Selasa, 04 Mei 2010

GADIS DENGAN BIOLA COKLAT

Tampak cerah di langit pada bulan setengah lingkar, tiada gerakan meteor yang menciptakan desahan di antara tumpukan awan. Mungkin, malam hendak memeluk para gadis yang terlambat menaiki tangga rumah namun ia berpaling kepada salah seorang gadis dengan biola coklat yang selalu berada dalam pelukannya. Jika malam memberikan sengatan kepada gadis dengan biola coklat maka bahasa hanyalah hantu dan tutur diartikan sebagai ibu tiri yang mengambil segala hak dari istri pertama sehingga anak yang ditinggalkan dilihat sebagai orang asing di tempat kelahirannya. “Adakah engkau memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Merupakan pertanyaan yang diajukan oleh malam kepada gadis dengan biola coklat. Tetapi Sang gadis tidak mampu menerima dan memahami pesan dari malam karena bahasa dan tutur merupakan momok? Gadis dengan biola coklat menatap malam untuk mencari jawaban yang diajukan oleh malam tersebut sebab rumput dan daun kering menimbulkan kegerahan pada udara yang begitu lembab. “Adakah engkau memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Hamparan lavender tak mampu berkata tentang pesan malam sebab bahasa dan tutur merupakan rongsokan.
Gadis dengan biola coklat menyusuri hutan kamboja untuk mencari sepasang kembang anggrek ungu yang dapat digunakan untuk mengartikan sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan malam. Kembang anggrek ungu diyakini memiliki kekuatan untuk membahasakan pesan dari malam karena ia adalah tanaman yang pernah menghiasi pelataran di rumah para tetua yang mengharmoniskan segala bentuk kehidupan. Namun kembang anggrek ungu terpaksa dilempar keluar dari pelataran para tetua karena ia menebarkan aroma kemuraman. Sebelum ia pergi dari pelataran, seorang tetua meneteskan air mata di atas kembangnya. Tetesan air mata dari tetua itu ternyata memiliki kekuatan untuk menerjemahkan pertanyaan dari malam ke dalam bahasa manusia. Karena pada malam itu para tetua akan menyediakan waktunya untuk mendengarkan permintaan manusia. Para tetua juga berjanji akan menjadikannya sebagai penghubung antara mereka dengan manusia asalkan manusia mempersembahkan kembangnya.
Cerita tentang kembang anggrek ungu didapatkannya dari sang ayah yang selalu menuturkan kepadanya kala malam mengenakan tudungnya. Menurut ayahnya, pada saat malam mengenakan tudungnya maka impian terbaik kita akan menjadi kenyataan. Disaat itu malam akan memberikan sebuah pertanyaan namun ia tidak akan menggunakan bahasa dan tutur yang digunakan oleh manusia. Ayahnya juga selalu berpesan bahwa ia akan mampu mendengar pertanyaan dari malam namun ia tak akan mampu untuk mengartikan dan menjawabnya. Cerita ini dituturkan oleh ayahnya sejak ia mulai mampu berkata dan mampu memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang ditujukan padanya dan terus berlanjut sampai umurnya menyentuh bias purnama senja. Cerita dan pesan ayahnya semakin diteguhkan dengan cerita dari para tetangga ketika ia menyisihkan setengah harinya untuk menunjukan keindahan biolanya. Meskipun para tetangga hanya memberikan senyuman hambar kepadanya.
Bahkan penduduk akan menyalakan api unggun di tanah lapang ketika pemimpin para sesepuh desa mengumumkan bahwa malam akan mengenakan tudungnya. Mereka juga membacakan doa dengan iringan seruling bambu. Setelah membacakan doa dan mempersembahkan sepasang kelinci putih, mereka melanjutkan dengan tarian yang dibawakan oleh para gadis. Gadis-gadis yang menarikan tarian untuk malam tidak diperkenankan untuk mengenakan pakaian. Tubuh para gadis akan ditutupi dengan kembang anggrek putih. Karena para sesepuh beranggapan bahwa kembang yang berada di pelataran para tetua adalah anggrek putih bukan anggrek ungu. Gadis dengan biola coklat turut mengambil bagian dalam upacara itu. Kehadirannya tidak pernah dihiraukan oleh penduduk. Tentu para penduduk memiliki alasan untuk tidak memperhatikan kehadirannya. Hal ini berawal ketika kakeknya yang menjabat sebagai sesepuh desa memainkan biola untuk mengiringi pembacaan doa padahal tradisi menetapkan seruling bambu sebagai satu-satunya alat musik yang digunakan untuk mengiringi pembacaan doa. Sejak saat itu para penduduk desa mulai menjauh dari keluarganya. Menurut ayahnya; sesampainya sang kakek memainkan biola pada saat pembacaan doa dikarenakan oleh pesan yang didengarnya dari kembang anggrek ungu yang mengatakan bahwa ia harus memainkan biolanya ketika doa dibacakan. Namun para penduduk menganggapnya sebagai pelecehan kepada tradisi dan menghina para tetua. Penduduk desa berkelakuan demikian karena dihasut oleh salah seorang sesepuh yang menghendaki agar tampuk kepemimpinan jatuh kepadanya dan keturunannya. Kembang anggrek putih yang digunakan untuk menetupi tubuh para penari merupakan kesepakatan para sesepuh karena kembang anggrek ungu sangat sulit ditemukan, pada waktu kakek dari gadis dengan biola coklat menjabat sebagai pemimpin para sesepuh maka kembang anggrek ungu selalu ditemukan untuk upacara tersebut. Ketika ia dilengserkan dari tampuk kepemimpinan maka kembang anggrek ungu pun menghilang. Untuk dapat mengambil hati penduduk agar tetap mempercayainya; sang pemimpin baru bersekongkol dengan para sesepuh untuk mengatakan bahwa kembang anggrek yang sesungguhnya berada di pelataran tetua adalah kembang anggrek putih. Mereka juga menyediakan lahan untuk menanam anggrek putih dan memerintahkan kepada setiap penduduk untuk menanam anggrek putih di rumah masing-masing.
Telah lima petang ia berada dalam hutan kamboja namun kembang anggrek ungu belum juga menunjukan rupanya. “Apakah aku salah?” “Tidak mungkin!” Sebab ayah selalu bercerita bahwa di hutan kamboja ini terdapat kembang anggrek ungu yang mampu mengartikan pesan dari malam. Di tengah kegundahan dan kegulauan yang berdesakan dalam nalar maka kesunyian mulai menusuk pori-pori tubuh sehingga sosok ayah akan dilihat seperti seorang calon anggota dewan yang hanya menyembulkan asap untuk meyakinkan rakyat bahwa titik-titik api akan muncul. Malam kembali mengajukan pertanyaan “adakah engkau mampu memainkan biola ketika malam berwarna ungu?” Gadis dengan biola coklat hanya terdiam sambil memeluk erat biolanya. Rona wajahnya tak dapat diartikan sebab terlalu banyak ekspresi yang bergantian. Sesudah perginya malam, ia bertanya pada dirinya, “mengapa aku dapat mendengar dan memahami pertanyaan dari malam padahal bahasa dan tutur tidak memiliki arti?” “Jika aku dapat mendengarnya berarti malam menggunakan bahasa dan tutur.” Mempertanyakan hal ini seperti seorang anak yang menggali lubang di pasir pantai kemudian berusaha untuk mengisi seluruh air laut ke dalam lubang tersebut atau seorang nelayan yang menebarkan jala di atas pasir pantai kemudian berharap bahwa ikan-ikan akan keluar dari lautan dan terperangkap di jala. Disini gadis dengan biola coklat memandang bahasa dan tutur yang dipergunakan dalam keseharian sangat membatasi atau memperkedil makna dari pesan yang disampaikan. Namun ia harus membayar mahal untuk pemikirannya dengan terjebak dalam labirin ciptaannya. Ia berada di alam bayangan dimana semua aktifitas dan realitas yang ditampakan oleh indra merupakan kebohongan. Di alam bayangan ia duduk sendirian, mencoba untuk memanggil roh alam untuk menuntunnya kepada anggrek ungu namun hanya kelembaban yang hadir. Semakin berusah untuk memanggil roh dari alam semakin pula ia terjebak dalam labirin dengan bahasa dan tutur sebagai latarnya.
“Bagaimana mungkin persoalan bahasa dan tutur terus mengikuti aku sampai ke alam bayangan.”
“Apakah aku salah dalam menafsirkan perkataan ayah?”
Untuk menghilangkan kelembaban dan mengusir persoalan bahasa dan tutur maka ia memainkan biola. Meskipun telah mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam bermain biola namun ia masih merasakan kelembaban.
“Mengapa aku mengikuti perintah ayah untuk menemukan kembang anggrek ungu? Ditambah dengan kenyataan bahwa bahwa bahasa dan tutur tidak memiliki makna. Padahal tanpa kembang anggrek ungu pun aku masih mampu mewujudkan impianku. Apakah aku harus menyudahi pencarian ini? Lantas, bagaimana aku dapat berkata kepada ayah? Bagiku pencarian ini merupakan kesia-siaan.” Ia berjalan menuruti langkah sembari berpikir tentang bahasa dan tutur. “Mengapa bahasa dan tutur tidak memiliki makna? Mungkin ayah melarangku untuk berkomunikasi secara langsung dengan malam atau ayah menghendaki agar aku mampu berbicara dengan malam dari hati ke hati. Tetapi bahasa dan tutur tetap memiliki peran.” Di bawah naungan kamboja tua ia membaringkan tubuh setelah letih dan kantuk menghampirinya. Dalam pelukan siang ia mampu merasakan bias cahaya matahari yang mampu menghapus kelembaban pada dirinya. Siang mengambil jiwanya kemudian membawanya ke dalam gumpalan awan. Pada kelembutan awan sosok yang menjelma dalam rupa siang bercerita ”seorang anak berumur tiga bulan dibuang oleh ayah dan ibunya ke dalam sebuah hutan yang dipenuhi dengan binatang buas. Ayah dan ibunya berharap agar binatang buas menjadikannya sebagai makanan. Memang ada seekor singa betina yang kelaparan menemukan anak tersebut namun ia tidak menjadikannya sebagai santapan. Ia mengambilnya dan menempatkannya dalam gua. Setiap hari singa itu pergi ke gua untuk memberikan susu, ia menjaga bayi itu sebagaimana anak yang dilahirkannya”.
“Mengapa engkau menggunakan bahasa dan tutur? Bukankah dalam pencarian ini bahasa dan tutur tidak memiliki arti?”
“Aku merupakan siang yang memberikan kehangatan kepada kalian. Padaku, ada malam yang terselubung dan ada harum pagi yang mampu membangunkan kalian dari mimpi malam.”
“Lantas apa hubungannya dengan malam yang mengenakan tudung dan kembang anggrek ungu?”
“Jika engkau hendak pergi untuk membajak tentu engkau terlebih dahulu menyiapkan segala keperluan dan peralatan.”
“Bagaimana bahasa dan tutur berhubungan denganmu?”
“Dapatkah engkau melayari lautan tanpa menggunakan perahu? persoalan bahasa dan tutur yang kalian pikirkan merupakan kompas yang mengarahkan engkau dan gadismu kepada tujuan. Pergilah kepada gadismu dan katakan kepadanya untuk melanjutkan pencariannya, katakan juga padanya agar selalu memainkan biolanya sebab malam maupun siang sangat merindukan kemerduan yang terlahir dari biola tersebut.”
“ Kapankah kami akan menyudahi pencarian ini?”
“Dunia yang kalian tempati tidak memiliki awal dan akhir yang dapat diketahui secara pasti maka kalian pun harus terus melanjutkan pencarian sampai gadismu mampu memainkan biolanya kala malam berwarna ungu”.

1 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

met malam. mau liat ikannya