Jumat, 20 Agustus 2010

PENARI SENJA

Perkumpulan yang dibentuk oleh kaum penari senja begitu solid dan pergerakannya sangat apik. Mereka mulai menyusun strategi untuk memisahkan diri dari masyarakat Daguarga dan meninggalkan kampung tersebut. Tentu usaha ini tidak berjalan dengan mudah layaknya menekan remote control untuk mengganti saluran televisi. Namun dengan kesabaran dan ketabahan, mereka menjalankan dan menyusun rencana agar proses pemisahan dapat berjalan dengan lancar dan aman.


Bapak Fandes, selaku ketua perkumpulan mengajak para penari senja untuk menyerahkan atau menjual semua barang pribadi yang digolongkan dalam barang-barang sekunder. Hal ini bertujuan agar perjalanan untuk mencapai tempat yang baru tidak dibebani dengan berbagai barang tersebut. Proses pelepasan barang terebut dapat dilakukan dalam tiga cara; menjual barang kepada penduduk kampung, memberikan secara gratis kepada salah seorang penduduk kampung yang dinilai sebagai orang yang sangat membantunya dalam kehidupan, atau membuang barang tersebut.


Adapun keinginan untuk memisahkan diri dari penduduk kampung tetap dirahasiakan sampai menunggu saat bulan berwarna coklat. Karena para penduduk kampung akan memanggil mereka untuk menggelar tarian dari warisan nenek moyang.

Rabu, 18 Agustus 2010

PENARI SENJA

Adakah mereka masih menari ketika berbagai warna yang muncul pada saat jalinan hujan berahkir? Masihkah mereka mengenakan kostum perak ketika suara burung Minerva mulai bermunculan di sekitar kaki langit? Di sekitar perputaran musim yang melahirkan begitu banyak suasana, pada perpindahan angin yang menerbangkan rerumputan kering, pada geladak perahu tak bercadik terdengar suara parau para pelaut klasik yang berceracau tentang gelombang dan arus, dan di antara lolongan bintang liar tersembul suatu prahara tentang para penari senja.
Perputaran musim yang melahirkan begitu banyak suasana namun masih ada kebingungan yang ditinggalkan oleh musim untuk para penari senja. Perpindahan angin yang menerbangkan rerumputan kering namun para penari senja menjadi tumbal dari perpindahan angin tersebut. Geladak perahu tak bercadik menampung segenap keluhan dari para pelaut. Sedangkan para penari senja tidak mempunyai tempat untuk menumpahkan persoalan yang melingkupi kesehariannya. Kaum penari senja melewatkan keseharian dengan menggandeng tawa dan air mata yang terlahir dalam kerancuan. Mereka berada di antara masyarakat yang secara garis keturunan merupakan bagian terdekat atau sedarah. Ketidakhirauan masyarakat terhadap keberadaan mereka disebabkan oleh profesi yang dilakoni. Masyarakat memandang bahwa profesi sebagai penari senja adalah profesi kelas proletar dan pengabdi dari mahluk bawah sadar. Karena label yang telah diberikan masyarakat kepada para penari senja menyebabkan mereka tidak pernah dilibatkan dalam urusan keluarga, kehadiran dalam suatu perkumpulan hanyalah bayangan bagi masyarakat.
Keberadaan para penari senja seperti barang mainan anak-anak, ketika ia dibutuhkan maka barang tersebut sangat dijaga dan dihargai namun ketika ia tidak dibutuhkan maka tempat yang cocok untuknya adalah gudang. Dimana ia akan berkumpul dengan tikus-tikus yang bersileweran dengan mata membelalak. Ditengah kesemrawutan strata dan label yang diletakan masyarakat, mereka membentuk persatuan untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi dan memurnikan kembali keberadaan mereka di tengah masyarakat. Namun perkumpulan mereka sangat dirahasiakan dari masyarakat agar tidak dinilai sebagai pembelot. Mereka selalu berkumpul ketika masyarakat sibuk membicarakan tentang perubahan warna matahari.
Masyarakat di desa Daguarga akan berkumpul pada malam terahkir menurut kalender desa yang diwariskan dari para sesepuh kampung. Mereka berkumpul untuk membahas perubahan warna matahari karena mereka meyakini bahwa warna matahari yang berubah memiliki suatu makna dan pesan yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidup. Tentu para penari senja tidak akan diperkenankan untuk menghadiri dan terlibat dalam pembicaraan ini, sehingga kesempatan ini digunakan oleh para penari senja untuk merencanakan kegiatan dan saling menguatkan. Dalam pertemuan yang pertama, mereka memilih ketua dan pengurus yang dapat dipercaya untuk mengatur kelangsungan dari perkumpulan tersebut. Bapak Fandes, seorang yang sangat menutup diri dan sangat minim berbicara dipercaya oleh para penari senja untuk menjadi ketua dari perskumpulan. Sesampainya ia diangkat sebagai ketua disebabkan oleh sikapnya yang selalu melakukan berbagai pekerjaan tanpa harus mendengarkan perintah dari orang lain. Ia juga sangat dihormati di kalangannya dan dipandang sebagai sang inspirator dalam menciptakan berbagai gerakan baru untuk tarian senja.
Para warga lain tidak pernah berpikir bahwa kelakuan yang ditunjukan kepada para penari senja dapat menjadi boomerang bagi dirinya jika tidak disikapi dengan baik dan benar.(bersambung)

Jumat, 13 Agustus 2010

LELAKI YANGBERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR (E)

Kecurigaan Arthe terhadap ibu Marti muncul dari pengalaman yang diperolehnya dari pemilik kedai. Arthe meyakini bahwa semua penduduk di kampung ini memiliki sikap yang sama terhadap setiap tamu. Kecurigaan yang nampak dari keengganan untuk menerima tawaran dari ibu Marti dan ekspresi hambar ketika mengadakan pembicaraan. Arthe berketetapan untuk menolak tawaran dari ibu Marti. Menyadari akan penolakan dari Arthe maka ibu Marti bertanya mengenai alasan yang mendasari penolakan tersebut. Dengan jujur Arthe menceritakan alasannya dan ibu Marti memberikan penjelasan mengenai sikap dari pemilik kedai.

“Nak, engkau terlalu cepat membuat kesimpulan terhadap karakter penduduk kampung ini berdasarkan perjumpaan mu dengan pemilik kedai. Engkau adalah orang asing yang tidak mengenal dengan baik dan benar tentang karakteristik penduduk di sini. Memang pemilik kedai adalah orang yang tidak menghendaki agar usahanya mendapatkan saingan dari orang lain. Kami selalu menerima tamu untuk menginap di rumah meskipun ia bukan berasal dari keluarga atau kenalan kami.”

Mendengar penjelasan yang diutarakan oleh ibu Marti menyebabkan Arthe memohon maaf atas kesimpulan yang dibuatnya terhadap penduduk kampung.

Ketika suara burung Minerva mulai terdengar, Arthe menyetujui untuk menginap di rumah ibu Marti.
Keadaan rumah ibu Marti begitu gaduh karena banyaknya orang yang berkumpul di ruang tamu. Rumah yang tergolong dalam kelas atas dengan penataan tanaman yang mengutamakan keteraturan dan dikerjakan dengan sangat teliti.



Rabu, 11 Agustus 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(D)

“sangat disayangkan bahwa pemilik kedai masih menganut teori persaingan usaha yang sangat klasik, menyembunyikan alamat dari tempat produksi anggur merupakan suatu pengkhianatan terhadap dunia usaha.”

Usahanya untuk mencari penginapan juga berujung pada kenihilan sebab di desa tersebut para penduduk tidak mengembangkan usaha di bidang penginapan. Mereka lebih mengurusi lahan pertanian dan sangat jarang orang asing yang berkunjung. Biasanya para penduduk menerima tamu untuk menginap di rumah mereka meskipun tamu tersebut merupakan orang asing. Setelah berkeliling dan terjebak dalam kelaparan, Arthe memutuskan untuk melewatkan malam di perkebunan teh yang terletak di luar kampung. Seorang ibu yang berlalu di hadapan Arthe menampakan wajah muram karena kondisi Arthe yang sangat memprihatinkan.

“apakah engkau orang asing di desa ini?” Tanya sang ibu membangunkan kesadarannya yang mulai rapuh akibat kelelahan.

“benar bu, saya adalah orang asing di kampong ini. Kedatanganku berdasarkan nasehat dari paman. Menurutnya di kampong ini terdapat tempat produksi anggur dan aku telah berusaha untuk bertanya kepada pemiliki kedai yang menjual anggur namun ia tidak memberikan penjelasan mengenai alamat dari tempat produksi anggur tersebut. Saya tidak bermaksud untuk menyaingi usahanya tetapi tujuan untuk mengetahui tempat produksi adalah untuk membeli anggur bagi ayah!”

Sang ibu memperkenalkan diri kepada Arthe dan mengajaknya untuk menginap dirumahnya sebab malam semakin merapat. Arthe sangat mencuragai penawaran dari ibu Marti

Rabu, 04 Agustus 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(C)

Ayahnya tidak menyadari bahwa Arthe telah pergi dari hadapannya, ia melupakan Arthe karena kesendirian yang begitu menyebarkan pesona dan wewangian di hadapannya. Arthe mulai melakukan pencarian Anggur dengan mengikuti petunjuk dari sang paman.yakni menempuh perjalanan ke kampung tetangga. Arthe menumpangi mobil kayu yang berumur 15 tahun. Mobil kayu yang berbunyi seperti batuk dari para kakek ini berjalan sangat lambat sehingga jarak kampung yang kira-kira 10 km ditempuh dalam waktu 3 jam.


Setibanya di kampung tetangga Arthe segera menuju ke kedai minum untuk bertanya tentang anggur yang dijual di kedai tersebut. Usaha untuk bertanya itu berujung pada kesia-saian sebab pemilik kedai tidak memberitahukan kepadanya tentang asal dari anggur tersebut. Arthe nampak kehilangan keseimbangan ketika mendengar bahwa pemilik kedai merahasiakan tempat produksi dari anggur. Arthe berencana untuk memaksa pemilik kedai agar dapat memeberitahukan kepadanya tentang temapt produksi dari anggur bahkan harus mengorbankan nyawa. Mengapa harus mengorbankan nyawa dan terjadi pemaksaan? Jika salah satu hal ini terlaksana maka Arthe akan mendapatkan persoalan baru dan usaha untuk memperoleh anggur tidak dapat terlaksana. “bukankah aku harus memperoleh anggur?” Ia mengabaikan niatnya terhadap pemilik kedai dan melanjutkan pencarian dengan bertanya kepada para pelanggan kedai. Usaha inipun berujung pada kehampaan namun ia tidak menyerah dan terus berusaha. Ketika suara magrib mulai terdengan ia memutuskan untuk menyewa penginapan agar dapat melepaskan kepenatan.