Postingan

PEMBERONTAKAN ABJAD

Sejak awal keberadaan aku telah ditakdirkan untuk menjadi pelayan bagi para pengguna tubuhku. Aku harus ditempatkan pada posisi ini agar kehidupan dapat berjalan dengan baik sekaligus menempatkan para penggunaku sebagai pengatur alam semesta. Mengacu pada kenyataan ini maka aku merasa bahagia dengan takdir yang telah ditetapkan, tidak sekalipun aku berusaha untuk membebaskan diri. Sesampainya aku membebaskan diri berarti kehidupan dan alam semesta menemukan ajalnya atau kiamat akan terjadi. Ternyata kebahagian tersebut hanya terjadi pada awal, disaat para penggunaku meletakan dasar-dasar dan memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan yang dijumpai dalam alam semesta dan kehidupannya. Waktu itu aku sangat menyukai kelakuan dari penggunaku ketika mereka mulai menggunakanku untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengapa dan bagaimana. Melihat tingkah mereka menyebabkan aku tidak memberikan keluhan terhadap keadaan yang menimpaku. Seperti yang sudah kukata...

LELAKI YANG BERUSAHA UNTUK MENGHIDANGKAN ANGGUR(I)

Arthe rindu akan wajah ayah ketika duduk di beranda rumah, dengan tatapan yang tajam mengarah ke depan. Entah ke arah halaman atau ke jalanan. Dengan wajah yang berseri namun terkadang agak kusam. "Ayah.......Maafkanlah aku yang pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan" Arthe kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan membersihkan perlengkapan makan dan minum. Ia meninggalkan ibu marti yang sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Perlengkapan makan yang kotor menumpuk, sebuah pemandangan yang mengingatkan Arthe akan tsunami yang mencium desanya pada beberapa tahun yang lalu. Dimana keteraturan yang telah menampakan senyum sumringah di halaman-halaman dan jalanan di desanya, dalam sekejap saja menghilang. Tsunami juga yang meletakan sebuah kursi di beranda rumahnya, yang sejak saat itu diduduki oleh ayahnya dari pagi sampai petang. Arthe tidak segera membersihkan perlengkapan makan tersebut, ia beranjak ke ruang tengah sambil terus memikirkan tentang perbuatan ts...

DIKUMPULKAN DARI JALANAN

Menyudahi pencarian di remangnya khayal,tidak untuk memenuhi kecemburuan pada tingginya menara Babel. Bukan juga untuk mendengarkan gemerisik ular di tumpukan dedaunan. Hanya untuk memulai perjalan yang telah tertunda sekian tahun. Suatu kesusahan dipermulaan namun bukan untuk menghentikannya dan beralih ke atas tempat tidur sambil melepaskan senyuman. Berlangkah; entah maju ke depan atau ke samping atau ke atas. Hanya itu. Hubungan antara kemarin yang tergeletak lemas di atas trotoar jalanan dengan hari ini yang masih terseok-terseok dalam melangkah. Keduanya sempat bertemu, tidak ada senyuman atau anggukan kepala. Mereka melihat bahwa ada yang lain di sekitarnya, mengetahui bahwa tidak ada kesendirian dan menyadari dengan baik bahwa ada bayangan yang sempat berkelebat di depan mata. Sekali lagi; keheningan bersendau gurau. Ahhhhh.......sangat tidak tepat mengatakan sebagai keheningan, kata ini lebih tepat disematkan kepada para biarawan yang memberikan kehidupannya kep...

KETIKA AKU MENULIS TENTANGMU

Selama ini aku tidak pernah memperoleh kesulitan dalam menuliskan cerita. Namun cerita Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul sungguh menyiksaku. Aku benar-benar mengalami kesulitan yang besar dalam menemukan abjad pertama untuk kisahnya. Pernah kutemukan abjad pertama dan berkembang menjadi lima paragraph tetapi akhirnya aku menemukan kesulitan untuk melanjutkannya. Apakah aku telah ditinggalkan oleh roh dari abjad? Aku menemukan kesulitan yang sangat besar untuk memulai kisah tentang Lelaki Tua Dengan Kail dan Cangkul . Dimana aku tidak menemukan abjad pertama untuk membuka kisah ini. Aku merasakan ketidakmampuan layaknya seorang penulis pemula yang hendak menuliskan cerita pertamanya. Aku mencoba untuk menghentikan aktifitas untuk memikirkan kisah ini sambil mendengarkan lagu Bintang Hidupku yang dinyanyikan oleh Ipank, berharap agar syairnya memberikan inspirasi namun abjad pertama juga belum muncul dalam nalarku. Aku juga membaca buku Stephen King On The Wr...

TATANRI XXV

Aku harus menafsirkan motif yang tertera di dinding-dinding rumah, aku sadar bahwa ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah dan gampang. Apalagi aku tidak memiliki pengetahuan yang cukup seputar motif-motif tersebut. Dari bentuk sampai kepada pesan yang berada dibaliknya. Biar bagaimanapun aku harus menafsirkan motif-motif tersebut, ini untuk masa tabungan masa depan anak dan cucuku. Satu keyakinan yang selalu kupegang, segala sesuatu tidak semudah yang dibayangkan. Untuk berjalanpun kita harus melewati beberapa fase atau tahap.OKE.......aku mulai menafsirkannya, tetapi tidak dengan segera melakukannya. pertama-tama harus mempersiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan dalam menafsirkan motif-motif tersebut.Pertama: mengunjungi beberapa tetua atau sesepuh yang berada di sekitar rumah ini untuk menanyakan beberapa persoalan yang berhubunga dengan motif-motif ini(cara pembuatannya, bahan-bahan yang dibtuhkan dalam mengerjakannya, dan lain-lain). Bukankah para tetua atau ...

SEBELUM TENGAH MALAM

Aha...........aku menemukan awal dari cerita mengenai Neshi. Ayahnya meninggal bukan karena penyakit atau kecelakaan tetapi memenuhi syarat yang diajukan oleh paranormal. Menurut kabar yang beredar, diceritakan bahwa ayahnya meninggal karena demam yang berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya. Dari cerita-cerita tersebut orang-orang mulai menarik berbagai kesimpulan; ia meninggal karena terkena kutukan dari nenek moyang karena telah menebang salah satu pohon bambu di hutan keramat, ia meninggal karena mengeluarkan kata-kata jorok ketika melewati kuburan. dan lain-lain. Namun ayahnya tidak pernah menceritakan kepada ibunya tentang sejarah kehadiran Neshi sehingga ibunya menganggap kelahirannya sebagai sesuatu yang normal. Neshi dilahirkan dengan membawa serta sebuah batu berwarna merah jambu, sampai sekarang batu itu disimpan oleh ibunya. Pernah ibunya menanyakan perihal batu tersebut kepada orang pintar namun tidak ada yang tahu mengenai kegunaan batu merah jambu...

SEBELUM TENGAH MALAM

Aku harus memberinya nama, bila perlu mempertegasnya dengan menambahkan marga dan lain-lainya. Aku sadar tentang ketidakadilan yang merayap perlahan-lahan di sekitar tulisanku, dimana aku dengan sadar memberi nama pada sebuah ketidaknormalan. Jika para pembacaku kecewa(mereka memang layak untuk memiliki perasaan tersebut sebab mereka hadir secara normal), aku harus tetap menuliskannya. Oke........ Tokoh kita ini bernama Nisa Ganeshi Praditati, namun lebih dikenal dengan Neshi. Kehadirannya menimbulkan berbagai persoalan di tengah keluarga, dmana sang ayah yang menghendaki keberadaannya telah pergi untuk selamanya. Aku cukup bingung untuk memulai kisah tentang Neshi. Kira-kira dari mana mengawalinya. Ahhh......sangat bingung untuk menuliskan cerita ini, jangan-jangan pengaruh dari mantra yang ada dalam skenario tersebut? Paranormal sialan! mantra bedebah! Sabarlah! Aku tidak mungkin meniggalkan cerita ini, aku tidak akan menyerah pada mantra ataupun jampi-jampi yang disi...