Postingan

DEADLINE

begitu satir jemari mementaskan tarian abjad. bungkuk lelah terpatri, menua di lorong malam. lakon mengeja abjad ke barisbaris kata yang turun ke jemari, entah dari mana datangnya aku tak paham. yang pasti tarian ini harus usai, kisah ini harus indah. jangan kau tanya darimana datangnya indah. jangan pula kau singgung lelah di punggung ini. kemudian aku tertegun menyaksi ringkik rasa yang tergeletak lunglai bersama ampas kopi. mungkin kopi ini tak perlu kutuntaskan dulu, entah ampas sekalipun. ia harus kuerami. lalu lari, menjauh, membiarkan abjad menjadi abjad. meski tatapan jalang pemangsa malam terus terjaga. Aku akan terbang dari jalang yang tak surut matanya itu. aku ingin memungut embun untuk kusimpan dalam gelasku. siapa tahu, ia bisa berbiak dalam pelukmu, (kopi) aku bertanya padanya: maukah kau menjelma dewi ? “ tak sanggup berwujud serupa ,” bisiknya pelan. aku terlalu anggun bagi genre labil ini. ahhhh....desahku bersama asa...

SEBELUM TENGAH MALAM (LANJUTAN)

Hari yang belum  sempat tertidur sejak kelahirannya, selalu berusaha untuk menjadi dan menjadi meski tak pernah terpisahkan dari waktu. kalau saja, hari berusaha untuk mengakhiri persabahatan dengan waktu maka minggu, bulan dan tahun tak akan muncul ke permukaan.  Sejenak, berpisah dari keseharian, berjarak dan membiarkan dirinya dalam kesendirian. Mungkin ini adalah cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku sesungguhnya sudah tidak mau lagi bersahabat dengannya. Tapi, mana mungkin bisa kulakukan hal tersebut? Bagaimana bisa aku berkata kalau dia lebih pantas tertinggal sebagai kenangan?  Kenangan. Sesungguhnya apalah arti kata ini. Kalau hanya membuat hati galau dan pikiran kacau.  Berkanjang pada kenangan sudah membuat aku kelelahan. Kebersamaan yang terjalin itu hanya menyisahkan nestapa yang paling nestapa. Ya. Kenangan. Sudah seharusnya dia di simpan dalam kotak atau tepatnya dimuseumkan.  Di museumkan. Mungkin ide yang tepat untuk mengakhir keangku...

SEBELUM TENGAH MALAM (LANJUTAN)

Mencitrakan diri sebagai sosok yang sempurna dan sama seperti orang lain adalah sebuah kesiasian. Neshi harus menjadi diri sendiri , dia tidak boleh terpengaruh oleh keadaa sekitarnya. Seandainya, ia mengambil produk masyarakat sekitar, mengikuti ayunan pasar serta menggonggong layaknya manusia di kerumunan maka Neshi  bukanlah Neshi.  Mungkin saja, ia harus sedikit terluka atau tersakiti. Neshi harus siap menghadapi semuanya. Inilah Hidup! Tak ada yang semudah hembusan angin.  Kabar itu berhembus di segala penjuru kampung. Semua yang mendapat kabar itu segera berhamburan keluar rumah. Mereka segera menuju tempat kediaman Neshi. Dari anakanak, orang dewasa, tua muda, mereka mau mendapatkan penjelasa langsung dari Neshi tentang kebenaran kabar tersebut. Dengan segera pintu di ketuk, tanpa basabasi semua menghamburkan pertanyaan. Benar kabar itu?, katanya kamu punya kekuatan?, dari mana kamu dapat kekuatan itu?  Neshi bengong. Ibunya sudah ke pasar sejak pagi. ...

WANITA BERMATA SAYU (II)

Gadis bermata sayu, jangan pernah berhenti untuk memadukan mimik dengan kedua bola mata sayu itu, sebab padanya keharmonisan surga ditunjukan. Cukup lama cerita tentang WANITA BERMATA SAYU  aku biarkan terlantar. Cerita ini tidak hanya terlantar, namun terdengar juga jeritan dan permohonan untuk segera diperhatikan. Di balik sikap acuh ku terhadap kelanjutan dari cerita ini, tersimpan cukup alasan yang kuat untuk tidak melanjutkan cerita tersebut.  Pertama: Si wanita yang menjadi tokoh utama dari cerita ini, sudah pergi dan tak ada kabar atau pun petunjuk yang dapat dijadikan patokan untuk menemukan keberadaannya. Kedua : Secara internal, diriku mengalami cukup hambatan untuk melanjutkan cerita tentangnya karena sebagian dari masa lalu ku tersimpan dalam kotak penyimpanan kenangan yang tersimpan dalam saku baju seragam SMP nya.  Namun, sangat naif jika kedua alasan di atas menjadi penyebab aku tidak melanjutkan cerita ini.  Ok! dengan label sang p...

YANG TIDAK TERSELESAIKAN

WAJAH MALAIKAT? Lebih baik mendekap di dalam penjara dari pada harus mengalami kesusahan dalam memejamkan mata dan kehilangan mimpi    Kehilangan mimpi pada setiap malam merupakan ketersiksaan bagi diri. Mata  tidak menemukan kantuk, batin selalu terikat dengan wajah seorang malaikat, dan pikiran masih terjebak dalam labirin kemarin.Semuanya berawal ketika wajah malaikat mu mulai menjalin hubungan intim dengan batin. Pada setiap pagi engkau selalu berusaha untuk bercinta, ketika malam terjerat oleh waktu engkau mengalami orgasme sedangkan saya selalu berusaha untuk mencapai tingkatan orgasme.   Subuh masih terlelap bersama sejumput matahari yang merupakan hasil persetubuhan antara senja dan pagi, udara pun masih lembab sehingga kucing dan tikus malas untuk berebut makanan di tempat sampah. Ketika semuanya itu sempat diproyeksi oleh dinding kamar, aku sedang tersudut di antara kabut yang membutakan penglihatan dan masih mencari wajah mu dalam labirin senja....

DENTINGAN SUBUH MERUPAKAN BUKTI MALAM YANG SELALU TERJAGA

(Remahan yang terjatuh ketika suara klakson mobil menghetikan langkahku untuk menyeberangi jalan raya.  Kekagetan itu menyebabkan cerita ini terhenti di sini. Jika ada yang mempunyai ide silahkan dilanjutkan) Saya masih belum memahami tentang wanita yang berjalan dengan gontai sambil menjunjung sebakul nasi di pinggir sebuah kali pada subuh yang begitu senyap. Saya juga masih menyimpan beberapa pertanyaan seputar dentingan kerikil yang seakan- akan mempertontonkan orkestra kepada segenap angin yang sempat singgah di antara mereka. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan langkah kaki seorang laki-laki paruh baya sangat mirip dengan gerakan kecoak ketika dikejar oleh seorang anak kecil dengan sapu ijuk. Ah....saya hanya berusaha untuk mengisi beberapa kalimat awal dari cerita ini, jadi jangan dipikirkan secara serius sebab saya juga tidak pernah memikirkan hal tersebut. Saya akan memulai cerita ini dengan sebuah kebingungan terhadap subuh yang selalu mengajak kaki sa...

BERTATAPAN

Tidak ada kata yang terucap dari bibir kami Aku tiba di depan rumah kelahiran ketika siang memberikan kesunyian baginya. Tidak ada sambutan di pintu depan sebab pintu depan berada dalam keadaan tertutup dan tidak terdengar bias-bias suara yang dibawa oleh angin ke dalam gendang telingaku. “Mungkin para penghuni sedang memberikan kesendirian bagi rumah berdinding kayu ini.” Begitulah kesimpulan yang dapat diberikan oleh pikiran ketika menyaksikan kesendirian dari rumah tersebut. Jika demikian kami mengalami nasib yang sama. Aku juga berada dalam kesendirian. Apakah ini kebetulan yang telah direncanakan oleh sang waktu? Bahwa kebetulan yang terjadi tetap memiliki perbedaan di antara kami. Kesendirian yang bergelayut di sekitarku masih dapat dirasakan dan disadari. Sedangkan rumah ini tidak memiliki kesadaran dan perasaan sedikit pun mengenai keadaannya. Jadi aku agak sedikit berbangga diri dan berlagak sombong terhadapnya. Sikap bangga dan sombong memang layak untuk ditunjukan t...