Sabtu, 19 Juni 2010

TATANRI XVI

Menghubungkan konsensus masyarakat dengan kesendirian yang sedang kualami memang merupakan sebuah kebodohan dalam berpikir.

Sangat tidak mungkin untuk kembali kepada konsensus masyarakat sebab aku sekarang berada dalam kesendirian dan telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Ditengah keadaan yang parah raga dan rupa sahabatku muncul dihadapanku, hadirnya terasa begitu nyata. Ia mengenakan baju dari bahan sutra yang dibeli oleh ayahnya ketika mengunjungi negeri tirai bambu untuk mengadakan pertemuan bisnis. Baju yang ia kenanakan itu merupakan barang berharga yang akan ia gunakan pada saat-saat yang berharga pula. Rupa sahabat yang berdiri berhadapan denganku mulai tersenyum dan menanyakan tentang keadaanku.

Aku tersandar di beringin tua dengan kepala yang terkulai, sungguh aku tidak sanggup untuk meladeni pembicaraannya. Ia masih terus mengoceh dan ia menggerakan pena di sekitar wajahnya. Adanya tidak akan mengubah keadaan diri ini. Meskipun dengan cara-cara dan rayuan yang mempesona ia tidak akan sanggup untuk mengubah keadaanku. Setelah lelah berbicara akhirnya ia menghilang dari hadapanku tanpa menyempatkan diri untuk berpamitan atau menyentuh pundak ini.
Aku bangun dari tidurku dengan tubuh yang agak sakit, walaupun demikian aku harus terus melanjutkan perjalanan. Derita yang disebabkan oleh kesendirian tidak akan aku pikirkan. Biarkanlah derita tetap menjadi derita sebab derita akan mengalami kejenuhan seperti sahabatku tadi jika aku mengacuhkannya.

Aku mengambil buku harian dari sahabatku dan membacanya. aku berpikir bahwa dengan membaca bukunya maka aku akan mampu mengingat kembali segala kalimat yang diucapkanya. Sembari membaca buku tersebut aku mengambil makanan kering yang berada dalam tasku.

4 komentar:

fanny mengatakan...

lumayan tapi kayak bukan cerpen ya?

ronneycerita mengatakan...

rencananya hendak dijadikan novel...

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

saya tunggu aja novelnya :)

Antoninilez mengatakan...

kental filsafat...tapi secara fiksi lebih berbau mitos legenda pengarang The Lord of The Ring