Sabtu, 09 Agustus 2014

WANITA BERMATA SAYU (IV)

Aku cemburu dengang kaca mata yang melekat mesra dengan kedua mata mu. Sakit hati, setiap memandang senyum dan tawa renyah kedua lensa itu. Mereka begitu akrab, tak berjarak dengan dirimu. Sedangkan aku hanya berkhayal. Bagai malam kehilangan eksistensi di hadapan rembulan, begitulah aku kala memikirkan dirimu. Terbuat dari apakah dirimu? Ratu kah rahim yang mengandung dan merawat mu?

Cukup waktu yang sudah memisahkan kita.  Entah telah berapa pekan raya yang terlewati, entah apa lagi perayaan di kota tanpa kehadiran kita. Kita? Sepertinya aku salah. Mungkin saja kau hadir di sana. Lantas, adakah diriku bersama derap langkahmu? Terselipkah wajah ku di dalam dompet batik yang kita beli dari pedagang kaki lima di emperan toko saat Polisi Pamong Praja hendak mengkandangkan barang dagangnnya? 

Kembali aku iri memandang kelekatan mu dengan kaca mata. Aku kehilangan moment indah memandang kedua bola matamu. Kesejukan dan keluguanya tandas, disaput kedua lensa entah minus, silender atau plus. Bisakah kau melepaskan kacamata ketika kita berjumpa? Mungkin hanya sesaat, barang semenit saja agar dahaga ku terpuaskan. 










Tidak ada komentar: