Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

MEMELUK KEBINGUNGAN(Part 3)

Aku meminta izin untuk menyendiri agar mampu memikirkan perkataan dari Duran tentang cara hidup yang dijalankan oleh kaum burung.dan memikirkan perkataan tersebut dengan cermat dan menyikapinya dengan sangat kritis. Akumengawali pemikiran dengan melihat cara ,pola dan tingkah laku yagn ditunjukan oleh para burung. Tingkah laku dan cara hidup kaum burung tidak dapat disamakan dengan manusia. Sejak awal kehidupan kaum burung telah ditentukan oleh pengadanya untuk menjalani kehidupan dengan cara demikian. Seandainya manusia bersikap seperti burnung-burung di udara tentu ia akan digolongkan dalam kaum burung meskipun mengambil rupa manusia(manusia burung). Manusia yang masuk kedalam dunia burung berarti menginkari kodratnya sebagai manusia. Atau dapat diartikan sebagai pengkhianatan terhadap kontrak yang telah ditanda tangani oleh para nenek moyangnya dengan sang pemilik kehidupan. Oh..........bukan pemilik kehidupan tetapi penemu kehidupan. Kehidupan ini pada awalnya di temukan oleh se

TATANRI XII

"kek; bagaimana mungkin kami melakukan perbuatan sekejam itu? untuk melukai saja kami tidak dapat memejamkan mata pada saat malam memanggil kami untuk dibelainya. Kami tidak setega itu membunuh sesama meskipun ia mengambil rupa hantu. Bagi kami setiap mahluk yang mendiami alam ini atau alam lain memiliki hak yang sama untuk merasakan hempasan sepoi. walaupun ia adalah hantu tetapi ia juga memiliki hak yang sama seperti kami. Dasar pemikiran inilah yang selalu kami ingat dalam perjalanan hidup." Tentu saja aku sangat marah terhadap lelaki tua ini. "Nak, jangan bertingkah seperti seorang imam yang berkotbah dengan menggunakan tema-tema kemanusian agar para pendengar mampu mencintai dan memberikan hormat atasnya. Harus kau ingat bahwa seorang imam yang berkotbah dengan tema kemanusian tanpa menyentuh realitas keseharian adalah jelmaan hantu yang terusir dari neraka karena menimbulkan kegaduhan di antara para penghuni. Kehadirannya di dunia adalah usaha untuk meluluhkan pemi

MEMELUK KEBINGUNGAN (Part 2)

Sangat membingungkan ketika berhadapan dengan Duran. Hendak pergi dari hadapannya agar dapat terbebas dari pembicaraan. Tentu sangat tidak mungkin. Sesampainya aku melangkah kaki dari tempat ini berarti secara tidak langsung membenarkan dugaannya tentang kesusahan yang sedang meliputi hari-hariku. Yah….hari yang sangat memberatkan. “apakah harus mengungkapkan kejujuran dihadapannya? Hal ini tentu mengkhianati perjanjian yang telah disepakati bersama para pemimpin desa. Sesampainya para pemimpin desa mengetahuinya, bisa berakibat fatal terhadap keberadaanku. Sudah pasti, kebun jagung menjadi milik mereka sepenuhnya."keluhku dalam hati tetapi ia masih tetap mengawasi setiap gerak-gerik yang muncul padaku. Tentu kebohongan tidak memainkan perannya. Ditengah kekalutan, ia membentakku; "Daren; jangan berpura-pura di hadapanku. Meskipun mulutmu berkata tidak tetapi kedua bola matamu tidak dapat dipaksa oleh pikiran untuk mengikuti kalimat yang terucap dari mulutmu."

MEMELUK KEBINGUNGAN (part 1)

Aku menulis kisah ini saat nyanyian burung senja mulai terdengar sayup-sayup, saat para petani memanggul pacul dengan mengenakan pakaian kerja yang telah dilukis oleh lumpur-lumpur sawah. Aku menuliskannya dengan tinta hijau sebab hijau melambangkan penantian, lihatlah pohon sangat indah karena ditudungi oleh lembar-lembar hijau namun akan berguguran ketika kemarau menaburkan bubuk terik lewat matahari bulan Mei sampai September. Meskipun ia berguguran dan sangat buruk rupa namun angin musim oktober-april akan mengembalikan lembaran-lembaran hijau dan menghapus kesedihan di pelupuk matanya. Aku yang menulis akan berkisah tentang dia yang terlintas dalam symphoni dari sungai. Ini bukan duplikasi atau persamaan jiwa dari symphoninya Bethoven yang melahirkannya dari malaikat dengan gendang telinga yang tertutup. Symphoni sungai juga bukan susunan notasi dari sebuah lagu atau susunan irama dari bilah-bilah bambu. Ia merupakan perpaduan dari gita lembah dan erangan padang pasir. Tentu saja

TIDAK ADA

dari siang sampai sore dari sore sampai malam dari malam sampai pagi biasanya hari sabtu kadang senin atau selasa atau rabu atau kamis atau jumad atau sabtu jumlahnya sudah banyak lebih dari 50 menakutkan sekali kesadaran:apalagi belajar moral dan etika tidak ada hati tidak tahu apa itu suaranya pikiran tidak tahu apa itu idenya tubuh tidak tahu apa itu pelakunya jadi; tidak ada bukan; ada tapi tidak tahu saya; ya saya aku bukan dia to.... Diatas tidak bersalah dibawah juga tidak tidak ada hanya saya yang ada membentuk saya bukan yang lain sekarang saya (sudah tiga tahun) dahulu masih ada yang lain tidak dan ada

MASIH SAMA

Rabu,19 mei 2010 waktunya dari siang sampai sore ingin berdoa ingin pulang di rumah ada kegiatan berjalan karena suaraku dibiarkan begitu saja ada dua yakni jangan dan mau duduk berlama-lama semulanya tidak akhirnya mau sudah pukul 16.00 ya Rp 12,000 cepat!!! tiba lalu bersih-bersih sudah pukul 16.30 berdiri di depan cermin menyisir dan menatap berkata tapi dalam hati di sebelah jangan; disini saja lalu kesebelah lonceng berbunyi duduk menulis sebentar jadi aku aku yang berbeda karena tidak ada matahari hujan bukan untuk saya

MUNGKIN BUKAN TEMPATKU

Rabu,19 mei 2010 Hujan tapi hanya sebentar Mansoon(tidak ada yang tahu dengan pasti) gerimis minum Rp 9.000 pertama Rp 30.000 selang semenit Rp 40.000 sudah lama!! masih sama!! Hidup hanya menunggu pepsodent;mungkinkah rasanya perih: antara ada dan tidak kemungkinan ada menunggu.... lagi 8-10 tahun sebentar lagi bencana gempa atau banjir, yang penting bencana panas,terbakaar dan berda di dasar dan merah menjadi tempat tujuan maafkanlah!!!! kepada semuanya tuhan dan kalian mimpi dan khayalan kosong masih sama naik...sepertinya tidak jatuh di tempat yang sama

KAMAR 21

"Carlo, sampai kapan engkau berada dalam dunia anak-anak?" bukankah lebih baik berada dalam dunia anak-anak yang slalu menerima dan memahami realitas secara sadar tanpa harus mempermainkan realitas tersebut. Memasuki dan berdiam dalam dunia seoranga anak kecil berarti berada dalam firdaus atau eden. Memang sering kali aku mndengar bahwa Eden atau fidaur itu telah lama sekali hilang atau tidak pernah ada, mungkin Eden hanyalah sebuah mitos. Mempercayai mitos berarti juga sama seperti anak kecil. Ada beberapa hal yang menyebabkan aku menjadi seperti seorang anak kecil. Pertama;memasuki dunia seorang anak merupakan suatu kelangkaan bagi orang-orang dewasa, bagi para orang dewasa; dunia anak kecil berisikan kepolosan yang sangat tidak berguna untuk kehidupan sebab tidak ada nafsu yang harus diburu. Bagi orang dewasa memburu nafsu merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan menggairahkan. Jika memperoleh kemenangan maka akan ada pengakuan dan penghormatan yang diperoleh. Jikal

Boyce Avenue - Find Me (Live & Acoustic at The Fort Studios)

KAMAR 21

kehilangan keseimbangan pada nalarnya. membantunya untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuhnya padahal ia berada dalam suatu keterbebasan. "Carlo, dapatkah engkau membantuku untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuh ini?" "mana mungkin aku melepaskan ikatan sementara engaku tidak berada keterikatan?" "haruskah kita kembali memperdebatkan kalimat yang terucap dari bibirku, ikuti saja perintahku" ia terlihat begitu kecewa dengan sikap yang kutunjukan "aku akan mengikuti perintahmu tetapi berikanlah penjelasan tentang ketebelenguanmu agar aku mampu memahami bahwa engkau sedang dalam keterbelengguan.Jujur,aku tidak melihat bahwa engkau sedang terikat" "sahabatku yang mampu mengawani setiap abjad yang berceceran pada siang dan malam,ketika engkau mengucapkan bahwa aku tidak terikat berarti engkau menambah satu lagi ikatan pada tubuh ini. Aku telah mengalami penderitaan yang begitu mengharukan dalam setiap langkah yang kutempuh, sejak kel

KAMAR 21

Ketakutan yang begitu langka sebab sangat jarang aku mengalami ketakutan seperti ini. Dia yang berhadapan denganku seakan menjelma sebagai malaikat penjemput yang hadir untuk membawaku kepada kekosongan. "bagaimana menyikapi persoalan ini?" gerutuku dalam hati. Pada malam yang menggantung rendah, pada bising yang terdengar di sekitar jendela kamar,dan pada gesekan dahan cemara. Sudilah kalian menyikapi keadaan yang bergemuruh di sekitar kami. "Car, dapatkah engkau memberiku segelas air?" aku tersentak kaget mendengar kalimat memelas yang terucap dari mulutnya. ia memintaku untuk mengambilkan segelas air untuknya? apakah aku tidak salah dengar? Tanpa berbasa-basi, aku segera mengambilkan segelas air untuknya. Setelah menerima dan meminum air tesebut iapun mengucapkan terima kasih kepadaku. Namun ekspresi wajahnya tetap menyiratkan kemarahan yang mendalam. "Apakah aku mengambil lagi segelas air untukmu?" "cukup satu gelas air. jika aku memintamu untuk

KAMAR 21

Memang benar bahwa salju yg telah mencair tersebut akan mengalir menuju ke lautan sebab kesanalah ia harus mengalir, tetapi harus diingat bahwa ia adalah salju. Lautan tidak akan pernah bersedia menerima sosok yang akan membekukan sebagian dari dirinya". "Bagaimana mungkin lautan begitu membenci salju yang telah mencair tersebut, bukankah salju merupakan bagian air yang berubah wujud karena proses pembekuan? Ketahuilah; lautan akan menerima salju yang telah mencair tersebut sebab telah menjadi takdir dari lautan untuk menampung segala air yang mengalir kepadanya. Bukankah lautan terbentuk dari segala air yang barsatu?" begitulah aku menanggapi pernyataan dari sahabatku. Menyadari bahwa argumen yang dikemukannya menemukan jalan buntu maka rona wajahnya berubah menjadi merah. Ia hanya terdiam, sambil memutar-mutar sebatang rokok yang mulai hancur karena kemarahan yang timbul. ruangan yang menjadi tempat pembicaraan kami terasa begitu panas, padahal pendingin ruangan masih

KAMAR 21

kami adalah sepasang kekasih yang hadir dalam waktu dan situasi yang sama kami adalah pribadi yang lahir untuk membicarakan kisah angin timur dan angin barat aku adalah merah dan dia adalah merah aku adalah pagi dan dia adalah pagi. Segalanya akan terpatri pada malam-malamku dan tidak menghilang meskipun ingatan meninggalkan aku. Dia adalah jiwa keduanya, darinya kutemukan arti dari nyanyian cemara. Aku selalu bersimpuh padanya kala suara burung hantu membuyarkan doa malamku. Padanya segala kegelisahan yang menggelayut di siang akan terhapuskan dan ia mampu memberikan keindahan pada mimpi malam. Dalam keharmonisan yang terjalin di antara kami ternyata ada badai yang bersembunyi di balik kecerahan warna pelangi. awalnya begini; "tanggalkan penudung itu dan cabiklah cadar yang menutup wajahmu sebab aku tidak dapat melihat wajahmu meskipun cahaya begitu temaram" "Apakah aku mengenakannya? jujur; aku tidak pernah menggunakan penudung maupun cadar untuk menutupi wajahku. Apak

TATANRI XI

aku mengumpat kelakuan dan perkataan kakek dalam hati. "bagaimana aku dapat mempraktekan segala teori yang ku peroleh dari pelajaran agama dan etika yakni harus menolong sesama yang lemah. percuma saja belajar tentang etika dan moral jika harus berhadapan dengan karakter laki-laki tua bangka ini". Aku mencoba sabar dan menilai bahwa setiap perkataan dari sang kakek hanyalah bualan. Pertemuan kami pada siang hari ini memang terkesan aneh, biasanya kakek selalu meminta bantuanku untuk menuntunnya ke sekitar kebun lavender untuk memperhatikan tanaman yang telah dirawatnya. Tetapi hari ini ia begitu membenci keberadaanku di hadapannya. Adakah yang salah dengan penampilan atau tingkahku? Mencoba untuk mencari kekurangan tersebut tetapi tidak ditemukan. penampilan dan tingkahku masih sama dengan kemarin. Dengan langkah tuanya, ia menghampiriku. Meskipun ketuaan telah memangsa segenap raganya tetapi jiwa dan semangatnya masih tetap sama dan tak akan lekang oleh waktu yang bersamanya

Dikala KetakmampuanKu Bercerita Dan Tertawa di Jalan Ini

Aku meninggalkan cerita yang kutuliskan kala pagi belum sempat membasuh wajahnya dan aku akan melakoni parade yang disuguhkan senja kala ia telah menyelesaikan tenunan untuk bidadari bernama purnama. Cerita yang kutinggalkan akan mengisi senjaku dan tiada pernah meninggalkan aku meskipun suara parau burung hantu membuyarkan doaku. Meskipun ia telah bersedia untuk selalu menemaniku pada malam yang terkadang agak membingungkan namun masih ada keterlukaan. Keterlukaan akan hadirnya, akan cerita yang tergiang di benakku,dan akan kisah yang tertawa di kesendirianku. Tuhan ampunilah aku yang telah menyeka senyum diwajah-Mu. Engkau memintaku untuk mengairi lahan itu dengan air yang secukupnya dan memberi makan kuda-kuda putih itu dengan rumput-rumput hijau namun aku selalu melalaikannya. Maafkan aku yang tak mampu untuk menjadi pelayan-Mu yang baik. Adakah Engkau masih menungguku dan mengundangku untuk menikmati senja sambil membicarakan kisah angin timur dan angin barat? Pada tidurku Engkau

GADIS DENGAN BIOLA COKLAT

Tampak cerah di langit pada bulan setengah lingkar, tiada gerakan meteor yang menciptakan desahan di antara tumpukan awan. Mungkin, malam hendak memeluk para gadis yang terlambat menaiki tangga rumah namun ia berpaling kepada salah seorang gadis dengan biola coklat yang selalu berada dalam pelukannya. Jika malam memberikan sengatan kepada gadis dengan biola coklat maka bahasa hanyalah hantu dan tutur diartikan sebagai ibu tiri yang mengambil segala hak dari istri pertama sehingga anak yang ditinggalkan dilihat sebagai orang asing di tempat kelahirannya. “Adakah engkau memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Merupakan pertanyaan yang diajukan oleh malam kepada gadis dengan biola coklat. Tetapi Sang gadis tidak mampu menerima dan memahami pesan dari malam karena bahasa dan tutur merupakan momok? Gadis dengan biola coklat menatap malam untuk mencari jawaban yang diajukan oleh malam tersebut sebab rumput dan daun kering menimbulkan kegerahan pada udara yang begitu lembab. “Adakah engk

VIRINA

Pada suatu waktu virina pergi menemui kedua sahabat masa kecilnya yang telah berhasil menjinakan impian liar pada masa ketika mereka belum memahami secara baik tentang warna matahari yang berubah kala senja. Mungkin sekarang pun mereka masih bertanya tentang perubahan warna matahari tersebut, tetapi pertanyaan mengenai perubahan warna matahari tersebut telah mampu dijawab dengan baik. Pertemuan selalu dilakukan di pinggir sebuah sungai yang dipenuhi dengan jentik-jentik nyamuk dan orang-orang yang hanya mampu menggenggam gelas-gelas dari bahan keramik dalam mimpinya. Mereka mengadakan pertemuan ketika warna matahari senja benar-benar membangkitkan decak kagum dari orang-orang yang melihatnya, tanpa peduli dia dari status sosial apa. Dalam pertemuan itu mereka menceritakan segala hal yang berhubungan dengan perubahan warna matahari tersebut. Namun Virina tidak pernah bercerita atau berbicara mengenai perubahan warna matahari tersebut, ia hanya duduk dan mendengarkan para sahabatnya meng

MAHLUK SEGITIGA

(diambil dari Intro, edisi XI/November 2009) misteri kerikil tajam akan berlanjut sosok dalam keremangan senja dalam kerapuhan sedangkan para wanita dan gadis serta perempuan bergandengan sepanjang korodor entah suatu prahara sedang mengawasi dari kejauhan dan menunggu waktu untuk mengagetkan lamunannya mahluk bernama segitiga duduk di antara cahaya dan keremangan malam terkadang menjadi wanita tuk melayani suami terkadang menjelma menjadi gadis tukmendapatkan pria pujaan terkadang pula menjadi ibu untuk menyusui anaknya pilihan memaksakan diri tuk berbicara dikatakannya aku pergi dengan diri dirantai, dirajam, dan dibohongi atau..... aku tetap disini tuk menyaksikan engkau membasuhi tubuh dengan secangkr nektar memberikan tatapn para penjudi yang pulang dengan hantu kekosongan bias kebingungan dan kenelangsaan ada dan bersamanya segitiga tak bernama memberikan ucapan selamat atas kepalsuan kebisuan dan kebisuan tersenyum bahkan menertawakan kenelangsaannya selepas subuh jemari-jemari

MERAH BUKANLAH WARNA

(diambil dari majalah intro, edisi XI/November 2009) cukup bijak engkau menerawang ke dalam mayapada bertudung jiwa alam yang kau semaikan pada musim yang masih balita iringan lembah memanggil derai cemara sementara duka bidadari belum terhapuskan menyemaikan benih kala malam belum terlelap berhembuslah getah-getah kamboja menghempaskan kesadaran akan tangisan anak sungai merah merona di pelupuk sungai dan mengalir pada musim gugur menghdirkan tangisan untuk alam terkekeh atas kesenduan yang kau ciptakan melemparakan bayi di ranjang kesendirian membiarkan gagak menjadi raja apakah engkau dilahirkan dari waktu yang berantakan mengapa kau kawinkan peluh dengan air mata kau hadirkan luka bagi pandai besi pada lingkaran bara engkau memaksanya menuliksan naskah bagi ritual kematian dan engkau melukis di awan berkabut

JALINAN BATU

terduduk di tangga batu berlumut sembari mengusap keletihan yang mengurungi raga dan kau menatap dalam bisu panjang entah, jemari jangkrik yang mencekram entah, tawa pemulung yang tertambat di selamu antah, apalagi yang membisukanmu jujur dariku engkau masih tergelatak bisu adakah tetumbuhan di nadirmu berkisah adakah rembes hujan bertutur atau engkau mengabaikannya bisumu melahirkan tanya diammu menorehkan bingung dan kau masih terjalin dalam haru dan kau masih tertambat pada tanya

DI ANTARA CAHAYA

mereguk engkau dalam bias menanyakan keributanmu di sekitar jendela namun tiada engkau menunggu haruskah ku jabik keberduan agar engkau tersembul sampul buku harian telah tersulut bara menjadi abu yang diterbangkan angin namun kau masih tercatat sebagai kalimat yang terseret oleh tinta

PENDAR BERANTARA

luka-luka selalu kembali mnerias diri dentingan garpu selalu memenuhi rahim ruangan dan ada pendfar berotasi pada lembab malam lusuh yang berbaur suar tertambat dikeheningan demi bias yang berserakan demi pendar yang bersahutan demi suatu antara kau harus tampak di sejumput rasa memang kau bertaut pada antara bukan untuk hanya demi pendar berantara

TANYA RIAK

sungguh aneh buih-buih di pesisir menghempaskan sampah dari seberang anak-anak memungutnya untuk mainan tetau memilahnya untuk dijadikan sesajen deru pasang menceritakan elegi karang yang tertambat di palung adakah gaung kerang menyertakan nyanyian plankton riak bertandakan apa di atas warna keruh ada riak yang tersangkut oh..... riak harus dipertanyakan