Minggu, 27 Juni 2010

TATANRI XX

Buku harian ini. Aku tidak dapat mengungkapkan dengan pasti dan jelas tentang perasaan terhadap buku ini. Suatu perasaan yang sangat dalam sebab kebersamaan yang telah terjalin begitu rapat. Denganya, aku bisa menempuh perjalanan ini dalam kebahagian meskipun selalu ada penderitaan yang berhilir mudik di hadapanku. Buku harian memainkan peran ganda ketika aku berhadapan dengan persoalan. Selain menjadi sahabat, ia juga berperan sebagai orang tua untuk memberikan petuah-petuah dalam mengambil dan menentukan pilihan. Peran ganda ini dilakoninya dengan sabar dan tulus.

Dari buku harian, aku mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kepribadian dari sahabatku. Ia yang dalam pertemanan bersikap pasif dan lebih banyak memilih diam ini ternyata menyimpan sejuta potensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidup. Dengan selalu membaca buku hariannya aku menjadi malu terhadap diri sendiri yang sering bertingkah intelektual di hadapannya.

Sejak awal perkenalan aku mengambil peran sebagai pemimpin untuk menentukan dan mengatur persahabatan kami. Dengan demikian ia hanya mengikuti setiap keputusan yang aku katakan.

Sahabatku, mengapa engkau menjadikan aku seperti ini? Apakah diammu adalah bentuk ketidaksukaan terhadap diriku?

Jumat, 25 Juni 2010

AKU YANG DICINTAI OLEH ABJAD(part 1)

(cerita ini berkisah tentang diriku. Dimana aku pagi, siang dan malam selalu memimpikan untuk menjadi seorang penulis)

Di balik selimut hijau engkau terlelap dengan senyuman, rambut ikalmu terurai dan menyerap aroma malam yang bertebaran bersama angin yang dihasilkan oleh kipas listrik. Tidur malammu menyiratkan kisah yang menghendaki agar dituturkan pada keseharian. Kisah yang tergambar pada keriput wajah yang engkau samarkan dengan menggunakan kosmetik.

Begitu cepat engkau menarik diri dari perputaran hari namun kesehariaan tidak pernah melupakan cerita yang telah sematkan padanya, seperti pagi pergi ke dalam lingkaran siang. Dalam tidur yang memanggil ragamu ternyata ada cerita yang bergerak sambil berusaha untuk membebaskan diri dari belenggu selimut hijau. Aku yang duduk sambil memperhatikannya tidak mampu untuk bertutur dengannya sebab dia hanyalah gerakan dan tidak memiliki raga. Ternyata cerita yang kau sematkan tidak hanya tergambar di wajahmu tetapi meliputi seluruh tubuhmu. Ia seakan telah menyatu dengan kulit yang membungkus daging dan tulangmu. Entah ia telah menyatu dengan darah dan mengalir ke seluruh bagian dari tubuhmu.

Mungkin aku lagi kacau atau hanya khayalanku yang muncul kala memperhatikan tidurmu sehingga menciptakan sebuah kisah tentang tidurmu. Mencoba agar merasakan keadaan sekitar sehingga mampu menyingkapkan kebenarannya. Merasakan keadaan di sekitar berarti memusatkan perhatian kepada segala sesuatu yang muncul ketika kekacauan itu menghampiriku. Pada erangan nyamuk ternyata ada kegulauan. Erangan yang diperdengarkan oleh para nyamuk sangat menusuk pendengaran, masuk kedalam rongga telinga dan mengambil semua kesunyian yang dikumpulkan dalam perjalanan siang. Kesunyian yang diambil oleh erangan nyamuk kemudian dipertukarkan dengan keramaian yang pada perjalanan siang tidak disertakan dalam kantung pendengaran. Keramaian yang mengisi rongga pendengaran sangat menimbulkan efek yang kurang menguntungkan untuk mengambil bagian dalam cerita yang tertambat pada tidurmu. Sebab keramaian tidak mampu menyingkapkan secara menyeluruh cerita yang melekat pada ragamu. Hendak mengusirnya agar meninggalkan rongga pedengaran tetapi ia telah membenamkan dirinya dan bersatu dengan otot-otot yang berada di dalam rongga pendengaran. Bagaiamana aku dapat menceritakan tentang kisahmu jika keramaian melingkupi pendengaran. Memang cerita tidak dituturkan oleh pendengaran, ia tidak mempunyai hak untuk menuturkannya. Ia merupakan hak dari mulut untuk menuturkannya, dalam hal ini bahasa sangat berperan penting. Tetapi muncul persoalan; bagaimana cerita itu dapat dituturkan jika sang pencerita tidak mendengarnya. Orang-orang dapat berkata bahwa cerita dapat dituturkan tanpa harus mendengarnya, kita dapat mempergunakan penglihatan untuk menangkap cerita tersebut. Memang benar; jika sang pencerita menggunakan indra penglihatannya untuk menangkap cerita tersebut namun pada kasus ini, cerita tersebut tidak dapat dilihat. Ia hanya dapat didengar.

Pada bagian terdahulu aku mendeskripsikan tentang cerita yang menyatu dengan ragamu. Hal ini berarti aku menggunakan indra penglihatan kemudian memasukannya ke dalam pikiran, selanjutnya dituturkan oleh pikiran dalam bentuk bahasa tulisan. Ini berarti aku semakin berada dalam bayan-bayang kekacauan. Persetan dengan keadaan yang menyeret langkah dan pikiran, yang terpenting adalah aku harus menemukan keterkaitan antara keadaanku dengan cerita yang berada dalam tidurmu.

Hampir setengah jam aku memusatkan perhatian pada keadaan sekitar. Pada kipas listrik yang berbunyi tanpa aturan keharmonisan nada, pada pojok doa yang hadir sebagai pelengkap, pada keempat sudut kamar dengan cat putih kusam, pada ubin kamar yang disusun berantakan, dan lampu kamar yang berumur sepuluh bulan.

Rabu, 23 Juni 2010

TATANRI XIX

Alasan lain yang menyebabkan aku tidak menyediakan waktu untuk acara makan adalah ruang yang sangat tidak memungkinkan untuk menikmati makanan dengan santai. Meskipun aku berada di alam bebas atau terbuka tetap saja ketergesahan dan ruang yang sangat asing ini menyebabkan aku masih takut untuk melakukan acara makan siang seperti biasanya.

Ruang yang begitu menakutkan dan asing ini bisa saja membunuhku jika memberikan waktu yang terlalu berlebihan kepada rasa santai dan dapat memberikan akibat yang kurang menguntungkan bagi diri. Seperti; serangan dari binatang buas, terlambatnya jadwal yang telah direncanakan dan terlambat tiba di desa sebelah dan tersesat didalam hutan kala malam merapatkan barisannya.
Alasan-alasan inilah yang menyebabkan aku kurang memberikan waktu bagi acara makanku.

Dalam perjalanan sambil menikmati makanan kering, aku juga membaca buku harian yang dititipkan oleh sahabatku. Buku harian ini tidak akan aku bakar meskipun malam begitu dingin. Buku harian ini merupakan satu-satunya sahabat yang menyertai perjalanan ini. Padanya wajah sahabatku selalu tersenyum padaku meskipun cerita yang dituliskan terkadang mengandung kesenduan.

Ia memintaku untuk membakar buku harianya namun hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh tangan ini.

Hari yang masih subuh untuk sebuah cerita yang tak layak untuk diingat, sebuah acara yang tak mungkin untuk dicerna. Terkadang banyak hal yang terjadi memang harus ditiadakan dari ingatan. Ketaksanggupan untuk melihatnya di bawah naungan kabut, dia yang masih balita dalam hitungan peradaban sebenarnya tidak pantas untuk berada di sana. Di tempat yang dikhususkan bagi kaum pengambil. Tempatnya adalah di sekitar rumpun bambu bukan di sekitar kabut itu. Dan kenapa dia harus menghadiri acara yang dapat menimbulkan aib bagi dirinya? Aku sangat tidak memahami pola dan cara berpikirnya. Tapi tidak ada koment untuknya sebab kebebasan seseorang dalam menentukan keputusan layak untuk dihargai.

Inilah salah satu catatan dalam buku hariannya. Aku tidak dapt memahami dengan baik dan benar mengenai maksud dari tulisan itu, mungkin harus menyediakan kamus untuk mampu menterjemahkan setiap kata yang ia gunakan.

Apapun yang terjadi buku ini tidak akan aku bakar.

MEMELUK KEBINGUNGAN (part 8)

Mengalami pengucilan dari masyarakat adalah suatu hal yang sangat tidak dikehendaki oleh semua orang di desa ini. Menurut mereka; lebih baik mengalami pengucilan dari para pemimpin desa daripada mengalami pengucilan dari masyarakat. ada beberapa alasan yang menyebabkan orang-orang sangat takut terhadap pengucilan dari masyarakat.

Pertama: semua anggota masyarakat berasal dari satu keturunan atau memiliki nenek moyang yang sama
kedua: karena berasal dari satu garis keturunan maka semua anggota masyarakat sudah tentu memiliki ikatan kekeluargaan
ketiga: masyarakat yang telah memiliki ikatan kekeluargaan tersebut saling berbagi anatara satu sama lain dikala salah seorang mengalami kesulitan. Mereka sangat mengutamakan kepentingan bersama sehingga kebersamaan sangat kental diantara mereka.
Keempat: seseorang yang mengalami pengucilan berarti keluar dari ikatan keluarga besar dan dicoret dari garis keturunan. Jika mengalami keadaan yang demikian berarti ia harus pergi dari desa tersebut. Ia yang telah dikucilkan tidak akan pernah diterima lagi dalam ikatan kekeluargaan meskipun ia melakukan atau menemukan sesuatu yang sangat berharga. Bagi masyarakat di desa ini , orang yang bersalah dan dikucilkan telah dikutuk oleh para leluhur. Seandainya mereka menerimanya kembali berarti mereka telah melawan para leluhur.
Kelima: orang yang dikucilkan tidak dapat pergi ke tempat lain sebab ia akan ditolak ditempat yang ditujunya. Alasannya adalah desa-desa lain juga memiliki ikatan kekeluargaan atau berasal dari satu garis keturunan.
Kesimpulannya; orang yang dikucilkan akan pergi kehutan dan siap untuk dijadikan mangsa dari berbagai binatang buas. Begitulah nasib dari orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat.

Aku sangat tidak menghendaki pengucilan dari masyarakat yang adalah keluargaku. Jika demikian aku harus berkata jujur terhadap sang ibu. Satu hal aku takutkan, seandainya aku jujur, apakah sang ibu akan memahami persoalanku? Aku takut jika sang ibu akan melihat persoalan ini sebagai suatu kesalahan yang fatal atau dilihat sebagai penipuan.

Lebih baik aku berkata jujur dan akan memberikan penjelasan secara terperinci tentang segala pemikiran dan persoalan yang aku alami pada bulan ini.


Selasa, 22 Juni 2010

TATANRI XVII

Makanan kering yang aku sertakan dalam perjalanan merupakan pemberian dari sahabatku ketika aku mengungkapkan kepadanya tentang perjalanan yang akan kulakukan. Sangat kental dalam ingatakan ketika ia dengan tergesa-gesa berlari di tengah kerumunan hujan untuk membeli makanan kering ini. Baju yang basah tidak ia hiraukan, begitu sampai di depan tempat penjualan ternyata telah dittutup. Ia tidak segera pulang ke rumah, dengan pakaian yang basah ia terus melanjutkan pencariannya namun semua tempat penjualan telah ditutup.

Malam itu, aku tidur sendirian karena ia masih melanjutkan pencarian terhadap makanan kering. Bahwa ia begitu bersemangat dalam mencari makanan kering untuk perbekalanku padahal aku dapat mengisi perutku di rumah-rumah makan yang berada di sekitar jalan.

Ia kembali ke rumah sekitar pukul lima pagi, itupun dengan membawa hasil yang nihil. Sahabatku segera menghamburkan diri ke pelukanku sambil meminta maaf karena tidak mendapatkan makanan untuk perbekalan selama aku menempuh pejalanan.
"Engkau sangat tergesa-gesa dalam mempesiapkan keberangkatanku padahal aku akan berangkat bulan depan" Ia sangat terkejut dengan pembicaraanku. "pikirku engkau akan berangkat pada pagi ini"

Makanan kering yang aku makan sambil membaca buku hariannya sanggup untuk menguatkan segala asa yag sempat menghilang. Dengan bertemankan buku harian aku kembali melanjutkan perjalanan dan aku juga terus melanjutkan makanku selama menempuh perjalanan.

Aku tidak menyediakan waktu khusus untuk acara makan sebab akan memperlambat perjalanan dan sangat tidak berguna untuk menyediakan waktu bagi acara makan siang, pagi ataupun malam. Menyediakan waktu di saat-saat seperti ini akan tidak banyak bermanfaat.


MEMELUK KEBINGUNGAN (part 7)

"Haruskah berbohong kepada ibu ini? tidak mungkin, ibu ini terlalu polos untuk dibohongi."

Ia bukanlah para pemimpin desa yang selalu mengkambinghitamkan sesamanya. Ibu yang sejak awal kelahirannya sampai pada saat kematian selalu menjadi wanita desa dengan profesi sebagai petani ini sangat tegar dalam menghadapi setiap gejolak yang disebabkan oleh alam. Wanita desa memiliki kesamaaan dengan pria. Mereka dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan dari pria, mulai menebang pohon untuk membuka ladang baru sampai kepada berburu binatang di hutan. Jika wanita-wanita selalu atau harus berada di sekitar dapur maka wanita-wanita di desa ini tidak selalu melakukan hal demikian. Tugas di dapur terkadang dibebankan kepada para pria. Mungkin terkesan aneh tetapi inilah kenyataannya. Para priapun tidak pernah mengeluh atau memarahi para wanita soal tugas yang diberikan kepadanya.

Para wanita desa adalah murni wanita tetapi mereka menganggap bahwa nereka memiliki derajat dan kedudukan yang sama dengan para pria. Memang mereka belum mengenal atau mengetahui tentang persamaan gender yang diserukan oleh sebagian besar wanita di belahan bumi lainnya. Sesampainya mereka memiliki anggapan seperrti ini karena ajaran-ajaran dari para leluhur yang selalu menekankan tentang persamaan antara pria dan wanita.

Ibu dengan bau terik dan warna tanah di pakaiannya masih berhadapan denganku. Ia menatap lurus ke mataku sehingga aku tidak sanggup untuk membohonginya. Kalau-kalau aku berani berbohong maka seumur hidupku akan dikenal sebagai pembohong dan mereka tidak akan mempercayai setiap perkataan atau tingkah laku yang aku tunjukan. Dengan demikian aku akan dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

Sabtu, 19 Juni 2010

TATANRI XVI

Menghubungkan konsensus masyarakat dengan kesendirian yang sedang kualami memang merupakan sebuah kebodohan dalam berpikir.

Sangat tidak mungkin untuk kembali kepada konsensus masyarakat sebab aku sekarang berada dalam kesendirian dan telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Ditengah keadaan yang parah raga dan rupa sahabatku muncul dihadapanku, hadirnya terasa begitu nyata. Ia mengenakan baju dari bahan sutra yang dibeli oleh ayahnya ketika mengunjungi negeri tirai bambu untuk mengadakan pertemuan bisnis. Baju yang ia kenanakan itu merupakan barang berharga yang akan ia gunakan pada saat-saat yang berharga pula. Rupa sahabat yang berdiri berhadapan denganku mulai tersenyum dan menanyakan tentang keadaanku.

Aku tersandar di beringin tua dengan kepala yang terkulai, sungguh aku tidak sanggup untuk meladeni pembicaraannya. Ia masih terus mengoceh dan ia menggerakan pena di sekitar wajahnya. Adanya tidak akan mengubah keadaan diri ini. Meskipun dengan cara-cara dan rayuan yang mempesona ia tidak akan sanggup untuk mengubah keadaanku. Setelah lelah berbicara akhirnya ia menghilang dari hadapanku tanpa menyempatkan diri untuk berpamitan atau menyentuh pundak ini.
Aku bangun dari tidurku dengan tubuh yang agak sakit, walaupun demikian aku harus terus melanjutkan perjalanan. Derita yang disebabkan oleh kesendirian tidak akan aku pikirkan. Biarkanlah derita tetap menjadi derita sebab derita akan mengalami kejenuhan seperti sahabatku tadi jika aku mengacuhkannya.

Aku mengambil buku harian dari sahabatku dan membacanya. aku berpikir bahwa dengan membaca bukunya maka aku akan mampu mengingat kembali segala kalimat yang diucapkanya. Sembari membaca buku tersebut aku mengambil makanan kering yang berada dalam tasku.

MEMELUK KEBINGUNGAN(part 6)

Gemerisik air yang mengaggetkan segenap pemikiran tentang perkataan Duran. "Daripada lebih tersiksa sebaiknya aku membiarkan pemikiran ini." Setelah menatap ke arah matahari senja yang begitu lapuk, aku melangkah ke arah sungai yang menjadi sumber dari suara gemerisik.
Langkah kaki yang diarahkan ke sungai harus dihentikan setelah melihat bahwa yang menimbulkan gemerisik itu adalah Duran. Aku menghentikan langkahku karena takut mengganggu kesenangnya. Padahal kami selalu menimbulkan gemerisik sungai secara bersama-sama.

"sebaiknya aku meniggalkan ia di sungai ini," imbuhku pada diri sendiri.

Aku mengerakan kaki untuk menjauh dari sungai dan melangkah menuju ke arah rumah. Setelah tiga menit meninggalkan sungai, aku bertemu dengan para petani yang kembali dari kebun. Wajah lusuh yang terbakar sinar matahari dan kotor wajahnya sangat menyiksa mataku. Bagaimana aku tida merasa tersiksa, aku hanya duduk merenungkan pernyataan dari Duran tanpa melakukan sesuatu.
Salah seorang ibu yang memikul daun-daun singkong dan kelor memanggil namaku dengan suara yang begitu memiris. "Daren.......dari mana kau"
Aku tidak tahu harus menjawab, apakah harus berbohong dengan mengatakan aku baru dari kampung sebelah atau berkata jujur? Aku hanya terdiam, menatap wajah sang ibupun aku tidak punya kekuatan. Sang ibu menghampiriku dengan memikul beban yang berat. Ia memegang pundaku dan mengangkat wajahku
"kenapa engkau begitu lusuh dan susah?"
"adakah kegundahan atau masalah yang menghampirimu?"

Aku masih terdiam dan air mata mulai membasahi pelupuk mataku, ibu yang memperhatikan air mataku balik bertanya; "dimana sahabatmu Duran. bukangkah kalan selalu bersama. Apakah kalian berselisih paham?"

Jumat, 18 Juni 2010

TATANRI XV

Sekarang aku sedang menempuh kesenyapan, bertemankan buku harian yang ia titipkan sebelum kepergian dan sudah lima hari aku meninggalkan dia, entah sampai kapan aku akan kembali padanya, segalanya masih dalam tanda tanya yang besar. Sahabatku mungkin sangat sibuk dengan buku hariannya sehingga keberangkatanku tidak disertai dengan pelukan perpisahan. Apakah aku harus mengemis untuk mendapatkan sebuah pelukan? Haruskah keberangkatan dirayakan dengan sebuah pelukan? Layakkah perpisahan disertai dengan kehadiran orang-orang yang akan menyerukan petuah-petuah untuk perjalanan?

Secara konsensus masyarakat maka pertanyaan-pertanyaan diatas dapat dibenarkan. Namun aku tidak suka dengan kesepakatan umum dari masyarakat. Bagiku, mengikuti sebuah konsensus sama dengan seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Ketidakikutsertaan dalam sebuah konsensus tidak menjadikan aku sebagai manusia yang terasing dari masyarakat, tetapi menjadikan aku lebih mendalami parade di kehidupan ini.

Masyarakat yang selalu menjadi bagian dari perjalanan dan kesehariaan sudah tentu aku tidak akan melupakan atau mengkhianatinya. Seperti sahabatku, ia merupakan bagian dari masyarakat, dari dan dalamnya aku menemukan berbagai kekayaan yang telah diciptakan oleh masyarakat. Kekayaan yang telah diciptakan tersebut menjadi penentu pada perjalanan, meskipun ia menjadi penentu tetapi harus ditelaah dan dikritisi. Sebab semua yang diciptakan masyarakat pasti menyisahkan ruang kosong dan ruang inilah yang harus dimasuki agar mampu menjadikan perjalanan sebagai topik yang selalu dibicarakan oleh para malaikat.

Sekarang aku telah menempuh sebuah perjalanan, dimana aku harus meninggalkan keberduan dengan sahabatku. Keterpisahan yang menyembunyikan wajahnya dari pandangan mataku telah memberikan kesendirian padaku. Sungguh berat untuk menghadapi kesendirian apalagi dengan pengalaman yang sangat sedikit. Haruskah aku kembali kepada konsensus masyarakat tentang ritual keberangkatan? Ah.......kenapa aku menghubungkan dengan konsensus masyarakat. Sungguh payah! konsensus masyarakat sama sekali tidak berhubungan dengan kesendirian yang sedang aku alami. Sungguh sebuah kebodohan dalam berpikir.

Rabu, 09 Juni 2010

MEMELUK KEBINGUNGAN (part 5)

Senja menghadirkan cerita yang telah disiapkan sejak pagi mulai bergulir. Eh....bukan menghadirkan cerita tetapi menyimpulkan segala cerita yang tertuang dari pagi. Bukan menyimpulkan, tepatnya merangkum semua cerita yang terjadi dan mengarsipkannya ke dalam tema-tema yang dibuat oleh angin dan matahari. Pada saat yang sama aku masih berkutat dengan cerita yang ditinggalkan Duran. Ia tidak sanggup menemukan kata akhir untuk memberi kesimpulan terhadapnya. Dalam naungan akasia muda aku memandang senja yang hendak menyelesaikan rangkuman dan pengarsipannya. Aku yang terduduk dengan khayalan yang melalang buana tanpa arah yang jelas, ia tidak mampu mengontrol segala hal sempat hinggap padanya. Dapatkah aku mengakhiri siangnya dengan menggandeng kesimpulan?

Kerudung malam yang secara perlahan-lahan dikenakan hari, kerudung yang berwarna gelap memiliki keteduhan. Sehingga hari mengulumkan senyum pada sekitarnya. Dalam senja yang semakin merapat Duran menghentikan kerjanya untuk membersihkan rumput jagung. Keringat kering yang membentuk garis di sekitar wajahnya mampu memberikan kesan bahwa ia begitu bersemangat dalam pekerjaan. Dedikasi yang ditunjukan menjadi karakter yang selalu dituturkan para orang tua kepada anak-anaknya ketika mereka menghindari terik.
Setelah meletakan peralatan di pondok yang beratapkan daun lontar, Duran bergegas ke sungai untuk membersihkan dirinya. Ia membawa serta perlengkapan mandi. Sesampainya di sungai Ia segera menceburkan dirinya yang telah disisipi oleh bau matahari dan tanah. Ritual menceburkan diri pada senja telah dilakukan oleh Duran dan Daren sejak berusia lima tahun adan selalu melakukannya secara bersama-sama. Namun pada senja ini kebiasaan itu harus diabaikan lantaran Duran memberikan persoalan yang sangat menarik minat Daren untuk ditelusuri dan ditelaah.

Awalnya Duran agak enggan untuk menceburkan diri ke sungai, Ia takut akan menyinggung perasaan dari Daren. Sesampainya ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam sungai karena bau terik dan tanah yang harus segera ditanggalkan. Sementara itu aku tersadar dari aktivitas pemikiran ketika mendengarkan gemerisik air sungai.


Rabu, 02 Juni 2010

TATANRI XIV

Merunut dari perkataan sang kakek berarti adaku sama dengan ada kembang lavender ini. Mungkin lebih beruntung kembang-kembang Lavender ini sebab mereka tidak sadar akan keberadaan mereka. Sedangkan aku ?
Apakah takdir telah menempatkan aku dalam keadaan seperti ini?
"aku tidak mempercayai takdir ataupun nasib ataupun garis tangan atau sejenisnya. bagiku segala yang terjadi merupakan akibat dari keputusan yang telah aku lakukan pada hari kemarin." merunut perkataan sang kakek berarti takdir yang selalu dikatakan oleh para sahabatku merupakan suatu kebenaran bukan suatu kebetulan.

Disini aku berusaha untuk terbebas dari perkataan kakek agar dapat berkonsentrasi dalam usaha untuk menemukan informasi mengenai sahabatku. yah.....lagi-lagi berhadapan dengan kakek yang bau tanah ini.
suatu hari engkau akan mengerti tentang cerita yang aku tuturkan di sekitar sungai ini. suatu saat juga engkau akan memahami bahwa setiap kertas yang telah kau tulis mengandung sebagian dari jiwa hutan ini. Kalimat ini merupakan perkataan dari sahaabatku ketika kami mengadakan perjanjian yakni di atas pohon mahoni sambil melukai saah satu rantingnya. Dia mungkin sangat sedih dalam perjalanan. Dari pembicaraan kakek, aku dapat menyimpulkan bahwa ia pergi dengan kesedihan yang membungkus dan mengisi perbendaharaan tasnya. "Apakah ia membawa cukup perbekalan di dalam tasnya?"

Jika terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya atau terdengar berita tentang kecelakaan yan menimpa dirinya, tentu aku tidak dapat memaafkan diriku. Adanya dan hadirnya melebihi kehadiran seorang wanita cantik. Canda dan tawanya mampu menenggelamkan lara yang mengapung di atas permukaan diri. "sahabatku.......dimanakah dirimu berada, jika engkau merasa kedinginan jangan lupa untuk membakar buku harian yang kutitipkan padamu. Bakarlah buku itu sampai kedinginan pergi darimu, biarlah ia menjadi penerang pad malammu agar mampu mengusir nyamuk-nyamuk yang hendak berpesta di atas tubuhmu"


MEMELUK KEBINGUNGAN(part 4)

Kesimpulan yang diambil secara paksa oleh kicau burung. "Sialan...........aku harus memulai dari awal untuk mampu menemukan sosok sang penemu kehidupan." Aku sangat kecewa dengan tingkah burung tersebut. ketika ia menatap ke arah burung yang berkicau, ternyata hanya seekor burung perkutut. Aku mengambil batu untuk melempar burung tersebut namun sebelum melancarkan serangan, perkutut itu telah meninggalkanku. "Dasar kaum tak berpendidikan, tak punya peradaban, tak punya nalar dan perasaan. Kalian tidak pernah merasakan masamnya keringat yang mengucur atau terik yang memanggang kulit. Dasar pencuri yang tak tau malu"

Sangat tampak kemarahan di sekujur tubuhku. Sedangkan Duran telah kembali ke kebun jagungnya untuk melanjutkan pekerjaan. Diantara pohon jagung yang tumbuh Duran duduk sambil menyulut sebatang rokok yang diambilnya dari kantong Daren. Duran kembali memikirkan Daren yang mulai menjaga jarak dengannya.

Seorang sahabat yang selalu berada dalam lingkaran matahari akan pergi kala malam menyembunyikan warna matahari. Seorang sahabat yang hadir dalam hembusan angin akan pergi menurut arah angin tersebut. Sahabat yang tercipta dalam nyanyian juga akan hilang kala nyanyian itu tidak diperdengarkan.

"Aku tidak dapat mengkategorikan sahabatku itu ke dalam salah satu kalimat di atas. Mungkin ia membutuhkan kesendirian agar mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Aku sangat ingin memmbantunya untuk memcahkan persoalan yang ia hadapi. Aku tidak dapat membiarkan Daren melangkah bersama sepoi atau badai". Duran menghabiskan sebatang rokok kemudian melanjutkan pekerjaan untuk membersihkan rumput-rumput jagung.

Aku masih berkutat dengan pemikiran mengenai sang penemu kehidupan. Persoalan yang sangat mengguncangkan keyakinan dan meruntuhkan kepercayaan yang telah aku dalami selama 20 tahun.

Selasa, 01 Juni 2010

TATANTI XIII

Aku hanya menjauh dari tatapan kakek tetapi tidak meninggalkan halaman rumahnya. Tempat yang kutuju adalah taman Lavender, disana segala kepenatan pikiran dan raga dapat teratasi dengan menghirup aroma Lavender yang dihempaskan oleh sepoi. Keharuman Lavender begitu mendamaikan, bahkan para nyamukpun akan dimabukan oleh keharumannya.

Lorong-lorong yang kulewati di taman Lavender mengingatkan akau akan kakek. Biasanya aku menggandeng tangannya, ia tidak pernah bertingkah seperti tadi. Malahan sang kakek akan mengatakan bahwa ketuannya telah mengeruk segala otot dalam tubuhnya. Satu hal yang selalu terpatri dalam benak adalah perkataan kakek tentang taman Levender. "Nak; hanya engkau yang boleh kuijinkan untuk masuk kedalam taman ini, sesampainya aku membangun dan memelihara taman ini karena dalam warna matahari senja aku membaca bahwa akan ada seorang anak yang menggantikan aku untuk melanjutkan tradisi menjaga warna matahari. Aku belum dapat memastikan bahwa engkaulah yang dimaksudkan pada warna senja itu tetapi batinku telah tersentuh ketika pertama kali melihatmu."

Taman ini memang seakan berbicara kepadaku setiap kali aku berada di dalamnya. Terkadang aku merasakan kehangatan tangannya menyentuh dahiku, terkadang pula batinku mendengarkan kembang-kembang Lavender salilng berkomunikasi. Tentu saja topik yang mereka bicarakan adalah aku. Apakah benar perkataan kakek tentang aku? Jika demikian aku dilahirkan untuk meneruskan tradisi tersebut atau aku diperuntukan bagi tradisi itu. Dengan demikian kelahiranku merupakan perencanaan dari para pemeluk tradisi tersebut. Aku tidak memiliki kebebasan dalam hal ini. Lebih parah lagi jika aku merupakan hasil dari ciptaan para penganut tradisi itu sehingga aku dilahirkan untuk memenuhi impian mereka. Ah.............benar-benar sial jika pemikiran itu adalah suatu kebenaran.

Tetapi kakek juga berkata bahwa taman lavender ini diperuntukan bagi aku dan hanya aku yang diprkenankan untuk memasuki taman ini. Lavender yang ditanam untuk orang yang belum tentu hadir di sekitar tempat tinggalnya. Lavender yang tidak pernah mengetahui alasan dan tujuan ia ditanam. Lavender yang selalu setia untuk memberikan keharuman meskipun orang-orang tidak mengharapkan keharumannya.

Apakah aku seperti lavender-levender ini?