Minggu, 30 Mei 2010

MEMELUK KEBINGUNGAN(Part 3)

Aku meminta izin untuk menyendiri agar mampu memikirkan perkataan dari Duran tentang cara hidup yang dijalankan oleh kaum burung.dan memikirkan perkataan tersebut dengan cermat dan menyikapinya dengan sangat kritis. Akumengawali pemikiran dengan melihat cara ,pola dan tingkah laku yagn ditunjukan oleh para burung. Tingkah laku dan cara hidup kaum burung tidak dapat disamakan dengan manusia. Sejak awal kehidupan kaum burung telah ditentukan oleh pengadanya untuk menjalani kehidupan dengan cara demikian. Seandainya manusia bersikap seperti burnung-burung di udara tentu ia akan digolongkan dalam kaum burung meskipun mengambil rupa manusia(manusia burung). Manusia yang masuk kedalam dunia burung berarti menginkari kodratnya sebagai manusia. Atau dapat diartikan sebagai pengkhianatan terhadap kontrak yang telah ditanda tangani oleh para nenek moyangnya dengan sang pemilik kehidupan.

Oh..........bukan pemilik kehidupan tetapi penemu kehidupan. Kehidupan ini pada awalnya di temukan oleh seseorang dan mengklaim bahwa ialah yang menciptakan kehidupan. Padahal Kehidupan telah berada sebelum kehadirannya. karena ia yang menemukan kehidupan maka orang-orang yang datang kemudian dipaksa untuk mengakui bahwa ialah yang menciptakannya. Mereka juga tidak diberi kebebasan untuk mengatur dan menentukan pola dan cara untuk menjalani kehidupan. Ia yang mengklaim diri sebagai penciptalah yang mentukan pola dan cara untuk setiap mahluk untuk menjalani kehidupannya. Dalam penentuan ini, para mahluk dipaksa untuk mengikuti cara dan pola tersebut. Sehingga mahluk hidup hanya menurutinya. Jika ada yang melanggar maka akan dikenakan hukuman kematian dan diasingkan dari kaumnya.

Aku melanjutkan pemikiran tentang para burung ketika kicau burung membuyarkan segala pemikiran yang hendak menuju kepada kesimpulan akhir.

Sabtu, 29 Mei 2010

TATANRI XII

"kek; bagaimana mungkin kami melakukan perbuatan sekejam itu? untuk melukai saja kami tidak dapat memejamkan mata pada saat malam memanggil kami untuk dibelainya. Kami tidak setega itu membunuh sesama meskipun ia mengambil rupa hantu. Bagi kami setiap mahluk yang mendiami alam ini atau alam lain memiliki hak yang sama untuk merasakan hempasan sepoi. walaupun ia adalah hantu tetapi ia juga memiliki hak yang sama seperti kami. Dasar pemikiran inilah yang selalu kami ingat dalam perjalanan hidup."

Tentu saja aku sangat marah terhadap lelaki tua ini.
"Nak, jangan bertingkah seperti seorang imam yang berkotbah dengan menggunakan tema-tema kemanusian agar para pendengar mampu mencintai dan memberikan hormat atasnya. Harus kau ingat bahwa seorang imam yang berkotbah dengan tema kemanusian tanpa menyentuh realitas keseharian adalah jelmaan hantu yang terusir dari neraka karena menimbulkan kegaduhan di antara para penghuni. Kehadirannya di dunia adalah usaha untuk meluluhkan pemimpin neraka, tentu dengan berkotbah di hadapan umat akan menimbulkan kesan bahwa ia mampu manarik banyak orang ke dalam pelukan neraka. " Kakek berkata tentang hantu yang mengambil rupa manusia untuk menuntun mereka ke dalam neraka dengan cara berkotbah. Bukankah seorang imam mengajarkan tentang kebaikan dalam setiap kotbahnya? Aku sangat tidak yakin dengan perkataan sang kakek. Sejauh pengamatan saya, seorang imam meskipun jelmaan dari hantu akan berbicara tentang kebaikan.

Dengan keyakinan ini aku meninggalkan sang kakek yang masih berbicara tentang para hantu yang menjelma dalam rupa seorang imam. Aku pergi tetapi tidak kembali ke rumah sebab aku harus memperoleh lebih banyak lagi informasi tentang sahabatku. Tentu saja sang kakek masih menjadi pilihan utama dalam memperoleh informasi.

MEMELUK KEBINGUNGAN (Part 2)

Sangat membingungkan ketika berhadapan dengan Duran. Hendak pergi dari hadapannya agar dapat terbebas dari pembicaraan. Tentu sangat tidak mungkin. Sesampainya aku melangkah kaki dari tempat ini berarti secara tidak langsung membenarkan dugaannya tentang kesusahan yang sedang meliputi hari-hariku.

Yah….hari yang sangat memberatkan.

“apakah harus mengungkapkan kejujuran dihadapannya? Hal ini tentu mengkhianati perjanjian yang telah disepakati bersama para pemimpin desa. Sesampainya para pemimpin desa mengetahuinya, bisa berakibat fatal terhadap keberadaanku. Sudah pasti, kebun jagung menjadi milik mereka sepenuhnya."keluhku dalam hati tetapi ia masih tetap mengawasi setiap gerak-gerik yang muncul padaku. Tentu kebohongan tidak memainkan perannya. Ditengah kekalutan, ia membentakku;
"Daren; jangan berpura-pura di hadapanku. Meskipun mulutmu berkata tidak tetapi kedua bola matamu tidak dapat dipaksa oleh pikiran untuk mengikuti kalimat yang terucap dari mulutmu."

Aku terpaksa harus berkata jujur tentang segala kejadian yang menghampiriku beberapa hari lalu; "Sebelum aku memberikan penjelasan kepadamu, tolong berikan anggukan kepala terhadap permintaan yang kutawarkan. maaf....ini bukan permintaan tetapi perjanjian agar lebih mengikat." Tanpa berpikir panjang Duran segera menganggukan kepala sebagai tanda setuju terhadap perjanjian yang akan kami buat. aku kembali melanjutkan;" beberapa hari yang lalu, aku terpaksa menyerahkan kebun jagung kepada para pemimpin desa karena ketidak sanggupan membayar pajak. Sebelum penyerahan kami mengadakan perjanjian agar setiap pihak wajib menjaga rahasia ini. jika salah satu dari kami membocorkannya maka akan dikenakan sanksi. Seandainya saya mengatakan perjanjjian ini kepada pihak ketiga maka kebun itu menjadi milik mereka sepenuhnya ditambah dengan denda. Seandainya mereka yang membocorkannya maka kebun itu dikembalikan kepadaku dan kebebasan dalam membayar pajak selama satu tahun penuh." Aku tidak sempat menyelesaikan kalimat sebab ia memotong pembicaraan" burung-burung di udara tidak pernah menabur tetapi tak seekorpun yang mati kelaparan."

Rabu, 26 Mei 2010

MEMELUK KEBINGUNGAN (part 1)

Aku menulis kisah ini saat nyanyian burung senja mulai terdengar sayup-sayup, saat para petani memanggul pacul dengan mengenakan pakaian kerja yang telah dilukis oleh lumpur-lumpur sawah. Aku menuliskannya dengan tinta hijau sebab hijau melambangkan penantian, lihatlah pohon sangat indah karena ditudungi oleh lembar-lembar hijau namun akan berguguran ketika kemarau menaburkan bubuk terik lewat matahari bulan Mei sampai September. Meskipun ia berguguran dan sangat buruk rupa namun angin musim oktober-april akan mengembalikan lembaran-lembaran hijau dan menghapus kesedihan di pelupuk matanya. Aku yang menulis akan berkisah tentang dia yang terlintas dalam symphoni dari sungai. Ini bukan duplikasi atau persamaan jiwa dari symphoninya Bethoven yang melahirkannya dari malaikat dengan gendang telinga yang tertutup. Symphoni sungai juga bukan susunan notasi dari sebuah lagu atau susunan irama dari bilah-bilah bambu. Ia merupakan perpaduan dari gita lembah dan erangan padang pasir. Tentu saja, sulit untuk dicerna oleh pendengaran normal seorang manusia, juga sulit untuk dinotasikan oleh Mozart untuk keperluan orkestranya. Ia memang tidak diperuntukan untuk dikonsumsi secara masal.
Jika hendak mendengarkan symphoninya maka harus melepaskan keseharian; dimana menanggalkan mahkota di kepala dan melepaskan sebutir padi dari hasil panen. Aku juga belum pernah mendengarkan symphoni tersebut. Yah….bagaimana mungkin aku dapat mendengarkannya sedangkan aku adalah manusia normal. Apakah ia diperuntukan untuk kaum cacat?
Mungkin saja.
Lantas; “mengapa aku menghabiskan energi untuk menuliskannya?”
Mungkin pada suatu titik aku akan mendengarkan symphoni tersebut. Aku harus menuliskannya meskipun aku belum pernah mendengarkannya.
Semakin tengelam dalam tulisan, semakin pula aku menemukan kebahagian yang selama ini hanya hadir dalam mimpi siangku. Tulisan ini mampu menarik aku untuk menekuninya mungkin ia memintaku untuk mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Apakah aku telah terjebak dalam percintaan dengannya? Dihadapannya segala cinta membuncah dan menunjukan dirinya. Mereka hadir dalam seribu wajah yang membingungkan tapi ada kebahagian. Apa yang aku tuliskan? Tanyaku pada jemari yang bergerak di atas keyboard komputer. Bertanya padanya namun kebisuan yang ditampakan.
“Harus bagaimana?”
Daripada harus merepotkan diri dengan pertanyaan, sebaikanya aku mencoba untuk menuliskan keadaan-keadaan yang terbalut ketika symphoni sungai membuncah. Disinipun masih muncul pertanyaan; bagaimana aku mendengarkannya?
Biarkan saja pertanyaan itu muncul; yang terpenting aku mencoba untuk menuliskan segala sesuatu yang muncul dari suatu penafsiran dan bayangan terhadap symphoni sungai.

Aku mengawali bayangan terhadap symphoni sungai dengan membentangkan segala sesutau yang dapat berhubungan dengan symphoni tersebut. Layaknya seorang penulis; mulai dari membayangkan suatu obyek kemudian menyusun alur dan akhirnya menuliskan objek tersebut dalam bentuk cerita. Memang untuk menuliskan cerita tentang symphoni sungai berawal dari suatu kebingungan sebab tidak ada fakta dan bukti-bukti yang kumiliki masih bersifat khayalan. Jika pada suatu saat ceritaku dihadapakan ke meja pengadilan maka aku akan menderita kekalahan. Sudah pasti hukuman penjara menjadi keputusannya. Entah lima tahun atau bisa jadi seumur hidup.

Tempat kejadian symphoni sungai pasti berada di sekitar aliran sungai atau berada di suatu gedung. Mungkin lebih baik aku memutuskan suatu tempat, jika seperti ini akan menambah kerumitan dalam menata pikiran. Symphoni sungai terjadi di sekitar aliran sungai. Suatu gambaran yang muncul pertama pada umumnya mendekati kebenaran, teringat akan perkataan seorang sahabat pada pertengahan musim panen di tahun kemarin. Kami berdua sedang memanen jagung di kebun milik ayahnya ketika seorang wanita melintas di hadapan kami. Dari paras dan pakaian yang dikenakan dapat ditarik kesimpulan bahwa ia berasal dari keluarga yang mapan dengan berhektar-hektar kebun jagung. Sepintas memandang lekuk tubuhnya memyebabkan segala rasa tertuju padanya. Tentu; ekspresi yang kutampakan akan terkesan aneh dan membingungkan sahabatku.
“matahari begitu terik, sebaiknya kita beristirahat sebentar sambil menyantap menu siang”. Mendengar suaranya aku terbangun dari khayalan tentang gadis yang melintasi pematang kebun. “jika memang terik siang telah menyerap semua nutrisi yang kita masukan pada saat sarapan pagi mungkin lebih baik kita beristirahat” aku menimpali ajakannya. Mungkin ia menertawakan keadaanku dan kalimat yang terucap dari mulutku yang terkesan sangat formal layaknya seorang pengacara memberikan jawaban atas pertanyaan dari hakim agung. Apakah ia mengetahui keadaanku yang sebenarnya? Tentu akan ada penyelidikan darinya ketika kami beristirahat. Sahabatku memang sangat peka terhadap setiap ekspresi yang aku timbulkan. Pernah aku membutuhkan uang untuk membayar tagihan dari desa. Saat itu aku hanya pasrah sebab aung yang kubutuhkan untuk membayar tagihan tersebut tidak diperoleh. Terpaksa kebun jagung yang berseberangan dengan kebun ayahnya ini aku gadai kepada desa. Kejadian ini tidak aku ceritakan kepadanya, ketika bersamanya pun aku selalu bersikap seperti biasanya. Penduduk desa juga tidak mengetahui kejadian itu sebab aku meminta para aparat desa untuk menyembunyikan perihal ini. Para aparat itupun menyetujui permintaanku sehingga kami mengadakan perjanjian, jika aku membocorkannya maka kebun itu sepenuhnya menjadi milik desa dan aku juga harus membayar denda sebanyak seratus ikat jagung. Jika pihak desa yang membocorkan persoalan itu maka kebun jagung itu dapat aku ambil kembali beserta tunjangan untuk tidak membayar pajak selama sepuluh tahun.
Sahabatku yang berwajah oval dengan hidung agak lebar ini sangat peka dengan keadaan yang melingkupi aku. Oh…..aku harus lanjutkan lagi cerita tentang aku dan para pemimpin desa. Setelah mengadakan kesepakatan dengan para pemimpin desa yang terkesan ditator tapi tidak sediktator Soeharto yang menjadikan negara ini seperti permainan catur. Satu lagi para pemimpin yang memerintah di desaku selalu bertameng di balik kekuasan sehingga para penduduk hanya terdiam menyaksikan drama yang mereka bentuk dan lakoni. Sepertinya aku telah keluar dari tema ceritaku dan alur yang kususunpun telah menjadi kacau. Jujur….aku bingung untuk melanjutkan cerita ini, apakah aku harus berhenti disini? Apakah aku harus membiarkan cerita ini terpuruk dalam kesendiriannya? Padahal ia menghendaki agar dilanjutkan. Mungkin aku harus menghentikan cerita tentang para pemimpin desa yang hanya memenuhi lembaran dan menimbulkan kelelahan pada jemari. Tidak mungkin juga aku membiarkan para pemimpin desa dalam ketergantungan ceritanya. Sebaiknya aku melanjutkannya meskipun dalam kenelangsaan alur. Yah……setting ceritaku agak lemah, ditambah lagi dengan penokohan yang kurang mendapatkan porsinya. Daripada aku mengoceh tentang hal-hal teknis dalam menulis, sebaiknya kulanjutkan cerita ini.
Sahabatku bernama Duran, seorang yang memiliki kemampuan yang sangat peka dalam mendeteksi keadaan hati dan pikiran dari orang lain. Aku yang pada waktu itu sedang dalam kekacuan karena kebun jagung yang aku gadai kepada desa. Dihadapannya, persoalan yang sedang menghantui hari-hari tidak pernah aku perlihatkan dihadapannya. Aku selalu bersikap normal ketika berhadapan dengannya. Memang pepatah sepandai-pandainya dan sebijaksannya bank Swiss menyembunyikan rahasia dari kliennya tentu pada suatu saat akan ketahuan juga.
“Daren, apakah kemarin engkau menanam benih di antara kabut dan asap?”
“maksudnya apa Ran?” ketika aku menimpali pertanyaannya, ia malahan mengajukan kepadaku sebuah pertanyaan. “adakah kecerahan kabut mampu menunjukan atau menyingkapkan warna pohon willow yang tersembunyi dibaliknya? Daren, jika kemarin mata sayumu masih menyiratkan kecerahan matahari tetapi senja ini, mata sayumu mengenakan tenunan yang dibuat oleh kabut.”
Duran memberikan pertanyaan yang terkesan sangat membingungkan, dari pertanyaan-pertanyaannya aku ditempatkan pada ketersudutan dan tidak memberikan kesempatan padaku untuk membela diri.

Kamis, 20 Mei 2010

TIDAK ADA

dari siang sampai sore
dari sore sampai malam
dari malam sampai pagi

biasanya hari sabtu
kadang senin atau selasa atau rabu
atau kamis atau jumad atau sabtu
jumlahnya sudah banyak
lebih dari 50
menakutkan sekali
kesadaran:apalagi belajar moral dan etika
tidak ada

hati tidak tahu apa itu suaranya
pikiran tidak tahu apa itu idenya
tubuh tidak tahu apa itu pelakunya
jadi; tidak ada
bukan; ada tapi tidak tahu

saya; ya saya
aku bukan dia to....
Diatas tidak bersalah
dibawah juga tidak
tidak ada

hanya saya yang ada
membentuk saya bukan yang lain
sekarang saya (sudah tiga tahun)
dahulu masih ada yang lain
tidak dan ada

MASIH SAMA

Rabu,19 mei 2010
waktunya dari siang sampai sore
ingin berdoa
ingin pulang
di rumah ada kegiatan

berjalan karena suaraku
dibiarkan begitu saja
ada dua yakni jangan dan mau
duduk berlama-lama
semulanya tidak
akhirnya mau

sudah pukul 16.00
ya Rp 12,000
cepat!!!
tiba lalu bersih-bersih
sudah pukul 16.30

berdiri di depan cermin
menyisir dan menatap
berkata tapi dalam hati
di sebelah jangan; disini saja
lalu kesebelah
lonceng berbunyi
duduk
menulis

sebentar jadi aku
aku yang berbeda karena tidak ada
matahari
hujan bukan untuk saya

MUNGKIN BUKAN TEMPATKU

Rabu,19 mei 2010
Hujan tapi hanya sebentar
Mansoon(tidak ada yang tahu dengan pasti)
gerimis
minum Rp 9.000
pertama Rp 30.000
selang semenit Rp 40.000
sudah lama!! masih sama!!

Hidup hanya menunggu
pepsodent;mungkinkah
rasanya perih: antara ada dan tidak
kemungkinan ada
menunggu....
lagi 8-10 tahun
sebentar lagi bencana
gempa atau banjir,
yang penting bencana
panas,terbakaar dan berda di dasar dan merah
menjadi tempat tujuan
maafkanlah!!!!
kepada semuanya
tuhan dan kalian
mimpi dan khayalan
kosong
masih sama
naik...sepertinya tidak
jatuh di tempat yang sama

Rabu, 19 Mei 2010

KAMAR 21

"Carlo, sampai kapan engkau berada dalam dunia anak-anak?"
bukankah lebih baik berada dalam dunia anak-anak yang slalu menerima dan memahami realitas secara sadar tanpa harus mempermainkan realitas tersebut. Memasuki dan berdiam dalam dunia seoranga anak kecil berarti berada dalam firdaus atau eden. Memang sering kali aku mndengar bahwa Eden atau fidaur itu telah lama sekali hilang atau tidak pernah ada, mungkin Eden hanyalah sebuah mitos. Mempercayai mitos berarti juga sama seperti anak kecil.
Ada beberapa hal yang menyebabkan aku menjadi seperti seorang anak kecil.
Pertama;memasuki dunia seorang anak merupakan suatu kelangkaan bagi orang-orang dewasa, bagi para orang dewasa; dunia anak kecil berisikan kepolosan yang sangat tidak berguna untuk kehidupan sebab tidak ada nafsu yang harus diburu. Bagi orang dewasa memburu nafsu merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan menggairahkan. Jika memperoleh kemenangan maka akan ada pengakuan dan penghormatan yang diperoleh. Jikalau kekalahan yang akan digenggam maka akan ada cibiran yang memenuhi ruangan dan waktunya.Adalah suatu kebodohan ketika aku memilih untuk kembali ke dalam dunia seorang anak kecil. Sesama yang selalu menceritakan kemenangan dan kekalahan dalam berburu nafsu sangat kaget ketika mengetahui bahwa aku telah memasuki dunia seorang anak kecil. Lantas; ejekan dan cemooh mulai berhilir mudikdi hadapanku.
"Dasar, manusia lemah yang tidak pernah berusaha untuk berburu nafsunya." begitulah sesamaku mengatai keadaanku.
Kedua;Seorang anak kecil dipandang sebagai sosok yang lemah dan bodoh, ia tidak akan diperkenankan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas. kebebasannya hanyalah sebatas anggukan dan tutur dari seorang dewasa.(bersambung)

Senin, 17 Mei 2010

KAMAR 21

kehilangan keseimbangan pada nalarnya. membantunya untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuhnya padahal ia berada dalam suatu keterbebasan.
"Carlo, dapatkah engkau membantuku untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuh ini?"
"mana mungkin aku melepaskan ikatan sementara engaku tidak berada keterikatan?"
"haruskah kita kembali memperdebatkan kalimat yang terucap dari bibirku, ikuti saja perintahku" ia terlihat begitu kecewa dengan sikap yang kutunjukan
"aku akan mengikuti perintahmu tetapi berikanlah penjelasan tentang ketebelenguanmu agar aku mampu memahami bahwa engkau sedang dalam keterbelengguan.Jujur,aku tidak melihat bahwa engkau sedang terikat"
"sahabatku yang mampu mengawani setiap abjad yang berceceran pada siang dan malam,ketika engkau mengucapkan bahwa aku tidak terikat berarti engkau menambah satu lagi ikatan pada tubuh ini. Aku telah mengalami penderitaan yang begitu mengharukan dalam setiap langkah yang kutempuh, sejak kelahiran dari rahim seorang perempuan yang menempatkan aku pada kelesuan hari sampai aku bertemu dengan matahari senja. Selama perjalanan matahari yang begitu menyiratkan kengerian, aku hanya sanggup melakoni sepenggal dari kisah yang dituliskan oleh lembah."
Nelangsa yang berparade dalam rahim waktu telah menempatkan ia sebagai tumbal untuk menyeimbangkan perputarannya. Dalam langkah yang gontai ia mencabik tirai yang menutupi realitasnya sedangkan di tengah kegontainya, kenelangsaan waktu terus membenamkan kuku tajamnya sampai menyentuh tulang-tulangnya. Suatu keadaan yang begitu memprihatikan.
"aku akan membantumu untuk melepaskan ikatan yang membelenggumu tetapi tuturkan kepadaku secara eksplisit tentang kisahmu."(bersambung)

KAMAR 21

Ketakutan yang begitu langka sebab sangat jarang aku mengalami ketakutan seperti ini. Dia yang berhadapan denganku seakan menjelma sebagai malaikat penjemput yang hadir untuk membawaku kepada kekosongan.
"bagaimana menyikapi persoalan ini?" gerutuku dalam hati.
Pada malam yang menggantung rendah, pada bising yang terdengar di sekitar jendela kamar,dan pada gesekan dahan cemara. Sudilah kalian menyikapi keadaan yang bergemuruh di sekitar kami.
"Car, dapatkah engkau memberiku segelas air?" aku tersentak kaget mendengar kalimat memelas yang terucap dari mulutnya. ia memintaku untuk mengambilkan segelas air untuknya? apakah aku tidak salah dengar?
Tanpa berbasa-basi, aku segera mengambilkan segelas air untuknya. Setelah menerima dan meminum air tesebut iapun mengucapkan terima kasih kepadaku. Namun ekspresi wajahnya tetap menyiratkan kemarahan yang mendalam.
"Apakah aku mengambil lagi segelas air untukmu?"
"cukup satu gelas air. jika aku memintamu untuk menambahkan satu lagi gelas air berarti aku sedang dirundung oleh rasa dahaga."
Aku kembali dihadapkan pada persoalan sebab pernyataan yang diucapkannya merupakan bukti dari kemarahan yang meliputinya.
"haruskah aku mengunci segenap abjad yang berkeliaran dalam otakku agar tak ada kalimat yang akan kurangkaikan untuk menanngagapi pernyataanya?"
"Carlo, dapatkah engkau membantuku untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuh ini?
Kasihan sekali sahabatku ini,kalimat yang terucap terkesan sangat tidak waras.(bersambung)

Minggu, 16 Mei 2010

KAMAR 21

Memang benar bahwa salju yg telah mencair tersebut akan mengalir menuju ke lautan sebab kesanalah ia harus mengalir, tetapi harus diingat bahwa ia adalah salju. Lautan tidak akan pernah bersedia menerima sosok yang akan membekukan sebagian dari dirinya".
"Bagaimana mungkin lautan begitu membenci salju yang telah mencair tersebut, bukankah salju merupakan bagian air yang berubah wujud karena proses pembekuan? Ketahuilah; lautan akan menerima salju yang telah mencair tersebut sebab telah menjadi takdir dari lautan untuk menampung segala air yang mengalir kepadanya. Bukankah lautan terbentuk dari segala air yang barsatu?" begitulah aku menanggapi pernyataan dari sahabatku.
Menyadari bahwa argumen yang dikemukannya menemukan jalan buntu maka rona wajahnya berubah menjadi merah. Ia hanya terdiam, sambil memutar-mutar sebatang rokok yang mulai hancur karena kemarahan yang timbul. ruangan yang menjadi tempat pembicaraan kami terasa begitu panas, padahal pendingin ruangan masih tetap menyala. Apa yang harus kulakukan?
Ia masih tetap terdiam, adakah abjad meninggalkan nalarnya? atau kemarahan yang menari-nari dalam nalar?
pertanyaan bodoh; tentu saja kemarahan yang sedang menggerogoti dirinya, itu berarti ia kecewa dengan kalimat-kalimat yang terucap dari bibirku.
Menurut penuturan dari beberapa rekan sekerjanya, sahabatku sangat mudah tersinggung dan selalu yakin bahwa pernyataan yang diucapkannya merupakan suatu kebenaran mutlak. Tidak segan-segan juga ia akan mempergunakan kekerasan untuk mempertahankan pernyataannya. Pernah pada suatu kesempatan pertemuan, ia melempari pemimpin rapat yang adalah pimpinannya dengan gelas kaca. Persolannya adalah pemimpin menilai bahwa pernyataannya sangat tidak menguntungkan perusahan. yah....begitulah sahabatku.
Aku sedang diliputi ketakutan yang luar biasa besar(bersambung)

Kamis, 06 Mei 2010

KAMAR 21

kami adalah sepasang kekasih yang hadir dalam waktu dan situasi yang sama
kami adalah pribadi yang lahir untuk membicarakan kisah angin timur dan angin barat
aku adalah merah dan dia adalah merah
aku adalah pagi dan dia adalah pagi.

Segalanya akan terpatri pada malam-malamku dan tidak menghilang meskipun ingatan meninggalkan aku. Dia adalah jiwa keduanya, darinya kutemukan arti dari nyanyian cemara. Aku selalu bersimpuh padanya kala suara burung hantu membuyarkan doa malamku. Padanya segala kegelisahan yang menggelayut di siang akan terhapuskan dan ia mampu memberikan keindahan pada mimpi malam. Dalam keharmonisan yang terjalin di antara kami ternyata ada badai yang bersembunyi di balik kecerahan warna pelangi. awalnya begini;
"tanggalkan penudung itu dan cabiklah cadar yang menutup wajahmu sebab aku tidak dapat melihat wajahmu meskipun cahaya begitu temaram"
"Apakah aku mengenakannya? jujur; aku tidak pernah menggunakan penudung maupun cadar untuk menutupi wajahku. Apakah hanya canda darimu untuk menyambut kehadiranku?"
Dengan kemarahan engkau berkata"sudah butakah engkau, lihatlah dirimu yang bagiku seperti para tirani". Aku hanya terdiam dan bertanya dalam hati, engkau masih melanjutkan amarahmu dengan mengatakan bahwa aku bukan lagi merah dan engkau sangat menyesal akan kenyataan ini.
"Bukankah kita adalah sepasang kekasih yang hadir dalam waktu dan situasi yang sama?"
Ia menanggapi pernyataanku "dapatkah salju yang berada di puncak gunung dapat bersatu dengan samudra?"
"Tentu saja mereka dapat bersatu;salju yang berada di puncak gunung akan mencair kemudian mengalir melalui sungai dimana salju yang telah mencair itu bergabung bersama aliran air dan mengalir menuju samudra" jawabanku atas pernyataannya memnyebabkan ia mulai berpikir. ia menatapku lekat-lekat sembari berkata"memang salju yang telah mencair tersebut akan mengalir menuju ke samudra tetapi samudra tidak menerimanya sebab salju yang telah mencair tersebut akan membekukan sebagian dari samudra". aku menyelanya"argumen dan pengandaianmu sangat lemah, aku dapat memberimu label sebagai sosok yang egois".
"jangan secepat itu menarik kesimpulan atas pernyataan seseorang,aku akan memberikanmu penjelasan yang lebih terperinci agar nalarmu mampu untuk mencerna...(bersambung)

TATANRI XI

aku mengumpat kelakuan dan perkataan kakek dalam hati.
"bagaimana aku dapat mempraktekan segala teori yang ku peroleh dari pelajaran agama dan etika yakni harus menolong sesama yang lemah. percuma saja belajar tentang etika dan moral jika harus berhadapan dengan karakter laki-laki tua bangka ini".
Aku mencoba sabar dan menilai bahwa setiap perkataan dari sang kakek hanyalah bualan. Pertemuan kami pada siang hari ini memang terkesan aneh, biasanya kakek selalu meminta bantuanku untuk menuntunnya ke sekitar kebun lavender untuk memperhatikan tanaman yang telah dirawatnya. Tetapi hari ini ia begitu membenci keberadaanku di hadapannya. Adakah yang salah dengan penampilan atau tingkahku? Mencoba untuk mencari kekurangan tersebut tetapi tidak ditemukan. penampilan dan tingkahku masih sama dengan kemarin.

Dengan langkah tuanya, ia menghampiriku. Meskipun ketuaan telah memangsa segenap raganya tetapi jiwa dan semangatnya masih tetap sama dan tak akan lekang oleh waktu yang bersamanya. Kakek yang selalu menjaga agar matahari senja tetap menunjukan keindahan ini selalu meletakan tangan kanannya di keningku ketika kami bertemu. Aku masih tetap berpikir bahwa kelakuan yang ditunjukan tadi merupakan akibat dari ketuaan. Aku tahu bahwa ia akan menyentuh kening ini. Pemikiran itu salah, malahan sebuah tamparan keras mendarat di keningku.
"kakek; ini aku yang selalu menemani kakek untuk berjalan-jalan di taman lavender" Kakek malah menjawab "ia yang selalu menemaniku untuk berjalan-jalan di taman lavender adalah orang yang selalu menebarkan aroma Edelweis."

"Jadi selama ini aku memiliki keharuman Edelweis?" kataku dalam hati. Lantas dari mana keharuman itu masuk dan berdiam di dalam raga ini? Untuk menyentuh kembang itu saja aku belum pernah apalagi berkomunikasi dan memintan keharumannya untuk berdiam dalamku. Mantan penari senja itu berkata; "engkau telah menghapus keharuman Edelweis dari tubuhmu dengan membiarkan sahabatmu pergi dalam kesendirian. Harus kau ketahui bahwa ia pergi dengan membawa serpihan-serpihan cerita kalian. Hal itu akan menyulitkan ia dalam perjalanan, dimana hantu-hantu dari kelampuan kalian akan mengambil serpihan-serpihan tersebut untuk melengkapi kisah mereka yang kalian bunuh dahulu"

Selasa, 04 Mei 2010

Dikala KetakmampuanKu Bercerita Dan Tertawa di Jalan Ini

Aku meninggalkan cerita yang kutuliskan kala pagi belum sempat membasuh wajahnya dan aku akan melakoni parade yang disuguhkan senja kala ia telah menyelesaikan tenunan untuk bidadari bernama purnama. Cerita yang kutinggalkan akan mengisi senjaku dan tiada pernah meninggalkan aku meskipun suara parau burung hantu membuyarkan doaku. Meskipun ia telah bersedia untuk selalu menemaniku pada malam yang terkadang agak membingungkan namun masih ada keterlukaan. Keterlukaan akan hadirnya, akan cerita yang tergiang di benakku,dan akan kisah yang tertawa di kesendirianku.
Tuhan ampunilah aku yang telah menyeka senyum diwajah-Mu. Engkau memintaku untuk mengairi lahan itu dengan air yang secukupnya dan memberi makan kuda-kuda putih itu dengan rumput-rumput hijau namun aku selalu melalaikannya. Maafkan aku yang tak mampu untuk menjadi pelayan-Mu yang baik. Adakah Engkau masih menungguku dan mengundangku untuk menikmati senja sambil membicarakan kisah angin timur dan angin barat? Pada tidurku Engkau berbisik Barangkali dia akan berenang di laut dangkal dimana ia mampu mendengar perbincangan karang berlumut dan dentingan nakal dari buih gelombang. atau ia akan memecah bersama gelombang di bibir pantai? Di sana ada sedih yang berjemur, di sana ada lara yang berenang namun di sana juga ada cinta yang sedang memasak untuknya. Kata ini menguatkan aku untuk melanjutkan cerita yang telah kugubah judulnya menjadi Di flamboyan jingga kau terduduk lemas sambil menatap gerhana siang yang memikul setangkai kabut. Dalam pusaran musim panas kau melukis peluh yang membasahi pelupuk sungai yang keruh oleh jeritan para perempuan gunung.
Aku tahu bahwa akan ada yang terluka karena aku mengubah judul ceritaku namun aku harus tetap tegar dan kuat untuk menghadapi setiap tangisan yang ditujukan kepada ku. Adakah hati yang menantiku dan melemparkan senyuman kala hari terasa begitu menyesakan? Masihkah diri ini terkekeh pada badai yang berkecamuk? Pertanyaan-pertanyaan ini tertambat di benakku kala aku mulai menata dan merencanakan cerita baruku. Segala upaya aku lakukan untuk mengusir ide itu dari benaku namun ketersiksaan yang berhilir-mudik dalamku. Alasan aku menata dan merencanakan cerita tersebut bukan terletak pada keenggananku untuk menuliskan cerita yang lama tetapi lebih kepada rasa dan nalar yang sudah tak mampu lagi untuk mengadakan petualangan di dunia abjad untuk merangkaikannya menjadi cerita. Pada malam aku berdoa agar ide tersebut terbang dan merana di padang sana namun ia tetap setia padaku tanpa sedikitpun meninggalkan aku. Keadaan ini menyebabkan aku dalam kenelangsaan sehingga jeritan laba-laba di sudut kamar menimbulkan kengerian. Terapi matahari juga tidak mampu untuk menghilangkan virus ganas di tubuhku.

Tuhan ampunilah aku yang telah menyeka senyum di wajahmu. Sembari membalikan pengalaman di masa lampau dimana cerita lama masih tersusun rapi dalam rasa dan nalar. Pada saat-saat seperti ini aku hendak mengantung ide dari cerita baruku namun selalu ada ruang kosong dalamku. Akhirnya harus ada pengakuan bahwa aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkan cerita lama tersebut. Ceritaku maafkan aku. Di sinipun engkau masih memintaku untuk menuliskan kisah tentang engkau bahkan di jemari malam kau bersolek untuk menarik minatku. Memang aku masih ingin melanjutkan cerita tentang mu tapi rasa dan nalarku sudah tak sanggup lagi untuk melahirkan engkau dalam bentuk kalimat. Dengan rendah hati aku atas nama rasa dan nalarku memohon maaf darimu.
Kepada rumah batu yang telah menghapus kesedihan di pelupuk mataku. Aku akan selalu mengenangmu dalam keseharian. Pada koridormu ada kebijaksanaan yang berpose, pada suara loncengmu ada kasih yang tersembul, pada riak air kolammu ada kesejukan dan kedamaian yang mengapung. Aku selalu mengenang semua itu. Tiada terik yang akan mampu melapukan engkau dariku bahkan tsunamipun tak sanggup mengambil kenangan akanmu. Aku sadar bahwa kebersamaan kita akan menjadi prasasti yang tertanam di sanubariku. Meninggalkan engkau untuk menyembulkan kisah yang baru merupakan suatu ketersiksaan sebab kita telah begitu dekat. Aku teringat ketika menapakan kaki untuk pertama kali di halamanmu, di sana engkau menungguku dan memberikan senyuman sembari berkata “kitapun berusaha menyampaikan pesan dari malaikat cahaya yang menemani engkau dalam pelukan mimpi”. Kalimat ini selalu kujaga agar sesamaku mampu menerima dan memahami pesan dari malaikat cahaya tersebut. Ketika kita telah saling mengenal engkau mengajarkan tentang seni mendengarkan mawar. Pelajaran itu akan selalu menjadi pedoman bagi ceritaku yang baru dan aku selalu mengacu padanya. Rumah batu….. “kepada cita yang engkau gantungkan padaku, pada mimpi yang kau titipkan pada malamku, dan pada angan yang kau tautkan pada senjaku. segalanya itu hanya tinggal cerita dan kisah. Maafkan aku untuk kenyataan itu.”

Dikala senja semakin merapat dan hujan masih bertengger di langit aku mendengar salah seorang sahabatku berkata “engkau menambah kelam senja ini.” Untukmu yang menuturkannya aku atas nama kisah baruku memohon maaf. Sangatlah sedih jika mendengar engkau berkata demikian. Sempat berpikir untuk meninggalkan kisah baru namun sekali lagi rasa dan nalarku tak mampu lagi untuk mengais-ngais serpihan kata kemudian membentuknya menjadi kisah lamaku. Sekali lagi aku memohon maaf. Aku sangat menghendaki kebersamaan kita, kebersamaan tanpa senyuman palsu dan aku sangat ingin menggenggam tawa bersama kalian. Bersama menarikan tarian pelangi, membaca pergerakan huruf, bersama menenun di bawah hujan, dan berjalan pada lembah tanpa hiruk pikuk peradaban. Aku pun sangat ingin untuk bercerita tentang kembang anyelir yang telintas di benak, tentang suara dari para pencari malam yang berdengung pada kicauan burung hantu, dan tentang kalian yang tiada meninggalkan aku pada musim yang begitu membingunkan namun rasa dan nalarku tak sanggup lagi. Maafkan aku para sahabatku. Namun aku tahu bahwa kita masih bersama melukis di antara getaran warna, kita menekuni setiap metafora yang bertautan dan kita mengabarkan pada anak kecil tentang petualangan para penabuh genderang yang berada di baris terdepan sebuah pertempuran dewa. Satu pintaku, jika kalian telah sampai di sana tolong kirimkan setitik cahaya agar malam tidak begirtu menyeramkan untuk dilewati karena hanya ada sebatang lilin disini dan mungkin hanya bertahan sesaat. Sahabatku, pada raga mu kutitipkan kisah lamaku, jagalah juga permata yang telah Ia sematkan kala waktu masih berantakan. Hujan telah berhenti beraktifitas namun ia masih meninggalkan bekas yang selalu mengingatkan kita padanya semoga akupun mampu meninggalkan kesan yang membuat kalian mengingatkanku. sebatang pohon yang dibasahi oleh hujan berbisik pada sepoi tentang cerita yang ditinggalkan hujan baginya. Aku tidak menghendaki wajah suram pada kalian, tataplah aku sebagai aku yang sama seperti hari kemarin.
Keheningan senja masuk melalui jendela kamarku, menemani aku yang terduduk menatap hari kemarin dan hari ini yang terbentang di depanku. Aku tahu bahwa aku telah melepaskan sebuah permata yang tersemat di dadaku. Disini, ada kalimat yang tersusun untuk hari esok dan mungkin ada permata baru yang akan disematkan di dadaku namun aku tidak akan pernah melupakan permata pertamaku. Cinta pertama akan tetap bersamaku. Mengharapkan esok masih mampu berbagi denganku. Yakinku bahwa esok akan kembali menggandeng tanganku. Kita memang berbeda dalam waktu namun kita sama dalam rasa.

Kepada sekalian yang telah menyusuiku kala aku masih balita, kepadamu hanya ada kata maaf dan terima kasih karena aku tak sanggup membalas semua jasa yang telah kau berikan padaku. Maaf juga karena aku tak mampu lagi menyanyikan kidung yang selalu kita dendangkan pada saat pelangi menampakan dirinya di antara cemara. Namun akan tetap terngiang di dalam jiwaku dan akan tetap terpartri sepanjang nafas masih bersahabat denganku. Meskipun aku tidak bernyanyi dengan kalian tetapi aku masih tetap bernyanyi ketika pelangi muncul di antara cemara. Pada saat itu kita akan bertemu dan nyanyian kita menggema di angkasa. Di angkasa sana nyanyian kita saling meleburkan dirinya kemudian membentuk suatu bintang di angkasa malam. Menurut cerita yang telah mengakar di masyarakat kampungku bahwa ribuan bintang yang bergantungan di angkasa malam merupakan penjelamaan dari setiap nyanyian yang didendangkan pada saat pelangi sedang bercerita dengan jalinan hujan yang terahkir. Keduanya saling membagi cerita perjalanan yang telah mereka tempuh, dimana hujan akan bercerita tentang takdir yang membawanya pada samudra dan pelangi akan bercerita tentang dua gunung yang saling memberikan dirinya ketika ia menghampiri mereka. Pagi tidak pernah berkeluh ketika siang mengganti kesejukannya dengan kegerahan. Lantas ia menyerahkannya dengan ketulusan sebab ia sadar bahwa siang tidak mengambilnya dengan suatu paksaan. Begitulah kalian memberikan diri untuk merawat aku. Mampukah kemanusiaanku akan menunjukan bahwa pemberian kalian tidak akan sia-sia? Pada malam yang menenun kesejukan untuk dikenakan pagi akan aku nyanyikan hymne kalian. Akan aku rajut peluh yang hilang selama kebersamaan kita kemudian membentuknya menjadi patung sebagai kenangan akan kebersamaan. Di antara malam dan pagi aku membagikan kehangatan siang yang telah kalian sematkan di dadaku.

Aku sadar bahwa kesendirian telah menunggu untuk menggandeng tanganku. Haruskah menghindar darinya? Tidak! Aku bukan seorang nelayan yang pergi melaut tanpa mempersiapkan peralatannya. Bagaimanapun juga aku telah menguasai takdir sehingga menghindar darinya merupakan pengkhianatan. Mungkin takdir hanyalah konsep yang tercipta dari orang-orang yang tidak mampu tersenyum pada kegerahan siang dan malam yang berwarna ungu. Bagiku; takdir bukanlah tuan atas diri ini tetapi kepada kehidupanlah aku harus mengabdikan diri. Hal ini tidak berarti aku menjadi budak darinya, dalam ini kami bersama-sama mengabdikan diri antara satu sama lain agar jagat yang telah dijadikan ini semakin menunjukan keindahannya. Pergi untuk melakoni parade yang disuguhkan senja kala ia telah menyelesaikan tenunan untuk bidadari bernama purnama memang bermula dari kebingungan. Ketika berserah dalam kebingungan berarti aku telah menyelesaikan adegan pertama dari parade itu. Setelah melewati adegan pertama maka alur dari parade tersebut telah menunjukan rupanya. Segala yang terlahir dari kebingungan merupakan formula untuk menciptakan keindahan yang abadi.

GADIS DENGAN BIOLA COKLAT

Tampak cerah di langit pada bulan setengah lingkar, tiada gerakan meteor yang menciptakan desahan di antara tumpukan awan. Mungkin, malam hendak memeluk para gadis yang terlambat menaiki tangga rumah namun ia berpaling kepada salah seorang gadis dengan biola coklat yang selalu berada dalam pelukannya. Jika malam memberikan sengatan kepada gadis dengan biola coklat maka bahasa hanyalah hantu dan tutur diartikan sebagai ibu tiri yang mengambil segala hak dari istri pertama sehingga anak yang ditinggalkan dilihat sebagai orang asing di tempat kelahirannya. “Adakah engkau memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Merupakan pertanyaan yang diajukan oleh malam kepada gadis dengan biola coklat. Tetapi Sang gadis tidak mampu menerima dan memahami pesan dari malam karena bahasa dan tutur merupakan momok? Gadis dengan biola coklat menatap malam untuk mencari jawaban yang diajukan oleh malam tersebut sebab rumput dan daun kering menimbulkan kegerahan pada udara yang begitu lembab. “Adakah engkau memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Hamparan lavender tak mampu berkata tentang pesan malam sebab bahasa dan tutur merupakan rongsokan.
Gadis dengan biola coklat menyusuri hutan kamboja untuk mencari sepasang kembang anggrek ungu yang dapat digunakan untuk mengartikan sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan malam. Kembang anggrek ungu diyakini memiliki kekuatan untuk membahasakan pesan dari malam karena ia adalah tanaman yang pernah menghiasi pelataran di rumah para tetua yang mengharmoniskan segala bentuk kehidupan. Namun kembang anggrek ungu terpaksa dilempar keluar dari pelataran para tetua karena ia menebarkan aroma kemuraman. Sebelum ia pergi dari pelataran, seorang tetua meneteskan air mata di atas kembangnya. Tetesan air mata dari tetua itu ternyata memiliki kekuatan untuk menerjemahkan pertanyaan dari malam ke dalam bahasa manusia. Karena pada malam itu para tetua akan menyediakan waktunya untuk mendengarkan permintaan manusia. Para tetua juga berjanji akan menjadikannya sebagai penghubung antara mereka dengan manusia asalkan manusia mempersembahkan kembangnya.
Cerita tentang kembang anggrek ungu didapatkannya dari sang ayah yang selalu menuturkan kepadanya kala malam mengenakan tudungnya. Menurut ayahnya, pada saat malam mengenakan tudungnya maka impian terbaik kita akan menjadi kenyataan. Disaat itu malam akan memberikan sebuah pertanyaan namun ia tidak akan menggunakan bahasa dan tutur yang digunakan oleh manusia. Ayahnya juga selalu berpesan bahwa ia akan mampu mendengar pertanyaan dari malam namun ia tak akan mampu untuk mengartikan dan menjawabnya. Cerita ini dituturkan oleh ayahnya sejak ia mulai mampu berkata dan mampu memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang ditujukan padanya dan terus berlanjut sampai umurnya menyentuh bias purnama senja. Cerita dan pesan ayahnya semakin diteguhkan dengan cerita dari para tetangga ketika ia menyisihkan setengah harinya untuk menunjukan keindahan biolanya. Meskipun para tetangga hanya memberikan senyuman hambar kepadanya.
Bahkan penduduk akan menyalakan api unggun di tanah lapang ketika pemimpin para sesepuh desa mengumumkan bahwa malam akan mengenakan tudungnya. Mereka juga membacakan doa dengan iringan seruling bambu. Setelah membacakan doa dan mempersembahkan sepasang kelinci putih, mereka melanjutkan dengan tarian yang dibawakan oleh para gadis. Gadis-gadis yang menarikan tarian untuk malam tidak diperkenankan untuk mengenakan pakaian. Tubuh para gadis akan ditutupi dengan kembang anggrek putih. Karena para sesepuh beranggapan bahwa kembang yang berada di pelataran para tetua adalah anggrek putih bukan anggrek ungu. Gadis dengan biola coklat turut mengambil bagian dalam upacara itu. Kehadirannya tidak pernah dihiraukan oleh penduduk. Tentu para penduduk memiliki alasan untuk tidak memperhatikan kehadirannya. Hal ini berawal ketika kakeknya yang menjabat sebagai sesepuh desa memainkan biola untuk mengiringi pembacaan doa padahal tradisi menetapkan seruling bambu sebagai satu-satunya alat musik yang digunakan untuk mengiringi pembacaan doa. Sejak saat itu para penduduk desa mulai menjauh dari keluarganya. Menurut ayahnya; sesampainya sang kakek memainkan biola pada saat pembacaan doa dikarenakan oleh pesan yang didengarnya dari kembang anggrek ungu yang mengatakan bahwa ia harus memainkan biolanya ketika doa dibacakan. Namun para penduduk menganggapnya sebagai pelecehan kepada tradisi dan menghina para tetua. Penduduk desa berkelakuan demikian karena dihasut oleh salah seorang sesepuh yang menghendaki agar tampuk kepemimpinan jatuh kepadanya dan keturunannya. Kembang anggrek putih yang digunakan untuk menetupi tubuh para penari merupakan kesepakatan para sesepuh karena kembang anggrek ungu sangat sulit ditemukan, pada waktu kakek dari gadis dengan biola coklat menjabat sebagai pemimpin para sesepuh maka kembang anggrek ungu selalu ditemukan untuk upacara tersebut. Ketika ia dilengserkan dari tampuk kepemimpinan maka kembang anggrek ungu pun menghilang. Untuk dapat mengambil hati penduduk agar tetap mempercayainya; sang pemimpin baru bersekongkol dengan para sesepuh untuk mengatakan bahwa kembang anggrek yang sesungguhnya berada di pelataran tetua adalah kembang anggrek putih. Mereka juga menyediakan lahan untuk menanam anggrek putih dan memerintahkan kepada setiap penduduk untuk menanam anggrek putih di rumah masing-masing.
Telah lima petang ia berada dalam hutan kamboja namun kembang anggrek ungu belum juga menunjukan rupanya. “Apakah aku salah?” “Tidak mungkin!” Sebab ayah selalu bercerita bahwa di hutan kamboja ini terdapat kembang anggrek ungu yang mampu mengartikan pesan dari malam. Di tengah kegundahan dan kegulauan yang berdesakan dalam nalar maka kesunyian mulai menusuk pori-pori tubuh sehingga sosok ayah akan dilihat seperti seorang calon anggota dewan yang hanya menyembulkan asap untuk meyakinkan rakyat bahwa titik-titik api akan muncul. Malam kembali mengajukan pertanyaan “adakah engkau mampu memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Gadis dengan biola coklat hanya terdiam sambil memeluk erat biolanya. Rona wajahnya tak dapat diartikan sebab terlalu banyak ekspresi yang bergantian. Sesudah perginya malam, ia bertanya pada dirinya, “mengapa aku dapat mendengar dan memahami pertanyaan dari malam padahal bahasa dan tutur tidak memiliki arti?” “Jika aku dapat mendengarnya berarti malam menggunakan bahasa dan tutur.” Mempertanyakan hal ini seperti seorang anak yang menggali lubang di pasir pantai kemudian berusaha untuk mengisi seluruh air laut ke dalam lubang tersebut atau seorang nelayan yang menebarkan jala di atas pasir pantai kemudian berharap bahwa ikan-ikan akan keluar dari lautan dan terperangkap di jala. Disini gadis dengan biola coklat memandang bahasa dan tutur yang dipergunakan dalam keseharian sangat membatasi atau memperkedil makna dari pesan yang disampaikan. Namun ia harus membayar mahal untuk pemikirannya dengan terjebak dalam labirin ciptaannya. Ia berada di alam bayangan dimana semua aktifitas dan realitas yang ditampakan oleh indra merupakan kebohongan. Di alam bayangan ia duduk sendirian, mencoba untuk memanggil roh alam untuk menuntunnya kepada anggrek ungu namun hanya kelembaban yang hadir. Semakin berusah untuk memanggil roh dari alam semakin pula ia terjebak dalam labirin dengan bahasa dan tutur sebagai latarnya.
“Bagaimana mungkin persoalan bahasa dan tutur terus mengikuti aku sampai ke alam bayangan.”
“Apakah aku salah dalam menafsirkan perkataan ayah?”
Untuk menghilangkan kelembaban dan mengusir persoalan bahasa dan tutur maka ia memainkan biola. Meskipun telah mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam bermain biola namun ia masih merasakan kelembaban.
“Mengapa aku mengikuti perintah ayah untuk menemukan kembang anggrek ungu? Ditambah dengan kenyataan bahwa bahwa bahasa dan tutur tidak memiliki makna. Padahal tanpa kembang anggrek ungu pun aku masih mampu mewujudkan impianku. Apakah aku harus menyudahi pencarian ini? Lantas, bagaimana aku dapat berkata kepada ayah? Bagiku pencarian ini merupakan kesia-siaan.” Ia berjalan menuruti langkah sembari berpikir tentang bahasa dan tutur. “Mengapa bahasa dan tutur tidak memiliki makna? Mungkin ayah melarangku untuk berkomunikasi secara langsung dengan malam atau ayah menghendaki agar aku mampu berbicara dengan malam dari hati ke hati. Tetapi bahasa dan tutur tetap memiliki peran.” Di bawah naungan kamboja tua ia membaringkan tubuh setelah letih dan kantuk menghampirinya. Dalam pelukan siang ia mampu merasakan bias cahaya matahari yang mampu menghapus kelembaban pada dirinya. Siang mengambil jiwanya kemudian membawanya ke dalam gumpalan awan. Pada kelembutan awan sosok yang menjelma dalam rupa siang bercerita ”seorang anak berumur tiga bulan dibuang oleh ayah dan ibunya ke dalam sebuah hutan yang dipenuhi dengan binatang buas. Ayah dan ibunya berharap agar binatang buas menjadikannya sebagai makanan. Memang ada seekor singa betina yang kelaparan menemukan anak tersebut namun ia tidak menjadikannya sebagai santapan. Ia mengambilnya dan menempatkannya dalam gua. Setiap hari singa itu pergi ke gua untuk memberikan susu, ia menjaga bayi itu sebagaimana anak yang dilahirkannya”.
“Mengapa engkau menggunakan bahasa dan tutur? Bukankah dalam pencarian ini bahasa dan tutur tidak memiliki arti?”
“Aku merupakan siang yang memberikan kehangatan kepada kalian. Padaku, ada malam yang terselubung dan ada harum pagi yang mampu membangunkan kalian dari mimpi malam.”
“Lantas apa hubungannya dengan malam yang mengenakan tudung dan kembang anggrek ungu?”
“Jika engkau hendak pergi untuk membajak tentu engkau terlebih dahulu menyiapkan segala keperluan dan peralatan.”
“Bagaimana bahasa dan tutur berhubungan denganmu?”
“Dapatkah engkau melayari lautan tanpa menggunakan perahu? persoalan bahasa dan tutur yang kalian pikirkan merupakan kompas yang mengarahkan engkau dan gadismu kepada tujuan. Pergilah kepada gadismu dan katakan kepadanya untuk melanjutkan pencariannya, katakan juga padanya agar selalu memainkan biolanya sebab malam maupun siang sangat merindukan kemerduan yang terlahir dari biola tersebut.”
“ Kapankah kami akan menyudahi pencarian ini?”
“Dunia yang kalian tempati tidak memiliki awal dan akhir yang dapat diketahui secara pasti maka kalian pun harus terus melanjutkan pencarian sampai gadismu mampu memainkan biolanya kala malam berwarna ungu”.

Senin, 03 Mei 2010

VIRINA

Pada suatu waktu virina pergi menemui kedua sahabat masa kecilnya yang telah berhasil menjinakan impian liar pada masa ketika mereka belum memahami secara baik tentang warna matahari yang berubah kala senja. Mungkin sekarang pun mereka masih bertanya tentang perubahan warna matahari tersebut, tetapi pertanyaan mengenai perubahan warna matahari tersebut telah mampu dijawab dengan baik. Pertemuan selalu dilakukan di pinggir sebuah sungai yang dipenuhi dengan jentik-jentik nyamuk dan orang-orang yang hanya mampu menggenggam gelas-gelas dari bahan keramik dalam mimpinya. Mereka mengadakan pertemuan ketika warna matahari senja benar-benar membangkitkan decak kagum dari orang-orang yang melihatnya, tanpa peduli dia dari status sosial apa. Dalam pertemuan itu mereka menceritakan segala hal yang berhubungan dengan perubahan warna matahari tersebut. Namun Virina tidak pernah bercerita atau berbicara mengenai perubahan warna matahari tersebut, ia hanya duduk dan mendengarkan para sahabatnya mengajukan pandangannya. Pembicaraan mengenai warna matahari tersebut sangat menggairahkan, terkadang menimbulkan bantahan dari salah satu sahabatnya jika sahabatnya yang lain mengajukan pendapat yang sangat bertentangan dengan pendapatnya. Tidak mengherankan bahwa pembicaraan atau lebih tepat jika dikatakan sebagai diskusi mereka berujung pada pertengkaran kecil sebab masing-masing orang berusaha untuk mempertahankan pendapatnya. Virina hanya tersenyum ketika menyaksikan para sahabatnya saling menunjukan jari ke wajah satu sama lain.
Orang-orang yang mendengar pembicaraan mereka akan berpikir bahwa mereka merupakan kumpulan orang gila yang berusaha untuk menggulai sungai agar dapat dijadikan minuman pada senja yang kemerahan. Bagaimana mereka dapat memahami alur pembicaraan dari Virina dan sahabat-sahabatnya jika alur pembicaraan yang muncul dalam keseharian hanya seputar air sungai yang berwarna hitam dan mengenai kumpulan plastik-plastik sampah yang berkeliaran di atas permukaan sungai. Kehadiran Virina dan para sahabatnya dianggap sebagai mahluk asing yang datang dari planet lain. Hal ini berdasarkan pakaian yang dikenakan oleh Virina dan para sahabatnya.

Kadangkala mereka secara diam-diam menguping pembicaraan itu kemudian akan menceritakan kepada masyarakat ketika malam mulai merambat di atap rumah. Mereka yang berkumpul akan mendengarkan dengan serius setiap kata yang terucap dari mulut si penguping. Setelah menyelesaikan ceritanya maka ia mengajak para pendengar untuk mendiskusikan cerita tersebut. Setiap orang yang hadir seakan-akan bertingkah layaknya para mahasiswa semester satu jurusan filsafat yang sedang berdiskusi tentang sejarah filsafat Yunani kuno meskipun hanya sebatas pada mengagumi para filsuf. Pembicaran yang terjadi tidak pernah menyentuh inti cerita, biasanya mereka akan memanggil seorang peramal untuk menjelaskan arti yang tersembunyi dari cerita tersebut. Namun ia pun hanya mampu mengatakan bahwa orang-orang yang selalu berkumpul itu merupakan hantu-hantu yang tidak mendapat tempat di alamnya sehingga mereka selalu berkumpul di pinggir sungai untuk merencanakan agar sungai tersebut dapat dijadikan tempat tinggal. Maka ia mengajak semua penduduk untuk melengkapi diri dengan air yang akan ia berikan.
“Tetapi kita tidak perlu meresahkan kehadiran mereka sebab air yang akan kuberikan merupakan perpaduan dari sembilan mata air yang mengalir di sembilan gunung. Dengan air itu mereka tidak mampu untuk merasuki kalian sehingga mereka akan semakin merasakan penderitaan”. Pembicaraan ini berahkir ketika kayu-kayu bakar telah habis dilalap oleh api.

Pada matahari yang berwarna kemerahan dengan kabut tipis yang naik dari sungai Virina dan para sahabatnya hanya mampu untuk menatapanya sambil berpikir keras untuk memecahkan persoalan tentang perubahan warna matahari tersebut. Cukup lama membenamkan diri dalam kebisuan maka Virina mengajak para sahabatnya untuk membicarakan segala kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Ketika mendengar ajakan Virina untuk menceritakan kegiatan sehari-hari maka mereka kembali bergairah. Salah seorang sahabatnya yang berwajah agak ke-indoan dengan mata oval bercerita tentang hari-hari yang dilewatinya dengan memainkan piano. Namun pembicarannya dipotong oleh sahabatnya yang berkata dengan memaksakan intonasi suaranya agar terdengar lebih mempesona dan menimbulkan kesan bahwa ia keturunan dari kaum penemu peradaban.

“Saya melewati keseharian diantara harum kamboja, bagiku tidak ada keharuman lain yang melebihi keharumannya. Kamboja merupakan tanaman yang merelakan dirinya untuk meninggalkan dunia kembang untuk menyelamatkan saudaranya yakni edelweis yang dilahirkan ketika bulan berseteru dengan matahari. Perseteruan ini mengakibatkan bulan harus merelakan dirinya untuk menyinari jagat dengan sinar yang muncul hanya sebagian dari waktu ke waktu dan pada akhirnya membenamkan diri dalam pelukan matahari”.
Sahabatnya yang selalu berkutat dengan piano menyelanya; bagaimana mungkin perubahan warna matahari disebabkan oleh perseteruan di antara bulan dan matahari?

“Sahabatku janganlah terlalu membiarkan dirimu untuk beristirahat ketika cahaya matahari tepat di atas ubun-ubun kepala. Engkau harus mengetahui bahwa cerita yang kau utarakan itu adalah perpaduan antara cerita dari nenek moyang dengan khayalan siangmu. Maka aku akan mengatakan padamu cerita yang sesungguhnya tentang perubahan warna matahari senja. Ketika para petinggi langit sedang duduk menikmati perjamuan, mereka mendengar suara piano yang dimainkan oleh salah seorang anak manusia. Nada-nada yang dihasilkan oleh anak itu begitu menambah gairah makan dari para petinggi langit sehingga hidangan yang biasanya tidak dapat dihabiskan mampu mereka habiskan. Namun dentingan piano itu tidak mampu didengar dengan baik. Hal ini dikarenakan oleh matahari menyerap semua nada yang dihasilkan oleh piano tersebut. Kelakuan matahari ini dinilai sebagai sebuah penghianatan sehingga mereka mengutuknya untuk tidak setia kepada salah satu warna. Bagiku kutukan ini merupakan berkat bagi matahari sebab keindahan akan semakin menampakan wajahnya dan menempatkan warnanya sebagai salah satu keindahan yang tak akan lekang oleh waktu. Lihatlah aku yang mengabdikan seluruh hidupku untuk bermain piano agar matahari semakin menyerap alaunan musik yang kuhasilkan. Dengan demikian para petinggi langit semakin mengutuknya”.
Virina kembali tersenyum karena tingkah dari kedua sahabatnya yang mengembalikan topik pembicaran kepada persoalan warna matahari. Lantas ia berjalan menyusuri pinggiran sungai sembari melemparkan bebatuan ke tengah sungai yang menimbulkan riak-riak kecil di atas permukaan air. Kedua sahabatnya masih melanjutkan perdebatan sehingga kepergiannya tidak dihiraukan.
“Mengapa mereka selalu mempermasalahkan warna matahari senja?”
“Pembicaraan merekapun terkesan sangat dangkal dan jauh dari kesan intelektual”.
“Apakah mereka terlahir dengan keterbatasan pemikiran?”
“Sepertinya tidak!”
“Sebab mereka terlahir dengan mata malaikat dan keharuman mawar selalu setia menyertai pertumbuhan mereka”.
“Lantas apa yang salah dengan pertumbuhan mereka?”
“Pada masa ketika warna matahari masih dilihat dengan decak kagum tanpa menimbulkan pertanyaan atasnya, mereka tidak pernah terlibat dalam pembicaraan sedemikian bodoh. Malahan mereka akan mengambil kanvas untuk melukiskan keindahan matahari senja tersebut. Sepertinya aku harus menyadarkan kedua sahabat itu tentang kesalahan yang telah mereka lakukan”.
“Apakah mereka akan mendengarkan suara dari orang yang hanya menikmati nasi jagung ini?”
Suara anak-anak yang bermain di sekitar aliran sungai menyadarkan Virina bahwa ia telah melangkah cukup dari kedua sahabatnya. Dari kejauhan ia menatap kedangkalan pikiran sahabat-sahabatnya.

Senja telah mengundurkan diri dari pandangan mata ketika Virina tiba di tempat kedua sahabatnya. Mereka masih tenggelam dalam perdebatan seakan-akan persoalan itu harus terselesaikan jika tidak akan menimbulkan mimpi buruk kala malam menempatkan mereka dalam pelukannya. Tanpa berbasa-basi Virina menarik kedua tangan sahabatnya dan mengajak mereka untuk meninggalkan segala perdebatan itu. Saat melangkahkan kaki di atas rumput kering para penduduk mengikuti gerak langkah mereka layaknya para pengintai yang hendak mengetahui tentang keadaan sebuah desa sebelum mengadakan penyerangan. Sekembalinya Virina dan kedua sahabatnya maka para penduduk mengucapkan terima kasih kepada sang peramal yang telah membebaskan mereka dari genggaman hantu-hantu yang kesepian. Virina duduk di kamarnya sembari memikirkan pembicaraan dari kedua sahabatnya. Menurutnya perdebatan dan cerita dari kedua sahabatnya merupakan akibat dari kekaguman mereka terhadap pekerjaan yang digeluti. Ia berkata kepada dirinya bahwa perubahan warna matahari senja diakibatkan oleh tumbuhan yang telah lelah untuk mencari persedian air bagi dirinya sehingga mencoba untuk mengambil cadangan air yang terdapat dalam pusat matahari. Karena matahari tak sanggup untuk bertahan dari gempuran ribuan tumbuhan maka ia akan bersedih ketika mencapai senja. Virina akhirnya puas dengan jawabannya dan menganggap kedua sahabatnya sebagai manusia yang hanya mampu bercerita tentang khayalannya.

MAHLUK SEGITIGA

(diambil dari Intro, edisi XI/November 2009)

misteri kerikil tajam akan berlanjut
sosok dalam keremangan senja dalam kerapuhan
sedangkan para wanita dan gadis serta perempuan bergandengan sepanjang korodor
entah suatu prahara sedang mengawasi dari kejauhan
dan menunggu waktu untuk mengagetkan lamunannya
mahluk bernama segitiga duduk di antara cahaya dan keremangan malam
terkadang menjadi wanita tuk melayani suami
terkadang menjelma menjadi gadis tukmendapatkan pria pujaan
terkadang pula menjadi ibu untuk menyusui anaknya

pilihan memaksakan diri tuk berbicara
dikatakannya aku pergi dengan diri dirantai, dirajam, dan dibohongi
atau.....
aku tetap disini tuk menyaksikan engkau membasuhi tubuh dengan secangkr nektar
memberikan tatapn para penjudi yang pulang dengan hantu kekosongan
bias kebingungan dan kenelangsaan ada dan bersamanya
segitiga tak bernama memberikan ucapan selamat atas kepalsuan
kebisuan dan kebisuan tersenyum bahkan menertawakan kenelangsaannya

selepas subuh jemari-jemari isthar menyuguhkan kekosongan
tampak pada kedua bola matamu jemarinya telah menguasai engkau

menggerutu akan misteri kerikil tajam
misteri tetap misteri meskipun engkau mendesainnya

langkah gontai mahluk segitiga berjalan dalam lingkaran misteri keriki tajam
mengais puing-puing lara pada jalanan
bersimpuh dengan lirih yang mencekam nadi
aliran darahmu tersendat pada sudut rasa

entah merenung
entah menangisi jalanan
entah mengutuki mimpi
tiada yang tahu akanmu

bukankah kemarin masih tersisah tawa

siapa yang bertanggung jawab
sedangakn dia telah mati menurut perhitungan hari

elegi terlalu tua untuk diperdengarkan
prahara enggan menunjukan dirinya
engkau tetap berdiri di antara misteri kerikil tajam dan prahara

MERAH BUKANLAH WARNA

(diambil dari majalah intro, edisi XI/November 2009)

cukup bijak engkau menerawang ke dalam mayapada
bertudung jiwa alam yang kau semaikan pada musim yang masih balita
iringan lembah memanggil derai cemara
sementara duka bidadari belum terhapuskan

menyemaikan benih kala malam belum terlelap
berhembuslah getah-getah kamboja
menghempaskan kesadaran akan tangisan anak sungai

merah merona di pelupuk sungai dan mengalir pada musim gugur

menghdirkan tangisan untuk alam
terkekeh atas kesenduan yang kau ciptakan
melemparakan bayi di ranjang kesendirian
membiarkan gagak menjadi raja

apakah engkau dilahirkan dari waktu yang berantakan
mengapa kau kawinkan peluh dengan air mata
kau hadirkan luka bagi pandai besi
pada lingkaran bara engkau memaksanya
menuliksan naskah bagi ritual kematian
dan
engkau melukis di awan berkabut

JALINAN BATU

terduduk di tangga batu berlumut
sembari mengusap keletihan yang mengurungi raga
dan
kau menatap dalam bisu panjang
entah, jemari jangkrik yang mencekram
entah, tawa pemulung yang tertambat di selamu
antah, apalagi yang membisukanmu

jujur dariku
engkau masih tergelatak bisu
adakah tetumbuhan di nadirmu berkisah
adakah rembes hujan bertutur
atau
engkau mengabaikannya
bisumu melahirkan tanya
diammu menorehkan bingung

dan kau
masih terjalin dalam haru
dan kau
masih tertambat pada tanya

DI ANTARA CAHAYA

mereguk engkau dalam bias
menanyakan keributanmu di sekitar jendela
namun
tiada engkau menunggu
haruskah ku jabik keberduan agar engkau tersembul

sampul buku harian telah tersulut bara
menjadi abu yang diterbangkan angin
namun
kau masih tercatat sebagai kalimat
yang terseret oleh tinta

PENDAR BERANTARA

luka-luka selalu kembali mnerias diri
dentingan garpu selalu memenuhi rahim ruangan
dan
ada pendfar berotasi pada lembab malam
lusuh yang berbaur
suar tertambat dikeheningan

demi bias yang berserakan
demi pendar yang bersahutan
demi suatu antara

kau harus tampak di sejumput rasa
memang
kau bertaut pada antara
bukan untuk
hanya
demi pendar berantara

TANYA RIAK

sungguh aneh buih-buih di pesisir
menghempaskan sampah dari seberang
anak-anak memungutnya untuk mainan
tetau memilahnya untuk dijadikan sesajen

deru pasang menceritakan elegi karang
yang tertambat di palung
adakah gaung kerang menyertakan nyanyian plankton

riak bertandakan apa
di atas warna keruh
ada riak yang tersangkut
oh.....
riak harus dipertanyakan