Senin, 31 Desember 2012

YANG TIDAK TERSELESAIKAN



WAJAH MALAIKAT?
Lebih baik mendekap di dalam penjara dari pada harus mengalami kesusahan dalam memejamkan mata dan kehilangan mimpi

   Kehilangan mimpi pada setiap malam merupakan ketersiksaan bagi diri. Mata  tidak menemukan kantuk, batin selalu terikat dengan wajah seorang malaikat, dan pikiran masih terjebak dalam labirin kemarin.Semuanya berawal ketika wajah malaikat mu mulai menjalin hubungan intim dengan batin. Pada setiap pagi engkau selalu berusaha untuk bercinta, ketika malam terjerat oleh waktu engkau mengalami orgasme sedangkan saya selalu berusaha untuk mencapai tingkatan orgasme.

  Subuh masih terlelap bersama sejumput matahari yang merupakan hasil persetubuhan antara senja dan pagi, udara pun masih lembab sehingga kucing dan tikus malas untuk berebut makanan di tempat sampah. Ketika semuanya itu sempat diproyeksi oleh dinding kamar, aku sedang tersudut di antara kabut yang membutakan penglihatan dan masih mencari wajah mu dalam labirin senja. Sementara itu, jejak dari kenangan tertambat pada waktu yang hanya berusaha untuk menggurui ku.

  Aku masih tersesat dalam labirin senja, masih juga mencari wajah mu sedangkan keheningan yang coba dihadirkan oleh rasa tidak mampu menggandeng waktu untuk bersama-sama berseru kepada matahari.
Secret Garden yang sedang mengunjungi Mr. Winamp mampu membungkam subuh dengan instrumennya. Mereka juga mengadili malam atas tingkahnya kepada ku. Hampir saja mereka menggantung malam namun waktu tidak memperkenankannya sebab pagi sudah menyiapkan hidangan untuk malam. “Ah…waktu! Lihatlah penderitaan yang disebabkan oleh malam terhadap diriku.” Aku adalah hari ini yang masih memangku kemarin, aku adalah kemarin yang belum terselesaikan, dan aku adalah esok yang terus mengenakan pakaian kemarin. Sudah cukup aku mengoceh malam dan diriku. Sekarang saatnya mencari penjelasan atas segala ocehan di atas.
Ketersudutan di antara kabut, ketersesatan dalam labirin senja, dan ocehan terhadap malam dan diri merupakan hasil dari kehadiranmu dalam rupa malaikat di sekitar pikiran dan rasa ku. Mengapa wajah malaikat mu menjadi penyebabnya? Sebuah pertanyaan dari batin ku ini tidak dapat menemukan jawabnya. Ok! Batinku begitu lemah ketika berhadapan dengan wajah malaikat mu namun engkau jangan mengira bahwa saya mengaku kalah.

  Sekarang dengan bantuan dari jiwa dan pikiran, aku akan mengadakan perhitungan dengan mu. “kemarilah malaikat! Kita bertarung layaknya Achilles dan Hector dalam film Troy, mungkin itu terlalu klasik bagi mu  atau sudah ketinggalan zaman. Kalau begitu, aku mengundang mu untuk beradu pendapat sambil mendengarkan lagu Aku yang Tersakiti yang dinyanyikan oleh Judika.” Atau kegiatan semacam ini juga menurutmu terlalu melankolis dan tidak berintelektual? Dari pada saya hanya berusaha untuk mencari cara untuk mengundangmu dan engkau juga selalu mempunyai alasan untuk menghidari pertemuan kita, lebih baik saya mengajukan persoalan ini kepada pengadilan. Bukankah hal ini akan membuka aib ku di hadapan umum?  Lantas, bagaimana cara ku untuk dapat menyelesaikan persoalan ini?

  Subuh terlihat begitu sibuk dalam mempersiapkan jamuan untuk pagi yang sebentar lagi akan muncul. Keributan subuh semakin membuyarkan konsentrasi terhadap persoalan ini, bahkan pikiran pun mulai kacau dengan kantuk yang begitu berat di pelupuk mata. Wajah malaikat mu masih tetap membayangi ku. Engkau mencoba merayu udara yang berkeliaran di dalam kamar agar mengambil persoalan ini dari pikiran. Lewat tarikan nafas engkau memasuki tubuh, dengan cepat bergerak ke atas kepala.

“Bedebah! Udara dan Faust[1] dapat dengan mudah kau perdaya sehingga kau berpikir bahwa aku juga seperti mereka. Kau sudah masuk ke dalam kepala ku tetapi tidak bisa kau hilangkan persoalan ini dari otak ku. Jangan kau pikir juga bahwa otak yang kau masuki itu sama seperti batin ku yang begitu lemah ketika engkau menunjukan wajah malaikat mu kepadanya.”
           
           
           
           

           




[1]Tokoh utama dalam film Faust, dimana ia mengikat perjanjian untuk menjadi pelayan iblis setelah iblis mengembalikan usia mudanya dan memberikan segala kesenangan duniawi,(Faust adalah puisi Goethe yang berkisah tentang iblis yang menggoda manusia)


KITA YANG TERJEBAK DALAM KEMERDEKAAN
    Jam kerja di kantorku berahkir pada pukul 16.00, pada pukul 16.15 aku keluar dari pintu depan kantor dan bergegas ke arah jalan umum. Ketika berada di halaman kantor yang hanya berukuran 20×25 meter, aku merasakan sensasi yang luar biasa kerena terbebaskan dari kungkungan ruang kerja yang berukuran 2×2 meter. Bagi ku berada dalam ruang kerja sama seperti berada dalam kamp konsentrasi pada zaman Nazi. Memang aku sangat tidak menyukai suatu  keterikatan terhadap ruang dan keadaan. Berada dalam keterikatan ruang dan keadaan berarti menghilangkan kebebasanku sebagai pribadi yang sangat menghedaki sebuah kelepasan serta kreatifitas yang selalu aku banggakan semasa kuliah terpaksa harus kubunuh. Ini adalah sebuah derita yang harus kutanggung selama berada dalam ruangan tersebut. Ini juga merupakan pilihan untuk dapat bertahan dan meneruskan hidup. Di sini tidak ada ruang bagi kreatifitas sebab tuntutan kerja sangat tidak menghendaki sebuah perubahan dalam aturan yang telah disahkan.

   Lalu lintas di jalan begitu ramai-maklumlah orang-orang pada pulang dari tempat kerja(sehingga untuk menyeberangi jalanpun aku harus bersikap sangat hati-hati). Kenyataan ini menyadarkan aku bahwa negara ini belum sepenuhnya mengalami kemerdekaan. Ada beberapa alasan yang dapat aku kemukakan untuk pernyataan di atas. Pertama; Keadaan lalu lintas yang membuat kita harus bersikap waspada baik dalam menyetir kendaraan atau pada saat menyeberangi jalan, ini sangat mirip dengan keadaan pada waktu perang kemerdekaan, dimana orang-orang harus bersikap ekstra waspada terhadap serangan musuh yang datang secara tiba-tiba tanpa ada kompromi terlebih dahulu. Kedua; lalu lintas yang tidak teratur akan mengingatkan kita pada zaman perang, dimana orang-orang harus berlari kian-kemari untuk berlindung dari serangan musuh-mungkin ini hanya alasan yang kurang masuk akal-tetapi lalu lintas yang sangat tidak teratur mencerminkan bahwa negara ini masih diperbudak oleh peradaban dan perkembangan teknologi, negara ini tidak dapat menjadi tuan atas peradaban dan perkembangan teknologi. Kenyataan lalu lintas yang begitu buruk kemudian aku menghubungkan dengan keterikatan pada ruang kerja dapat memperkuat tesisku tentang negara yang belum merdeka. Memang benar bahwa keberadaan dalam keterikatan ruang kerja dan jam kantor merupakan bukti kuat untuk menyatakan bahwa negara masih berada masa-masa penjajahan. Bagiku kemerdekaan yang diserukan hanyalah sebuah fatamorgana. Negara ini masih tetap berada dalam keterjajahan. Mungkin spekulasi yang diajukan sangat lemah sebab keterikatan tersebut merupakan sebuah aturan yang harus dijalankan jika ingin bertahan hidup. Menjadi keprihatinan adalah keterikatan yang tidak memberikan kesempatan bagi kebebasan untuk bekreatif dan berkreasi. Segalanya harus berdasarkan aturan yang telah ditetapkan, jika tidak menurutinya maka akan jadi gelandangan.

Hampir setengah jam aku berusaha untuk menyeberangi jalan-mungkin aku orang yang tidak sabar dan sangat tidak suka terhadap antrian dan desakan-desakan dalam menggunakan jembatan penyeberangan. Karena sikap inilah aku sering kali harus terlibat dalam adu mulut dengan para sopir, baik angkutan umum maupun mobil-mobil pribadi-ketika jalanan agak sepih aku segera berlari menuju ke seberang jalan. Tiba di seberang jalanpun aku harus menunggu kendaraan, padahal begitu banyak kendaraan yang lewat khususnya kendaraan pribadi yang hanya bermuatan satu atau dua orang. Mengapa mereka yang berada dalam mobil pribadi itu tidak dapat berhenti dan menawarkan tumpangan kepada sesamanya yang sedang menanti kendaraan di tepi jalan. Mungkin saja salah satu dari orang-orang tersebut mempunyai tujuan yang sama dengan mereka. Lagi-lagi topik mengenai kemerdekaan bergelayut di benak. Bagaimana mungkin orang-orang yang menghuni negara ini merasakan kemerdekaan, atau mereka tidak menyadari bahwa mereka masih dalam masa penjajahan? Apakah orang-orang telah mengalami kebutaan dan ketulian? Kembali pada para pemilik mobil-mobil pribadi yang begitu banyak berserakan di jalanan. Mereka berlalu tanpa berpikir mengenai orang-orang di pinggiran jalan. Sebuah sikap yang sangat mirip dengan sikap kaum kolonial pada zaman penjajah yang berlalu di hadapan para jajahan dengan sikap angkuh. Yang lebih aneh lagi; para pemilik kendaraan pribadi terkadang mengumpat atau mengeluarkan cacian ketika jalanan berada dalam kemacetan. Mereka merasa bahwa jalanan yang dilalui adalah milik pribadi, mungkin disebabkan oleh besarnya pajak yang telah mereka bayar jika dibandingkan dengan para pengguna kendaraan umum. Pemikiranku dikejutkan dengan suara seorang serak kondektur angkutan umum yang menyebabkan nalar harus mengalami ketakutan sebab pikirnya bahwa ada seorang serdadu kolonial yang hendak menendanginya.

Aku segera menaiki kendaraan-yang kondekturnya telah mengagetkanku-karena kendaraan tersebut akan membawaku kembali ke rumah. Aku harus berdesak-desakan dengan para penumpang untuk dapat memperoleh tempat meskipun harus berdiri. Bau matahari yang bercampur dengan deodorant atau parfum sangat terasa. Ditambah dengan keringat yang mulai membasahi tubuh dari setiap penumpang, keadaan yang sangat menyiksa belum lagi para pengemis dan pengamen yang berhilir mudik. Suatu pemandangan yang semakin menguatkan pemikiranku mengenai keterjajahan. Benarkah kami masih berada pada zaman penjajahan? Aku melihat ketersiksaan di pelupuk mata dari setiap penumpang, ketersiksaan dari beratnya pekerjaan, ketersiksaan dari desakan-desakan penumpang. Memang kami belum mengalami kemerdekaan. Aku kembali memikirkan keadaan para jajahan yang kembali dari pekerjaan, entah membangun jalan, entah membuka lahan bagi pertanian dan perkebunan, entah membangun rumah atau gedung bagi kepentingan kolonial. Ekspresi mereka sangat mirip dengan ekspresi dari para penumpang pada saat ini. Selain itu, di samping kendaraan yang aku tumpangi, berhilir mudik kendaraan-kendaraan pribadi yang bergerak tanpa menyiratkan derita, dengan keadaan mobil yang mengkilap dan bunyi mobil yang halus. Sangat berbanding terbalik dengan bus yang kutumpang, yang berada dalam kondisi kritis dan menjelang ajal.

Bus yang kutumpangi berhenti di dekat sebuah Masjid untuk menaikan beberapa penumpang, padahal tidak ada lagi tempat untuk meletakan penumpang-penumpang tersebut. Dari Masjid terdengar suara adzan maghrib yang diperdengarkan lewat alat pengeras suara. Pada saat yang sama tetes-tetes air mata membasahi pipiku. Aku berusaha untuk menyembunyikannya dari para penumpang. Dengan segera kutundukan kepala dan mengusap air mata yang membasahi wajahku. Sesampainya air mata bercucuran disebabkan oleh pemikiran bahwa suara adzan maghrib yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman sangat berbanding terbalik dengan keadaan di sekitarnya. Inikah negeri yang telah merdeka? Bagaimana mungkin suara adzan begitu damai dan tentram(merdeka) sedangkan di sekitarnya dipenuhi dengan kebisingan? Air mata masih tetap membanjiri wajah sehingga aku memutuskan untuk turun dari mobil agar para penumpang tidak berpikir bahwa aku adalah orang gila.


Hanya suara angin
yang terdengar
SENJA YANG HILANG
Kabut tipis menggantung di sekitar ranting-ranting kamboja yang mulai rapuh, aku terduduk sebagai seorang bisu. Menatap ke arah taman yang mengenakan selimut ungu. Di sana  aku menemukan seseorang yang sedang menangis. Aku menatap seseorang dalam tangisan, kami tidak sempat menyatu karena udara telah kehilangan aroma musimnya. Ketika sedang mengkonsentrasikan diri untuk mampu Hanya tatapan di tengah keramaian dan hiruk-pikuk angin.
Aku berusaha merapatkan diri dengannya, mencarinya untuk kembali melakukan kegiatan bertatapan. Di sepanjang lorong berpagar bambu, di antara terik yang memantulkan bayangan akasia aku berusaha untuk menemukannya. Di antara orang-orang yang berkelebat secara cepat layaknya kecepatan pesawat supersonic aku berusaha untuk menemukan sosoknya. Berusaha sekuat tenaga untuk menyibak jaring laba-laba yang mungkin saja menyembunyikan dirinya. Menguatkan penglihatan pada kegelapan yang pekat namun hanya tangisan yang tergiang di gendang telingaku. Tangisan terdengar dengan jelas, memasuki setiap ruangan yang disediakan oleh kedua telinga ini. Ia menjadi penguasa tunggal atas seluruh aktivitas dari kedua telinga sehingga tidak ada suara-suara lain yang diijinkan untuk berbagi tempat dengannya.
Aku tidak mampu untuk berbagi tatapan dengan orang lain, bukan keegoisan yang menjadi sebabnya, bukan kesombongan yang hendak ditunjukan, bukan juga kerendahan yang ditemukan pada diri yang lain. Ketidakkmampuannya disebabkan oleh orang lain tidak mampu melakukan kegiatan bertatapan. Mungkin mereka dapat melakukannya namun bukan kegiatan bertatapan seperti yang sedang kuinginkan. Ketika mereka melakukannya maka akan ada pembicaraan yang menyusulnya. Pembicaraan yang dilandaskan pada kegiatan bertatapan.
Lagi-lagi aku mencari dia yang menyembulkan tangisan. Kali ini, aku mencarinya di berbagai gedung bertingkat, di berbagai pusat keramaian kota, di taman-taman yang dibangun untuk memuaskan dahaga yang dilahirkan oleh beberapa setan atau yang diendapkan dari malaikat-malaikat cahaya. Orang-orang yang berpapasan denganku mengeluarkan berbagai perbendaharaan kata yang menunjukan bahwa aku adalah orang aneh atau orang gila. Sesampainya mereka mengeluarkan perbendaharaan kata tersebut dikarenakan oleh pakaian compang-camping yang melekat di tubuh ini. Haruskah mempersalahkan mereka? Apakah mereka layak dibenci karena menunjukan ekspresi wajah dan ucapan yang merendahkan martabat kemanusiaanku?
Semakin mencurahkan seluruh kemampuan untuk menemukan wajahnya, semakin pula bersembunyi
Kepada aku dalam tangisan yang dapat melakukan kedua kegiatan secara bersama-sama tanpa menghilangkan esensi dari kedua aktifitas tersebut
Mempertemukan kembali kelaluan yang sempat menghilang dari segenap ingatan dan rasa. Sebuah kelaluan, dimana gelak tawa bercampur dengan tangisan. Tentu saja ingatan tidak dapat menyimpan kenangan yang kurang jelas seperti ini.


HIRUK-PIKUK SUBUH MERUPAKAN BUKTI MALAM YANG SELALU TERJAGA

Saya masih belum memahami tentang wanita yang berjalan dengan gontai sambil menjunjung sebakul nasi di pinggir sebuah kali pada subuh yang begitu senyap. Saya juga masih menyimpan beberapa pertanyaan seputar dentingan kerikil yang seakan- akan mempertontonkan orkestra kepada segenap angin yang sempat singgah di antara mereka. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan langkah kaki seorang laki-laki paruh baya yang sangat mirip dengan gerakan kecoak ketika dikejar oleh seorang anak kecil dengan sapu ijuk. Memasuki labirin yang tercipta dari perkawinan antara malam dan pagi, tersesat di sekitar simphoni kerikil-kerikil tajam, menunjukan ekspresi kebingungan laiknya dr. Bill Harford (Tom Cruise) dalam film Eyes Wide Shut ketika ia diperintahkan untuk menelanjangi diri di hadapan umum. Mengapa subuh mempertontokan semua ini kepada saya tanpa memberikan penjelasan secara terperinci?
Aku menyaksikan semua kegiatan yang dipertontonkan oleh subuh meskipun tanpa memiliki penjelasan yang cukup atas semua kegiatan ini. Seandainya Veronika[1] berada di sini maka saya sudah diajak untuk meninggalkan kegiatan yang membingungkan ini. Mungkin ia akan membawa saya ke dalam gereja dan memainkan Soneta 8 nya Mozart. Mengapa subuh mempertontonkan semua ini kepada saya? Saya adalah senja yang dengan terpaksa berpamitan karena malam begitu terburu-buru untuk menghadirkan gelap sedangkan subuh merupakan mahluk asing yang datang dan mengambil mimpi indahku. Semua yang dipertontonkan subuh kepada saya-tentang wanita dengan bakul nasi, tentang dentingan kerikil, tentang langkah gontai lelaki paruh baya-belum dapat dicerna dengan baik oleh pikiran. Subuh yang datang bersama dengan keributan di jalanan harus memberikan penjelasan kepada saya. Membiarkan pertanyaan bercokol dalam kepala akan mendatangan rasa sakit dan pikiran akan menemukan kekacauan. Pernah terlintas untuk meludahi dan memaki subuh namun tidak sampai terlaksana karena usaha ini akan berujung pada kesia-siaan.
Pukul 04.00 saya belum juga beranjak dari beranda di lantai dua. Mata tidak dapat dirayu oleh kantuk, pikiran selalu berusaha untuk berbicara dengan berbagai hal yang sempat berkomunikasi dengannya.

           







[1] Tokoh utama dalam novel Veronika Memutuskan untuk Mati karya Paullo Cuellho








Tidak ada komentar: