Rabu, 23 Juni 2010

TATANRI XIX

Alasan lain yang menyebabkan aku tidak menyediakan waktu untuk acara makan adalah ruang yang sangat tidak memungkinkan untuk menikmati makanan dengan santai. Meskipun aku berada di alam bebas atau terbuka tetap saja ketergesahan dan ruang yang sangat asing ini menyebabkan aku masih takut untuk melakukan acara makan siang seperti biasanya.

Ruang yang begitu menakutkan dan asing ini bisa saja membunuhku jika memberikan waktu yang terlalu berlebihan kepada rasa santai dan dapat memberikan akibat yang kurang menguntungkan bagi diri. Seperti; serangan dari binatang buas, terlambatnya jadwal yang telah direncanakan dan terlambat tiba di desa sebelah dan tersesat didalam hutan kala malam merapatkan barisannya.
Alasan-alasan inilah yang menyebabkan aku kurang memberikan waktu bagi acara makanku.

Dalam perjalanan sambil menikmati makanan kering, aku juga membaca buku harian yang dititipkan oleh sahabatku. Buku harian ini tidak akan aku bakar meskipun malam begitu dingin. Buku harian ini merupakan satu-satunya sahabat yang menyertai perjalanan ini. Padanya wajah sahabatku selalu tersenyum padaku meskipun cerita yang dituliskan terkadang mengandung kesenduan.

Ia memintaku untuk membakar buku harianya namun hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh tangan ini.

Hari yang masih subuh untuk sebuah cerita yang tak layak untuk diingat, sebuah acara yang tak mungkin untuk dicerna. Terkadang banyak hal yang terjadi memang harus ditiadakan dari ingatan. Ketaksanggupan untuk melihatnya di bawah naungan kabut, dia yang masih balita dalam hitungan peradaban sebenarnya tidak pantas untuk berada di sana. Di tempat yang dikhususkan bagi kaum pengambil. Tempatnya adalah di sekitar rumpun bambu bukan di sekitar kabut itu. Dan kenapa dia harus menghadiri acara yang dapat menimbulkan aib bagi dirinya? Aku sangat tidak memahami pola dan cara berpikirnya. Tapi tidak ada koment untuknya sebab kebebasan seseorang dalam menentukan keputusan layak untuk dihargai.

Inilah salah satu catatan dalam buku hariannya. Aku tidak dapt memahami dengan baik dan benar mengenai maksud dari tulisan itu, mungkin harus menyediakan kamus untuk mampu menterjemahkan setiap kata yang ia gunakan.

Apapun yang terjadi buku ini tidak akan aku bakar.

5 komentar:

waroeng coffee mengatakan...

aku harus bacanya berulang2 dulu biar bisa memahami makna dibalik cerpen ini hmmm

Antoninilez mengatakan...

kebebasan jauh lebih besar dr apapun yg setiap org harapkan di dunia ini...coba tengok kebijaksanaan lokal Jepang n China, sesekali baca Musashi atau Taiko. keren no engko punya tulisan, kita pasti pikir berhari2 tu. lanjutkan..tuhan memberkati.

catatan kecilku mengatakan...

Aku kok belum berhasil mengerti makna dari catatan dalam buku harian itu ya...?

the others... mengatakan...

Mengapa buku itu tak dibakarnya sendiri ?

ronneycerita mengatakan...

Waroeng: bacalah dengan cermat maka kamu akan menemukan makna yang terjalin dalamnya
Tata:tata.....sesampainya kita begini karena belajar dan menjadikan tata sebagai inspirasi dlm menulis.thanks
Catatan: itu merupakan aforisme yang harus diterjemahkan maknanya
Others:ia takut akn lebih terluka