Senin, 17 Mei 2010

KAMAR 21

Ketakutan yang begitu langka sebab sangat jarang aku mengalami ketakutan seperti ini. Dia yang berhadapan denganku seakan menjelma sebagai malaikat penjemput yang hadir untuk membawaku kepada kekosongan.
"bagaimana menyikapi persoalan ini?" gerutuku dalam hati.
Pada malam yang menggantung rendah, pada bising yang terdengar di sekitar jendela kamar,dan pada gesekan dahan cemara. Sudilah kalian menyikapi keadaan yang bergemuruh di sekitar kami.
"Car, dapatkah engkau memberiku segelas air?" aku tersentak kaget mendengar kalimat memelas yang terucap dari mulutnya. ia memintaku untuk mengambilkan segelas air untuknya? apakah aku tidak salah dengar?
Tanpa berbasa-basi, aku segera mengambilkan segelas air untuknya. Setelah menerima dan meminum air tesebut iapun mengucapkan terima kasih kepadaku. Namun ekspresi wajahnya tetap menyiratkan kemarahan yang mendalam.
"Apakah aku mengambil lagi segelas air untukmu?"
"cukup satu gelas air. jika aku memintamu untuk menambahkan satu lagi gelas air berarti aku sedang dirundung oleh rasa dahaga."
Aku kembali dihadapkan pada persoalan sebab pernyataan yang diucapkannya merupakan bukti dari kemarahan yang meliputinya.
"haruskah aku mengunci segenap abjad yang berkeliaran dalam otakku agar tak ada kalimat yang akan kurangkaikan untuk menanngagapi pernyataanya?"
"Carlo, dapatkah engkau membantuku untuk melepaskan ikatan yang melilit di tubuh ini?
Kasihan sekali sahabatku ini,kalimat yang terucap terkesan sangat tidak waras.(bersambung)

Tidak ada komentar: