Sabtu, 31 Juli 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(B)

Arthe melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkan kepada sang ayah. Sementara itu kesendirian telah menemukan kesatuan dengan ayah Arthe. Keduanya sangat akrab dan kelihatannya telah saling mengenal.Mereka seperti sahabat yang menjalin hubungan sejak usia dini, tentu Arthe sangat takjub dan bingung menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak melihat kesendirian sebagai sosok yang asing. Mungkinkah selama ini sang ayah telah mengenal dan bermain dengan kesendirian?

Arthe membiarkan kesendirian untuk memainkan peran sebagai dirinya ketika ia pergi untuk melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkannya kepada sang ayah. Ia tidak memberikan ucapan selamat atau pemberitahuan kepada ayahnya emngenai keberangkatan dan tujuan dari kepergiaannya. Arthe hanya mengatakan bahwa ia hendak berkunjung ke rumah paman untuk menanyakan tentang keperluan yang dibutuhkan oleh pamannya untuk mengerjakan perlengkapan dapur yang dipesan oleh para pelanggan. Memang Arthe selalu membantu pamannya untuk meringankan pekerjaan, dari kegiatan itu ia memperoleh berbagai informasi mengenai tempat untuk memperoleh anggur yang baik. Keputusan untuk melakukan pencarian terhadap anggur telah direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu Arthe meyadari bahwa sang ayah mulai melupakan keberadaan dirinya. Alasan yang dapat diperoleh Arthe mengenai perubahan sikap dari ayah adalah kelakuannya yang selalu lupa untuk membantu ayahnya untuk merapikan buku-buku diperpustakaan.

Jumat, 30 Juli 2010

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(A)

Arthe berusaha untuk memberikan secangkir anggur kepada ayahnya ketika sang ayah mulai ditemanni dengan warna senja. Sebab anggur merupakan kekasih yang tidak dapat dipisahkan dari sang ayah sejak ibunya mengunakan pakaian yang ditenun oleh penenun pada saat malam. Secangkir anggur yang hendak diberikan oleh Arthe juga merupakan suatu usaha untuk mendekatkan kata pengabdian kedalam pikiran sang ayah sebab angin pagi siang telah menerbangkan kata tersebut dari kenangan sang ayah terhadap dirinya. Namun kehendak baik itu tidak akan telaksana jika Arthe masih mengijinkan wajahnya untuk ditatap oleh ayahnya dan masih merebahkan tubuh di kamar yang bersebelahan. Kedekatan yang diusahakan oleh Arthe ini semakin mengurangi ketertarikan dari sang ayah terhadap dirinya dan membangunkan kebencian yang sedang tertidur lelap. Ada juga air mata yang menyibak retina sehingga wajah keriput itu hilang kecerahannya.

Jika Arthe hendak memberikan anggur maka ia harus menyembunyikan wajahnya dari tatapan sang ayah. Salah satu usaha untuk menyembunyikan wajah adalah memanggil kesendirian unrtuk menemani ayahnya ketika ia duduk di pelataran rumah. Kesendirian yang telah dipanggil harus diajari tentang sikap dan sifat dari sang ayah agar ia tidak menimbulkan kekacuan ketika mereka berada bersama. Setelah kesendirian menciptakan kebersamaan diantara mereka, Arthe harus mengisi segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu perjalanan. Lebih tepat dikatakan sebagai suatu pencarian sebab perjalanan terkadang diperuntukan untuk kesenangan.

Selasa, 27 Juli 2010

FRANDESTINE

Di balik selimut hijau engkau terlelap dengan senyuman, rambut ikalmu terurai dan menyerap aroma malam yang bertebaran bersama angin yang dihasilkan oleh kipas listrik. Tidur malammu menyiratkan kisah yang menghendaki agar dituturkan pada keseharian. Kisah yang tergambar pada keriput wajah yang engkau samarkan dengan menggunakan kosmetik.

Begitu cepat engkau menarik diri dari perputaran hari namun kesehariaan tidak pernah melupakan cerita yang telah sematkan padanya, seperti pagi pergi ke dalam lingkaran siang. Dalam tidur yang memanggil ragamu ternyata ada cerita yang bergerak sambil berusaha untuk membebaskan diri dari belenggu selimut hijau. Aku yang duduk sambil memperhatikannya tidak mampu untuk bertutur dengannya sebab dia hanyalah gerakan dan tidak memiliki raga. Ternyata cerita yang kau sematkan tidak hanya tergambar di wajahmu tetapi meliputi seluruh tubuhmu. Ia seakan telah menyatu dengan kulit yang membungkus daging dan tulangmu. Entah ia telah menyatu dengan darah dan mengalir ke seluruh bagian dari tubuhmu.

Mungkin aku lagi kacau atau hanya khayalanku yang muncul kala memperhatikan tidurmu sehingga menciptakan sebuah kisah tentang tidurmu. Mencoba agar merasakan keadaan sekitar sehingga mampu menyingkapkan kebenarannya. Merasakan keadaan di sekitar berarti memusatkan perhatian kepada segala sesuatu yang muncul ketika kekacauan itu menghampiriku. Pada erangan nyamuk ternyata ada kegulauan. Erangan yang diperdengarkan oleh para nyamuk sangat menusuk pendengaran, masuk kedalam rongga telinga dan mengambil semua kesunyian yang dikumpulkan dalam perjalanan siang. Kesunyian yang diambil oleh erangan nyamuk kemudian dipertukarkan dengan keramaian yang pada perjalanan siang tidak disertakan dalam kantung pendengaran. Keramaian yang mengisi rongga pendengaran sangat menimbulkan efek yang kurang menguntungkan untuk mengambil bagian dalam cerita yang tertambat pada tidurmu. Sebab keramaian tidak mampu menyingkapkan secara menyeluruh cerita yang melekat pada ragamu. Hendak mengusirnya agar meninggalkan rongga pedengaran tetapi ia telah membenamkan dirinya dan bersatu dengan otot-otot yang berada di dalam rongga pendengaran. Bagaiamana aku dapat menceritakan tentang kisahmu jika keramaian melingkupi pendengaran. Memang cerita tidak dituturkan oleh pendengaran, ia tidak mempunyai hak untuk menuturkannya. Ia merupakan hak dari mulut untuk menuturkannya, dalam hal ini bahasa sangat berperan penting. Tetapi muncul persoalan; bagaimana cerita itu dapat dituturkan jika sang pencerita tidak mendengarnya. Orang-orang dapat berkata bahwa cerita dapat dituturkan tanpa harus mendengarnya, kita dapat mempergunakan penglihatan untuk menangkap cerita tersebut. Memang benar; jika sang pencerita menggunakan indra penglihatannya untuk menangkap cerita tersebut namun pada kasus ini, cerita tersebut tidak dapat dilihat. Ia hanya dapat didengar.

Pada bagian terdahulu aku mendeskripsikan tentang cerita yang menyatu dengan ragamu. Hal ini berarti aku menggunakan indra penglihatan kemudian memasukannya ke dalam pikiran, selanjutnya dituturkan oleh pikiran dalam bentuk bahasa tulisan. Ini berarti aku semakin berada dalam bayan-bayang kekacauan. Persetan dengan keadaan yang menyeret langkah dan pikiran, yang terpenting adalah aku harus menemukan keterkaitan antara keadaanku dengan cerita yang berada dalam tidurmu.

Hampir setengah jam aku memusatkan perhatian pada keadaan sekitar. Pada kipas listrik yang berbunyi tanpa aturan keharmonisan nada, pada pojok doa yang hadir sebagai pelengkap, pada keempat sudut kamar dengan cat putih kusam, pada ubin kamar yang disusun berantakan, dan lampu kamar yang berumur sepuluh bulan.

ALAM BAYANGAN (6)

“dasar pemikiran yang kau sampaikan selalu mengacu pada pengalaman pribadi. Seandainya engkau meletakan pengalaman dan membiarkannya berada dalam kesendirian kemudian mengambil pola pemikiran yang disediakan oleh roh kehidupan, tentu akan muncul pemahaman terhadap rutinitasku di alam bayangan.”
Ia berhenti untuk meneguk segelas air, mengambil sepotong roti dan memakannya.
Sendis juga mengikuti perbuatan dari Sani. Setelah keduanya menghabiskan satu potong roti dan meneguk segelas air, Sendis memukul kening Sani dengan seulas senyum sembari berkata;
”pembicaraan ini harus disudahi, memang kita belum menemukan kesimpulan tetapi hal itu tidak menjadi suatu persoalan yang mendasar sebab esok masih mampu meyediakan ruang dan waktunya bagi kita untuk membahas topic ini. Sesampainya aku menghentikan pembicaraan ini dikarenakan oleh keseharian telah memanggilku untuk berjalan bersamanya. Aku mengharapakan agar engkau tidak kecewa dengan keputusan ini.”
“setiap persoalan harus diselesaikan sebelum matahari terbenam, menggantungnya berarti mengijinkan persoalan-persoalan lain untuk bersetubuh dengannya. Hal ini berarti kejelasan yang mulai tampak akan menghilang, kita akan kembali dihadapkan pada topic-topik yang lebih rumit. Mungkin saja kita tidak akan menemukan kata akhir dari topic yang telah dibicarakan. Dalam alam bayangan, aku tidak pernah meninggalkan sebuah topic yang sedang kugeluti dalam kesendiriannya. Aku sangat takut terhadap serangan-serangan dari iklim yang dapat memudarkan warna dari topic tersebut. Ditambah lagi dengan pemangsa-pemangsa yang sedang kelaparan, sesampainya mereka menyadari bahwa aku meninggalkan topik itu dalam kesendirian, sudah pasti mereka akan mencabik-cabiknya kemudian melemparkan bangkainya sisanya di jalanan. Di sana keramaian dan hiruk pikuk para pemakai jalan akan menginjaknya, membiarkan raga terkapar tanpa di temani oleh jiwa. Sendis; adakah rasamu telah dikemudi oleh keseharian?” Ternyata Sendis telah meninggalkan ruangan itu ketika Sani menanggapi perkataannya. Tentu saja Sani berbicara kepada tembok-tembok ruangan. Perbuatan Sendis begitu menusuk perasaan Sani sehingga gelas yang masih berada di genggaman, dilemparkannya ke lantai dan menimbulkan suara gaduh.
Para tetangga berhamburan ke pintu rumah, kekagetan dan kebinggungan sangat tampak di wajah mereka. Seorang lelaki, berumur sekitar 45 tahun menjadi perwakilan dari para tetangga untuk masuk dan bertemu dengan Sani. Ia sangat berhati-hati dalam mengatur langkah, dalam benaknya muncul metode-metode penyelamatan diri yang akan ia jalankan jika Sani bertingkah kasar terhadapnya. Dengan tingkah yang diatur sedemikian rupa, sehingga sangat terkesan sebagai keterpaksaan. Mungkin saja sebagai pengalaman pertamanya dalam menghadapi situasi semacam ini. Lelaki berumur sekitar 45 masuk ke dalam ruangan tamu dengan sikap tubuh layaknya seorang pegawai golongan satu memasuki ruangan sang direktur. Kesopanan dan keramatamahan yang dipaksakan memainkan peran penting dalam lakon ini. Menghadapi persoalan, dimana kehormatan menjadi aspek atau tema besar yang diperjuangkan, tentu penggunaan topeng keramatamahan dan kesopanan sangat dibutuhkan. Hal ini telah melekat dalam benak seorang manusia. Menurut Machiavelli dalam pandangannya mengenai filsafat social berkata bahwa pada dasarnya manusia memiliki keinginan untuk dihormati dan dihargai(prestise dan jabatan) oleh orang lain. Keinginan itu berada dalam diri dan selalu menyertainya selama ia masih bernafas.
Dasar kaum pagi yang tidak pernah menginjinkan matahari siang menyilaukan penglihatan atau membakar kulit pucatnya. Bukan saja berada dalam rengkuhan udara pagi tetapi mereka juga selalu menggunakan pelindung kulit pada siang hari. Perlindungan yang dikenakan bertujuan agar kelembutan dan kemulusan kulitnya tidak dirusakan oleh sinar matahari.

Minggu, 11 Juli 2010

ALAM BAYANGAN(5)

Sani memecah keheningan dengan berkata”alam bayangan yang kumasuki merupakan syarat yang harus kulakukan untuk menemukan potongan-potongan Eden, di sana gambaran Eden dapat dilihat dengan jelas. Menurutku penilaian yang kau berikan kepadaku perihal aktifitas di alam bayangan, sangat bertolak belakang dan sangat jauh dari kebenaran. Aku tidak mempersalahkan dan menuntut engkau karena penilaian itu, ingatlah bahwa alam bayangan adalah gambaran dunia ketika diciptakan. Bahwa aku tidak terlibat secara aktif dalam dunia yang kau katakan dikarenakan bahwa dunia membutuhkan pertolongan dari anak-anaknya sebab ia dalam keterlukaan. Secara sadar harus diakui; kepribadian yang sedang kubentuk belum layak untuk berpartisipasi secara aktif di dalam dunia. Dan memasuki dunia yang kau katakan membutuhkan kepribadian yang kuat dan tangguh, dapat bertahan ketika dunia sedang mencucurkan air mata.”

Sendis tertunduk, menatap lantai yang berwarna coklat. Entah memikirkan perkataan Sani atau memikirkan hal lain. Ketika ia menegakan kepalanya, tampaklah airmata mengucur dan membasahi wajahnya. Tentu, ia memikirkan perkataan dari Sani. Kesedihan menggantung di pelupuk matanya sehingga tidak memberikan kesempatan kepada senyuman untuk berpartisipasi. Tampak juga kekecewaan melambai-lambaikan tangan di antara butiran-butiran air mata yang mengucur di wajahnya. Kesedihan dan kekecewaan merupakan dua elemen yang hadir ketika seseorang berpikir bahwa objek atau realitas yang dihadapkan padanya sangat berseberang dengan realitas yang berada dalam pemikirannya. Sendis hendak meninggalkan Sani agar mampu mengusir kedua elemen yang menyelubunginya. Ia tidak sampai hati menarik Sani untuk masuk ke dalam keadaan yang ada padanya. Ketika hendak beranjak dari ruangan itu, Sani dengan segera menghaburkan diri dan memeluk tubuh Sendis. “jangan pergi dariku.” Sani berkata sambil mempererat pelukan ke tubuh Sendis, ia sangat tidak menghendaki Sendis meninggalkan ruangan dan membiarkan topik yang dibicarakan tidak menemukan kesimpulan akhir. Sendis berusaha untuk membebaskan diri dari pelukan, dengan menggunakan kekuatan yang telah menurun karena kesedihan dan kekecewaan telah menyerap sebagiannya. Di saat kedua elemen itu mengusai fisik seseorang maka secara perlahan-lahan akan menyerap semua sari-sari makanan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan energy. Terkadang kedua elemen tak kasat itu juga mengambil alih penalaran sehingga mampu mengontrol. Aliran darahpun mengikuti perintah-perintah dari kedua elemen tersebut. Usaha untuk membebaskan diri dari pelukan Sani berujung pada kesia-siaan. Dengan suara yang disertai tangisan, Sendis berkata” kita berada di dunia yang berbeda. Dapatkah erangan malam dan tawa siang bersatu dalam waktu yang sama? Engkau selalu berada dalam alam yang tidak dapat ditangkap oleh indra penglihatan, sedangkan aku berada dalam lingkaran alam yang mampu menumbuhkan benih-benih di ladang para petani. Alam yang kita masuki tidak dapat bersatu. Seandainya keduanya bersatu, yakinku; terik siang tidak akan menerpa dedaunan.” Perkataan sendis sangat menusuk pendengaran Sani, karena perkataan itu Sani melepaskan pelukan dari tubuh Sendis. Terbebas dari rengkuhan, Sendis melanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong ketika Sani dengan segenap kekuatan menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kayu. “bahwa keseharian menghendaki kita untuk berjalan bersamanya. Dalam perjalanan yang kita lakukan bersama keseharian, kita dituugaskan untuk mengumpulkan segala benda yang dijumpai dalam perjalanan tersebut. Lihatlah, aku telah mengumpulkan begitu banyak benda sedangkan engkau hanya memandang perbuatan ini sebagai suatu usaha menjaring angin. Bahkan ketertawaan selalu tampak pada wajahmu ketika aku bersama keseharian pulang dari perjalanan dengan menyertakan benda-benda yang dapat kami kumpulkan. Jika engkau telah mengumpulkan potongan-potongan dari Eden maka tunjukan kepadaku potongan-potongan tersebut.” Dari kalimat-kalimat yang terucap Sani merasa bahwa Sendis tidak akan pernah memahami dengan baik tentang aktifitas yang dilakukannya dalam alam bayangan. Sani memanggil sedikit kemarahan agar menguatkan argumen yang akan disampaikan kepada Sendis;

Sabtu, 10 Juli 2010

ALAM BAYANGAN(4)

“bagaimana aku akan memberikan penjelasan kepadanya? jika salah dalam memilih kalimat maka akan muncul ketidakpahaman padanya. Kalau aku menggunakan bentuk-bentuk kalimat yang terdapat dalam percakapan di alam bayangan maka Sendis akan semakin terbenam ke dalam bias malam. Haruskah aku meninggalkan bentuk penuturan yang terjadi di alam bayangan dan menggunakan bentuk penuturan yang memenuhi benak Sendis? Menggunakan bentuk penuturan Sendis berarti memproklamirkan pengkhianatan kepada diri sendiri. Tidak mungkin memprooklamirkan pengkhianatan kepada diri. Lantas, bagaimana aku akan memberikan penjelasan kepada Sendis tentang realitas kehidupanku? Membingungkan berada di antara pribadi yang hanya mengenal dunia dari pancaran retinanya.”


Cukup lama Sani berusaha untuk menemukan jalinan dari setiap kalimat yang akan diucapkannya, diksi yang ia gunakan akan diminimalisasi agar Sendis mampu memahami setiap kalimat yang diucapkannya. “sahabatku, telah seperempat musim kita berada dalam kisah yang sama, engkau yang mengawali dan menjalani kisah tersebut. Lebih tepat dikatakan; engkaulah tuan dari kisah yang ada bersama kita. Sedangkan aku, kisah yang menjadikan kita sama telah memilih aku untuk masuk kedalamnya tetapi tidak menjadi tuan atasnya. Keberadaan dalam rahim kisah merupakan usaha untuk menemukan roh yang bergerak ketika kisah itu memeluk keberduan kita. Engkau memang tuan atas kisah kita tetapi engkau bukanlah roh yang menggerakan kisah tersebut. Melalui engkau, roh menunjukan rupanya. Ketersembulannya tidak pernah menyertakan seluruh dirinya, biasanya ia menunjukan dirinya dalam rupa suara. Kata orang bahwa suara setiap mahluk menyiratkan tentang kepingan-kepingan
Eden yang telah lama hilang. Jika ada yang mampu untuk mengumpulkan potongan-potongan tersebut maka Eden akan dapat dibangun kembali. Selama kehidupan aku mengabdikan diri untuk mengumpulkan potongan-potongan Eden tersebut, usaha untuk mengumpulkan potongan-potongan Eden telah menemukan titik cerah, dimana sebagian besar potongan-potongannya telah aku temukan dan kumpulkan. Jujur, bahwa usaha untuk mengumpulkan potongan Eden sangat menguras tenaga dan pikiran. Sampai-sampai aku kurang mempedulikan keberadaanmu, harus kuakui bahwa padamu ada roh yang bergerak dan pada suara yang dihasilkan oleh roh tersebut menyertakan pula potongan-potongan dari Eden. Aku tidak tahu dengan pasti tentang bagian yang terdapat dalam potongan tersebut. Tugasku hanyalah mengumpulkan potongan-potongan dari Eden sedangkan untuk merangkaikannya aku tidak memiliki pengetahuan dan keahlian. Pada saatnya akan ada orang yang merangkaikan potongan-potongan tersebut.”

Sani berhenti dari pembicaraan sembari memberikan tatapan tajam yang ditujukan tepat ke arah mata Sendis, tatapan yang menyiratkan suatu kegembiraan yang luar biasa sehingga tatapan tajam itu tidak menyiksa Sendis. Malahan ia juga turut merasakan kegembiraan yang sama. Tatapan yang mampu menyibak tabir yang menyelubungi bagian terdalam seorang Sendis, tatapan yang telah menyatu dengan keharuman mawar sehingga roh yang menimbulkan keharuman itu menunjukan rupanya. Mereka cukup lama terdiam, masing-masing diliputi oleh kegembiraan dan tak ada gerakan yang berkelebat. Mungkin mereka memikirkan setiap kalimat yang terucap, mungkin juga mereka memisahkan setiap kalimat menurut jenis dan bentuknya agar mampu menangkap makna yang terselubung di balik kalimat-kalimat tersebut.

Jumat, 09 Juli 2010

ALAM BAYANGAN(3)

“alam bayangan hanyalah ungkapan dari kekosongan dan bentuk ketakmampuan seseorang untuk memberikan dirinya kepada kehidupan. Ia yang mengabdikan diri kepada alam bayangan merupakan manusia yang dilahirkan sebelum waktunya sehingga ia tidak sanggup untuk memahami tentang dunia ini.”

Begitulah Sendis berkata kepada dirinya. Sikap yang ditunjukan oleh Sani sangat dibenci oleh Sendis, pernah ia berpikir untuk meninggalkan Sani agar tidak terkontaminasi oleh alam bayangan.

Pada kesempatan lain, dimana mereka berdua duduk dan saling berbagi tentang keseharian, Sendis berkata;

“engkau hanyalah sosok yang terlahir karena suatu kecelakaan, dimana dunia tidak pernah berpikir untuk menerima adamu. Hadirmu adalah elegy bagi kehidupan, langkahmu adalah parade yang termaktub pada malam dengan satu bintang yang bersinar, suara dan tingkahmu tidak akan mampu menjinakan kerbau liar yang berkeliaran di hutan ini. Nyanyian yang tersembul dari pita suaramu tidak sanggup diserap oleh lembah. Engkau berbagi dengan pribadi-pribadi di alam bayangan, di sana segala yang tercurah oleh pengadamu dapat kau salurkan dengan baik sedangkan disini, engkau seperti patung-patung lilin yang mencair ketika diterpa sinar matahari siang. Dapatkah engkau melakoni kehidupan dengan keadaan seperti ini? Sani, tinggalkan alam bayangan itu dan melangkahlah bersamaku sebab kehidupan telah memanggilmu untuk mendekapnya. Layakkah engkau mengacuhkan panggilan dari kehidupan yang telah memberikan dirinya untuk menghidupi engkau? Lihatlah, dalam keharuan ataupun kesedihan, kehidupan masih mampu untuk menyeka keringat yang mengucur di wajahmu agar tidak mengganggu penglihatanmu. Dalam badai yang memporakporandakan keindahan dirinya, ia masih tersenyum padamu.”

Sani mendengarnya dengan wajah berseri-seri layaknya seorang anak kecil yang mendengar nasehat dari orang tuanya ketika ia melakukan kesalahan. Seorang anak kecil dengan keluguan yang sempurna akan menyimak segala nasehat dari orang tuanya sebab anak kecil berpikir bahwa sang orang tua adalah sumber dari segala kebenaran dan kebaikan. Namun, dari sudut pandang para orang tua, melihat bahwa setiap perkataan yang diucapkan kepada sang anak hanya untuk menakutinya agar ia tidak mengulangi perbuatannya. Para orang tua terkadang menyelubungi keburukannya dengan kalimat-kalimat yang indah terhadap sang anak, padahal para orang tua lebih banyak melakukan kesalahan. Mereka tidak akan pernah mengakui kesalahan di hadapan sang anak, malahan mereka menjadikan sang anak sebagai kambing hitam dari segala kesalahan. Setelah mendengarnya, Sani bangkit dan berjalan-jalan mengitari Sendis sambil meletakan tangan kanan di dahinya. Tingkah ini hendak menggambarkan tentang kebingungan diri Sani dalam menyikapi pernyataan dari Sendis. Kira-kira lima menit Ia mengitari ruangan dengan tangan di dahi, dalam pengitarannya, sani berusaha keras untuk menemukan kalimat yang baik dan benar untuk menjelaskan kepada Sendis perihal kelakuannya yang selalu memasuki alam bayangan.

Kamis, 08 Juli 2010

ALAM BAYANGAN(2)


Dan berdasarkan penalaran yang logis, dikatakan bahwa dalam berkomunikasi dibutuhkan lawan bicara atau orang lain agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Dalam hubungan komunikasi tersebut seseorang orang akan mengemukakan pandangnya berupa informasi atau pernyataan dan lawan bicaranya akan menanggapi pandangan tersebut. Tetapi ada juga yang mengungkapkan pandangannya kepada dirinya sendiri kemudian ia sendiri menanggapi pernyataan tersebut. Ambil saja contoh tentang para pemikir atau perenung yang mengungkapkan pernyataan kepada dirinya kemudian sendiri menanggapi pernyataan tersebut. Selain itu, orang-orang yang selalu berefleksi atau berkhayal, mereka berkomunikasi dengan dirinya tentang pernyataan-pernyataan yang menari-nari dalam benak atau Para biarawan atau biarawati yang biasanya memasuki kesendiriannya untuk merenung. Mungkin Feuerbach mendasarkan pandangannya pada komunikasi yang dilakukan setiap orang kepada dirinya sendiri. Pandangan jenis ini memang dapat dibenarkan sebab pada hakikatnya setiap orang selalu berkomunikasi dengan dirinya. Dari komunikasi jenis ini, biasanya lahir pemikiran-pemikiran besar dan diakui oleh publik. Coba kita tengok kepada para penulis yang mampu melahirkan tulisan-tulisan berdasarkan komunikasi yang mereka bangun dengan dirinya. Jadi, permohonan yang dilakukan oleh Sendis kepada Tuhan bukan suatu permohonan kepada dirinya sendiri. Tuhan juga tidak dimabukan oleh keharuman mawar yang tersembul dari doa-doanya tetapi Tuhan dengan kemahasadaran-Nya mendengarkan setiap permohonan yang disertai dengan keharuman mawar. Ia akan mengabulkannya sebab permohonan yang disertai keharuman mawar akan menentramkan-Nya.

Jika ada orang yang melupakan permintaannya maka Sendis tidak pernah menghakimi dan mendakwa orang-orang tersebut. Dengan keteduhan dan keharuman mawar yang selalu menyertai kesehariaan, ia akan berkata“ mungkin engkau masih terlalu sibuk dengan urusanmu atau engkau belum memiliki kesempatan untuk menolongku”. Meskipun ia memiliki keharuman mawar abadi namun tiada pernah dalam kesehariaan, ia menggunakan duri-duri mawarnya untuk melukai sesamanya. Duri-duri yang ditambatkan pada keharuman mawar akan selalu ia bersihkan agar sesamanya dengan mudah memetik kembang mawar tanpa harus melukai mereka. Jika melihat dari sosok dan bentuk tubuhnya maka dapat dikatakan bahwa Sendis, sejak dikandung kurang mendapatkan sentuhan dari kecantikan atau kecantikan tidak pernah meleburkan diri padanya. Kecantikan yang dimasudkan disini adalah kecantikan wajah. Memang kecantikan jenis inilah yang selalu memintalkan benang-benangnya dalam pikiran ketika pertama kali berjumpa dengan seseorang. Benang-benang kecantikan yang dipintal dalam pikiran tersebut akan ditenun jika orang tersebut merasa ada ketertarikan pada objek yang dijumpainya. Tentu saja ia akan menenunnya dan objek yang dijumpainya akan menjadi motif-motif dari tenunan tersebut. Kain tenunan yang dihasilkan oleh sang penenun akan dinamakan cinta.

Sendis meninggalkan Sani yang masih berada dalam alam bayangan dengan berselimutkan kain hijau. Sani hanya menganggukan kepala ketika mendengar perkataan Sendis. Apakah anggukan itu mengacu pada kalimat Sendis atau anggukan itu terjadi karena percakapan yang ia lakukan dengan seseorang di alam bayangan? Merunut pada kejadian selama ini maka anggukan yang ia lakukan merupakan bentuk dari tangggapan kepada perkataan dari Sendis. Memang Sani selalu berada di alam bayangan ketika Sendis mengucapkan kalimat ”jemput aku di jembatan kanal timur pada pukul empat petang.” Pada awalnya Sendis sangat kecewa dengan tingkah dari Sani tersebut. Ia berpikir bahwa Sani adalah sosok yang tidak mampu memijakkan kakinya di atas tanah berlumpur atau tanah yang gersang. Kelakuan yang ditunjukan oleh Sani yaitu dengan memasuki alam bayangan, dipandang oleh Sendis dengan pesimis atau ekspresi wajah yang menyiratkan rasa kasihan. Memang Sendis tidak pernah memperkenankan dirinya untuk memasuki alam bayangan dan selalu melihat alam bayangan sebagai hantu. Ia merasa bahwa alam bayangan yang dimasuki oleh Sani sebagai bentuk dari kelemahan.

KEHARUMAN MAWAR

“Jemput saya di jembatan kanal timur pada pukul empat petang”, itulah kalimat yang terucap dari pita suara Sendis sebelum meninggalkan Sani yang masih bergelayut di alam bayangan. Dari nada dan gaya berbicaranya dapat dipastikan bahwa Sendis tergolong dalam wanita-wanita yang dilahirkan dengan menyertakan sebagian dari keharuman mawar. Dimana keharuman mawar itu dapat memaksa para pendengarnya untuk selalu menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju untuk setiap perkataan yang terucap dari mulutnya. Keharuman mawar yang tertambat padanya akan memabukan setiap orang yang berkomunikasi dengannya. Setiap orang yang pernah berjumpa dan berkomunikasinya dengannya akan selalu mengingat dan mengenangnya. Mereka tidak akan pernah melupakan kalimat permintaan atau permohonan yang terucap dari mulutnya. Orang-orang akan merasa bersalah jika melupakan permintaan yang pernah ia ucapkan. Sendis tidak pernah menyadari bahwa ia memiliki keharuman mawar. Pikirnya, orang-orang yang menuruti permintaannya disebabkan oleh sikap sopan yang ditunjukannya ketika melakukan komunikasi dengan sesama.

Bahkan Tuhan pun selalu mengabulkan permohonan yang diajukannya. Apakah Tuhan juga dimabukan oleh keharuman mawar yang tersembul dari doa-doanya sehingga Tuhan akan kehilangan kemahasadaran-Nya? Bagaimana mungkin ciptaan-Nya mampu meluluhlantakan kemahasadaran-Nya?

Kalau benar bahwa Tuhan dimabukan oleh keharuman mawar yang tersembul dari doa-doa seorang manusia maka Tuhan bukanlah pengada dari semua pengada. Tidak mungkin seorang Tuhan mampu dimabukan oleh keharuman mawar yang tersembul dari doa Sendis. Atau Tuhan hanyalah bentuk dari proyeksi diri seorang manusia, seperti yang diserukan oleh Feuerbach. Dimana gambaran tentang Tuhan merupakan hasil dari objek pikiran manusia bahwa…….manusia memiliki kekuatan-kekuatan hakiki, seperti; berpikir tentang kesempurnaan, menghendaki kebaikan, dan mengalami cinta. Semua kekuatan hakiki manusia itu serba terbatas dan tidak sempurna, maka dia membayangkan adanya sebuah kenyataan yang memiliki itu secara tak terbatas. Kenyataan itu lalu dibayangkan berada di luar dirinya, sebuah kenyataan objektif. Kennyataan itu sebenarnya tak lain daripada objektifasi kesadaran diri manusia(proyeksi diri manusia)…………..dengan memproyeksi diri ke luar, manusia lalu manusia lalu menganggap hasil proyeksinya itu sebagai sesuatu yang lain dari dirinya sendiri. Hasil dari itu dianggapnya sebagai sebuah kenyataan yang otonom yang berdiri diluar dirinya dan menghadapi dirinya. Bukan hanya itu, manusia sendiri lalu merasakan bahwa hasil proyeksinya itu menghadapi dirinya sebagi objek. Manusia lalu meletakan dirinya lebih hina daripada hasil proyeksinya sendiri, misalnya manusia itu lemah, sedang Tuhan itu suci, dst .

Jika Tuhan merupakan bentuk dari proyeksi diri manusia maka doa-doa yang diucapkan oleh Sendis tidak ditujukan kepada sosok yang lebih tinggi dan berkuasa darinya tetapi ditujukan kepada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat mengungkapkan permohonannya kepada dirinya? Suatu permohonan yang diungkapkan kepada diri sendiri akan
berujung pada kekecewaan sebab permohonan merupakan ungkapan dari ketidakmampuan seseorang dalam menyikapi suatu persoalan atau permasalahan yang sedang menancapkan kukunya pada dirinya. Karena ketidakmampuan dan keterbatasan itu, ia memohon bantuan dari pihak lain yang menurutnya dapat mengatasi danmenyelesaikan persoalan itu. Seseorang yang berdoa kepada Tuhan tentu memiliki pemikiran bahwa Tuhan mampu mengatasi persoalan yang sedang ia hadapi. Tentu saja seorang yang mengungkapkan permohonannya kepada dirinya akan terlihat sebagai suatu keanehan dan dapat dikatakan sebagai orang gila.

Rabu, 07 Juli 2010

GADIS YANG BERKALUNG KERANG(A)

Semenjak berkenalan dengan gadis yang bermukim di sekitar lembah Rosienly ini, aku selalu mendapatkan penglihatan mengenai lautan beserta dengan segala yang berada di dasar lautan. Penglihatan ini menimbulkan berbagai pemikiran mengenai gadis tersebut. Dari pemikiran yang dapat dicerna oleh akal sehat sampai kepada pemikiran yang selalu menghuni alam khayal.

Tentu aku harus menyelidiki fenomena yang sedang meletakan perlengkapan hidupnya di sekitar tempat tinggalku. Mengadakan penyelidikan di lembah Rosienly berarti harus menyiapkan perlengkapan dengan sebaik-baiknya. Dari perlengkapan fisik sampai kepada perlengkapan non-fisik. Karena lembah Rosienly sangat peka dan sensitif dengan kehadiran manusia. Terkadang aku mendengar cerita bahwa lembah Rosienly adalah penjelmaan dari seorang bidadari yang tidak kembali ke khayangan. Bidadari ini telah bersumpah untuk mengubah dirinya menjadi lembah sebab para saudaranya meninggalkan dirinya ketika mereka berjalan di sekitar perkebunan mawar. Di perkebunan mawar yang dikerjakan oleh para dayang ini ternyata ada satu pohon mawar yang diambil dari pekarangan seorang manusia. Ketika melewati mawar itu, ia mendengar tangisan dari sang mawar. Sang bidadari bertanya kepadanya, "mengapa kamu menangis?"

"Aku harus kembali ke tempat asalku, disini aku tidak mampu mengembangkan hidup dengan benar. sirkulasi dan proses pertumbuhan di daerah ini sangat berbeda dengan tempat asalku. jika kalian tetap bersikeras untuk menempatkan aku disini berarti kalian adalah mahluk yang tidak memiliki nurani."

Perkataan dari sang mawar menimbulkan sedu di hati bidadari ini sehingga ia memutuskan untuk mengembalikan sang mawar ke tempat asalnya dan akan memberikan dirinya untuk merawat mawar tersebut. Ia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada kedua orang tua dan para saudaranya.
Ketika merawat sang mawar, ia dengan kerelaan mengubah dirinya menjadi lembah agar sang mawar dapat tumbuh dengan baik dan jauh dari jangkauan para dayang.

Kepekaan dan senstifisme dari lembah menyebabkan para penduduk salalu bersikap sopan dan menaati setiap tata krama yang telah digariskan oleh para leluhur. Dan aku merasa aneh;bagaimana mungkin aku memecahkan persoalan mengenai pelihatan tentang lautan dengan masuk ke dalam lembah Rosienly? Bukankah aku harus menyelidiki sang gadis yang menjadi pokok dan faktor utama dari kemunculan penglihatan ini? Berdasarkan pertanyaan tersebut, aku menghampiri sang gadis(tentu dengan persiapan yang lengkap) untuk menyelidiki dirinya. Aku berusaha agar ia tidak mencurigai motif dari pendekatanku terhadap dirinya.
Mula-mula aku menyapa dan memberikan senyuman setiap kali berjumpa dengannya. Semakin sering bertemu maka aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan dirinya dan mulai mengadakan komunikasi yang teratur. Usahaku ternyata mendapat tanggapan yang positif dari dirinya sehingga kami dapat berteman.

Pertemanan yang akrab menyebabkan aku memberanikan diri untuk menungkapkan tujuanku berkenalan dengannya. Pengakuanku ditanggapinya dengan sikap yang profesional dan pernyataannya pun diungkapkapkan dengan ketulusan.
" Aku tidak kecewa mengenai tujuan dirimu berkenalan dengan diriku, malahan aku bangga bahwa engkau mampu mengungkapkan tujuanmu yang sebenarnya. Kejujuranmulah yang membuat aku terpesona dan aku akan memberikan penjelasan terhadap fenomena yang mengitari dirimu. Lembah Rosienly yang merupakan penjelmaan dari seorang bidadari ini selalu memilih seorang gadis untuk dijadikan penjaga lembah ini. Biasanya gadis yang dipilihnya akan terlihat berbeda di antara gadis-gadis lainnya. Pemilihan itupun terjadi sejak sang gadis berumur lima belas tahun, dimana para sesepuh desa akan mengadakan upacara untuk mengetahui siapa gadis yang dipilih oleh sang bidadari. Tetapi diriku telah dipilih sejak berada dalam kandungan dan ketika dilahirkan aku membawa serta sebuah kalung yang terbuat dari kulit kerang. Para tetua sangat yakin bahwa kalung kerang ini merupakan pusaka yang diwariskan oleh sang bidadari dan menjadi bukti bahwa ia memilihku untuk menjaga lembah ini.

Sabtu, 03 Juli 2010

WANITA BERMATA SAYU

Nama selalu menyimpan segala peristiwa yang telah terjadi. Ketika mengingat nama seseorang kita akan mengingat juga semua peristiwa yang berhubungan dengan dirinya. Bukan hanya nama yang menyimpan segala peristiwa, pada kedua bola matapun segala peristiwa yang telah terjadi itu akan tersimpan. Mengenai bola mata yang menyimpan segala cerita ini, aku menemukannya pada salah seorang wanita yang pernah menekuni perputaran dan menganalisis abjad bersamaku. Tetapi pada masa yang berbeda.
Aku lebih tertarik untuk menceritakan tentang kedua bola matanya daripada menceritakan tentang namanya . Wanita ini memiliki kedua bola mata yang sangat menentramkan jika beradu pandang dengannya. Wanita yang tidak banyak tingkah dan hanya bermake-up seadanya. Pada mata sayunya ada pagi yang bergantungan.

Tentang wanita bermata sayu yang melangkah dengan kepastian, dalamnya tiada sendu yang ditemukan. Ketentraman jiwa yang terpancar melalui bola matanya itu sanggup untuk menjinakan abjad-abjad yang liar.

Aku sempat melupakan gadis bermata sayu ini sebab telah cukup lama bola mata sayu itu pergi bersama pemiliknya untuk mencari serpihan-serpihan kehidupan. Perjumpaan dengan wanita bermata sayu ini terjadi di dunia yang tak pernah dibayangkan oleh kaum peninggal. Dalam dunia ini wanita bermata sayu masih sama seperti dahulu(bola matanya). Dunia yang tercipta melalui perkawinan zaman dengan iklim ini mampu untuk menyingkapkan segala kebingungan dan keterbatasan seorang manusia. Melalui dunia ini aku menjalin komunikasi dengan gadis bermata sayu.

Dengan keteduhan yang terpancar dari bola mata sayunya dapat memberikan senyuman pada manusia yang sedang menuliskan lara di buku hariannya. Jika semua wanita memiliki mata sayu seperti dirinya maka keteduhan akan mampu untuk menghapus peluh di raga setiap manusia. Gadis bermata sayu yang berkata dengan menunjukan kedua bola mata sayunya. Perpaduan yang harmonis antara kedua bola mata dan mimiknya begitu memberikan pesona. Ini merupakan hal penting yang dapat dijadikan sampel untuk menilai kecantikan seseorang.

Gadis bermata sayu, jangan pernah berhenti untuk memadukan mimik dengan kedua bola mata sayu itu sebab padanya keharmonisan surga ditunjukan.

Jumat, 02 Juli 2010

MANUSIA YANG TELAH TERIKAT DI DUNIA CERITA(B)

Di antara anak-anak yang dilahirkan dari rahim cerita, aku memperoleh kesan bahwa mereka selalu dianggap unik oleh sesamanya. Terkadang dapat dikatakan gila atau kurang waras. Aku memiliki pengalaman akan hal tersebut.

Sebagian besar waktu aku habiskan dengan berkhayal, membaca, dan menuliskan cerita. Ketiga hal ini menyebabkan aku melupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang seusiaku. Bahkan aku melupakan acara makan di pagi,siang, dan malam. Awalnya aku merasa ketakutan sebab sesama akan memberikan penilaian yang negatif. Terlebih lagi dengan para sahabat yang telah bersama dalam membaca pergerakan huruf. Mereka akan meninggallan aku karena perubahan pada sikap dan tingkahku. Ketakutan akan penilaian tersebut maka aku tidak pernah memberikan diri secara menyeluruh kepada roh cerita untuk berdiam dalam diriku. Tekadang aku berusaha untuk mengusir segala cerita yang mendarat di benak dan rasa. Dengan mengusirnya aku berpikir bahwa sesama akan lebih menjalin persahabatan denganku. Ternyata aku salah. Semakin berusaha untuk pergi darinya semakin pula cerita-cerita tersebut mengejarku. Mungkin kematian yang bisa menyelamatkan aku dari intaian cerita.

Karena semakin didesak oleh cerita maka aku memutuskan untuk memberikan diriku sepenuhnya kepada cerita. Ini bukan korban tetapi merelakan diri agar sang ibu yang melahirkan aku atau rahim cerita yang telah mengandung dan melahirkan aku tidak berpikir bahwa ia melahirkan mahluk yang sial. Setelah mengabdi kepada cerita tetapi bukan pengabdian karena perbudakan. Aku mulai berusaha untuk menuliskan semua cerita yang sempat hinggap di benak.

Dengan demikian aku secara perlahan-lahan mulai melupakan kebiasaan dari orang-orang seusiaku.

MANUSIA YANG TELAH TERIKAT DI DUNIA CERITA(A)

Manusia yang beragam; dari ciri fisik, budaya, latar belakang kehidupan, dll. Keberagaman yang ada dapat memperkaya tetapi dapat merusak tatanan kehidupan. Sorry; aku keluar dari judul tulisan.

Manusia yang telah terikat di dunia cerita adalah orang-orang yang selalu memberikan waktu dan kesempatannya untuk membaca buku-buku fiksi. Mereka ini dapat dikategorikan ke dalam manusia yang spesial dan unik. Dapat diakui bahwa banyak orang selalu membaca buku tetapi hanya sedikit orang yang membaca buku sebagai rutinitas. Apalagi membaca telah menjadi hobby atau pekerjaan harian. Sampai disini pun aku masih melenceng dari ide awal tulisan ini.
Begini; Ada dua manusia yang telah terikat oleh dunia cerita. Kedua orang tersebut adalah sepasang kekasih yang mungkin dipertemukan oleh cerita. Memang cerita ini masih kabur dan pemaparannya pun masih berantakan tapi aku akan mencoba untuk memberikan rincian yang sedetail mungkin tentang orang-orang yang telah terikat di dunia cerita.

Pertemuan keduanya terjadi melalui cerita. Hal ini dikarenakan oleh sang pria yang terlahir dari rahim cerita dan memberikan dirinya untuk disinggahi abjad. Ketika abjad telah merasuki dirinya maka ia mulai menciptakan kalimat-kalimat untuk membentuk sebuah cerita. Ketika ia telah menciptakan sebuah cerita maka kekuatan cerita menghendakinya untuk berbagi dengan orang lain yang juga dilahirkan dari rahim cerita.
Ada tiga tipe manusia yang dilahirkan dari rahim cerita yakni ada yang dilahirkan oleh cerita untuk menuliskan dirinya, ada yang dilahirkan untuk membaca dirinya, dan ada yang dilahirkan untuk keduanya.
Dan pria yang bernama Anto ini dilahirkan untuk keduanya. Sedangkan pasangannya dilahirkan untuk membacakan cerita. Tapi tipe dari sang wanita ini tidak kuketahui secara pasti.

Sepasang kekasih ini begitu mengesankan aku sehingga aku berpikir; "seandainya mereka menciptakan manusia, bukan menciptakan tetapi menjadikan, eh,,,,,salah. Meraka melahirkan manusia baru maka akan sangat hebat. Mungkin seperti Harry Potter atau Nicholas Flamel atau Sang pengacara dalam novel Libri di Luca. Terlepas dari hal ini; aku sangat mengagumi pasangan ini apalagi sang pria yang sedang menyelesaikan ceritanya dan menekuni penulisan cerita melalui blog-blognya. Jika hendak mengenal lebih dekat dengannya silahkan membaca cerita-ceritanya di AntoSaja(k)le, Wow Jadi Papa, dan AntoFiksioneryy.

Kekaguman padanya menyebabkan aku mampu untuk menuliskan cerita-cerita disini. Sosok pria yang bernama Anto atau aku sering memanggilnya dengan Balbo ini merupakan Sang Alchemis yang mampu mengubah peristiwa yang dialami menjadi cerita yang hebat. Memang manusia yang dilahirkan dari rahim abjad, ditambah dengan sang Wanita yang sering disapa Desni ini telah dirasuki oleh roh cerita.

Kedua orang ini adalah manusia yang telah terikat di dunia cerita dan mengabdikan dirinya untuk roh cerita. Mereka telah melangkah dan memasuki dunia yang masih diimpikan oleh manusia lain.

Kamis, 01 Juli 2010

AKU YANG DICINTAI OLEH ABJAD (Part 2)

Aku meminta bantuan dari kalian agar mampu memberikan jawaban terhadap kegundahan yang sedang menyertai malam ini.

Mungkin aku agak gila dengan cerita ini. Sebenarnya aku berharap dapat menulis seperti seorang Nietzche yang sangat kaya akan metafora-metafora atau hendak menulis seperti Paulo Cuelho yang berisi tentang kisah-kisah yang menginspiratif dan religius. Jika demikian; aku sudah menjadi gila karena menduplikasi atau menyadur dari gaya orang lain.

Aku berdoa agar roh dari abjad mampu turun dan berdiam dalam diriku. Kehadirannya akan memberikan ide-ide yang dapat aku gunakan untuk menuliskan cerita ini. Setelah roh itu hadir dan berdiam dalam diri, aku akan berusaha agar ia tidak akn pernah meninggalkan diri ini. Aku akan mengunakan segala cara untuk membuat ia merasa nyaman dan bahagia.

Sebaiknya aku menjalin cinta dengannya. Jika ada kesempatan aku akan bersetubuh dengannya. Setalah menjalin cinta dan bersetubuh maka aku melanjutkan dengan pernikahan. Sampai pada tahap ini aku sangat yakin bahwa ia tidak akan meninggalkan aku. Tetapi belum tentu sebab aku tidak mengetahui tentang latar belakang dari roh tersebut. Mengenai perilaku dan sifat, keluarga, pengalaman hidup, dan agama yang dianutnya.

Aku benar-benar sudah gila. Bagaimana mungkin roh mempunyai latar belakang keluarga, pengalaman hidup, dan agama?
Dasar, penulis yang tidak memiliki pengalaman yang banyak.
Aku gila atau sadar?

TATANRI XXI

"Selalu berdiam diri. Begitulah engkau menempatkan dirimu di hadapan persahabatan ini. Engkau hanya banyak berkata melalui buku harian yang kau berikan pada saat aku mengadakan perjalanan. Seandainya buku ini telah aku baca sebelum perjalanan maka aku tidak akan meninggalkan engkau. Alasan kepergianku adalah diam yang termaktub pada ragamu. Aku pergi agar engkau dapat mengusir ke-diam-an dari tubuhmu. Setelah aku pergi dan membaca buku harian ini, aku sangat menyesal dengan kepergian ini. Sahabatku; mengapa engkau begitu tega terhadap aku? Apakah ribut dan sikap ekspresif yang aku tunjukan telah melukai perasaanmu?"

Dia pergi dengan buku harian. Semoga ia mampu memahami tentang aku yang sesungguhnya. Apakah ia telah membaca sebagian dari buku harian tersebut atau ia menyerahkan semuanya ke dalam lidah-lidah api? Aku harus meyakinkan diri bahwa ia membaca buku itu sebelum menyerahkannya ke dalam api malam. Dengan kepergiannya terpaksa aku harus melewati keseharian dengan buku-buku harian. Ada beberapa hal yang membuatku kurang bersemangat dalam menuliskan cerita di buku ini.
Pertama; cerita yang tertulis di buku harian ini terinspirasi dari dirinya
kedua; tokoh utama yang ada dalam cerita itu adalah dirinya
bahwa cerita di buku harian itu adalah cerita tentang kelakuan dalam kesehariannya.

Dengan kepergiannya terpaksa aku mencari tokoh lain untuk melanjutkan cerita yang telah tertulis ini. Mungkin aku akan menceritakan tentang pengalaman selama menjalin persahabatan dengan dirinya.