Sabtu, 29 Mei 2010

MEMELUK KEBINGUNGAN (Part 2)

Sangat membingungkan ketika berhadapan dengan Duran. Hendak pergi dari hadapannya agar dapat terbebas dari pembicaraan. Tentu sangat tidak mungkin. Sesampainya aku melangkah kaki dari tempat ini berarti secara tidak langsung membenarkan dugaannya tentang kesusahan yang sedang meliputi hari-hariku.

Yah….hari yang sangat memberatkan.

“apakah harus mengungkapkan kejujuran dihadapannya? Hal ini tentu mengkhianati perjanjian yang telah disepakati bersama para pemimpin desa. Sesampainya para pemimpin desa mengetahuinya, bisa berakibat fatal terhadap keberadaanku. Sudah pasti, kebun jagung menjadi milik mereka sepenuhnya."keluhku dalam hati tetapi ia masih tetap mengawasi setiap gerak-gerik yang muncul padaku. Tentu kebohongan tidak memainkan perannya. Ditengah kekalutan, ia membentakku;
"Daren; jangan berpura-pura di hadapanku. Meskipun mulutmu berkata tidak tetapi kedua bola matamu tidak dapat dipaksa oleh pikiran untuk mengikuti kalimat yang terucap dari mulutmu."

Aku terpaksa harus berkata jujur tentang segala kejadian yang menghampiriku beberapa hari lalu; "Sebelum aku memberikan penjelasan kepadamu, tolong berikan anggukan kepala terhadap permintaan yang kutawarkan. maaf....ini bukan permintaan tetapi perjanjian agar lebih mengikat." Tanpa berpikir panjang Duran segera menganggukan kepala sebagai tanda setuju terhadap perjanjian yang akan kami buat. aku kembali melanjutkan;" beberapa hari yang lalu, aku terpaksa menyerahkan kebun jagung kepada para pemimpin desa karena ketidak sanggupan membayar pajak. Sebelum penyerahan kami mengadakan perjanjian agar setiap pihak wajib menjaga rahasia ini. jika salah satu dari kami membocorkannya maka akan dikenakan sanksi. Seandainya saya mengatakan perjanjjian ini kepada pihak ketiga maka kebun itu menjadi milik mereka sepenuhnya ditambah dengan denda. Seandainya mereka yang membocorkannya maka kebun itu dikembalikan kepadaku dan kebebasan dalam membayar pajak selama satu tahun penuh." Aku tidak sempat menyelesaikan kalimat sebab ia memotong pembicaraan" burung-burung di udara tidak pernah menabur tetapi tak seekorpun yang mati kelaparan."

2 komentar:

reni mengatakan...

Ada baiknya di atas kotak komentar ini ditambahkan tulisan :
Bagi sobat yg ingin meninggalkan komentar mohon utk tekan tab berulang kali hingga kotak verifikasi kata muncul dan tekan tab berulang kali juga hingga tulisan "poskan komentar" muncul.

Karena.. mungkin tak banyak yg bisa komentar disini karena kesulitan 'menemukan' tulisan "poskan komentar" setelah mengetik verifikasi kata.

ronneycerita mengatakan...

terima kasih atas saran yang diberikan. akan diperhatikan pada kesempatan-kesempatan mendatang.