Sabtu, 03 Desember 2011

BERTATAPAN


Tidak ada kata yang terucap dari bibir kami
Aku tiba di depan rumah kelahiran ketika siang memberikan kesunyian baginya. Tidak ada sambutan di pintu depan sebab pintu depan berada dalam keadaan tertutup dan tidak terdengar bias-bias suara yang dibawa oleh angin ke dalam gendang telingaku. “Mungkin para penghuni sedang memberikan kesendirian bagi rumah berdinding kayu ini.” Begitulah kesimpulan yang dapat diberikan oleh pikiran ketika menyaksikan kesendirian dari rumah tersebut. Jika demikian kami mengalami nasib yang sama. Aku juga berada dalam kesendirian. Apakah ini kebetulan yang telah direncanakan oleh sang waktu? Bahwa kebetulan yang terjadi tetap memiliki perbedaan di antara kami. Kesendirian yang bergelayut di sekitarku masih dapat dirasakan dan disadari. Sedangkan rumah ini tidak memiliki kesadaran dan perasaan sedikit pun mengenai keadaannya. Jadi aku agak sedikit berbangga diri dan berlagak sombong terhadapnya. Sikap bangga dan sombong memang layak untuk ditunjukan terhadapnya. Akan menjadi aneh jika aku menunjukan sikap rendah hati di hadapannya atau tidak mengakui bahwa aku sadar akan keberadaan ku.
Aku melepaskan tas pakaian di halaman rumah dan membaringkan tubuh di atas rerumputan kuning yang jarak antara satu rumput dengan rumput lainnya kira-kira tiga puluh centimeter. Segera aku memejamkan mata untuk melepaskan penat sebagai akibat dari perjalanan sulit yang baru saja kutempuh dengan sebuah truk kayu. Tubuh dihadapkan dengan kenyataan yang sangat asing, ia harus berusaha untuk menjaga keseimbangan ketika truk kayu harus miring ke kiri dan ke kanan. Tubuh yang selama ini hanya bersentuhan dengan aktifitas pikiran harus menyesuaikan diri secara cepat dengan tuntutan lingkungan yang memandang aktifitas pikiran sebagai mahluk yang datang dari planet lain. Berhadapan dengan keadaan ini tubuh tubuh berusaha semampunya untuk memberikan kenyamanan pada dirinya. Sehingga ia harus merasakan kepenatan dan kelelahan yang akhirnya memberikan penderitaan padanya. Ia dipertemukan dengan mimpi-mimpi yang selalu hadir ketika siang menghempaskan dirinya di atas tempat tidur.
Di atas rerumputan kuning tubuh hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan, jika kematian menghampirinya maka dengan senang hati ia memeluknya agar ketersiksaan padanya dapat dilampaui. Baru saja memasuki dunia fiksi, tubuhku dikejutkan oleh suara yang begitu berat. Dengan segera kutinggalkan dunia fiksi dan membelalakan mata agar dapat mengenali wajah dari pemilik suara tersebut. Ketika indra penglihatan saling beradu maka tidak ada kata ataupun kalimat yang terujar sebab kesunyian masih berkeliaran di sekitar rerumputan kuning ini.
Hanya bahasa yang terucap lewat pandangan. Bahasa yang tidak diciptakan dari keduapuluh enam abjad, suatu bahasa yang hanya dipahami oleh jiwa. Pandangan yang berkalimat dan berkomunikasi dengan leluasa bahkan melampaui kesadaran pikiran dalam membentuk keduapuluh enam abjad menjadi sebuah kalimat. Sulit untuk memberikan penjelasan mengenai peristiwa ini sebab pikiran tidak dapat menciptakan sebuah kalimat dari keduapuluh enam abjad. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesunyian yang tidak mengizinkan keduapuluh abjad untuk berpartisipasi dalam peristiwa ini. Dalam kurun waktu satu menit aku tidak dapat mencegah indra penglihatan untuk berkuasa atas indra-indra lainya. Bahkan kepenatan yang dirasakan oleh beberapa indra lainya segera hilang. Kenyataan ini jika dibahasakan dalam keduapuluh enam abjad maka dapat dinamakan dengan kebahagiaan atau keheranan atau kekagetan. Namun kesimpulan yang diberikan oleh keduapuluh enam abjad di atas tidak dapat memberikan penjelasan sepenuhnya kepada aktifitas yang sedang dihadapi oleh indra penglihatan.
Tiba-tiba kesunyian menarik dirinya sehingga indra penglihatanku mengalami gangguan. Dari kedua sudut mata bagian dalam mulai mengalir air mata yang keluar tanpa diperintahkan oleh pikiran. Dengan perginya kesunyian maka indra-indra lainnya pun mulai menemukan kesadarannya. Air mata masih terus mengalir dari kedua sudut mataku dan pikiran tidak dapat memerintahkannya untuk menghentikan kegiatannya. Dengan air mata yang masih bercucuran aku menggerakan tubuh untuk dapat berdiri berhadapan dengan wajah yang telah menghasilkan suara. Berdiri berhadapan dengan saling berpandangan menyebabkan tubuh ini dipenuhi sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku tidak mempedulikan air mata yang masih terus membasahi wajah. Bagiku sensasi yang sedang kurasakan lebih berharga daripada airmata yang mengaliri wajah. Sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan. Bahwa airmata yang mengalir ini merupakan bukti dari sensasi yang sedang kuhadapi. Jika demikian airmata adalah sensasi. Apapun itu aku sedang mengalami sensasi yang sangat luar biasa dan sulit untuk memberikan kesimpulan yang tepat kepadanya. Apakah sensasi adalah airmata atau airmata adalah hasil dari sensasi yang sedang kurasakan?
Kami saling berhadapan. Pandangan bertemu secara sejajar namun suatu perasaan bahwa keberadaanku tidak berada dalam tingkat kenormalan. Entah kegugupan yang muncul dalamku atau tatapannya yang telah mengambil kenormalanku. Berada pada kesejajaran tidak juga memberikan posisi sederajat di antara kami, sepertinya satu pihak menguasai pihak lainnya. Tatapannya memiliki kekuatan yang mampu menembus segenap sistem pertahanan tubuh. Berhadapan dengan tatapannya maka idealisme yang dibangun oleh masa mudaku hancur berkeping-keping. Tidak ada yang dapat dibanggakan oleh kedua bola mataku, disini keterlanjanganlah yang berhadapan dengan tatapannya. Kami membangun komunikasi melalui tatapan. Setiap kalimat yang terucap melalui ekspresi matanya sanggup aku pahami. Kemudian aku membalas kalimatnya dengan menunjukannya melalui ekspresi mataku. Aku mampu memahami arah pembicaraanya namun ketidaksederajatan yang telah melingkupi kami memberikan suatu keadaan yang kurang kondusif untuk komunikasi yang luar biasa ini. Meskipun begitu aku tidak memiliki keberanian dan kekuatan untuk mengusir ketaksederajatan tersebut.
Rerumputan kuning dengan tinggi lima centimeter yang sedari tadi enggan untuk menggerakan tubuhnya, sekarang mulai bergerak secara perlahan-lahan. Gerakannya sangat mirip dengan para balerina yang telah mengalami patah kaki, dimana mereka hanya mampu menggerakan kakinya di atas tempat tidur. Mungkin ia hendak memintaku untuk mengalihkan pandangan dari wajah di hadapanku, ia juga sadar bahwa ketidaksejaratan yang melingkupi kami layak untuk disudahi. Apakah ia bersedih atas posisiku. Sekalipun ia mengulum jari-jari kakiku namun ia tetap tidak dapat mempengaruhi pandanganku terhadap wajah yang sedang menatapku. Kelakuan rerumputan hanya akan menambah tingkat konsentrasi terhadap tatapan dari wajah di hadapanku.
Wajah yang mampu membawaku kepada sebuah masa yang telah usang. Pada masa yang telah dikerumuni oleh belatung-belatung, pada waktu yang malas menyajikan kembali segenap kisah yang tersimpan di antara tumpukan-tumpukan kisah lainnya. Tepatnya aku harus mengatakan bahwa keberadaanku ditempatkan pada kelampauan atau dilemparkan pada kelampuan dengan sebuah ketidakteraturan. Dapatkah aku menemukan jalan keluar dan berlari dari hadapannya?
Aku terjebak dalam tatapanya. Di sini kepasrahanlah yang memiliki nilai jual yang dapat ditawarkan kepadanya. Mungkin dengan menghadirkan kepasrahan maka tatapannya dapat menyampaikan peringatan kepada pikirannnya untuk mengembalikan keberadaanku kepada rahim kekinian. Ternyata strategi yang dijalankan berhasil, ia dengan segera membeli kepasrahan yang kutawarkan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. Dengan segera kuperintahkan penglihatan untuk mengambil alih kekuasaan darinya. Ternyata usaha dari indra penglihatan tidak menemukan hasil yang memuaskan malahan wajah yang berada di hadapanku semakin menunjukan kekuasaannya. Akhirnya aku menundukan kepala sebagai tanda kekalahan.
Ternyata air mata masih membanjiri wajahku. Tetes air mata yang menuruni wajah, yang telah membentuk aliran sungai kecil kemudian bermuara di atas rerumputan kuning. Dalam kekalutan aku kembali mempertanyakan keadaanku. Apakah air mata ini pertanda kebahagian atau kesedihan? Sepertinya kebahagian dan kesedihan telah bersetubuh sehingga aku menemukan kesulitan untuk memisahkannya. Lantas, langkah apa yang harus kutempuh untuk mengatasi persoalan ini? Apakah wajah yang berada di hadapanku sedang menertawakan keadaanku? Dapatkah aku kembali menatapnya? Sanggupkah aku menegakan kembali wajahku dan beradu pandang dengannya? Hanya air mata yang terus membasahi rerumputan.
Tiba-tiba aku merasakan tepukan di pundak sebelah kanan, tangan yang digunakan untuk menepuk pundak itu menegakan wajahku. Ia masih memandangiku. Tatapannya mengajak aku untuk kembali berkomunikasi, memintaku untuk memberikan penjelasan mengenai keberadaanku di tempat ini. Segera kuseka air mata dan menjelaskan keberadaanku. Ketika penjelasan berahkir ia tetap memandang lurus ke arah wajahku. Hanya tatapan yang terjadi, darinya dan kami mampu berkomunikasi dengan baik. Adalah sebuah keanehan ketika kalimat terucap melalui pandangan. Apakah kami merupakan orang-orang gila yang berkhayal yang berusaha untuk mengirimkan setiap maksud dan tujuan melalui pandangan?

1 komentar:

Outbound Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hidup akan menjadi indah jika kita bisa bermanfaat untuk orang lain.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.