Jumat, 16 April 2010

TATANRI

IV
Perjalanan menuju lembah sangat menyulitkan, menurut cerita orang-orang yang pernah menempatkan kepalanya pada rumput lembah itu bahwa jalan yang ditapaki akan mengecutkan rasa. Mereka menyarankan agar menyertakan seorang pemandu untuk memudahkan perjalanan. Bagiku, berbagi tempat dengan seorang pemandu sangat merepotkan dan mengurangi makna perjalanan. Untuk menciptakan lukisan yang indah membutuhkan percampuran warna, seorang pelukis tidak akan menggunakan satu warna dalam melukis. Begitulah orang-orang memberikan tanggapan ketika mendengar bahwa aku akan pergi ke lembah itu tanpa ditemani oleh seorang pemandu atau sahabat. Dapatkah seorang buta berjalan di tengah kegelapan malam? Jika dianalisis secara akal sehat maka sangat tidak mungkin seorang buta mampu berjalan sendirian di tengah kegelapan malam. Aku mempunyai keyakinan bahwa seorang buta mampu berjalan di tengah kegelapan malam sebab ia telah melakukan penelitian dengan bertanya kepada sesamanya yang tidak buta tentang seluk beluk jalan yang akan ia tempuh.
Seorang pelukis buta mampu melukis keindahan bahkan melebihi seorang pelukis yang memiliki penglihatan normal. Dengan keyakinan ini aku membulatkan tekad untuk menempuh perjalanan dalam kesendirian, darinya suara yang tak mampu dicerna oleh bahasa akan menghampiriku tapi tidak membunuhku. Dengan kesendirian aku mampu mendengarkan nyanyian alam yang hadir dalam burung-burung, gemerisik air, dan angin dengan sempurna. Terkadang kita butuh waktu untuk memanggil kesendirian agar ia berbicara tentang ke-diri-an kita.

Tidak ada komentar: