Jumat, 23 April 2010

TATANRI



X
Kakek dengan tatapan elang itu menatapku lekat-lekat seperti seorang ayah yang memelototi anaknya ketika ketahuan mencuri sepotong roti dari altar pemujaan. Aku mencoba untuk membalas tatapannya untuk menyembunyikan kegugupan. Semakin beradu pandang dengannya semakin pula batinku memberontak sebab tatapannya merontokan rasa tentang lavender yang selalu memenuhi ruang kerjaku.
"mengapa kakek menatapku sekian dalam?"
"hanya ingin mengetahui tentang keseharian yang telah engkau lalui"
"adakah aku telah memberikan kepada tulisan sebuah nila?"
"aku tidak memintamu untuk mengiklankan dirimu dan tulisanmu di hadapanku"
perkataan kakek tua yang semakin mendekati liang kubur ini mampu mengehentikan aliran darahku, pikirku bahwa kesadaran telah meninggalkan raga. Tentu saja ekspresi kaget membuncah di wajah yang menyebabkan kelopak terasa perih. Cara berdiriku dihadapannya seperti seorang pencuri yang ditangkap oleh tuan rumah ketika hendak mengambil setangkai mawar untuk kekasihnya. Kakek dengan tongkat rotan ini dapat dikategorikan ke dalam lingkaran penari senja. Seorang penari senja harus memiliki tatapan tajam agar mampu menerawang ke dalam lubuk matahari yang semakin lapuk oleh kedatangan burung hantu. Mereka juga dikhususkan untuk memberi warna kepada matahari agar pada pagi besok dapat menciptakan dentingan pada pucuk pinus.
Kakek bangkit dan berjalan menghampiriku, dari cara ia berjalan aku menyimpulkan bahwa ia telah mengabdikan hari kemarinnya untuk menjaga agar warna matahari tetap memberikan rasa aman kepada dunia. Aku membantunya untuk membenarkan letak sarungnya namun bantuanku dinilai sebagai suatu bentuk kemunafikan.
"engkau mengira aku telah begitu lemah untuk mebenarkan letak sarungku? jangan engkau menampakan kepalsuan di hadapanku."
"Dasar tua!"




Tidak ada komentar: