Senin, 08 Oktober 2012

DENTINGAN SUBUH MERUPAKAN BUKTI MALAM YANG SELALU TERJAGA

(Remahan yang terjatuh ketika suara klakson mobil menghetikan langkahku untuk menyeberangi jalan raya.  Kekagetan itu menyebabkan cerita ini terhenti di sini. Jika ada yang mempunyai ide silahkan dilanjutkan) Saya masih belum memahami tentang wanita yang berjalan dengan gontai sambil menjunjung sebakul nasi di pinggir sebuah kali pada subuh yang begitu senyap. Saya juga masih menyimpan beberapa pertanyaan seputar dentingan kerikil yang seakan- akan mempertontonkan orkestra kepada segenap angin yang sempat singgah di antara mereka. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan langkah kaki seorang laki-laki paruh baya sangat mirip dengan gerakan kecoak ketika dikejar oleh seorang anak kecil dengan sapu ijuk. Ah....saya hanya berusaha untuk mengisi beberapa kalimat awal dari cerita ini, jadi jangan dipikirkan secara serius sebab saya juga tidak pernah memikirkan hal tersebut. Saya akan memulai cerita ini dengan sebuah kebingungan terhadap subuh yang selalu mengajak kaki saya untuk menelusuri beberapa jalan yang sudah dilupakan oleh kaum borjuis dan bangsawan, tapi masih diingat oleh beberapa pendeta atau pastor atau ulama. Mungkin kalian yang pernah membaca cerita tentang Veronika Memutuskan Untuk Mati yang ditulis oleh Paullo Cuelho akan menarik benang merah antara kebingungan saya dengan adegan di mana Veronika memainkan piano untuk Eduard. Bilang saja kalian belum memahami hubungan tersebut, apalagi saya hanya memaparkan secara garis besar. OK! Saya mulai menghubungkan kedua kisah tersebut.
Pertama: Ketika malam dengan bulan sabit dan musim dingin dan seorang perempuan sedang berjalan di taman Veronika diminta oleh Eduard(bukan hanya meminta tetapi memohon) agar melanjutkan permainan pianonya.

Tidak ada komentar: