Postingan

Menampilkan postingan dengan label sang ibu

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (dua)

Gambar
Iras terbelenggu tatapan sang perempuan dalam potret hitam putih. Melupakan! Hanyalah usaha menabur benih di atas awan. Dalam kondisi ini pula, membuang bingkai atau memindahkan ke tempat lain pun tak sanggup   melumerkan tatapan yang telah bercokol di relung raganya.  Kenapa Iras tidak meluangkan secuil waktu untuk bercakap dengan perempuan hitam putih itu? Mengapa pula dirinya harus takut terhadap penilaian sang ayah dan kakaknya?  Sejatinya, Iras ingin berbicara empat mata. Jauh sebelum sepasang bola mata itu meminta, dirinya selalu berharap memiliki kesempatan untuk berbagi cerita. Saat kantuk memilin, Iris pun berdoa agar perempuan itu hadir di sana.  Ada pada mimpi, begitulah Iras mendaraskan doanya. Tapi kian didaraskan kian pula dirinya dibuat dibuat kecewa.   Sang perempuan   belum sekalipun menemui dirinya dalam mimpi.   Entah Iras yang salah berdoa ataukah doanya masih berada dalam daftar tunggu?  Hampir...

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (satu)

Kita Perempuan. Bukan wanita seperti yang lainnya.   “Di mana pun dia, aku ingin memeluknya” rintih Iras dalam hati. Hanya pelukan yang diimpikan Iras. Tentu saja, bukan sekadar rangkulan atau saling merapatkan tubuh sembari kedua tangan saling melingkari. Iras ingin lebih. Ia cukup lama merindukan momen berpelukan.   Setiap memandang potret hitam putih di dinding kamar, kerinduan kian memilin, bahkan seperti paksaan. Beginikah rasanya disengat rindu?  Iras kembali memandang potret perempuan 30 tahun yang  sejak dirinya mengenal aksara sudah tergantung di dinding kamar. Beberapa kali sudah, ia menurunkan bingkai potret hitam putih itu guna membersihkannya dari debu. Setiap lakon itu pula, sorot mata sang potret menusuk, menembus masuk ke  pori-pori tubuhnya. Tatapan tajam kedua bola mata si perempuan seakan memaksa Iras membuka dialog, berkisah tentang dirinya. “Aku tidak bisa! Ayah dan kakak nanti bilang aku gila” bisik Iras. Semakin berpaling, ...

MEMELUK KEBINGUNGAN(part 6)

Gemerisik air yang mengaggetkan segenap pemikiran tentang perkataan Duran. "Daripada lebih tersiksa sebaiknya aku membiarkan pemikiran ini." Setelah menatap ke arah matahari senja yang begitu lapuk, aku melangkah ke arah sungai yang menjadi sumber dari suara gemerisik. Langkah kaki yang diarahkan ke sungai harus dihentikan setelah melihat bahwa yang menimbulkan gemerisik itu adalah Duran. Aku menghentikan langkahku karena takut mengganggu kesenangnya. Padahal kami selalu menimbulkan gemerisik sungai secara bersama-sama. "sebaiknya aku meniggalkan ia di sungai ini," imbuhku pada diri sendiri. Aku mengerakan kaki untuk menjauh dari sungai dan melangkah menuju ke arah rumah. Setelah tiga menit meninggalkan sungai, aku bertemu dengan para petani yang kembali dari kebun. Wajah lusuh yang terbakar sinar matahari dan kotor wajahnya sangat menyiksa mataku. Bagaimana aku tida merasa tersiksa, aku hanya duduk merenungkan pernyataan dari Duran tanpa melakukan sesuatu. Salah ...