Kamis, 01 Juli 2010

TATANRI XXI

"Selalu berdiam diri. Begitulah engkau menempatkan dirimu di hadapan persahabatan ini. Engkau hanya banyak berkata melalui buku harian yang kau berikan pada saat aku mengadakan perjalanan. Seandainya buku ini telah aku baca sebelum perjalanan maka aku tidak akan meninggalkan engkau. Alasan kepergianku adalah diam yang termaktub pada ragamu. Aku pergi agar engkau dapat mengusir ke-diam-an dari tubuhmu. Setelah aku pergi dan membaca buku harian ini, aku sangat menyesal dengan kepergian ini. Sahabatku; mengapa engkau begitu tega terhadap aku? Apakah ribut dan sikap ekspresif yang aku tunjukan telah melukai perasaanmu?"

Dia pergi dengan buku harian. Semoga ia mampu memahami tentang aku yang sesungguhnya. Apakah ia telah membaca sebagian dari buku harian tersebut atau ia menyerahkan semuanya ke dalam lidah-lidah api? Aku harus meyakinkan diri bahwa ia membaca buku itu sebelum menyerahkannya ke dalam api malam. Dengan kepergiannya terpaksa aku harus melewati keseharian dengan buku-buku harian. Ada beberapa hal yang membuatku kurang bersemangat dalam menuliskan cerita di buku ini.
Pertama; cerita yang tertulis di buku harian ini terinspirasi dari dirinya
kedua; tokoh utama yang ada dalam cerita itu adalah dirinya
bahwa cerita di buku harian itu adalah cerita tentang kelakuan dalam kesehariannya.

Dengan kepergiannya terpaksa aku mencari tokoh lain untuk melanjutkan cerita yang telah tertulis ini. Mungkin aku akan menceritakan tentang pengalaman selama menjalin persahabatan dengan dirinya.

Tidak ada komentar: