Selasa, 13 April 2010

TATANRI

II
Malam semakin pekat dan ragapun semakin kacau, kalimatnya menambah kelam sehingga kekacauan tidak mampu dikendalikan. Disini kehadiran sosok lain sangat dibutuhkan, entah manusia atau hantu. Mencoba untuk menghangatkan suasana dan ruangan dengan menjaga agar nyala api di tungku tetap menyala. Di tengah kegundahan terdengar suara dalam bias angin; Jika engkau hendak menambah kayu untuk menjaga titik-titik api agar tetap bernyala maka sertakan pula dengan secarik kertas yang kau sobek dari buku harianku agar kisahku mampu memberikan kehangatan sekaligus dapat melepaskan diri dari permainan kalimat. Ketika engkau menyertakan secarik kertas dari buku harianku berarti engkau membantuku untuk membebaskan sebagian dari masa lampau yang mengikatku. Sebelum merobek buku harian engkau katakanlah pada dirimu 'secara perlahan-lahan aku telah membunuh salah seorang sahabat terbaiku'. Janganlah bersedih atas kalimat yang terucap dari bibirmu sebab semakin dalam kesedihan merapatkan pelukannya maka tunas yang mulai berkecambah ini tidak mampu menyentuh matahari dan mengusap wajah purnama. Aku akan menunggu sampai engkau membuang halaman terahkir dari buku harianku ke dalam nyala api. Sekalipun akan menumbuhkan berbagai benih dalam kesehariaku. Aku sadar bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membakar semua kertas itu akan sangat lama bahkan lebih lama dari umur kita. Tapi aku tetap menanti engkau. Sahabat yang menitipkan buku harianya untuk dibakar bersama potongan kayu ini telah aku kenal sejak purnama menyilaukan penglihatan, ia begitu meresap dalam ingatan dan rasa dan mampu mencuri rasa hormatku. Aku seperti kuda beban,dikendalikan oleh dia sebagai tuannya. Padahal kelahiran menempatkan aku sebagai manusia merdeka

Tidak ada komentar: