Rabu, 28 April 2010

ISTHARANI


Aku telah berumur 22 tahun ketika Istharani mencabik kain linen yang selama ini kugunakan untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari. Dia hadir pada musim yang begitu membingungkan karena ada gerah yang menyiksa dan ada rinai yang membasahi pelepah ilalang. Menyaksikan hantu dalam balutan musim kemarau dan hujan menimbulkan tanya dalam diri. Apakah dunia telah melupakan usianya dan bertingkah aneh? Jika kenyataan ini bukanlah suatu bualan dari burung hantu maka ada sesuatu yang salah dalam kehidupan.

Kehadiranya memberikan efek ganda dalam raga namun aku bersyukur karena efek tersebut tidak mengusik jiwa malaikatku yang sedang mengubah tangis menjadi tawa. Dengan kehadiran Istharani dimana pada setiap lekukan jubahnya tertambat kisah-kisahku dan dunia yang kubentuk dari keterjagaan serta siangku. Sebelum melangkah lebih jauh aku harus menjelaskan efek ganda yang menghampiri ragaku. Efek pertama yang muncul adalah kebingungan dan efek yang kedua adalah kekagetan. Kedua efek ini bertaut satu sama lain sehingga mampu membentuk kisah dalamku. Kebingungan yang muncul dikarenakan oleh Istharani yang menyertakan wajah-wajah yang pada lampau ku telah melukiskan sembab dan lembab. Kebingungan semakin membenamkan wajahnya kala aku melihat keduanya bergemeletak di sekitar garis tangannya, keduanya menikmati secangkir sari apel dan saling menatap namun tiada kata yang terucap. Lantas; aku harus bagaimana? Selagi berkutat dengan keadaan ini; kekagetan bergentayangan di sekitar hari-hari ku sembari memamerkan taring lapuknya. Kehadirannya bagaikan terik yang menelanjangkan pori-pori tubuh sehingga peluh menguasai seluruh tubuh. Kehadirannya juga menelurkan kehampaan pada anganku. Baginya; aku merupakan jiwa yang tertambat pada arca dewa kehancuran sehingga adaku merupakan virus bagi mahluk lain. Peluh masih menggerogoti tubuh dan menyebabkan penyiksaan sebab peluh ini bercampur dengan larutan yang digunakan untuk mematikan jiwaku. Virus tersebut membunuhku secara perlahan sehingga tidak meninggalkan bekas yang dapat dijadikan barang bukti. Dan kedua efek ini begitu setia dengan ragaku. Apakah aku telah meninggalkan jejak yang menyakitkan kalian sehingga kalian datang untuk menuntut penebusan dariku?

Aku menitipkan nyanyian yang terngiang di rahim ruang dan tercatat pada pelupuk waktu, aku menitipkannya untuk kalian yang sedang berprosesi pada malam dan siang. Nyanyian ini merupakan tranformasi dari diriku yang tak dapat berpartisipasi dalam prosesi tersebut. Aku terpaksa harus meninggalkan kalian sendirian. Ketakhadiranku bukanlah keengganan atau kemalasan untuk berkumpul bersama tetapi lebih pada kesakitan yang menyeringai di sekujur tubuh ini. Sakit ini muncul sebagai akibat dari kecerobohan dan kelalaian dalam menyeleksi rasa. Pikirku bahwa segala rasa merupakan suatu rahmat ternyata aku salah. Ada satu penyebab tunggal yang menimbulkan kesakitan padaku. Penyebab tersebut hadir dalam bentuk Istharani, dimana ia dengan leluasa menguasai keseluruhanku. Istharani begitu kuat sehingga kekuatan manusiaku tidak mampu untuk mengalahkannya. Ia memiliki kekuatan dan kecepatan melebihi manusia normal. Haruskah aku terkungkung dalam cengkramnya? Hendak menyelinap pada kegelapan malam namun tatapannya selalu terarah dan menguncangkan ragaku. Adakah kekuatan lain yang mampu membebaskan aku?

Aku kembali dari batas pagi yang penuh dengan bermacam-macam warna. Setelah mengucapkan selamat tinggal padanya maka kuberikan lantunan untuk siang yang begitu meresahkan karena keberadaanku. Jika pagi begitu bersusah payah untuk mengadakan rekonsiliasi maka siang begitu ego untuk melepaskan senyuman buatku. Mengapa siang bertingkah aneh padaku? Adakah hadirku menimbulkan kegundahan padanya? Apakah aku melahirkan tangis untuknya? Sepertinya sebuah bencana bersembunyi di balik kecerahan warna matahari, entah badai, entah tsunami,entah air bah atau yang lainnya. Apapun itu yang pasti bahwa ada bencana. Ketika mengetahui bahwa ada bencana yang sedang mengintai maka aku tersadar akan kelakuan siang padaku. Dan resah yang membingkai siang menyebabkan aku mengalami guncangan. Hal ini tidaklah nampak tapi rasa yang tersembul dalamnya sangat menyiksa. Aku pada sudut kehidupan kala mengetahui kenyataan ini sebab pikirku bahwa kehidupan telah meninggalkan aku sendirian. Hendak memohon pertolongan dari para sahabat namun mereka terlalu sibuk dengan kesehariannya.

Kutinggalkan sakit yang menyeringai ini dan berjalan sembari menyibak tenunan laba-laba dan menyisir garis pantai sembari mendengarkan suara yang bergemuruh dalamku. Suara itu yang menyebabkan aku mampu keluar dari pemikiran tentang hantu tersebut. Namun aku tidak tahu siapa pemilik dari suara yang bergemuruh dalamku sebab suara itu begitu lembut tetapi ada luka yang tersembul darinya. Apakah suara itu merupakan efek ganda dari kehadiran hantu tersebut? Terlalu berkutat dengan pemikiran tentang Istharani akan menghilangkan segala ingatan pada keseharian sehingga aku akan melupakan diriku yang sesungguhnya. Karena alasan ini aku tidak menghiraukan adanya dan berlagak layaknya orang yang sehat. Aku menempuh perjalanan dengan mengandalkan kekuatan kakiku sebab perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki akan membantu aku dalam proses penyembuhan dan menimbulkan kebosanan bagi Istharani.

Bagiku dengan berjalan kaki maka nyanyian alam mampu terngiang dalamku. Aku mengambil rute dari tempat dimana untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Istharani. Dari tempat itu aku kemudian menuju ke arah bukit batu yang di puncaknya terdapat sebilah pedang. Menurut cerita yang telah melegenda di masyarakat dan dipercaya sebagai kebenaran bahwa pedang tersebut merupakan bukti dari perjanjian antara para dewa dan manusia. Sesampainya para dewa mengadakan perjanjian dengan manusia dikarenakan oleh manusia merupakan wujud dari para dewa yang kelihatan namun manusia tidak memiliki kekuatan yang sepenuhnya seperti para dewa. Jika manusia menjumpai kesulitan dalam kehidupannya maka mereka hanya naik ke bukit ini dan menyentuh pedang tersebut maka para dewa akan datang dan menyelesaikan persoalan tersebut. Karena cerita itu maka pikirku bahwa dengan mendaki bukit dan menyentuh pedang tersebut maka Istharani akan meninggalkan aku. Namun aku salah sebab baginya kekuatan yang tersembunyi di balik pedang tersebut hanyalah fatamorgana. Lantas; Istharani tersenyum sinis kala menyaksikan kekesalanku kemudian dengan suara yang bergetar karena kemarahan berkata” tidak ada kekuatan dari duniamu yang mampu mengalahkan aku jika engkau masih memiliki nalar yang baik maka engkau harus menuruti segala yang akan kukatakan kepadamu”. Aku hanya terdiam dan menatap dengan pandangan kosong ke arah pedang tersebut. Ia kemudian berkata lagi” engkau; yang menamakan diri sebagai manusia dan memproklamirkan dirimu sebagai pemilik segala hari cabutlah pedang tersebut dan berperanglah denganku”. Mendengar ocehannya maka aku seperti seorang suami yang menyaksikan istri dan anaknya diperkosa dihadapannya. Istharani tertawa menyaksikan keadaanku. Dengan gerakan melingkar ia membelenggu aku dengan tali yang tak kasat mata dan memaksaku untuk mencium jemari kakinya. Kemanusiaanku ditelanjangi dan aku secara tidak langsung telah berubah menjadi hewan peliharaannya. Aku terpaksa mengikuti segala yang dikatakan. Jika aku mengabaikan perkataannya maka muncul penyiksaan. Ketika malam menudungiku dengan kain linen yang ditenun di antara gemerlap bintang maka aku merenungkan segala yang terjadi pada hari ini. Dalam bias malam aku berkata pada diri ”setiap suara yang bergemuruh dari dan dalammu janganlah kau lihat sebagai penjelmaan jiwa malaikatmu sebab suara dari jiwa malaikatmu tidak akan muncul pada saat engkau dalam gengaman kekacauan”.

Pernah sekali waktu aku juga berjalan di antara gundukan edelweis dan bakung. Dalam lindungannya terbersit segumpal cahaya yang menyerupai cahaya kunang-kunang namun cahaya tersebut semakin lama diperhatikan semakin bertambah besar dan akhirnya menerangi seluruh gundukan edelweis dan bakung. cahaya yang merona dan mendamaikan pelupuk mata ini merupakan penjelmaan dari masa depan yang terpaksa dihadirkan oleh alam untuk mengobati sakit yang sedang menyiksa. Apakah cahaya ini mampu mengobati sakitku? Bagaimana caranya ia mengobati sakitku? Ketika tanya memenuhi nalar maka aku mendengar kalimat yang menampar pendengaran melalui sepoi”engkau memintal awan dan merajut warna kemudian engkau membentuk jalinan di antara keduanya, dan engkau menamakannya sebagai jiwamu”. Selesai berkata demikian cahaya itu langsung menghilang. Aku berdiri dalam kebingungan. Tanpa sadar aku berujar “dan engkaupun hanya terlintas sebagai frasa pada kisahku sebab hanya kata yang terjaga disini”.

Istharani terus menggerogoti setiap bagian dari kisah yang terlahir pada keterjagaanku. Masih terekam jelas di ingatan ketika Istharani memanggilku dengan suara yang begitu menentramkan. Tentu, aku diliputi sejuta tanya. Apakah ia telah terjaga dari mimpi buruknya? Apakah ada sosok lain yang datang untuk menyadarkan kelakuannya? Dan masih begitu banyak pertanyaan lain yang muncul. Menyadari tentang perubahan Istharani aku tidak tergesa-gesa berpikir bahwa ia telah berubah. Jangan-jangan ini hanyalah tipu muslihatnya, pengalaman tentang suara telah cukup untuk menyadarkan aku untuk tidak secara tergesa-gesa mempercayai perubahan seseoarang apalagi ia adalah momok bagiku. Istharani memanggilku untuk keduanya kalinya dan suaranya masih semakin mengetarkan rasa. Akupun menjawab panggilannya dan bergerak ke arahnya. Ketika berdiri berhadapan ia membenamkan tatapannya secara mendalam sehingga menembus rasaku. Istharani memanggilku untuk ketiga kalinya. Panggilannya ini membuatku merasakan bahwa ia bukan lagi momok bagiku. akupun tak mampu menahan tangis sehingga air mata tertumpah dari pelupuk. Istharani mengeluarkan secarik kain dari saku jubahnya kemudian mengusap air mataku.

Kami berdua duduk dalam kebisuan bahkan desahan nafaspun tiada terdengar. Aku mulai berpikir untuk memulai percakapan dengannya. Ketika aku hendak berkata Istharani berjalan ke arahku dengan tangan terbuka. Ia memeluku sembari berkata ”engkau memintal awan dan merajut warna kemudian engkau membentuk jalinan di antara keduanya, dan engkau menamakannya sebagai jiwamu”. Istharani melepaskan pelukannya lalu menghilang dari hadapanku. Dalam kesendirian aku berujar “dan engkaupun terlintas sebagai ide pada kisahku sebab kata yang terjaga telah membisikan adamu”.

Tidak ada komentar: