Postingan

Menampilkan postingan dengan label keluarga

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (Empat)

Dia itu perempuan bukan wanita.  Iras masih memandang potret hitam putih di kamarnya. Setiap senja, usai menghidangkan kopi bersama pisang goreng kepada ayah, pasti Iras kembali ke kamar untuk melihat wajah di bingkai itu.  Wajah perempuan yang entah kenapa tidak asing baginya. Ya, wajah perempuan bukan wanita yang tampak di sana. Sedari beradu tatap, Iras menyadari kalau sosok hitam putih di dinding kamarnya mengusik kesadarannya tentang pemaknaan perempuan dan wanita. Adalah sorot mata itu yang terus menarik Iras untuk mencari jawab perihal perbedaan antara perempuan dan wanita. Tentunya, mengganggu apalagi Iras kala itu masih kecil. Sempat, ia meminta penjelasan ayahnya. Toh hanya umpatan yang terberi.  "Anak kemarin sore mau tanya hal yang tidak penting. Lebih baik kau sapu halaman rumah dan sediakan kopi." Begitulah ayahnya 'membunuh' rasa ingin tahu Iras.  Dibungkam hanya membuat penasaran. Dan Iras terus mengaduk pikiran demi sebuah jawaban atas perta...

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (tiga)

Gambar
Iras sudah menenun aksara. Jemari lentiknya telah hapal betul tomboltombol querty di keyboard laptop atau pc.   Upah dari tenunan aksara pun lumayan buat makan seharihari. Walau begitu, pertanyaan seputar sang penatap di bingkai itu belum juga beranjak dari benak. Siapa sesungguhnya perempuan bergaun merah jambu itu? Mengapa pula ia seolah meminta ku berkisah? “Ayah dan kakak selalu mengelak menjelaskan siapa si perempuan tersebut” gerutu Iras seraya terus memandang potret di kamarnya.  Pagi bergerak lamatlamat. Detak waktu hanyalah penanda sebuah rutinas dan pergantian hari.   Senja pergi, malam datang, kemudian pagi hadir. Dari sekian perubahan hanya kegundahan Iras lah yang masih setia menenami hidupnya. Selalu dan selalu begitu. Realitas seorang Iras adalah pengulangan secara konstan dari hari kemarin. Iras merupakan Iras yang sama dari waktu ke waktu meski dirinya sanggup menyulam ke dua puluh enam aksara menjadi motif dedaunan, hewan atau apapun....

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(B)

Arthe melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkan kepada sang ayah. Sementara itu kesendirian telah menemukan kesatuan dengan ayah Arthe. Keduanya sangat akrab dan kelihatannya telah saling mengenal.Mereka seperti sahabat yang menjalin hubungan sejak usia dini, tentu Arthe sangat takjub dan bingung menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak melihat kesendirian sebagai sosok yang asing. Mungkinkah selama ini sang ayah telah mengenal dan bermain dengan kesendirian? Arthe membiarkan kesendirian untuk memainkan peran sebagai dirinya ketika ia pergi untuk melakukan pencarian terhadap anggur yang akan dihidangkannya kepada sang ayah. Ia tidak memberikan ucapan selamat atau pemberitahuan kepada ayahnya emngenai keberangkatan dan tujuan dari kepergiaannya. Arthe hanya mengatakan bahwa ia hendak berkunjung ke rumah paman untuk menanyakan tentang keperluan yang dibutuhkan oleh pamannya untuk mengerjakan perlengkapan dapur yang dipesan oleh para pelanggan. Memang Arthe selalu membantu...