Kamis, 27 Januari 2011

MAAFKANLAH AKU YANG MELUPAKAN MU

Sudah 12 purnama kita hanya saling mendengar kabar dari kejauhan, tidak lagi kurasakan dinginya air kolam kotor mu yang dihuni oleh ikan-ikan air tawar, dari beberapa jenis ikan aku hanya mengetahu ikan patin(inipun kalau aku tidak salah).

Sudah begitu lama kita tidak saling berbagi tentang cerita harian, aku merindukanmu, merindukan segala yang pernah kau torehkan pada sepenggal kebersamaan kita.

Kita berpisah bukan karena ketidaksukaan padaku terhadap kelakuanmu, kita berisah bukan juga atas omelan yang sering kau lontarkan, kita berpisah karena aku takut akan melukaimu, memerahkan kulitmu saja aku sudah tak sanggup.Meskipun demikian aku selalu merindukanmu.

Maafkanlah aku yang tidak memberikan ucapan pada hari kelahiranmu. Ini bukan sebuah kesengajaan tetapi ketidaktahuanku dan kelupaan terhadap harimu. Tolong maafkan aku.

Kepada sekalian yang telah menyusuiku kala aku masih balita, kepadamu hanya ada kata maaf dan terima kasih karena aku tak sanggup membalas semua jasa yang telah kau berikan padaku. Maaf juga karena aku tak mampu lagi menyanyikan kidung yang selalu kita dendangkan pada saat pelangi menampakan dirinya di antara cemara. Namun akan tetap terngiang di dalam jiwaku dan akan tetap terpartri sepanjang nafas masih bersahabat denganku. Meskipun aku tidak bernyanyi dengan kalian tetapi aku masih tetap bernyanyi ketika pelangi muncul di antara cemara. Pada saat itu kita akan bertemu dan nyanyian kita menggema di angkasa. Di angkasa sana nyanyian kita saling meleburkan dirinya kemudian membentuk suatu bintang di angkasa malam. Menurut cerita yang telah mengakar di masyarakat kampungku bahwa ribuan bintang yang bergantungan di angkasa malam merupakan penjelamaan dari setiap nyanyian yang didendangkan pada saat pelangi sedang bercerita dengan jalinan hujan yang terahkir. Keduanya saling membagi cerita perjalanan yang telah mereka tempuh, dimana hujan akan bercerita tentang takdir yang membawanya pada samudra dan pelangi akan bercerita tentang dua gunung yang saling memberikan dirinya ketika ia menghampiri mereka. Pagi tidak pernah berkeluh ketika siang mengganti kesejukannya dengan kegerahan. Lantas ia menyerahkannya dengan ketulusan sebab ia sadar bahwa siang tidak mengambilnya dengan suatu paksaan. Begitulah kalian memberikan diri untuk merawat aku. Mampukah kemanusiaanku akan menunjukan bahwa pemberian kalian tidak akan sia-sia? Pada malam yang menenun kesejukan untuk dikenakan pagi akan aku nyanyikan hymne kalian. Akan aku rajut peluh yang hilang selama kebersamaan kita kemudian membentuknya menjadi patung sebagai kenangan akan kebersamaan. Di antara malam dan pagi aku membagikan kehangatan siang yang telah kalian sematkan di dadaku.

Aku sadar bahwa kesendirian telah menunggu untuk menggandeng tanganku. Haruskah menghindar darinya? Tidak! Aku bukan seorang nelayan yang pergi melaut tanpa mempersiapkan peralatannya. Bagaimanapun juga aku telah menguasai takdir sehingga menghindar darinya merupakan pengkhianatan. Mungkin takdir hanyalah konsep yang tercipta dari orang-orang yang tidak mampu tersenyum pada kegerahan siang dan malam yang berwarna ungu. Bagiku; takdir bukanlah tuan atas diri ini tetapi kepada kehidupanlah aku harus mengabdikan diri. Hal ini tidak berarti aku menjadi budak darinya, dalam ini kami bersama-sama mengabdikan diri antara satu sama lain agar jagat yang telah dijadikan ini semakin menunjukan keindahannya. Pergi untuk melakoni parade yang disuguhkan senja kala ia telah menyelesaikan tenunan untuk bidadari bernama purnama memang bermula dari kebingungan. Ketika berserah dalam kebingungan berarti aku telah menyelesaikan adegan pertama dari parade itu. Setelah melewati adegan pertama maka alur dari parade tersebut telah menunjukan rupanya. Segala yang terlahir dari kebingungan merupakan formula untuk menciptakan keindahan yang abadi.

Tolong maafkanlah aku yang melupakanmu.....

Bukan sebuah kesengajaan untuk mengkianati kebersamaan kita, bukan sebuah keegoan diri untuk melupakan semua kisah yang pernah kita lakoni bersama. Aku hanya lupa bahwa engkau merayakan kelahiranmu pada hari ini.

Dalam keseharian yang merapatkan lingkaran sehingga menimbulkan ketersakitan dan kenelangsaan, namun aku selalu berdoa agar engkau semakin tegar menghadapi himpitan hari tersebut.


Tidak ada komentar: