Postingan

Menampilkan postingan dengan label buku harian

TATANRI XX

Buku harian ini. Aku tidak dapat mengungkapkan dengan pasti dan jelas tentang perasaan terhadap buku ini. Suatu perasaan yang sangat dalam sebab kebersamaan yang telah terjalin begitu rapat. Denganya, aku bisa menempuh perjalanan ini dalam kebahagian meskipun selalu ada penderitaan yang berhilir mudik di hadapanku. Buku harian memainkan peran ganda ketika aku berhadapan dengan persoalan. Selain menjadi sahabat, ia juga berperan sebagai orang tua untuk memberikan petuah-petuah dalam mengambil dan menentukan pilihan. Peran ganda ini dilakoninya dengan sabar dan tulus. Dari buku harian, aku mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kepribadian dari sahabatku. Ia yang dalam pertemanan bersikap pasif dan lebih banyak memilih diam ini ternyata menyimpan sejuta potensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidup. Dengan selalu membaca buku hariannya aku menjadi malu terhadap diri sendiri yang sering bertingkah intelektual di hadapannya. Sejak awal perkenalan aku mengambil p...

TATANRI XIX

Alasan lain yang menyebabkan aku tidak menyediakan waktu untuk acara makan adalah ruang yang sangat tidak memungkinkan untuk menikmati makanan dengan santai. Meskipun aku berada di alam bebas atau terbuka tetap saja ketergesahan dan ruang yang sangat asing ini menyebabkan aku masih takut untuk melakukan acara makan siang seperti biasanya. Ruang yang begitu menakutkan dan asing ini bisa saja membunuhku jika memberikan waktu yang terlalu berlebihan kepada rasa santai dan dapat memberikan akibat yang kurang menguntungkan bagi diri. Seperti; serangan dari binatang buas, terlambatnya jadwal yang telah direncanakan dan terlambat tiba di desa sebelah dan tersesat didalam hutan kala malam merapatkan barisannya. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan aku kurang memberikan waktu bagi acara makanku. Dalam perjalanan sambil menikmati makanan kering, aku juga membaca buku harian yang dititipkan oleh sahabatku. Buku harian ini tidak akan aku bakar meskipun malam begitu dingin. Buku harian ini merupak...

TATANRI XVII

Makanan kering yang aku sertakan dalam perjalanan merupakan pemberian dari sahabatku ketika aku mengungkapkan kepadanya tentang perjalanan yang akan kulakukan. Sangat kental dalam ingatakan ketika ia dengan tergesa-gesa berlari di tengah kerumunan hujan untuk membeli makanan kering ini. Baju yang basah tidak ia hiraukan, begitu sampai di depan tempat penjualan ternyata telah dittutup. Ia tidak segera pulang ke rumah, dengan pakaian yang basah ia terus melanjutkan pencariannya namun semua tempat penjualan telah ditutup. Malam itu, aku tidur sendirian karena ia masih melanjutkan pencarian terhadap makanan kering. Bahwa ia begitu bersemangat dalam mencari makanan kering untuk perbekalanku padahal aku dapat mengisi perutku di rumah-rumah makan yang berada di sekitar jalan. Ia kembali ke rumah sekitar pukul lima pagi, itupun dengan membawa hasil yang nihil. Sahabatku segera menghamburkan diri ke pelukanku sambil meminta maaf karena tidak mendapatkan makanan untuk perbekalan selama aku mene...

TATANRI XIV

Merunut dari perkataan sang kakek berarti adaku sama dengan ada kembang lavender ini . Mungkin lebih beruntung kembang-kembang Lavender ini sebab mereka tidak sadar akan keberadaan mereka. Sedangkan aku ? Apakah takdir telah menempatkan aku dalam keadaan seperti ini? "aku tidak mempercayai takdir ataupun nasib ataupun garis tangan atau sejenisnya. bagiku segala yang terjadi merupakan akibat dari keputusan yang telah aku lakukan pada hari kemarin." merunut perkataan sang kakek berarti takdir yang selalu dikatakan oleh para sahabatku merupakan suatu kebenaran bukan suatu kebetulan. Disini aku berusaha untuk terbebas dari perkataan kakek agar dapat berkonsentrasi dalam usaha untuk menemukan informasi mengenai sahabatku. yah.....lagi-lagi berhadapan dengan kakek yang bau tanah ini. suatu hari engkau akan mengerti tentang cerita yang aku tuturkan di sekitar sungai ini. suatu saat juga engkau akan memahami bahwa setiap kertas yang telah kau tulis mengandung sebagian dari jiwa huta...