Postingan

WANITA BERMATA SAYU (II)

Gadis bermata sayu, jangan pernah berhenti untuk memadukan mimik dengan kedua bola mata sayu itu, sebab padanya keharmonisan surga ditunjukan. Cukup lama cerita tentang WANITA BERMATA SAYU  aku biarkan terlantar. Cerita ini tidak hanya terlantar, namun terdengar juga jeritan dan permohonan untuk segera diperhatikan. Di balik sikap acuh ku terhadap kelanjutan dari cerita ini, tersimpan cukup alasan yang kuat untuk tidak melanjutkan cerita tersebut.  Pertama: Si wanita yang menjadi tokoh utama dari cerita ini, sudah pergi dan tak ada kabar atau pun petunjuk yang dapat dijadikan patokan untuk menemukan keberadaannya. Kedua : Secara internal, diriku mengalami cukup hambatan untuk melanjutkan cerita tentangnya karena sebagian dari masa lalu ku tersimpan dalam kotak penyimpanan kenangan yang tersimpan dalam saku baju seragam SMP nya.  Namun, sangat naif jika kedua alasan di atas menjadi penyebab aku tidak melanjutkan cerita ini.  Ok! dengan label sang p...

YANG TIDAK TERSELESAIKAN

WAJAH MALAIKAT? Lebih baik mendekap di dalam penjara dari pada harus mengalami kesusahan dalam memejamkan mata dan kehilangan mimpi    Kehilangan mimpi pada setiap malam merupakan ketersiksaan bagi diri. Mata  tidak menemukan kantuk, batin selalu terikat dengan wajah seorang malaikat, dan pikiran masih terjebak dalam labirin kemarin.Semuanya berawal ketika wajah malaikat mu mulai menjalin hubungan intim dengan batin. Pada setiap pagi engkau selalu berusaha untuk bercinta, ketika malam terjerat oleh waktu engkau mengalami orgasme sedangkan saya selalu berusaha untuk mencapai tingkatan orgasme.   Subuh masih terlelap bersama sejumput matahari yang merupakan hasil persetubuhan antara senja dan pagi, udara pun masih lembab sehingga kucing dan tikus malas untuk berebut makanan di tempat sampah. Ketika semuanya itu sempat diproyeksi oleh dinding kamar, aku sedang tersudut di antara kabut yang membutakan penglihatan dan masih mencari wajah mu dalam labirin senja....

DENTINGAN SUBUH MERUPAKAN BUKTI MALAM YANG SELALU TERJAGA

(Remahan yang terjatuh ketika suara klakson mobil menghetikan langkahku untuk menyeberangi jalan raya.  Kekagetan itu menyebabkan cerita ini terhenti di sini. Jika ada yang mempunyai ide silahkan dilanjutkan) Saya masih belum memahami tentang wanita yang berjalan dengan gontai sambil menjunjung sebakul nasi di pinggir sebuah kali pada subuh yang begitu senyap. Saya juga masih menyimpan beberapa pertanyaan seputar dentingan kerikil yang seakan- akan mempertontonkan orkestra kepada segenap angin yang sempat singgah di antara mereka. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan langkah kaki seorang laki-laki paruh baya sangat mirip dengan gerakan kecoak ketika dikejar oleh seorang anak kecil dengan sapu ijuk. Ah....saya hanya berusaha untuk mengisi beberapa kalimat awal dari cerita ini, jadi jangan dipikirkan secara serius sebab saya juga tidak pernah memikirkan hal tersebut. Saya akan memulai cerita ini dengan sebuah kebingungan terhadap subuh yang selalu mengajak kaki sa...

BERTATAPAN

Tidak ada kata yang terucap dari bibir kami Aku tiba di depan rumah kelahiran ketika siang memberikan kesunyian baginya. Tidak ada sambutan di pintu depan sebab pintu depan berada dalam keadaan tertutup dan tidak terdengar bias-bias suara yang dibawa oleh angin ke dalam gendang telingaku. “Mungkin para penghuni sedang memberikan kesendirian bagi rumah berdinding kayu ini.” Begitulah kesimpulan yang dapat diberikan oleh pikiran ketika menyaksikan kesendirian dari rumah tersebut. Jika demikian kami mengalami nasib yang sama. Aku juga berada dalam kesendirian. Apakah ini kebetulan yang telah direncanakan oleh sang waktu? Bahwa kebetulan yang terjadi tetap memiliki perbedaan di antara kami. Kesendirian yang bergelayut di sekitarku masih dapat dirasakan dan disadari. Sedangkan rumah ini tidak memiliki kesadaran dan perasaan sedikit pun mengenai keadaannya. Jadi aku agak sedikit berbangga diri dan berlagak sombong terhadapnya. Sikap bangga dan sombong memang layak untuk ditunjukan t...

ENGKAU YANG TERTERA DALAM GARIS PADA PINGGIRAN LUKISAN

Untukmu yang menjadi alasan utama pembuatan lukisan Engkau hanyalah garis yang tertera pada pinggiran lukisan, meskipun demikian keberadaanmu sebagai garis lebih penting daripada objek utama dari lukisan ini. Alasan inilah, aku menuliskan cerita ini, agar engkau menyadari betapa berarti keberadaanmu. Dan aku tidak layak untuk memiliki lukisan yang diperuntukan bagi orang lain. Sejak awal pembuatan lukisan, sang pelukis tidak pernah berpikir mengenai garis yang akan dilukiskannya pada setiap pinggir dari lukisannya. Sesampainya keberadaan garis ini menimbulkan tanya padaku yang memilikinya. Aku mengatakan demikian karena kedekatan yang telah terjalin antara aku dengan si pelukis, sehingga gaya dan pola melukisnya sangat aku kenal. Seperti yang sudah dikatakan terdahulu bahwa engkau hanyalah garis yang berada di pinggiran lukisan. Aku tidak perduli tentang perasaanmu ketika membaca tulisan ini, biarpun ada dendam, biarpun ada kemarahan padamu tetap saja aku tidak peduli. A...

SELAMAT DATANG DI KOTA

“Mengapa engkau menangis sedangkan orang-orang di sekitarmu tersenyum?” Pertanyaan yang muncul dari sampingku ini mampu menghentikan air mata yang mengalir tidak beraturan . Aku tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan dan mencari tahu pemilik suara tersebut. A ku menyeka air mata yang membasahi wajah dan membenarkan cara duduk , agar sosok yang berada di sampingku dapat meletakan tubuhnya. Kemudian aku menyulut sebatang rokok. Setelah beberapa saat menikmati rokok, aku menoleh ke arah sosok yang memberikan pertanyaan. Ternyata seorang pengemis tua yang sedang memegang tangan seorang anak kecil. Dengan sopan aku mempersilahkan pengemis tua ini duduk di sampingku sambil menawarkan sebatang rokok kepadanya. Namun ia menolak tawaranku dan mengulangi pertanyaannya. “Mengapa engkau menangis?” “Orang tua yang aneh” umpatku dalam hati. Bagaimana mungkin ia yang belum mengenal diriku dengan baik secara tiba-tiba datang dan menanyakan persoalanku. Ini adalah sebuah kegilaan “...