Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

ISTHARANI

Aku telah berumur 22 tahun ketika Istharani mencabik kain linen yang selama ini kugunakan untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari. Dia hadir pada musim yang begitu membingungkan karena ada gerah yang menyiksa dan ada rinai yang membasahi pelepah ilalang. Menyaksikan hantu dalam balutan musim kemarau dan hujan menimbulkan tanya dalam diri. Apakah dunia telah melupakan usianya dan bertingkah aneh? Jika kenyataan ini bukanlah suatu bualan dari burung hantu maka ada sesuatu yang salah dalam kehidupan. Kehadiranya memberikan efek ganda dalam raga namun aku bersyukur karena efek tersebut tidak mengusik jiwa malaikatku yang sedang mengubah tangis menjadi tawa. Dengan kehadiran Istharani dimana pada setiap lekukan jubahnya tertambat kisah-kisahku dan dunia yang kubentuk dari keterjagaan serta siangku. Sebelum melangkah lebih jauh aku harus menjelaskan efek ganda yang menghampiri ragaku. Efek pertama yang muncul adalah kebingungan dan efek yang kedua adalah kekagetan. Kedua e

TATANRI

Gambar
X Kakek dengan tatapan elang itu menatapku lekat-lekat seperti seorang ayah yang memelototi anaknya ketika ketahuan mencuri sepotong roti dari altar pemujaan. Aku mencoba untuk membalas tatapannya untuk menyembunyikan kegugupan. Semakin beradu pandang dengannya semakin pula batinku memberontak sebab tatapannya merontokan rasa tentang lavender yang selalu memenuhi ruang kerjaku. "mengapa kakek menatapku sekian dalam?" "hanya ingin mengetahui tentang keseharian yang telah engkau lalui" "adakah aku telah memberikan kepada tulisan sebuah nila?" "aku tidak memintamu untuk mengiklankan dirimu dan tulisanmu di hadapanku" perkataan kakek tua yang semakin mendekati liang kubur ini mampu mengehentikan aliran darahku, pikirku bahwa kesadaran telah meninggalkan raga. Tentu saja ekspresi kaget membuncah di wajah yang menyebabkan kelopak terasa perih. Cara berdiriku dihadapannya seperti seorang pencuri yang ditangkap oleh tuan rumah ketika hendak mengambil set

TATANRI

IX Aku juga menyertakan buku harian jilid 1 ke dalam tasnya agar ia mampu membaca dan membakarnya kala udara malam terasa begitu menyiksa. untuk dapat sampai ke tempat tujuannya ia harus menempuh perjalanan yang akan menimbulkan kebosanan pada siang yang terik. "Mungkinkah ia kembali saat tinta penaku akan kering?" atau ia pergi untuk meninggalkan kepadaku sebuah kalimat yang tertera pada khayalan dan siangku yang berbunyi;"hanya nama dan lukisan wajahku yang akan kau kenang dan lihat pada pagi yang masih berkabut." "tidak mungkin ia meninggalkan kepadaku kalimat di atas." aku memang tidak mengantar kepergiannya dan iapun hanya meninggalkan tapak kaki berlumpur di lantai ini. Ketika ia melewatiku yang sedang tenggelam dalam tulisan hanya bunyi derap langkah yang tampak, tiada kata yang terucap darinya untuk menyatakan bahwa ia akan pergi. Aku baru sadar bahwa ia telah pergi ketika aku hendak meminjam beberapa lembar kertas padanya. menyadari akan keteled

TATANRI

VIII Mengapa aku begitu pusing dengan urusan surga dan sekitarnya padahal untuk urusan secangkir kopi pun aku begitu susah. Ketika sahabatku pergi untuk mengadakan petualangan menuju ke lembah yang tidak disebutkan namanya maka aku menyibukan diri dengan menulis buku harian. Ketidakpedulianku terhadap kepergiaannya bukan disebabkan oleh kebencian tetapi untuk membiarkan ia mengatur sendiri perlengkapannya sehingga mampu memberikan pelajaran tentang kemandirian. Sehari sebelum keberangkatan kami bersama-sama menikmati senja dari atas pohon mahoni yang tumbuh di kebun belakang rumahku. Kami tahu bahwa senja itu sangatlah dingin tetapi kami tetap naik ke atas pohon karena janji yang telah terjalin sebelum musim dingin tiba. "Bagaimana acara perpisahan yang kita lakukan ketika salah seorang diantara kita akan pergi?" "Kita akan duduk di atas pohon mahoni sambil menikmati senja". "Hanya itu!" "kita juga akan bercerita dan melukai salah satu ranting pohon u

TATANRI

VII Mereka tertawa melihat tingkahku yang bermain bersama seorang anak kecil, menyadari akan suara tawa yang muncul di dekat kami maka anak itu menghentikan permainan kami dan berlari ke pelukan ibunya. Salah seorang pengunjung bertanya " sangat gembira dalam pemainannya". "Aku merasakan kebahagiaan". Ia mengajakku untuk berkenalan dan menawarkan sebatang rokok. Kami terlibat dlam pembicaraan seputar identitas dan rutinitas harian yang membuatku berpikir bahwa ia merupakan tipe orang yang ingin mengetahui kehidupan pribadi seseorang. aku hanya memperkenalkan diri apa adanya tanpa harus menceritakan secara mendetail semua kehidupan pribadiku. Terlibat dalam pembicaraan dengannya sangat membosankan sehingga kuputuskan untuk meninggalkan tempat itu tentu saja setelah aku membayar minuman. kau bertanya kepada ibu perihal nama dan umur dari anaknya" Nisa dan umurnya lima tahun". " ibu yang mengajrkan kepadanya tentang permainan tadi?" "iya".

TATANRI

VI Memandang dunia dari mata seoarang anak kecil akan mengembalikan dunia ini ke tempat dan tujuannya yang semula. "Yang benar saja kau" komentarku kepada diri sendiri. Anak perempuan itu masih tenggelam dalam permainannya, ia sama sekali tidak memperhatikan aku yang begitu terpukau dengan kelakuaannya."Bahagianya menjadi seorang anak kecil, tidak pernah memiliki pemikiran yang picik tentang dunia. menghadapi keseharian dengan apa adanya". Aku juga memikirkan tentang keadaanku yang berhubungan dengan agama yang kuanut. bagiku; menjalani rutinitas keagamaan hanya sebatas pada kewajiban. "aku bisa menjadi seorang pemeluk agama yang benar tanpa harus menjadi penganut agama yang baik". Sambil menikmati kopi aku mengambil sebuah kardus untuk mengikuti perilaku anak tersebut "Mengapa harus takut dan malu terhadap pandangan dan perkataan orang jika kelakuan ku mampu membawa pencerahan untuk kehidupanku". Aku meminta agar ia memperbolehkan aku untuk berm

TATANRI

V Aku beristirahat di warung yang menyediakan minuman, setelah meletakan menempatkan tas punggung di atas kursi- kebetulan di warung itu lagi sepi dari pengunjung- aku memesan segelas kopi agar kepenatan dapat sedikit teratasi. Pemilik warung yang merangkap sebagai pelayan sedang mencuci pakaian dan anak perempuannya menyibukan diri dengan sebuah kardus. Ketika aku menyodorkan sebungkus kopi yang kuambil tanpa izin maka iapun segera melepaskan cucian dan melangkah ke dalam ruangan untuk menyeduh kopi. Anak perempuannya begitu tenggelam dalam permainannya, ia membentangkan kardus itu di tanah kemudian duduk bersila dan mulai bersembahyang. Dari geraknya aku mengetahui bahwa orangtuanya memeluk agama muslim. Melihat tingkah laku anak itu batin katolikku terkaget sebab pada umumnya seorang pemeluk agama manapun akan berdoa di rumah ibadatnya. Dari anak ini pemikiran tentang cara berdoa yang baik mulai goyah. Menurut salah satu ayat dalam kitab suci agama yang kuanut mengatakan' jika

TATANRI

IV Perjalanan menuju lembah sangat menyulitkan, menurut cerita orang-orang yang pernah menempatkan kepalanya pada rumput lembah itu bahwa jalan yang ditapaki akan mengecutkan rasa. Mereka menyarankan agar menyertakan seorang pemandu untuk memudahkan perjalanan. Bagiku, berbagi tempat dengan seorang pemandu sangat merepotkan dan mengurangi makna perjalanan. Untuk menciptakan lukisan yang indah membutuhkan percampuran warna, seorang pelukis tidak akan menggunakan satu warna dalam melukis. Begitulah orang-orang memberikan tanggapan ketika mendengar bahwa aku akan pergi ke lembah itu tanpa ditemani oleh seorang pemandu atau sahabat. Dapatkah seorang buta berjalan di tengah kegelapan malam? Jika dianalisis secara akal sehat maka sangat tidak mungkin seorang buta mampu berjalan sendirian di tengah kegelapan malam. Aku mempunyai keyakinan bahwa seorang buta mampu berjalan di tengah kegelapan malam sebab ia telah melakukan penelitian dengan bertanya kepada sesamanya yang tidak buta tentang sel

TATANRI

III Sejak awal kelahiran hingga matahari merasuki tulang-tulang belakang aku tidak pernah merasakan roti kering dan lemak daging yang diasapkan juga aku tidak mengijinkan rasa air hujan masuk ke dalam tubuhku. Sehingga perlakuannya yang menempatkan aku sebagai hamba layak untuk diselidiki. Sekarang bukan zaman keraton atau kerajaan yang dapat memungkinkan engkau untuk menempatkan aku sebagai hamba sahaya. Apakah aku layak disebut sebagai sahabat atau dia pantas dijadikan sahabat? Mengambil waktu sejenak untuk memikirkan pakaian yang sedang kukenakan ini agar orang-orang yang melihat penampilanku tidak memberikan senyuman palsu. Aku mengawali petualangan pikiran dengan menyiapkan segala perlengkapan mulai dari kebutuhan raga sampai pada kebutuhan rohani. Aku tidak akan melupakan salah perlengkapan tersebut meskipun kelihatannya sangat kecil. Sadar bahwa aku membutuhkan tempat yang besar untuk mengisi segala perlengkapan tersebut dan akan sangat berat untuk membawanya. Biarlah tubuh men

TATANRI

II Malam semakin pekat dan ragapun semakin kacau, kalimatnya menambah kelam sehingga kekacauan tidak mampu dikendalikan. Disini kehadiran sosok lain sangat dibutuhkan, entah manusia atau hantu. Mencoba untuk menghangatkan suasana dan ruangan dengan menjaga agar nyala api di tungku tetap menyala. Di tengah kegundahan terdengar suara dalam bias angin; Jika engkau hendak menambah kayu untuk menjaga titik-titik api agar tetap bernyala maka sertakan pula dengan secarik kertas yang kau sobek dari buku harianku agar kisahku mampu memberikan kehangatan sekaligus dapat melepaskan diri dari permainan kalimat. Ketika engkau menyertakan secarik kertas dari buku harianku berarti engkau membantuku untuk membebaskan sebagian dari masa lampau yang mengikatku. Sebelum merobek buku harian engkau katakanlah pada dirimu 'secara perlahan-lahan aku telah membunuh salah seorang sahabat terbaiku'. Janganlah bersedih atas kalimat yang terucap dari bibirmu sebab semakin dalam kesedihan merapatkan peluk

TATANRI

I Angin musim hujan mampu meluluhlantakan sistem pertahanan raga yang hanya dibaluti pakaian tipis dengan sobekan dimana-mana. Keadaan raga begitu terpuruk sehingga gemerisik api di tungku menambah derita raga ini. Angin musim hujan masih berkeliaran tanpa tujuan yang pasti dan membawa semua benda yang dijumpai. Dalam balutan yang dihadiakan ayah untuk mengenang hari kehadiranku yang ke 15, kenangan hari itu begitu mengendap dalam ingatan sehingga mampu berubah wujud dari bayangan yang hanya tertangkap oleh penglihatan menjadi daya yang menggerakan realitasku. Pada mulanya aku melihatnya sebagai dekorasi sehingga senyum dan rasa bangga merupakan aktor utama untuk memerankan lakon dari drama yang disusun oleh pikiran. Keduanya tidak membutuhkan pemeran pendukung sebab mereka dapat berperan sendiri dan lakon itupun hanya dikhususkan untuk berdua. Keadaan ini mirip dengan lakon monolog di musim kemarau, dimana sang sutradara ingin mengutamakan kesan padang gurun dan bukit batu. Apakah la