan tongkat rotan ini dapat dikategorikan ke dalam lingkaran penari senja. Seorang penari senja harus memiliki tatapan tajam agar mampu menerawang ke dalam lubuk matahari yang semakin lapuk oleh kedatangan burung hantu. Mereka juga dikhususkan untuk memberi warna kepada matahari agar pada pagi besok dapat menciptakan dentingan pada pucuk pinus.
Kakek bangkit dan berjalan menghampiriku, dari cara ia berjalan aku menyimpulkan bahwa ia telah mengabdikan hari kemarinnya untuk menjaga agar warna matahari tetap memberikan rasa aman kepada dunia. Aku membantunya untuk membenarkan letak sarungnya namun bantuanku dinilai sebagai suatu bentuk kemunafikan.
"engkau mengira aku telah begitu lemah untuk mebenarkan letak sarungku? jangan engkau menampakan kepalsuan di hadapanku."
"Dasar tua!"




Kamis, 22 April 2010

TATANRI

IX
Aku juga menyertakan buku harian jilid 1 ke dalam tasnya agar ia mampu membaca dan membakarnya kala udara malam terasa begitu menyiksa. untuk dapat sampai ke tempat tujuannya ia harus menempuh perjalanan yang akan menimbulkan kebosanan pada siang yang terik.
"Mungkinkah ia kembali saat tinta penaku akan kering?"
atau ia pergi untuk meninggalkan kepadaku sebuah kalimat yang tertera pada khayalan dan siangku yang berbunyi;"hanya nama dan lukisan wajahku yang akan kau kenang dan lihat pada pagi yang masih berkabut."
"tidak mungkin ia meninggalkan kepadaku kalimat di atas."
aku memang tidak mengantar kepergiannya dan iapun hanya meninggalkan tapak kaki berlumpur di lantai ini. Ketika ia melewatiku yang sedang tenggelam dalam tulisan hanya bunyi derap langkah yang tampak, tiada kata yang terucap darinya untuk menyatakan bahwa ia akan pergi. Aku baru sadar bahwa ia telah pergi ketika aku hendak meminjam beberapa lembar kertas padanya. menyadari akan ketelederoranku ini maka aku berlari untuk mengucapkan salam perpisahan dan pelukan. sedari tadi aku berlari namun bayanggan tubuhnya tidak tampak. Seorang kakek yang selalu duduk di depan rumahnya memanggilku dan bertanya tentang ekspresi dan peluh yang mengucur di sekujur tubuh.
"aku hendak menyusul sahabatku untuk mengucapkan salam perpisahan"
"oh.....anak muda yang memanggul tas dan mengenakan baju berwarna putih kusam itu!"
"iya kek"
"dia telah lewat di hadapanku sejam yang lalu"

Selasa, 20 April 2010

TATANRI

VIII
Mengapa aku begitu pusing dengan urusan surga dan sekitarnya padahal untuk urusan secangkir kopi pun aku begitu susah. Ketika sahabatku pergi untuk mengadakan petualangan menuju ke lembah yang tidak disebutkan namanya maka aku menyibukan diri dengan menulis buku harian. Ketidakpedulianku terhadap kepergiaannya bukan disebabkan oleh kebencian tetapi untuk membiarkan ia mengatur sendiri perlengkapannya sehingga mampu memberikan pelajaran tentang kemandirian. Sehari sebelum keberangkatan kami bersama-sama menikmati senja dari atas pohon mahoni yang tumbuh di kebun belakang rumahku. Kami tahu bahwa senja itu sangatlah dingin tetapi kami tetap naik ke atas pohon karena janji yang telah terjalin sebelum musim dingin tiba.
"Bagaimana acara perpisahan yang kita lakukan ketika salah seorang diantara kita akan pergi?"
"Kita akan duduk di atas pohon mahoni sambil menikmati senja".
"Hanya itu!"
"kita juga akan bercerita dan melukai salah satu ranting pohon untuk menuliskan nama kita".
"Aku tidak ingin melukai pohon"
"Sebelum kita melukainnya maka terlebih dahulu kita mengadakan ritual untuk memohon injin dari roh yang mendiami pohon tersebut".
""okelah kalau begitu".
Itulah pembicaraan yang kami lakukan sebelum ia pergi. Ketika menikmati senja kami menulis nama di salah satu ranting agar ia akan tumbuh dan dijaga oleh pohon tersebut. Nama yang tertera pada ranting itu akan diberi makan oleh pohon sehingga ia akan berkembang bersama dengan pohon tersebut.

TATANRI

VII
Mereka tertawa melihat tingkahku yang bermain bersama seorang anak kecil, menyadari akan suara tawa yang muncul di dekat kami maka anak itu menghentikan permainan kami dan berlari ke pelukan ibunya. Salah seorang pengunjung bertanya " sangat gembira dalam pemainannya".
"Aku merasakan kebahagiaan". Ia mengajakku untuk berkenalan dan menawarkan sebatang rokok. Kami terlibat dlam pembicaraan seputar identitas dan rutinitas harian yang membuatku berpikir bahwa ia merupakan tipe orang yang ingin mengetahui kehidupan pribadi seseorang. aku hanya memperkenalkan diri apa adanya tanpa harus menceritakan secara mendetail semua kehidupan pribadiku. Terlibat dalam pembicaraan dengannya sangat membosankan sehingga kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu tentu saja setelah aku membayar minuman. kau bertanya kepada ibu perihal nama dan umur dari anaknya" Nisa dan umurnya lima tahun".
" ibu yang mengajrkan kepadanya tentang permainan tadi?"
"iya".
"ajarkanlah terus kepadanya sebab dunia semakin letih untuk menyaksikan kehidupan dari anak-anaknya".
ibu itu hanya terdiam. Mungkin pada kesempatan lain aku akan menjelaskan kepada ibu mengenai perkataan ini. Ketika melangkahkan kaki dari warung itu matahari telah berada di penghujung aktivitasnya namun langkahku untuk menuju ke lembah itu tidak dapat dihentikan oleh kedatangan malam.
"Anak berumur lima tahun telah mampu mempraktekan sikap-sikap sembhayang dengan baik sedangkan aku hanya sebatas pada pengetahuan".
"Apakah pengetahuan yang baik dan benar merupakan syarat untuk masuk surga?"

Senin, 19 April 2010

TATANRI

VI
Memandang dunia dari mata seoarang anak kecil akan mengembalikan dunia ini ke tempat dan tujuannya yang semula.
"Yang benar saja kau" komentarku kepada diri sendiri.
Anak perempuan itu masih tenggelam dalam permainannya, ia sama sekali tidak memperhatikan aku yang begitu terpukau dengan kelakuaannya."Bahagianya menjadi seorang anak kecil, tidak pernah memiliki pemikiran yang picik tentang dunia. menghadapi keseharian dengan apa adanya". Aku juga memikirkan tentang keadaanku yang berhubungan dengan agama yang kuanut. bagiku; menjalani rutinitas keagamaan hanya sebatas pada kewajiban.
"aku bisa menjadi seorang pemeluk agama yang benar tanpa harus menjadi penganut agama yang baik".
Sambil menikmati kopi aku mengambil sebuah kardus untuk mengikuti perilaku anak tersebut
"Mengapa harus takut dan malu terhadap pandangan dan perkataan orang jika kelakuan ku mampu membawa pencerahan untuk kehidupanku".
Aku meminta agar ia memperbolehkan aku untuk bermain bersamanya, pikirku bahwa ia akan menghentikan permaianannya adan berlari ke pelukan sang ibu. Anak itu malahan mengambil kardus yang sedang kupegang kemudian meletakannya di samping kardusnya. Ia mulai mengulangi permainannya dan aku pun mengikutinya. Ibunya yang melihat kelakuaanku melepaskan cuciannya dan bertanya padaku "bukankah itu merupakan sesuatu hal yang lucu?"
"ini bukan suatu lelucon, apakah ibu rela melepaskan cucian dan bergabung bersama kami?"
Ia hanya tersenyum.
Kami terlarut dalam permainan itu sehingga kehadiran beberapa orang untuk memesan minuman tidak aku ketahui. Ternyata mereka telah melihat kami sejak sejam yang lalu.

Jumat, 16 April 2010

TATANRI

V
Aku beristirahat di warung yang menyediakan minuman, setelah meletakan menempatkan tas punggung di atas kursi- kebetulan di warung itu lagi sepi dari pengunjung- aku memesan segelas kopi agar kepenatan dapat sedikit teratasi. Pemilik warung yang merangkap sebagai pelayan sedang mencuci pakaian dan anak perempuannya menyibukan diri dengan sebuah kardus. Ketika aku menyodorkan sebungkus kopi yang kuambil tanpa izin maka iapun segera melepaskan cucian dan melangkah ke dalam ruangan untuk menyeduh kopi. Anak perempuannya begitu tenggelam dalam permainannya, ia membentangkan kardus itu di tanah kemudian duduk bersila dan mulai bersembahyang. Dari geraknya aku mengetahui bahwa orangtuanya memeluk agama muslim. Melihat tingkah laku anak itu batin katolikku terkaget sebab pada umumnya seorang pemeluk agama manapun akan berdoa di rumah ibadatnya. Dari anak ini pemikiran tentang cara berdoa yang baik mulai goyah. Menurut salah satu ayat dalam kitab suci agama yang kuanut mengatakan'
jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, kuncilah pintu, dan berdoalah kepada Bapa di surga sebab Ia akan mendengarkan doamu dari tempat yang tersembunyi pula. Maaf; jika aku salah dalam menulis ayatnya, maklumlah; karena aku bukan seorang pemeluk agama yang baik dimana selalu membuka kitab suci atau dalam perkataan seorang pendeta'jadikanlah kitab suci sebagai makanan harianmu.
Aku memperhatikannya dengan seksama sehingga suara ibu yang menyodorkan pesanan kopi tidak aku hiraukan. Ia seakan-akan tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya. Dasar anak kecil! gerutuku dalam hati.
Bertingkahlah seperti kecil sebab dunia sangat indah jika dipandang dari perspektif seorang anak kecil.

TATANRI

IV
Perjalanan menuju lembah sangat menyulitkan, menurut cerita orang-orang yang pernah menempatkan kepalanya pada rumput lembah itu bahwa jalan yang ditapaki akan mengecutkan rasa. Mereka menyarankan agar menyertakan seorang pemandu untuk memudahkan perjalanan. Bagiku, berbagi tempat dengan seorang pemandu sangat merepotkan dan mengurangi makna perjalanan. Untuk menciptakan lukisan yang indah membutuhkan percampuran warna, seorang pelukis tidak akan menggunakan satu warna dalam melukis. Begitulah orang-orang memberikan tanggapan ketika mendengar bahwa aku akan pergi ke lembah itu tanpa ditemani oleh seorang pemandu atau sahabat. Dapatkah seorang buta berjalan di tengah kegelapan malam? Jika dianalisis secara akal sehat maka sangat tidak mungkin seorang buta mampu berjalan sendirian di tengah kegelapan malam. Aku mempunyai keyakinan bahwa seorang buta mampu berjalan di tengah kegelapan malam sebab ia telah melakukan penelitian dengan bertanya kepada sesamanya yang tidak buta tentang seluk beluk jalan yang akan ia tempuh.
Seorang pelukis buta mampu melukis keindahan bahkan melebihi seorang pelukis yang memiliki penglihatan normal. Dengan keyakinan ini aku membulatkan tekad untuk menempuh perjalanan dalam kesendirian, darinya suara yang tak mampu dicerna oleh bahasa akan menghampiriku tapi tidak membunuhku. Dengan kesendirian aku mampu mendengarkan nyanyian alam yang hadir dalam burung-burung, gemerisik air, dan angin dengan sempurna. Terkadang kita butuh waktu untuk memanggil kesendirian agar ia berbicara tentang ke-diri-an kita.

TATANRI

III
Sejak awal kelahiran hingga matahari merasuki tulang-tulang belakang aku tidak pernah merasakan roti kering dan lemak daging yang diasapkan juga aku tidak mengijinkan rasa air hujan masuk ke dalam tubuhku. Sehingga perlakuannya yang menempatkan aku sebagai hamba layak untuk diselidiki. Sekarang bukan zaman keraton atau kerajaan yang dapat memungkinkan engkau untuk menempatkan aku sebagai hamba sahaya. Apakah aku layak disebut sebagai sahabat atau dia pantas dijadikan sahabat? Mengambil waktu sejenak untuk memikirkan pakaian yang sedang kukenakan ini agar orang-orang yang melihat penampilanku tidak memberikan senyuman palsu. Aku mengawali petualangan pikiran dengan menyiapkan segala perlengkapan mulai dari kebutuhan raga sampai pada kebutuhan rohani. Aku tidak akan melupakan salah perlengkapan tersebut meskipun kelihatannya sangat kecil. Sadar bahwa aku membutuhkan tempat yang besar untuk mengisi segala perlengkapan tersebut dan akan sangat berat untuk membawanya. Biarlah tubuh menanggung semua bbeban ini asalkan petualangan ini dapat mencapai tujuannya. Setelah memenuhi segala perlengkapan yang akan diperlukan dalam mengadakan petulangan maka aku memohon izin kepada sahabatku. Ketika izinku sampai ke telingannya maka ia berkata jika engkau berpetualangan; sertakan pula buku harianku agar engkau dapat membakarnya ketika malam mempertontonkan adegan kelembaban. Bakarlah buku harianku sampai kelembaban meninggalkan engkau. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengannya dan berjanji akan kembali jika udara mengusirku. Pada pertengahan musim gugur aku pergi dari keramaian hari menuju ke lembah dengan membawa semua perlengkapan dalam tas punggung. Keberangkatanku tidak diiringi oleh lambaian tangan dari sahabatku, ia menyibukan diri dengan menuliskan setiap peristiwa yang mampu ditangkap oleh mata dan mampu dicerna oleh nalar.

Selasa, 13 April 2010

TATANRI

II
Malam semakin pekat dan ragapun semakin kacau, kalimatnya menambah kelam sehingga kekacauan tidak mampu dikendalikan. Disini kehadiran sosok lain sangat dibutuhkan, entah manusia atau hantu. Mencoba untuk menghangatkan suasana dan ruangan dengan menjaga agar nyala api di tungku tetap menyala. Di tengah kegundahan terdengar suara dalam bias angin; Jika engkau hendak menambah kayu untuk menjaga titik-titik api agar tetap bernyala maka sertakan pula dengan secarik kertas yang kau sobek dari buku harianku agar kisahku mampu memberikan kehangatan sekaligus dapat melepaskan diri dari permainan kalimat. Ketika engkau menyertakan secarik kertas dari buku harianku berarti engkau membantuku untuk membebaskan sebagian dari masa lampau yang mengikatku. Sebelum merobek buku harian engkau katakanlah pada dirimu 'secara perlahan-lahan aku telah membunuh salah seorang sahabat terbaiku'. Janganlah bersedih atas kalimat yang terucap dari bibirmu sebab semakin dalam kesedihan merapatkan pelukannya maka tunas yang mulai berkecambah ini tidak mampu menyentuh matahari dan mengusap wajah purnama. Aku akan menunggu sampai engkau membuang halaman terahkir dari buku harianku ke dalam nyala api. Sekalipun akan menumbuhkan berbagai benih dalam kesehariaku. Aku sadar bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membakar semua kertas itu akan sangat lama bahkan lebih lama dari umur kita. Tapi aku tetap menanti engkau. Sahabat yang menitipkan buku harianya untuk dibakar bersama potongan kayu ini telah aku kenal sejak purnama menyilaukan penglihatan, ia begitu meresap dalam ingatan dan rasa dan mampu mencuri rasa hormatku. Aku seperti kuda beban,dikendalikan oleh dia sebagai tuannya. Padahal kelahiran menempatkan aku sebagai manusia merdeka

Jumat, 09 April 2010

TATANRI

I
Angin musim hujan mampu meluluhlantakan sistem pertahanan raga yang hanya dibaluti pakaian tipis dengan sobekan dimana-mana. Keadaan raga begitu terpuruk sehingga gemerisik api di tungku menambah derita raga ini. Angin musim hujan masih berkeliaran tanpa tujuan yang pasti dan membawa semua benda yang dijumpai. Dalam balutan yang dihadiakan ayah untuk mengenang hari kehadiranku yang ke 15, kenangan hari itu begitu mengendap dalam ingatan sehingga mampu berubah wujud dari bayangan yang hanya tertangkap oleh penglihatan menjadi daya yang menggerakan realitasku. Pada mulanya aku melihatnya sebagai dekorasi sehingga senyum dan rasa bangga merupakan aktor utama untuk memerankan lakon dari drama yang disusun oleh pikiran. Keduanya tidak membutuhkan pemeran pendukung sebab mereka dapat berperan sendiri dan lakon itupun hanya dikhususkan untuk berdua. Keadaan ini mirip dengan lakon monolog di musim kemarau, dimana sang sutradara ingin mengutamakan kesan padang gurun dan bukit batu. Apakah lakon monolog selalu menciptakan kesan padang gurun dan bukit batu? Mungkin aku mulai berantakan. Sebaiknya aku memusatkan perhatianku pada raga karena ia sangat membutuhkan aku untuk melewatkan malam bersamanya.
Keadaan ragaku memang agak meresahkan dengan tulang-tulang yang lemah, ditambah lagi dengan rasa sakit yang menjalar di sekitar dadaku. Pada kondisi seperti ini aku harus menuruti semua keinginan dari raga agar persahabatan yang telah membantuku untuk mengecap rasa makanan tidak akan pergi. Bersamanya untuk melewatkan malam dengan kedinginan musim hujan memang sangat membosankan tetapi aku harus tetap kuat untuk melewatinya. Pada pertengahan malam raga mulai berkata dengan suara lirih, ia mengucapkan kalimat yang hampir tidak dapat dicerna oleh nalar. Adakah sosok lain yang menyusup pada kegelapan malam agar aku mampu berbicara dengannya?