Jumat, 09 April 2010

TATANRI

I
Angin musim hujan mampu meluluhlantakan sistem pertahanan raga yang hanya dibaluti pakaian tipis dengan sobekan dimana-mana. Keadaan raga begitu terpuruk sehingga gemerisik api di tungku menambah derita raga ini. Angin musim hujan masih berkeliaran tanpa tujuan yang pasti dan membawa semua benda yang dijumpai. Dalam balutan yang dihadiakan ayah untuk mengenang hari kehadiranku yang ke 15, kenangan hari itu begitu mengendap dalam ingatan sehingga mampu berubah wujud dari bayangan yang hanya tertangkap oleh penglihatan menjadi daya yang menggerakan realitasku. Pada mulanya aku melihatnya sebagai dekorasi sehingga senyum dan rasa bangga merupakan aktor utama untuk memerankan lakon dari drama yang disusun oleh pikiran. Keduanya tidak membutuhkan pemeran pendukung sebab mereka dapat berperan sendiri dan lakon itupun hanya dikhususkan untuk berdua. Keadaan ini mirip dengan lakon monolog di musim kemarau, dimana sang sutradara ingin mengutamakan kesan padang gurun dan bukit batu. Apakah lakon monolog selalu menciptakan kesan padang gurun dan bukit batu? Mungkin aku mulai berantakan. Sebaiknya aku memusatkan perhatianku pada raga karena ia sangat membutuhkan aku untuk melewatkan malam bersamanya.
Keadaan ragaku memang agak meresahkan dengan tulang-tulang yang lemah, ditambah lagi dengan rasa sakit yang menjalar di sekitar dadaku. Pada kondisi seperti ini aku harus menuruti semua keinginan dari raga agar persahabatan yang telah membantuku untuk mengecap rasa makanan tidak akan pergi. Bersamanya untuk melewatkan malam dengan kedinginan musim hujan memang sangat membosankan tetapi aku harus tetap kuat untuk melewatinya. Pada pertengahan malam raga mulai berkata dengan suara lirih, ia mengucapkan kalimat yang hampir tidak dapat dicerna oleh nalar. Adakah sosok lain yang menyusup pada kegelapan malam agar aku mampu berbicara dengannya?

Tidak ada komentar: