Postingan

Menampilkan postingan dengan label komunikasi

PEREMPUAN DI LORONG WAKTU (dua)

Gambar
Iras terbelenggu tatapan sang perempuan dalam potret hitam putih. Melupakan! Hanyalah usaha menabur benih di atas awan. Dalam kondisi ini pula, membuang bingkai atau memindahkan ke tempat lain pun tak sanggup   melumerkan tatapan yang telah bercokol di relung raganya.  Kenapa Iras tidak meluangkan secuil waktu untuk bercakap dengan perempuan hitam putih itu? Mengapa pula dirinya harus takut terhadap penilaian sang ayah dan kakaknya?  Sejatinya, Iras ingin berbicara empat mata. Jauh sebelum sepasang bola mata itu meminta, dirinya selalu berharap memiliki kesempatan untuk berbagi cerita. Saat kantuk memilin, Iris pun berdoa agar perempuan itu hadir di sana.  Ada pada mimpi, begitulah Iras mendaraskan doanya. Tapi kian didaraskan kian pula dirinya dibuat dibuat kecewa.   Sang perempuan   belum sekalipun menemui dirinya dalam mimpi.   Entah Iras yang salah berdoa ataukah doanya masih berada dalam daftar tunggu?  Hampir...

ALAM BAYANGAN (6)

“dasar pemikiran yang kau sampaikan selalu mengacu pada pengalaman pribadi. Seandainya engkau meletakan pengalaman dan membiarkannya berada dalam kesendirian kemudian mengambil pola pemikiran yang disediakan oleh roh kehidupan, tentu akan muncul pemahaman terhadap rutinitasku di alam bayangan.” Ia berhenti untuk meneguk segelas air, mengambil sepotong roti dan memakannya. Sendis juga mengikuti perbuatan dari Sani. Setelah keduanya menghabiskan satu potong roti dan meneguk segelas air, Sendis memukul kening Sani dengan seulas senyum sembari berkata; ”pembicaraan ini harus disudahi, memang kita belum menemukan kesimpulan tetapi hal itu tidak menjadi suatu persoalan yang mendasar sebab esok masih mampu meyediakan ruang dan waktunya bagi kita untuk membahas topic ini. Sesampainya aku menghentikan pembicaraan ini dikarenakan oleh keseharian telah memanggilku untuk berjalan bersamanya. Aku mengharapakan agar engkau tidak kecewa dengan keputusan ini.” “setiap persoalan harus diselesaikan seb...

ALAM BAYANGAN(4)

“bagaimana aku akan memberikan penjelasan kepadanya? jika salah dalam memilih kalimat maka akan muncul ketidakpahaman padanya. Kalau aku menggunakan bentuk-bentuk kalimat yang terdapat dalam percakapan di alam bayangan maka Sendis akan semakin terbenam ke dalam bias malam. Haruskah aku meninggalkan bentuk penuturan yang terjadi di alam bayangan dan menggunakan bentuk penuturan yang memenuhi benak Sendis? Menggunakan bentuk penuturan Sendis berarti memproklamirkan pengkhianatan kepada diri sendiri. Tidak mungkin memprooklamirkan pengkhianatan kepada diri. Lantas, bagaimana aku akan memberikan penjelasan kepada Sendis tentang realitas kehidupanku? Membingungkan berada di antara pribadi yang hanya mengenal dunia dari pancaran retinanya.” Cukup lama Sani berusaha untuk menemukan jalinan dari setiap kalimat yang akan diucapkannya, diksi yang ia gunakan akan diminimalisasi agar Sendis mampu memahami setiap kalimat yang diucapkannya. “sahabatku, telah seperempat musim kita berada dalam...