Postingan

Menampilkan postingan dengan label penantian

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (satu)

Kita Perempuan. Bukan wanita seperti yang lainnya.   “Di mana pun dia, aku ingin memeluknya” rintih Iras dalam hati. Hanya pelukan yang diimpikan Iras. Tentu saja, bukan sekadar rangkulan atau saling merapatkan tubuh sembari kedua tangan saling melingkari. Iras ingin lebih. Ia cukup lama merindukan momen berpelukan.   Setiap memandang potret hitam putih di dinding kamar, kerinduan kian memilin, bahkan seperti paksaan. Beginikah rasanya disengat rindu?  Iras kembali memandang potret perempuan 30 tahun yang  sejak dirinya mengenal aksara sudah tergantung di dinding kamar. Beberapa kali sudah, ia menurunkan bingkai potret hitam putih itu guna membersihkannya dari debu. Setiap lakon itu pula, sorot mata sang potret menusuk, menembus masuk ke  pori-pori tubuhnya. Tatapan tajam kedua bola mata si perempuan seakan memaksa Iras membuka dialog, berkisah tentang dirinya. “Aku tidak bisa! Ayah dan kakak nanti bilang aku gila” bisik Iras. Semakin berpaling, ...

MENUNGGU SENJA

Di sudut karang itu, aku masih berdiri menunggu datangnya senja. Sebuah senja yang selalu kita nantikan kala usia masih seumur jagung. Senja yang selalu membawa kita pada petualangan gelombang. Dan, tentu saja senja yang memulangkan camar ke sarangnya.  Tahukah diri mu kalau setiap senja aku masih duduk di karang itu?  Masih ingatkah engkau tentang percakapan kita di separuh senja di saat elang tua itu tak sanggup mematuk teri yang berenang di air dangkal? Mungkin kau sudah lupa cerita itu. Kalau begitu demikian adanya , perkenankan  aku  bercerita untukmu.  Namun, sebelum kisah  itu merenangi senja kita, aku harus  menceritakan sebuah kejadian  yang kujumpai ketika aku mencarimu di antara ribuan pasang mata pada sebuah senja, pada sebuah tempat. Waktu hanyalah serpihan kejadian yang berkelindan saat aku menyeruak di antara kerumunan orang yang bersejoli di taman kenangan itu. Hadirku tak berasmara. Aku sendirian. Salah. Tepatnya aku menggand...