Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERITA BERSAMBUNG

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (Empat)

Dia itu perempuan bukan wanita.  Iras masih memandang potret hitam putih di kamarnya. Setiap senja, usai menghidangkan kopi bersama pisang goreng kepada ayah, pasti Iras kembali ke kamar untuk melihat wajah di bingkai itu.  Wajah perempuan yang entah kenapa tidak asing baginya. Ya, wajah perempuan bukan wanita yang tampak di sana. Sedari beradu tatap, Iras menyadari kalau sosok hitam putih di dinding kamarnya mengusik kesadarannya tentang pemaknaan perempuan dan wanita. Adalah sorot mata itu yang terus menarik Iras untuk mencari jawab perihal perbedaan antara perempuan dan wanita. Tentunya, mengganggu apalagi Iras kala itu masih kecil. Sempat, ia meminta penjelasan ayahnya. Toh hanya umpatan yang terberi.  "Anak kemarin sore mau tanya hal yang tidak penting. Lebih baik kau sapu halaman rumah dan sediakan kopi." Begitulah ayahnya 'membunuh' rasa ingin tahu Iras.  Dibungkam hanya membuat penasaran. Dan Iras terus mengaduk pikiran demi sebuah jawaban atas perta...

SEBELUM TENGAH MALAM (Lanjutan)

Gambar
Neshi sendirian, berdiri di tengah kerumunan penduduk yang meminta pertanggung jawaban. Beradu pandang, berganti tatap serta bersilang pendapat bagai momok menakutkan untuk gadis sekecil Neshi. Kondisi yang tidak seimbang ini semakin membuat Neshi terpojok, terkukung di bawah tatap awas segenap penduduk kampung. "Coba kau tunjukan bagaimana cara memindahkan gelas itu tanpa harus dipegang" seorang tetua menunjuk telunjuk tepat di depan wajahnya. "Mama di manakah dirimu?" Jerit Neshi dalam hati. Sungguh gadis kecil berpakain kebaya ini tak sanggup menguasai keadaan. Ia gemetar. Lututnya goyang. Keringat pun mengalir deras di sekujur tubuhnya. Segenap penduduk masih membentuk lingkaran sedangkan dirinya menjadi pusat perhatian mirip sebuah tontonan di tanah lapang.  Pincang memang keadaan di siang itu. Rasanya dunia runtuh. Tak ada pengakuan akan keakuan. Semuanya bersepakat menghalau yang namanya perbedaan. Yang berbeda, lawan arus dipandang sebagai aib. Per...

WANITA BERMATA SAYU (V)

Tentang mata di balik kaca mata sang gadis, sepenggal rindu bersetubuh cemburu. Di sayu mata mu, terpatri lugu dan polosnya lakon hidup. Sayanngnya, gambaran itu harus tersaput bening sepasang lensa berbingkai frame plastik. Saat kita jumpa di gerhana purnama kemarin, ingin rasanya mencopot kaca mata yang mesra di pangkal hidung mu. Sungguh, sudah tak tertahankan lihat kedekatan sepasang lensa dengan bola mata sayu. Mereka egois. Tidak punya toleransi dengan pemuja rahasia mu. Kalau boleh usul, sebaiknya tanggalkan saja kaca mata itu. Tanpa sepasang lensa di belahan mata mu,cukup berikan ruang bagi ku untuk sepuasnya pandangi indah sayu mata itu. Ini pun jika diperkenankan.Ahhh...cukuplah khayal ini. ********** Senandung sahabat belum juga usai. Entah kenapa pagi ini kantuk begitu jauh jaraknya. Sekelebat bayangan  pun tak tampak. Pikir ku, warna suara para sahabat ini yang mengubur malaikat kantuk di balik lantai kamar. Maaf wanita bermata sayu. Aku terpaksa mengurai kisah...

MUSIM HUJAN DI KOTA BERAGAM MUSIM

Hujan tidak pernah hadir tepat waktu. Kalau ditanya jawabannya selalu sama “terjebak macet di jalan protokol.”   Di kota ini, aku akan mengunci pintu setiap musim hujan. Para tetangga selalu bertanya, “kenapa kau tak  pernah keluar kamar di saat hujan turun?” Dari musim ke musim jawaban ku tetap sama, “Hujan angkuh, sombong, dan masih terikat kebanggaan masa lalu.” Mereka bingung mendengar jawaban itu, memaksa ku untuk mengurai maksud di balik jawaban tersebut. “Bagiku, musim hujan seharusnya sadar kalau zaman sudah berubah, tidak ada lagi orang-orang yang naik kuda atau berpergian dengan jalan kaki.” Bagi para tetangga penjelasanku labil, tidak menjawab pertanyaan dan terkesan kekanak-kanakan. Walau begitu, setiap tahun mereka tidak pernah berhenti untuk bertanya kepada ku. Lantas, aku yang aneh ataukah mereka? Biarlah misteri membentangkan selimut tebalnya dan menyelebungi aku dan para tentangga. Dan jawaban ku menjadi jeda di antara kami, sebab selesai mengurai...

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(I)

Arthe rindu akan wajah ayah ketika duduk di beranda rumah, dengan tatapan yang tajam mengarah ke depan. Entah ke arah halaman atau ke jalanan. Dengan wajah yang berseri namun terkadang agak kusam. "Ayah.......Maafkanlah aku yang pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan" Arthe kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan membersihkan perlengkapan makan dan minum. Ia meninggalkan ibu marti yang sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Perlengkapan makan yang kotor menumpuk, sebuah pemandangan yang mengingatkan Arthe akan tsunami yang mencium desanya pada beberapa tahun yang lalu. Dimana keteraturan yang telah menampakan senyum sumringah di halaman-halaman dan jalanan di desanya, dalam sekejap saja menghilang. Tsunami juga yang meletakan sebuah kursi di beranda rumahnya, yang sejak saat itu diduduki oleh ayahnya dari pagi sampai petang. Arthe tidak segera membersihkan perlengkapan makan tersebut, ia beranjak ke ruang tengah sambil terus memikirkan tentang perbuatan ts...

TATANRI XXV

Aku harus menafsirkan motif yang tertera di dinding-dinding rumah, aku sadar bahwa ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah dan gampang. Apalagi aku tidak memiliki pengetahuan yang cukup seputar motif-motif tersebut. Dari bentuk sampai kepada pesan yang berada dibaliknya. Biar bagaimanapun aku harus menafsirkan motif-motif tersebut, ini untuk masa tabungan masa depan anak dan cucuku. Satu keyakinan yang selalu kupegang, segala sesuatu tidak semudah yang dibayangkan. Untuk berjalanpun kita harus melewati beberapa fase atau tahap.OKE.......aku mulai menafsirkannya, tetapi tidak dengan segera melakukannya. pertama-tama harus mempersiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan dalam menafsirkan motif-motif tersebut.Pertama: mengunjungi beberapa tetua atau sesepuh yang berada di sekitar rumah ini untuk menanyakan beberapa persoalan yang berhubunga dengan motif-motif ini(cara pembuatannya, bahan-bahan yang dibtuhkan dalam mengerjakannya, dan lain-lain). Bukankah para tetua atau ...

SEBELUM TENGAH MALAM

Aha...........aku menemukan awal dari cerita mengenai Neshi. Ayahnya meninggal bukan karena penyakit atau kecelakaan tetapi memenuhi syarat yang diajukan oleh paranormal. Menurut kabar yang beredar, diceritakan bahwa ayahnya meninggal karena demam yang berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya. Dari cerita-cerita tersebut orang-orang mulai menarik berbagai kesimpulan; ia meninggal karena terkena kutukan dari nenek moyang karena telah menebang salah satu pohon bambu di hutan keramat, ia meninggal karena mengeluarkan kata-kata jorok ketika melewati kuburan. dan lain-lain. Namun ayahnya tidak pernah menceritakan kepada ibunya tentang sejarah kehadiran Neshi sehingga ibunya menganggap kelahirannya sebagai sesuatu yang normal. Neshi dilahirkan dengan membawa serta sebuah batu berwarna merah jambu, sampai sekarang batu itu disimpan oleh ibunya. Pernah ibunya menanyakan perihal batu tersebut kepada orang pintar namun tidak ada yang tahu mengenai kegunaan batu merah jambu...

SEBELUM TENGAH MALAM

Aku harus memberinya nama, bila perlu mempertegasnya dengan menambahkan marga dan lain-lainya. Aku sadar tentang ketidakadilan yang merayap perlahan-lahan di sekitar tulisanku, dimana aku dengan sadar memberi nama pada sebuah ketidaknormalan. Jika para pembacaku kecewa(mereka memang layak untuk memiliki perasaan tersebut sebab mereka hadir secara normal), aku harus tetap menuliskannya. Oke........ Tokoh kita ini bernama Nisa Ganeshi Praditati, namun lebih dikenal dengan Neshi. Kehadirannya menimbulkan berbagai persoalan di tengah keluarga, dmana sang ayah yang menghendaki keberadaannya telah pergi untuk selamanya. Aku cukup bingung untuk memulai kisah tentang Neshi. Kira-kira dari mana mengawalinya. Ahhh......sangat bingung untuk menuliskan cerita ini, jangan-jangan pengaruh dari mantra yang ada dalam skenario tersebut? Paranormal sialan! mantra bedebah! Sabarlah! Aku tidak mungkin meniggalkan cerita ini, aku tidak akan menyerah pada mantra ataupun jampi-jampi yang disi...

SEBELUM TENGAH MALAM

Aku bilang tokoh ini dapat hidup karena diciptakan oleh sebuah skenario film yang telah ditulis ayahnya. Memang ayahnya telah meninggal sebelum melihat ia bersama tali pusatnya. Tokoh ini juga berhasil hadir sebab skenario bapaknya telah diberi mantra oleh paranormal. Kehadirannya memang sebuah kesengajaan-tapi bukan kesengajaan seperti aku dihadirkan-lebih tepat jika ia diciptakan oleh bapaknya. Memang semua diciptakan oleh bapaknya juga oleh ibunya tetapi tokoh kita ini diciptakan secara tidak normal. Kalian pasti mengerti maksud saya, jadi tidak perlu saya bertele-tele menjelaskannya. Hal itu hanya akan menambah panjang baris-baris tulisan, yang tentunya kalian juga akan bosa membacanya. Aku bilang begitu karena banyak orang sangat sulit untuk membaca, bukan karena buta huruf loh........biarlah kalian menebaknya. aku takut salah jika menuliskannya. Baiklah; kita langsung masuk ke tokoh yang telah dideskripsikan di atas. Ia dilahirkan hanya atas kehendak dari ayahny...

LELAKI YANG BERUSAHA MENGHIDANGKAN ANGGUR (H)

"Bagaimana mungkin anak ini dapat melakukan kegiatan layaknya seorang pemilik atau pembantu rumah?" Ibu Marti yang terkaget menyaksikan pemandangan langka di rumahnya, hanya berdiri dengan keheranan. Hal seperti yang dilakukan oleh Arthe dipandang sebagai kegiatan yang aneh. Seorang tamu yang diajak menumpang di rumahnya dapat bangun pada pagi-pagi buta dan melakukan pekerjaan rumahan. "Nak, biarkanlah peralatan makan itu dibersihkan oleh para pembantu dan anak wanita!" "Minta maaf bu, saya telah menimbulkan keributan sehingga membangunkan ibu. Mungkin ibu marah karena tingkahku, tapi kebiasaan ini telah tertanam kuat dala diriku!" Ibu Marti mengajak Arthe keluar dari dapur dan berjalan ke arah depan rumah. Di serambi mereka duduk di atas kursi rotan yang dipenuhi dengan titik embun. Arthe menuju ke dalam rumah untuk mengambil kain agar dapat menyingkirkan titik embun yang sedang tertidur di atas kursi sebelum titik-titik embun itu berkeluh dan mengeluarka...

KEMBALINYA MASA LAMPAU

Ada yang bilang bahwa kembalinya masa lampau akan menimbulkan kesakitan, ada juga yang mengatakan bahwa kembalinya masa lampau akan membantu kita untuk merefleksikannya. Yah.....kembalinya masa lampau tentu memiliki dua sisi di atas, dengan keberadaan masa lampau pada masa kini sanggup untuk menetaskan mimpi yang masih berkelana di tapal batas. Eh....ia bukan menetaskan tetapi merealisasikan mimpi yang sedang menunggu dalam kesabaran. Kisah tentang kembalinya masa lampau menceritakan tentang rasa yang bergandeng dengan mimpi, keduanya begitu layaknya sepasang kekasih yang berada dalam semangat untuk berpelukan, memang kisah tentang kembalinya masa lampau juga berhubungan langsung deng an rasa dari pria dan wanita. Ini tentang cinta, ini tentang kasih, ini tentang kemesraan, dan ini tentang kesetiaan. Kembalinya masa lampau tidak menuntut untuk diperhatikan secara khusus, keberadaan masa lampau dalam genggaman masa kini juga tidak pernah mengharapkan agar dicurahkan waktu sepenuhnya. Ke...

GADIS BERKALUNG KERANG(C)

Gadis berkalung kerang masih mengitari lembah, bola matanya begitu liar dan ekspresi wajahnya seperti seorang anak kecil yang terjebak di dalam gua. Sorot matanya mengungkapkan ketakutan dan memohon pertologan dari siapa saja yang dijumpainya. Aku mengikutinya dan memperhatikan dengan saksama setiap gerak tubuh yang dimunculkannya. Dari kejadian ini aku mengambil kesimpulan sementara bahwa gadis ini dikorbankan untuk penjaga lembah ini. Sungguh suatu fenomena yang langka dalam peradaban ini, dimana cerita mitos, legenda dan sahabat-sahabatnya hanyalah kebelakaan. Mungkin ini tidak berlaku bagi masyarakat yang berpegang teguh pada kebiasaan leluhur, mereka menolak setiap wajah dari peradaban dan selalu berusaha untuk menjauhinya. Kembali kepada persoalan si gadis; Ia masih berjalan di lembah dengan wajah yang tidak berubah namun tidak ada tanda-tanda akan adanya penjaga hutan yang muncul untuk menyantap sesajen yang disiapkan. Bagaiamana mungkin kalimat dapat dituliskan di sekitar wa...

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGAKAN ANGGUR (G)

Arthe terlelap dengan menenakan pakaian yang telah berhari-hari membungkus tubuhnya, hal ini sangat kontras dengan selimut yang juga membungkus tubuhnya. Arthe menggunakan selimut karena udara yang dingin. Mungkin selimut merasa terganggu dengan bau tubuh Arthe(sesuatu yang tidak mungkin) Panggilan dari ibu Marti tidak didengar oleh Arthe sehingga ibu Marti mencurigai keberadaan dari Arthe di dalam rumahnya dan menyesal telah mengundang Arthe untuk menginap di rumahnya. Sangat jarang ibu Marti mengundang tamu untuk menginap di rumahnya, sesampainya ia mengudang Arthe ke rumahnya disebabkan oleh nasihat dari seorang ibu yang tanpa sengaja menabraknya di pasar. Arthe terlelap sampai pagi menghampirinya, ia segera membersihkan diri dan menuju ke dapur untuk memanaskan air agar dapat digunakan untuk menyeduh kopi. Dapur dalam keadaan sunyi padahal kokok ayam sudah tidak terdengar, sembari menunggu airnya panas Arthe membersihkan semua perabotan makan dan masak yang berserakan di tempat cuc...

TATANRI XXIV

Mampukah kesendiran menafsirkan setiap motif yang tergambar di dinding, ditambah dengan bayangan sahabatku yang juga menyatu dengan motif-motif tersebut. Tidak ada yang dapat diajak untuk berdiskusi, tidak ada yang berkunjung atau meminta sesuatu pada rumah ini. Keberadaan kami tidak didaftar dalam buku induk di kantor desa, mungkin seksi tata desa tidak memetakan rumah ini. Bagaimana bertahan daalm keadaan ini? Sahabat yang menjadi lawan bicara sekaligus partner yang cocok dalam segal hal telah pergi dan hanya menyisahkan bayangan yang melekat dengan motif-motif di dinding rumah. Alasan dari kepergiannyapun tidak dikatakan dengan jelas, ia hanya berpesan bahwa setiap subuh aku harus berhasil untuk menafsirkan salah satu motif. Menafsirkan motif merupakan pekerjaan yang sangat berat sebab motif tersebut berjumlah ribuan dan satu motif dilukis dengan beberapa cara yang berbeda dan warna yang berbeda pula. Sehingga satu motif bisa menghasilkan lebih dari 20 lukisan. kesendirian tidak men...

GADIS BERKALUNG KERANG (B)

Kalung kerang sebagai tanda dari sang bidadari bahwa Gadis tersebut harus diperuntukan baginya, disini; kepemilikan berarti sang gadis harus melanjutkan tugas dari sang bidadari untuk menjaga lembah Rosienly. Dengan demikian keseharian sang Gadis akan berada di lembah tersebut Aku semakin tertarik dengan kisah sang gadis dan berusaha untuk mengupas tuntas kisah dari sang gadis. Untuk ini, aku harus melepaskan semua pesona yang selama ini ditimbulkan oleh indra. Meninggalkan juga semua kesibukan sebagai manusia, tentu akan menciptakan suatu keterasingan terhadap diri. Mampukah aku menanggalkannya? Lembah dengan keharuman anyelir dan bakung Lembah dengan seribu jenis musik yang diperdengarkan oleh angin Lembah dengan wajah bidadari terahkir yang terpampang di dedaunan Lembah dengan gadis berkalung kerang yang selalu memanggil kesenyapan Yah...........lembah Rosienly Aku belum menemukan keterpaduan antara cerita mengenai bidadari yang menjelma menjadi lembah dan gadis berkalung kerang....

TATANRI XXIII

Motif yang dihasilkan tidak dipandang sebagai manifestasi dari para roh maupun arwah leluhur yang berusaha untuk berada dekat dengan anak-cucunya. Motif yang dihasilkan juga merupakan bahasa yang digunakan oleh para leluhur untuk berkomunikasi dengan anak-cucunya. Motif tidak mendapat tempat yang layak dalam masyarakat, ia hanya dilihat sebagai karya seni belaka. Tidak adanya penghargaan terhadap motif disebabkan oleh gaya hidup masyarakat telah dikuasai oleh hantu-hantu dari dunia lain. Dengan kepergian para penenun; masihkah ada harapan bagi para leluhur untuk berkomunikasi dengan anak-cucunya? Rumah yang ditinggalkan oleh para penenun juga dilihat sebagai rumah hantu sehingga kami yang menempati rumah tersebut memperoleh perlakuan yang buruk dari masyarakat. Bahkan ada larangan untuk bergaul atau bertegur-sapa dengan kami. Hanya seorang kakek yang merelakan kami untuk menyapa dan berkunjung ke rumahnya. Sekarang sahabatku telah pergi, meninggalkan bayangannya di antara motif-motif y...

PENARI SENJA

Rencana untuk meninggalkan kampung pada saat bulan berwarna coklat bertujuan agar para penduduk tidak dapat mengadakan ritual. Tentu akan menyebabkan kekacauan yang amat sangat apalagi ritual ini sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat, ritual ini juga merupakan waktu untuk mengambil keputusan-keputusan peting dalam kehidupan bersama. Bahwa ada isu yang beredar, dimana para tetua kampung akan mengambil keputusan untuk menghukum para penari senja karena telah mengadakan perkumpulan dan pertemuan secara rahasia. perkumpulan ini diketahui oleh para tetua karena salah seorang anggota penari senja yang kalah dalam pemilihan ketua. Akibat sakit hati, ia membocorkan perkumpulan rahasia tersebut kepada para tetua namun mengenai rencana untuk meninggalkan kampung pada saat bulan berwarna coklat tidak diketahui olehnya. Suatu kebetulan, dimana para penari senja mengetahui bahwa perkumpulan mereka telah diketahui oleh para tetau. Salah seorang penari senja mendengar percakapan dari sa...

TATANRI XXII

Kami tinggal di rumah yang dibangun oleh para penenun untuk berkumpul dan menciptakan motif bagi kain yang akan dihasilkan. Bangunan yang dipenuhi oleh motif-motif, mulai dari gambar hewan,tumbuhan, sampai pada gambar yang tidak dapat ditangkap oleh nalar seorang nelayan. Motif-motif yang terpajang di dinding bangunan ini memberikan dua kesan bagi yang pertama kali menatapnya. Tetapi harus dibedakan mengenai orang-orang yang melihat motif tersebut. Pertama: manusia yang secara pengetahuan dan rasa telah terikat dengan motif-motif tersebut. Golongan ini yang menatap motif/gambar sebagai bahan yang dapat diselidiki dan ditelusuri. Kelompok ini sanggup untuk menerawang ke relung terdalam dari setiap motif, mereka juga memiliki kemampuan untuk memberikan "kehidupan" pada motif tersebut. Motif; dihadapan kelompok ini adalah akses untuk masuk ke masa lampau. Motif juga merupakan manifestasi dari kaum terdahulu sehingga pada motif tersebut kaum terdahulu tetap hidup. Sedangkan ada...

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(F)

memasuki halaman rumah yang begitu mempesonakan dan menyejukan penglihatan, Arthe teringat akan negeri dongeng yang selalu dituturkan oleh sang ayah kala malam mulai bersetubuh dengan kesejukan. Kehadirannya di sekitar pekarangan dengan berbagai macam kembang dapat menghadirkan sensasi yang luar biasa tentang aroma. Ibu Marti mengajak Arthe untuk masuk ke ruang tamu yang dipenuhi oleh pria-pria dengan kecerahan menghiasi rona dan ekspresi wajah. Arthe menyapa sambil memperkenalkan dirinya, merekapun balas memperkenalkan diri namun Arthe tidak mengingat nama-nama dari penghuni ruang tamu tersebut. Para pria mengajaknya untuk bergabung sambil menikmati kopi, namun Ibu Marti mempersilahkan Arthe untuk menuju ke kamar yang telah disediakan agar dapat membersihkan diri dari bau terik yang sangat menyengat. Arthe melangkah menuju kamar yang ditunjukan oleh Ibu Marti, sebelum tiba di kamar ia harus melewati ruang tengah. Ketika melewati ruangan itu, keributan yang sedari tadi terdengar, sec...

PENARI SENJA

Perkumpulan yang dibentuk oleh kaum penari senja begitu solid dan pergerakannya sangat apik. Mereka mulai menyusun strategi untuk memisahkan diri dari masyarakat Daguarga dan meninggalkan kampung tersebut. Tentu usaha ini tidak berjalan dengan mudah layaknya menekan remote control untuk mengganti saluran televisi. Namun dengan kesabaran dan ketabahan, mereka menjalankan dan menyusun rencana agar proses pemisahan dapat berjalan dengan lancar dan aman. Bapak Fandes, selaku ketua perkumpulan mengajak para penari senja untuk menyerahkan atau menjual semua barang pribadi yang digolongkan dalam barang-barang sekunder. Hal ini bertujuan agar perjalanan untuk mencapai tempat yang baru tidak dibebani dengan berbagai barang tersebut. Proses pelepasan barang terebut dapat dilakukan dalam tiga cara; menjual barang kepada penduduk kampung, memberikan secara gratis kepada salah seorang penduduk kampung yang dinilai sebagai orang yang sangat membantunya dalam kehidupan, atau membuang baran...