Jumat, 09 Juli 2010

ALAM BAYANGAN(3)

“alam bayangan hanyalah ungkapan dari kekosongan dan bentuk ketakmampuan seseorang untuk memberikan dirinya kepada kehidupan. Ia yang mengabdikan diri kepada alam bayangan merupakan manusia yang dilahirkan sebelum waktunya sehingga ia tidak sanggup untuk memahami tentang dunia ini.”

Begitulah Sendis berkata kepada dirinya. Sikap yang ditunjukan oleh Sani sangat dibenci oleh Sendis, pernah ia berpikir untuk meninggalkan Sani agar tidak terkontaminasi oleh alam bayangan.

Pada kesempatan lain, dimana mereka berdua duduk dan saling berbagi tentang keseharian, Sendis berkata;

“engkau hanyalah sosok yang terlahir karena suatu kecelakaan, dimana dunia tidak pernah berpikir untuk menerima adamu. Hadirmu adalah elegy bagi kehidupan, langkahmu adalah parade yang termaktub pada malam dengan satu bintang yang bersinar, suara dan tingkahmu tidak akan mampu menjinakan kerbau liar yang berkeliaran di hutan ini. Nyanyian yang tersembul dari pita suaramu tidak sanggup diserap oleh lembah. Engkau berbagi dengan pribadi-pribadi di alam bayangan, di sana segala yang tercurah oleh pengadamu dapat kau salurkan dengan baik sedangkan disini, engkau seperti patung-patung lilin yang mencair ketika diterpa sinar matahari siang. Dapatkah engkau melakoni kehidupan dengan keadaan seperti ini? Sani, tinggalkan alam bayangan itu dan melangkahlah bersamaku sebab kehidupan telah memanggilmu untuk mendekapnya. Layakkah engkau mengacuhkan panggilan dari kehidupan yang telah memberikan dirinya untuk menghidupi engkau? Lihatlah, dalam keharuan ataupun kesedihan, kehidupan masih mampu untuk menyeka keringat yang mengucur di wajahmu agar tidak mengganggu penglihatanmu. Dalam badai yang memporakporandakan keindahan dirinya, ia masih tersenyum padamu.”

Sani mendengarnya dengan wajah berseri-seri layaknya seorang anak kecil yang mendengar nasehat dari orang tuanya ketika ia melakukan kesalahan. Seorang anak kecil dengan keluguan yang sempurna akan menyimak segala nasehat dari orang tuanya sebab anak kecil berpikir bahwa sang orang tua adalah sumber dari segala kebenaran dan kebaikan. Namun, dari sudut pandang para orang tua, melihat bahwa setiap perkataan yang diucapkan kepada sang anak hanya untuk menakutinya agar ia tidak mengulangi perbuatannya. Para orang tua terkadang menyelubungi keburukannya dengan kalimat-kalimat yang indah terhadap sang anak, padahal para orang tua lebih banyak melakukan kesalahan. Mereka tidak akan pernah mengakui kesalahan di hadapan sang anak, malahan mereka menjadikan sang anak sebagai kambing hitam dari segala kesalahan. Setelah mendengarnya, Sani bangkit dan berjalan-jalan mengitari Sendis sambil meletakan tangan kanan di dahinya. Tingkah ini hendak menggambarkan tentang kebingungan diri Sani dalam menyikapi pernyataan dari Sendis. Kira-kira lima menit Ia mengitari ruangan dengan tangan di dahi, dalam pengitarannya, sani berusaha keras untuk menemukan kalimat yang baik dan benar untuk menjelaskan kepada Sendis perihal kelakuannya yang selalu memasuki alam bayangan.

3 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Orang tua tak seharusnya menuntut anak minta maaf jika anak2 salah, tapi para orang tua pun harus minta maaf pada anak jika mereka berbuat kesalahan juga..

the others... mengatakan...

Sani dan Sendis... adalah pelaku2 dalam kehidupan yg absurb ini..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

nama2 tokohnya unik